
Setelah pembicaraan dengan sang istri selesai, Hanif menghubungi mertuanya. Dia meminta Mama Aisyah untuk kembali ke ruangan Kinan. Namun, wanita paruh baya itu mengatakan jika dirinya kini sedang berada di minimarket. Mertuanya itu ingin membelikan Adam beberapa cemilan.
Hanif pun mengucapkan terima kasih kepada Mama Aisyah itu. Dia sama sekali tidak berpikir ke arah sana, sepanjang perjalanan tadi juga, pria iyu sama sekali tidak membelikan makanan untuk Adam. Hanif menghela napas, dirinya sama sekali tidak peka dengan kehadiran seorang anak.
"Bagaimana, Mas? Mama mengajak Adam pergi ke mana?" tanya Kinan saat sang suami menutup panggilannya.
"Mama membawa Adam ke minimarket. Mama bilang mau beliin Adam cemilan. Mungkin Mama merasa kasihan sama Adam karena dia sedari tadi hanya berdiam diri saja," jawab Hanif membuat Kinan mengangguk.
Tidak berapa lama, Mama Aisyah datang bersama dengan Adam. Terlihat anak itu membawa satu kantong kresek besar dengan beberapa cemilan di sana. Anak itu duduk di sofa dan menikmati jajan yang dia beli. Adam terlihat begitu senang.
Dia juga menawarinya pada Kinan. Namun, wanita itu menolak. Dia membiarkan anak itu menghabiskan semuanya sendiri. Hanif menatap sang istri dan mengangguk, pertanda sudah saatnya berbicara dengan Adam.
"Adam, ke sini sebentar Mama mau bicara," panggil Kinan sambil menepuk sisi ranjang yang kosong. Wanita itu ingin mengatakan kabar gembira yang dia miliki pada anak sambungnya
Adam mengangguk dan mendekati Kinan. Sebelum itu dia mencuci tangannya terlebih dahulu di wastafel. Anak itu duduk di samping mamanya.
"Ada apa, Ma?" tanya Adam dengan sedikit kaku. Pasti dia belum terbiasa dengan panggilan itu, tetapi Kinan cukup senang dengan usaha Adam yang mau merubah panggilannya. Awalnya memang aneh, tetapi nanti juga akan terbiasa.
Kinan menggenggam Kedua telapak tangan Adam, berusaha menyalurkan rasa kasih sayang yang dia miliki terhadap anak itu. "Sayang, sebentar lagi kamu akan punya adik. Saat ini Mama sedang hamil jadi, nanti kamu akan jadi kakak!"
"Benarkah! Jadi nanti aku ada temennya di rumah!" Seru Adam yang kemudian tiba-tiba saja wajahnya menjadi murung.
Kinan juga bisa merasakan hal itu, dia merasa aneh dengan perubahan ekspresi dari Adam yang tiba-tiba. Baru saja anak itu merasa senang, sekarang langsung sedih.
__ADS_1
"Kenapa? Apa Adam nggak suka punya adik?" Kinan memperhatikan wajah Adam yang menundukkan kepala. Dia merasa ada yang disembunyikan olehnya. Wanita itu pun berusaha agar sang putra mengatakan perasaannya yang sesungguhnya.
"Jika kamu tidak merasa nyaman, katakan pada Mama, jangan dipendam sendiri."
Adam mengangkat sedikit kepalanya dan kemudian menunduk kembali. Dia ingin mengatakan sesuatu. Namun, anak itu takut untuk berbicara. Kinan masih menunggu putranya untuk menjawab pertanyaannya.
Wanita itu tidak akan memaksa Adam untuk menjawab jika anak itu menolak. Dia tidak mau memaksakan sesuatu yang tidak Adam sukai. Untuk sekarang pasti akan susah merubah karakternya, tetapi seiring berjalannya waktu anak itu pasti akan berubah dengan sendirinya.
"Apa Mama akan memperlakukanku seperti ibu? Dulu ibu juga tidak pernah menyiksaku, tetapi setelah memiliki anak selalu marah-marah dan memukulku. Apa Mama juga akan seperti itu?" tanya Adam dengan suara pelan.
Mata Kinan berkaca-kaca, ternyata rasa trauma yang Adam rasakan begitu besar. Bahkan sampai sekarang pun, anak itu mengingat setiap apa yang terjadi dalam hidupnya. Hanif dan mama Aisyah juga masih bisa mendengar apa yang dikatakan oleh anak itu. Siapa pun yang mendengarnya pasti akan merasa terluka.
Meskipun tidak pernah mengalaminya secara langsung, tetapi kata-kata yang diucapkan oleh Adam sungguh menyakitkan. Kinan pun akhirnya meneteskan air mata juga. Rasa trauma yang dialami anak itu masih sangat dalam. Meskipun dia sudah sangat berusaha untuk berbuat baik, nyatanya Adam tidak bisa melepaskan masa lalunya.
Kinan mencoba tersenyum sambil mengangkat wajah Adam. "Lihat mama? Mama tidak akan pernah melakukan sesuatu hal, yang menyakitkan kamu seperti yang ibu kamu lakukan. Jika suatu hari nanti Mama melakukannya, ingatkan Mama jika apa yang dilakukan Mama itu bukanlah sesuatu hal yang baik. Meskipun Mama orang tua, tetapi sebagai manusia Mama juga pasti akan melakukan kesalahan."
Adam menatap Kinan, terlihat wajah wanita itu sedang serius. Namun, tidak mengurangi sikap lemah lembutnya. "Jadi tante tidak akan meninggalkan aku kan?" tanya Adam pada mama angkatnya.
"Insya Allah tidak, Mama akan selalu menyayangi kamu apa pun yang terjadi. Meskipun nanti Mama memiliki anak lagi. Kamu tetaplah anak pertama Mama.
Adam pun memeluk Kinan dengan erat. Dia merasa bersyukur sudah diangkat anak oleh wanita itu. Meskipun Kinan selama ini selalu menunjukkan kebaikannya, tetap saja dia merasa takut jika wanita itu akan berubah. Apalagi jika sampai menyakitinya seperti orang masa lalunya.
Kinan pun mengerti apa yang dirasakan Adam. Rasa traumanya memang benar-benar belum menghilang. Semua itu akan diobati secara perlahan. Semoga saja tidak akan lama.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap seorang pria saat memasuki ruangan itu, siapa lagi kalau bukan Papa Hadi. Pria itu tersenyum dengan membawa sekantong kresek makanan.
"Waalaikumsalam."
"Kenapa Papa baru datang? Dari mana saja? Jangan bilang mampir dulu?" tanya Mama Aisyah dengan menatap sang suami.
"Papa baru saja dari restoran, Ma. Papa tahu kalau kalian pasti belum sempat makan jadi, Papa beliin semuanya sekalian."
"Papa sok tahu, Mama sama Adam sudah makan, baru saja. Ini tinggal Hanif yang belum. Kalau Kinan sudah dapat dari rumah sakit," sahut Mama Aisyah, membuat Papa Hadi menjadi lesu.
"Berarti makanan yang Papa belikan jadi mubazir! Papa tadi lupa tanya sama kalian sudah makan atau belum. Sekarang makanannya mau dikemanakan? Masa harus dibuang? Kan sayang,” tanya Papa Hadi sambil melihat ke arah makanan yang ada di tangannya.
"Dimakan saja sama Hanif. Nanti lebihnya bisa Papa berikan sama perawat, Nanti juga ada yang ke sini buat melihat keadaan Kinan," sahut Mama Aisyah, yang kemudian berjalan mendekati ranjang Kinan.
"Hanif, kamu makan saja sana sama papa, biar Kinan sama mama. Adam mau makan lagi? Kalau mau, ikut sama Papa saja," ucap Mama Aisyah pada cucu barunya.
"Tidak, Oma. Aku sudah kenyang," sahut Adam.
Hanif pun mengangguk dan duduk di sofa. Di sana Papa Hadi sudah lebih dulu duduk. Pria itu pun mengambil satu kotak nasi dan memakannya. "Apa kamu sudah menemukan pelakunya?" tanya Papa Hadi dengan pelan, seperti berbisik.
.
.
__ADS_1