
"Bukankah kita sepakat untuk merahasiakan ini?" tanya Savina pada sang suami. Dia marah pada Rahmat karena seenaknya membatalkan kesepakatan.
"Tentu aku masih mengingatnya. Kamu juga ingat, kan, apa pertukaran untuk itu?" tanya Rahmat. Savina terdiam, dia masih ingat betul apa yang diminta Rahmat saat itu.
Dulu, Savina pernah diperk**a oleh seseorang saat pergi ke acara reuni. Saat itu Rahmat marah besar karena sebelumnya pria itu sudah melarang sang istri untuk pergi. Akan tetapi, karena saat itu Zayna sangat membutuhkan sosok ibu. Rahmat pun menerima kembali, tetapi tidak sekali pun menyentuhnya.
Satu bulan kemudian Savina dinyatakan hamil. Dia berusaha meyakinkan sang suami jika itu anak mereka. Dalam hati Rahmat tentu saja meragukannya. Namun, pria itu juga perlu meyakinkan hatinya.
Zayna saat itu sangat dekat dengan dengan sang istri pun terpaksa membuat Rahmat menerimanya. Savina memang sengaja membuat anak tirinya bergantung padanya. Dia tidak membiarkan siapa pun dekat dengan Zayna agar memuluskan keinginannya. Wanita itu membuat anak tirinya semakin menyayanginya dan tidak mau dipisahkan.
Setelah Savina melahirkan, Rahmat diam-diam melakukan tes DNA tanpa diketahui oleh istrinya. Meski harus menguras dompetnya dia tidak peduli. Benar saja, saat hasilnya keluar memang negatif. Pria itu pulang dengan kemarahan yang sangat besar.
'Lihatlah! itu hasil tes DNA antara aku dan anakmu dan hasilnya negatif. Mau berkilah bagaimana lagi kamu?' tanya Rahmat sinis.
Tangan Savina gemetar saat mengambil kertas yang dicampakkan sang suami begitu saja tadi. Dia tidak menyangka jika Rahmat telah melakukan tes DNA. Padahal selama ini wanita itu berusaha agar suaminya tidak melakukan hal itu.
Savina memohon pada sang suami agar menerima Zanita sebagai putrinya karena dia juga sudah menerima Zayna. Rahmat yang saat itu tidak bisa mendekati putrinya pun mengiyakan permintaan istrinya. Dia akan menganggap Zanita putri kandungnya selama Savina memperlakukan Zayna sama.
Awal-awal Savina memang memperlakukan Zayna dan Zanita sama. Seiring berjalannya waktu semua berubah, dia akan memperlakukan mereka sama saat ada Rahmat di rumah. Jika sang suami pergi bekerja, Zayna akan diperlakukan secara tidak adil.
Apalagi sejak kehadiran Zivana di rumah ini. Savina semakin menjadi, secara terang-terangan dia menunjukkan ketidaksukaannya di depan sang suami. Setiap di dalam kamar Rahmat selalu mengingatkan istrinya untuk adil, tetapi wanita itu selalu berkilah, kalau apa yang dilakukannya sudah tepat. Savina tidak ingin anak-anaknya menjadi manja.
Kembali ke pembicaraan suami istri itu di masa kini. Savina masih menatap sang suami yang enggan melihatnya.
"Aku kira kamu benci pada Zayna karena dia penyebab istrimu meninggal," sindir Savina.
"Apa pun yang aku lakukan pada putriku, itu tidak ada urusannya denganmu. Kamu hanya perlu menepati janjimu. Jika tidak, maka perjanjian itu hanya tinggal angin saja. Aku akan mengatakan pada Zanita siapa dia sebenarnya," sahut Rahmat dengan menatap tajam sang istri.
"Jangan! Aku pasti akan mengingat janji yang pernah aku katakan untuk menyayangi Zayna seperti putriku sendiri. Aku harap kamu juga tidak akan mengatakan apa pun tentang Zanita," potong Savina cepat.
Dia tidak bisa melihat wajah terluka putrinya. Lebih baik wanita itu membujuk Zanita agar tidak melanjutkan keinginannya daripada semua terbongkar. Sungguh Savina tidak akan rela.
__ADS_1
"Selama kamu bisa menepati janjimu, aku akan menepati janjiku."
Sementara itu, di teras samping rumah, Fahri duduk seorang diri sambil memainkan ponselnya. Dia mengirim pesan pada mamanya jika malam ini akan menginap di rumah mertuanya. Lusi sempat melarang pria itu, tetapi Fahri tetap kekeh ingin menginap. Dia beralasan tidak enak dengan Zayna yang sedang berkunjung.
Mama Lusi yang mendengar nama Zayna pun menjadi berbinar. Dia pun mengizinkan putranya untuk tetap di sana. Wanita itu juga mengatakan untuk bersikap baik pada Zayna. Fahri hanya mengiyakan saja.
Zanita datang dengan membawa segelas teh untuk sang suami. wanita itu meletakkannya di atas meja dan duduk di kursi yang berseberangan dengan Fahri.
"Sepertinya kamu senang sekali melihat Zayna ada di sini," ucap Zanita memulai pembicaraan.
"Sebenarnya kita itu sama. Aku tahu kalau kamu terkejut mendengar siapa sebenarnya Ayman. Aku bisa melihat wajah iri kamu terhadap Zayna dan aku yakin kamu sudah merencanakan sesuatu pada suaminya. Sama seperti yang kamu lakukan kepadaku."
Zanita tertawa. Ternyata apa yang ada di pikirannya sangat mudah ditebak. Mungkin karena dia pernah melakukannya jadi, tidak sulit bagi orang lain untuk menilai dirinya.
"Kalau memang aku berencana seperti itu, bukankah bagus untukmu. Jangan kira aku juga tidak tahu kalau sedari tadi kamu menatap Zayna dengan tatapan memuja."
"Zayna pantas mendapatkannya. Dia wanita yang baik dan dia sangat jauh berbeda dengan kamu."
"Anggap saja itu kebodohan yang aku lakukan," sahut Fahri dengan menatap ke depan. Dia memang menyesali perbuatannya itu. Seandainya saja pria itu tidak tergoda dengan kenikmatan sesaat.
"Zani, Mama mau bicara," ucap Mama Savina yang baru saja datang.
"Mau bicara apa, Ma?"
"Sudah, ayo, ikut Mama!" Savina menarik tangan Zanita dan membawanya ke kamar Zivana.
"Mama kenapa membawaku ke sini?"
"Lebih baik di sini agar tidak ada yang mendengar."
Zivana yang ada di kamar juga terkejut melihat mama dan kakaknya masuk. Apalagi mereka sedang berdebat. Dia hanya diam mendengarkan sambil mengamati keduanya.
__ADS_1
"Mama, memang mau bicara apa?" tanya Zanita yang sudah kesal.
"Mama hanya ingin memperingatkan kamu. Jangan melakukan hal yang ada di otak kamu itu."
"Apa, sih, maksud Mama? Aku nggak ngerti sama sekali?" tanya Zanita yang memang benar-benar tidak mengerti.
"Mama dengar apa yang kamu bicarakan dengan suamimu tadi dan Mama berharap kamu tidak sungguh-sungguh melakukannya."
"Memang kenapa kalau aku melakukannya? Bukankah selama ini Mama selalu mendukungku?"
"Memang benar, tapi tidak untuk kali ini. Kamu sudah menikah dan itu tidak baik untukmu."
"Sudahlah, Ma, aku nggak mau dengar lagi." Zanita segera meninggalkan kamar adiknya dengan kesal. Awalnya dia sangat berharap jika mamanya mendukung. Mengingat selama ini wanita paruh baya itu selalu memenuhi keinginannya. Bahkan sampai hal yang tidak mungkin sekaligus.
Zivana yang sedari tadi diam pun mendekati mamanya. "Memang ada apa, sih, Ma?"
"Biasalah kakakmu."
"Dia mau merebut Kak Ayman?" tanya Zivana yang diangguki oleh Mama Savina. "Kalau aku yang merebutnya, apa tidak masalah?"
Mama Savina yang semula memijat keningnya pun langsung menatap ke arah putrinya. "Jangan macam-macam kamu. Pokoknya tidak ada yang boleh lagi rebut-merebut. Apalagi kamu masih gadis, kamu bisa mendapatkan yang lebih dari Zayna.
Zivana salah tingkah mendengar kata-kata mamanya. Dia pun lebih memilih diam dari pada ditanya lebih lanjut.
"Bisa mati aku kalau Mama tahu apa yang sudah terjadi padaku," batin Zivana.
.
.
.
__ADS_1