
"Ada apa ini? Kenapa kalian pagi-pagi datang ke sini? Kalian nggak bikin rusuh, kan?" tanya Arslan saat melihat kedua adik kembarnya berada di rumah.
"Kakak, apaan, sih! Kami itu datang mau berkunjung, tetapi Kakak seenaknya saja Menuduh kami yang tidak-tidak. Apa kakak sudah tidak sayang lagi sama kita? Kami itu kangen sama Kakak," sahut Aini dengan nada yang dibuat semanja mungkin.
"Kalian tiba-tiba bilang sayang, pasti itu ada yang diinginkan. Perasaan Kakak sudah mulai tidak enak."
"Terserah Kakak, yang jelas kami berdua datang ingin bertemu dengan Kak Arslan dan Kak Hira. Kami 'kan kangen sama kalian."
"Tiba-tiba saja aku pengen muntah dengar ucapan kalian."
"Ya sudah, kalau Kakak nggak percaya." Aini dan Aina pun duduk di sofa ruang tamu tanpa memedulikan kakaknya.
"Kalau kalian masih ingin di sini terserah saja. Kakak mau kerja, ingat jangan membuat ulah yang nantinya malah membuat kerusuhan. Ingat, Kak Hira sedang hamil, jangan membuatnya lelah. Kalau kalian mau sesuatu, cari saja sendiri jangan meminta sama Kak Hira."
"Iya, iya, Kak! Aduh, bawel banget sih calon ayah," sahut Aina dengan kesal.
Arslan sama sekali tidak mendengarkan gerutuan adiknya. Pria itu segera keluar untuk pergi bekerja, sementara Hira mengantarkan sang suami ke depan. Terdengar suara mobil meninggalkan halaman, sudah dipastikan jika Arslan sudah pergi.
"Ada apa, nih? Tumben pagi-pagi datang ke sini? Pasti ada maunya," tanya Hira setelah duduk di ruang istirahat.
"Suami istri, sama-sama saja pertanyaannya. Memangnya kami nggak boleh main ke sini?" tanya Aini.
"Ya, boleh saja. Hanya perasaan Kakak saja yang merasa aneh, tiba-tiba pagi sekali sudah ada di sini. Biasanya kalian datang setelah pulang kuliah."
Terdengar helaan napas dari kedua gadis itu dan Hira yakin jika keduanya benar-benar memang sedang ada masalah. Dia tidak akan ikut campur jika bukan mereka sendiri yang bercerita.
"Kalian mau minum apa?" tawar Hira yang akan beranjak.
"Tidak usah, Kak. Nanti kalau Kak Arslan tahu, bisa-bisa kita tidak dibolehkan lagi main ke sini. Nanti kalau kami haus juga akan ambil sendiri," selah Aini, membuat Hira kembali ke tempat duduknya.
"Iya, Kak. Nanti biar kita ambil sendiri. Kakak duduk saja, istirahat yang manis," sahut Aina yang kemudian menatap kakak iparnya dengan serius. "Kak, boleh aku tanya sesuatu, nggak? Tapi kakak jawab yang jujur, ya!"
Aini memperhatikan wajah kakak iparnya, berharap Hira mau menjawabnya. "Tanya saja, kalau aku bisa, pasti akan aku jawab."
__ADS_1
"Benar, ya! Kakak harus menjawabnya dengan jujur. Meskipun aku ini adik ipar Kakak, tapi aku hanya ingin kejujuran dari Kakak. Kak, sebenarnya menikah itu enak nggak sih?"
"Maksud kamu?" tanya Hira yang masih bingung dengan pertanyaan adik iparnya.
"Aku mau tanya, apakah menikah itu enak, Kak? Selama ini melihat Kakak selalu baik-baik saja dengan Kak Arslan."
Hira tersenyum ke arah kedua adik iparnya. Setiap orang yang melihatnya kehidupannya juga pasti akan mengatakan hal yang sama, tetapi dia senang itu artinya dirinya berhasil.
"Setiap rumah tangga pasti akan selalu ada saja ujiannya, tinggal kita sendiri bagaimana menyikapinya. Mau dengan kepala dingin atau dengan emosi. Setiap masalah itu selesainya tergantung kita sendiri. Memang kenapa kamu bertanya seperti itu? Beneran kamu mau nikah? pa sudah ada jodohnya?"
"Belum, Kak. Kakak sama saja seperti Aini, pertanyaannya itu saja." Aina menyandarkan punggungnya di sofa dan memejamkan matanta.
"Kakak cuma tanya, siapa tahu kamu sudah punya calon." Hira mencoba menggoda adik iparnya.
"Cariin saja, Kak. Siapa tahu Kakak punya kenalan yang bisa dijodohin sama Aina," sela Aini yang sedari tadi mendengarkan pertanyaan saudaranya itu.
"Kamu ini Aini, Kak Hira mana ada temen laki-laki, di pondok 'kan temannya perempuan semua."
"Nggak mau ah, itu Aini saja!" tolak Aina dengan mengibaskan kedua tangannya.
"Katanya mau nikah cepat, kenapa sekarang nggak mau?"
"Memang, tapi aku maunya sama calon yang aku cari sendiri, tidak ada istilah jodoh-jodohan." Aina menerawang, membayangkan kehidupannya kelak.
"Siapa tahu dari hasil jodoh-jodohan itu, bisa jadi jodoh dunia akhirat, kita tidak ada yang tahu bagaimana kehidupan kelak."
"Sudah, lebih baik nggak usah dibahas lagi," tukas Aina yang tidak ingin lagi membicarakan masalah pribadinya.
"Kalian ke sini memang nggak kuliah? Kenapa pada nggak ada yang bawa tas atau buku?" tanya Hira.
"Nggak, Kak, hari ini libur."
Hira mengangguk dan kembali bertanya, "Nggak nongkrong sama Zea? Biasanya kalian ke mana-mana selalu bertiga."
__ADS_1
"Zea sekarang sudah punya suami, mana bisa dia diajak ngumpul. Ngajak ngobrol sebentar saja susah banget, berada dia sendiri yang punya suami," keluh Aini dengan wajah sedih. "Semua orang tidak ada yang bisa diajak pergi, semuanya pada sibuk dengan kegiatan masing-masing."
"Kalau begitu, kenapa kamu tidak mencari kesibukan sendiri?"
"Maksud Kakak, melakukan apa saja yang bermanfaat pastinya."
"Oh ... aku kira Kakak memintaku untuk segera menikah," sahut Aina tanpa melihat ke arah kakak iparnya.
"Hah, itu mah mau-maunya kamu saja, pakai beralasan aku yang menyuruh. Kalau kamu mau nikah, nikah saja, nggak usah disuruh-suruh!"
"Tapi aku masih takut jika semuanya hanya manis di awal saja, seperti yang kakak gambarkan tadi."
Hira mendekati adik iparnya, otomatis Aina merapatkan tubuhnya ke arah Hira dan meletakkan kepalanya di pundak kakak iparnya.
"Setiap permasalahan rumah tangga, tergantung yang menjalaninya, mau bersikap seperti apa. Jangan sama ratakan setiap masalah rumah tangga yang dihadapi semua orang. Setiap ujian orang itu berbeda-beda."
"Tapi tetap saja aku merasa takut. Bagaimana kalau nanti pernikahanku tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan selama ini. Bayangan rumah tangga yang aku jalani begitu tinggi, Kak."
"Karena itu kamu harus menciptakan yang sesuai keinginanmu, tapi jangan terlalu berlebihan juga karena sesuatu yang berlebihan itu tidak disukai oleh Tuhan. Jangan kalah dengan keadaan."
"Sepertinya aku harus banyak belajar dari Kakak. Nanti Kakak harus ajari aku, ya?"
"Kenapa jadi sama Kakak? Kamu harus menjadi diri kamu sendiri. Jangan ikut-ikutan sama Kakak."
"Iya, aku tahu, tapi setidaknya ada arahan dari kakak."
"Baiklah."
"Memang kamu sudah ada calonnya? Dari tadi kamu ngomong nikah-nikah terus, tapi saat ditanya kapan malah bilang belum ada calon."
Mereka pun berbincang apa saja yang bisa membuat suasana menjadi lebih ramai. Hira tidak menyangka dirinya bisa dekat juga dengan para iparnya. Tadinya dia mengira akan sulit, mengingat si kembar orangnya sangat gaul dalam kehidupan sehari-hari.
.
__ADS_1