
“Mas, tadi ‘kan kamu sendiri yang bilang mau cerita tentang kedatangan Wina dan tantenya. Kenapa masih diam saja? Dari tadi sibuk terus sama ponsel atau memang pura-pura sibuk?" tanya Zayna saat sang suami malah sibuk memainkan ponselnya.
“Iya, Sayang. Sebentar ini ada pesan dari Ilham,” sahut Ayman yang segera menutup ponsel dan meletakkannya di atas meja.
Zayna menatap sang suami. Bersiap mendengarkan apa pun yang akan diceritakan pria itu. Dia tahu kalau kedatangan mereka pasti akan menyakiti hatinya. Wanita itu tidak mungkin menutup mata dan pura-pura tidak tahu. Zayna akan menghadapi semua, demi keluarganya.
“Dengerin aku dulu. Aku akan cerita mengenai kedatangan Wina. Aku harap kamu mau mendengarkan semua yang aku katakan dan tidak menyela sebelum aku selesai,” ucap Ayman yang diangguki oleh Zayna. Wanita itu merasa ada sesuatu yang sangat penting, hingga sang suami berkata seperti itu.
“Janji dulu, kamu harus percaya padaku,” lanjut Ayman dengan mengacungkan kelingkingnya. Zayna pun menyambut dengan kelingking juga.
“Iya, aku janji akan percaya padamu, apa pun yang akan terjadi.”
“Jadi begini ....”
Ayman pun menjelaskan semua yang terjadi di ruang tamu tadi, tanpa menutupinya sedikit. Dia tidak ingin ada kesalah pahaman antara dirinya dan sang istri. Zayna mendengarkan dengan saksama. Seperti janjinya, wanita itu sama sekali tidak menyela apa yang suaminya ceritakan.
Padahal mulutnya sudah gatal ingin memberi sumpah serapah pada Wina. Bagaimana mungkin ada wanita seperti dia, yang bisa-bisanya mau menjadi istri kedua. Dirinya yang istri pertama saja ogah memiliki madu. Apalagi disaat dirinya sedang hamil.
“Begitulah, Sayang. Tante Indri memaksaku agar mau menikahi Wina, tapi sungguh aku sudah menolaknya karena aku tidak ingin ada orang ketiga dalam pernikahan kita. Hanya kamu istriku satu-satunya, tidak ada yang lain,” ucap Ayman dengan sungguh-sungguh.
Zayna tersenyum mendengarnya. “Aku senang kamu menolaknya. Aku harap selamanya seperti itu. Aku tidak ingin karena rasa simpati membuat kamu berubah.”
“Aku memang bersimpati pada Wina karena orang tuanya sudah pergi, tapi bukan berarti aku ingin menjadikannya sebagai istriku. Tidak ada niat sedikit pun diriku melakukannya. Di dalam hatiku, tidak ada tempat untuk wanita lain selain kamu. Kalau pun ada juga itu Mama dan Kinan.”
Zayna memeluk sang suami. Dia sudah sangat mencintai pria itu, tidak tahu bagaimana nanti jika sampai suaminya benar-benar menghianatinya. Wanita itu tidak akan sanggup melewati hari-hari tanpa Ayman. Hidupnya sudah bergantung pada sang suami.
Pria itu merasakan bajunya basah, pasti istrinya saat ini sedang menangis. Dia pun mengurai pelukan mereka dan menatap wajah wanita itu dan benar saja, wajah Zayna sudah basah oleh air mata. Padahal Ayman sudah berusaha meyakinkan sang istri, bahwa dia tidak akan mengkhianatinya.
“Hei! Kenapa menangis? Bukankah aku sudah bilang, aku tidak akan menikah dengan Wina.”
“Mas, kamu harus benar-benar menepati janjimu. Aku tidak akan bisa hidup tanpa kamu. Jika kamu memilih menikahinya, bagaimana hidupku nanti?”
“Aku akan berusaha menepati janjiku. Jika aku melanggarnya, kamu bisa melakukan apa pun padaku. Sudah, jangan menangis lagi. Aku sudah katakan kalau aku tidak ingin melihat air mata kesedihan di wajah cantik istriku ini.” Ayman mencoba menghapus jejak Air mata Di pipi istrinya.
__ADS_1
Zayna menatap wajah sang suami. Sampai kapan pun dia tidak akan pernah rela jika pria itu menikah lagi. Jika Ayman memilih untuk menikahi Wina, lebih baik dirinya yang pergi. Apalagi sekarang wanita itu sedang hamil.
Kenangan masa lalunya kembali melintas. Zayna tidak ingin anaknya memiliki ibu tiri. Cukup dirinya yang hidup sengsara, jangan anaknya.
“Mas, dua hari lagi ulang tahun Papa Rahmat. Aku boleh ke sana, nggak?”
Ayman berpikir sejenak dan berkata, “Kita tanya dokter dulu, ya, Sayang. Apa kamu boleh naik pesawat atau tidak.”
“Iya, Mas. Aku lupa tadi tidak tanya sama dokternya.”
“Tidak apa-apa, besok kita ke rumah sakit, sekalian aku juga mau lihat Bagaimana anakku.”
****
“Kinan,” panggil seseorang saat gadis itu baru keluar kelas.
“Ya, kenapa, Ra?” tanya Kinan pada temannya yang bernama Fara itu.
“Kamu mau langsung balik?”
“Yah ... kamu nggak mau nongkrong dulu bareng kita semua? Aku sama yang lain sudah ada rencana pergi bareng.”
“Nggak deh, aku beneran lagi malas.”
“Apa gara-gara Nico sama Nayla?” tanya Fara hati-hati.
“Tidak juga, aku barusan dapat kabar dari Mama, kalau di rumah ada acara, jadi nggak bisa ikut kalian.”
“Memang ada acara apa di rumah kamu?”
“Nggak tahu, sih! Cuma kata Mama ada berita penting, jadi kami semua disuruh pulang cepat. Nggak boleh ke mana-mana. Nih, coba saja baca chat-nya,” ucap Kinan sambil memperlihatkan chat dari mamanya, yang memang memintanya untuk segera pulang.
“Ya sudah kalau begitu. Aku sama anak-anak lainnya pergi dulu, bye ....”
__ADS_1
Kinan melambaikan tangannya, menatap kepergian Fara. Dia memang tidak ingin pergi bersama dengan teman-teman lainnya karena keberadaan Nico dan Nayla. Nico dulunya adalah pacar Kinan, tetapi di belakang gadis itu, sang kekasih telah berselingkuh dengan Nayla—sahabat Kinan—dan tanpa rasa bersalah mereka bermesraan di depannya. Bahkan dengan teganya Nico memutuskan hubungannya dengan Kinan.
Pria itu juga mengatakan pada semua temannya mengenai Nayla yang memiliki kelebihan daripada dirinya. Yang lebih membuat dirinya sakit hati adalah teman-temannya tidak ada yang membelanya. Kinan berharap ada yang marah pada Nayla dan Nico karena sudah mengkhianatinya. Akan tetapi, mereka hanya mengatakan jika Nico dan dirinya memang tidak berjodoh. Bahkan semuanya mengucapkan selamat pada Nico dan Nayla.
Kinan menunggu taksi yang dia pesan di luar gerbang. Tidak berapa lama akhirnya taksi datang, gadis itu pun segera naik dan meninggalkan halaman kampus. Ponselnya yang berada di dalam tas berdering. Ada pesan masuk dari mamanya yang mengingatkan agar segera pulang.
“Sebenarnya ada berita apa, sih. Sampai Mama heboh gitu?” gumam Kinan.
Ada pesan lagi yang masuk. Ternyata dari grup pertemanannya. Sebuah foto terpampang di sana. Semua orang tampak bahagia, terutama pasangan pengkhianat. Mungkin ini adalah karma baginya karena sudah mengabaikan peringatan mamanya untuk tidak berpacaran.
“Neng, sudah sampai,” ucap sopir taksi pada Kinan. Terlalu larut dalam lamunan hingga membuatnya tidak sadar kalau sudah sampai.
“Ah, iya, Pak. Terima kasih, ini uangnya.” Kinan turun, kemudian masuk ke dalam rumah. Tampak Mama Aisyah yang sudah menunggu di ruang tamu.
“Assalamualaikum, Ma.”
“Waalaikumsalam, ya ampun! Kamu ini lama sekali. Dari tadi ditungguin juga.”
“Ma, ini tuh paling cepat.”
“Ya sudah, kamu mandi dulu, habis itu bantuin Mama nyiapin makan malam.”
“Ya ampun, jadi Mama nyuruh aku cepat pulang buat nyiapin makan malam? Biasanya juga sama Bik Ira dan Kak Zayna. Kenapa sekarang malah merintah aku?”
“Sudah, gak usah banyak protes, cepat!”
“Tahu gitu aku tadi nggak pulang dulu.”
“Kamu berani melawan perintah Mama!”
“Berani? Enggak lah. Nanti bisa-bisa uang jajanku dipotong,” gerutu Kinan sambil berjalan menuju kamarnya.
.
__ADS_1
.