Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
292. S2 - Hira dan Zea


__ADS_3

"Zea, bagaimana keadaan opa?" tanya Kinan saat dirinya baru sampai di depan ruang ICU. Terlihat si kembar juga di sana.


Zea yang melihat kedatangan mamanya segera memeluk wanita itu sejenak. "Ada di dalam, Ma. Keadaan opa masih kritis jadi, masih di ruangan ICU. Kita semua juga tidak diperbolehkan untuk masuk sama-sama. Boleh juga cuma satu orang saja, tadi aku sudah lihat opa. Kalau Mama mau masuk, Mama masuk saja. Di dalam juga ada perawat yang akan membantu."


Kinan pun mengangg dan segera memasuki ruangan sang mertua dengan mata berkaca-kaca. Baru saja dia kehilangan Mama Aida yang begitu menyayanginya seperti anak sendiri. Sekarang giliran papa mertuanya yang sakit. Apa mungkin Papak Wisnu juga akan meninggalkan dirinya juga. Wanita itu pernah mendengar, kalau pasangan suami istri sejati itu pasti akan pergi ke mana pun bersama, termasuk tutup usia.


Apa mungkin Papa Wisnu juga seperti itu. Sebelum menemui sang mertua, Kinan disarankan untuk memakai baju steril terlebih dahulu. Perawat juga di sana untuk membantu, barulah dia bisa mendekati Papa Wisnu dan duduk di sampingnya. Kinan menggenggam telapak tangan sang mertua yang terbebas dari selang infus.


"Papa kenapa? Apa Papa juga mau ninggalin kami? Apa Papa tidak ingin melihat cucu Papa menikah? Adam dan Zea sudah berencana menikah setelah Zea lulus kuliah jadi, Papa harus sembuh, ya! Kita nanti merayakan pesta sama-sama." Kinan meneteskan air matanya.


Sedari tadi dia berusaha untuk tegar. Namun, tetap saja wanita itu merasa sedih dengan keadaan sang mertua seperti ini. Kinan banyak bercerita pada mertuanya, berharap Papa Wisnu akan membuka mata dan sadar kembali. Setelah cukup lama berada di ruangan, wanita itu pun memutuskan untuk keluar.


Ternyata di sana sang suami sudah menunggu. Dia segera berhambur ke pelukan Hanif. Kinan menangis di dada suaminya. Pria itu hanya bisa mengusap punggung sang istri. Dia tahu kesedihan yang dirasakan oleh istrinya karena dirinya juga merasakan hal yang sama.


"Papa pasti baik-baik saja, kamu jangan terlalu sedih seperti ini. Papa tidak suka kalau kamu sedih karena dia," ucap Hanif pelan yang diangguki oleh Kinan. Wanita itu mengusap air matanya agar tidak menetes lagi.


Kinan menatap sang putri dan kedua keponakannya yang masih ada di sini. "Zea, sebaiknya kamu pulanglah. Setelah itu kamu pergi ke rumah sakit tempat Kak Adam. Kasihan kalau dia sendiri, sekarang di sana masih ada Arslan. Tadi mama bilang hanya pergi sebentar."


"Iya, Ma. Kalau begitu aku pamit." Zea pergi bersama si kembar.


Gadis itu mengantar kedua sepupunya pulang terlebih dahulu, barulah dirinya yang pulang. Aini spay menolak karena ingin melihat keadaan Adam, tetapi Zea meyakinkan agar lain kali saja. Dia tidak ingin kakaknya curiga mengenai apa yang terjadi pada Opa Wisnu. Setelah dari rumah, Zea segera menuju tempat di mana Adam dirawat. Sekalian juga membawa makanan.


****


"Kalian ini sebenarnya mau nungguin orang sakit atau mau pacaran, sih?" tanya Adam dengan kesal karena sudah dari tadi melihat Arslan bermanja-meja dengan istrinya.


Meskipun terlihat malu-malu, tetapi Adam tahu mereka pasangan yang serasi dan romantis. Arslan juga memperlakukan istrinya dengan sangat lembut. Keduanya saling menyayangi dan pengertian.


"Kamu sebaiknya tidur saja, Dam. Lagi pula kami juga nggak berisik," kilah Arslan.


"Iya, nggak berisik, tapi sedari tadi kalian itu gerusak-gerusuk terus, gimana aku mau istirahat. Lebih baik kalian pulang saja, dari pada aku ngenes."


"Kamu ngusir kita?" tanya Arslan dengan tidak percaya. Padahal dia sudah menunggui sepupunya dengan ikhlas, tetapi kini malah diusir begitu saja.

__ADS_1


"Iya, daripada kalian di sini. Aku kan sendirian, nggak ada pasangannya."


"Makanya cepetan nikah."


"Tunggulah beberapa bulan lagi. Aku juga bakalan nikah."


"Kelamaan, besok saja nikahnya, keburu punyamu karatan."


"Lemes banget mulutnya, kayak ibu-ibu komplek. Sudah sana, kalian pulang saja!"


"Aku juga sebenarnya mau pulang dari tadi, tapi nungguin tante. Sebentar lagi juga datang, tante tadi bilang cuma sebentar."


"Ya sudah, tapi kalinya jangan dekat-dekat. Kamu di sini saja, aku mau nanya sama kamu," ucap Adam beralasan agar sepupunya itu tidak dekat-dekat dengan istrinya. Dia nanti bisa-bisa mati karena iri.


Arslan duduk di kursi samping ranjang Adam dengan malas. Padahal dia masih ingin berduaan dengan sang istri. Dirinya memang salah sudah bermanja-manja di tempat yang tidak seharusnya, tetapi mau bagaimana lagi. Pria itu tidak bisa mengendalikan diri jika di dekat Hira.


"Ada apa, sih?" tanya Arslan dengan ketus.


Arslan memutar bola matanya malas. Sepupunya ini selalu saja ada yang sengaja dibuat-buat. "Biarin saja, kamu itu nggak pantas buat dibaik-baiki."


"Astaghfirullah, kamu itu benar benar, ya! Sepupu macam apa kamu?"


"Sudah, katanya tadi mau bicara, apa cepat katakan," pungkas Arslan.


Adam meminta Arslan mendekat dan membisikkan sesuatu. “Bagaimana rasanya malam pertama?”


Arslan reflek memukul tangan Adam, hingga sepupunya itu mengasuh kesakitan. Bagaimana sepupunya itu bertanya sesuatu yang menurutnya sangat rahasia. Dirinya saja malu jika mengingatnya, apalagi jika harus diceritakan.


“Aduh! Kamu bagaimana, sih! Apa kamu lupa kalau aku ini lagi sakit!" pekik Adam yang memang benar-benar sakit. Memang tangannya tidak ada perban, tetapi tetap saja ada memar di sana dan itu masih terasa sakit.


"Eh, maaf! Aku tadi reflek, habisnya kamu ada-ada saja yang ditanyakan. Kalau kamu mau tahu rasanya bagaimana, nikah saja sekarang, nggak usah nungguin Zea lulus.”


"Kamu itu benar-benar, ya! Aku ...."

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Zea yang baru memasuki ruangan, yang tentunya memotong ucapan Adam dan membuat pria itu tidak meneruskan kalimatnya.


Arslan terkekeh pelan melihat Adam yang terdiam. "Baiklah, karena sang putri sudah datang, kami mau pulang dulu."


"Lah, kenapa buru-buru, Kak? Kita juga jarang ketemu. Aku masih ingin kenalan sama Kak Hira, kami 'kan belum pernah ngobrol bersama."


"Iya, lagian kamu, kakak nikah kamunya malah kabur ke luar negeri, nggak mau datang."


"Kakak masih ingat-ingat itu aja," sahut Zea yang pura-pura cemberut.


"Itu sudah lama, sudah tidak usah dibahas lagi, Ars," sela Adam yang membela Zea.


"Iya, deh, yang lagi bucin saling bela."


"Kayak kamu nggak saja. Dari tadi aku juga dicuekin terus, enak-enak pacaran."


"Aku nggak cuekin kamu, kamunya saja yang merasa tersisihkan."


"Sudahlah, Kak Arslan bicara sama Kak Adam dulu, aku mau kenalan sama Kak Hira." Zea berjalan mendekati Hira sambil tersenyum.


Gadis itu pun mengulurkan tangannya. "Halo, Kak. Namaku Zea."


Hira pun menyambut uluran tangan Zea sambil menyebutkan namanya. Kedua wanita itu berbincang sejenak di sofa, saling membicarakan kesibukan masing-masing. Akhirnya Arslan mengajak istrinya untuk pulang, sebentar lagi sudah petang.


Zea membendangi kepergian pasangan suami istri itu. Dia memang baru mengenal Hira, tapi gadis itu bisa merasakan betapa baiknya wanita itu. Tutur katanya juga sangat lembut dan sopan. Sungguh beruntung Arslan memiliki istri seperti itu.


Sepupunya juga memperlakukan istrinya dengan sangat baik. Zea berharap suatu hari nanti juga memiliki suami, dia ingin yang seperti itu. Entah itu Adam atau laki-laki lain yang sudah dipersiapkan oleh Tuhan.


"Sayang, kenapa kamu diam saja? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Adam membiarkan lamunan Zea.


"Tidak ada, Kak. Aku hanya kagum saja dengan Kak Hira," sahut Zea dengan tersenyum. Tiba-tiba saja dia tersadar sesuatu. "Tadi Kakak panggil aku apa?"


.

__ADS_1


__ADS_2