Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
303. S2 - Cemburu pada Zea


__ADS_3

Zea mendorong kursi roda Adam, menelusuri lorong rumah sakit menuju ruang UGD. Tadi mereka sudah bertanya pada resepsionis dan dijawab jika pasien masih ada di sana. Dokter juga masih menanganinya di dalam, keduanya menunggu di depan dengan perasaan cemas, takut bisa sesuatu terjadi pada Alin dan calon anaknya. Meskipun mereka tidak menyukai keberadaan Alin, tetapi sebagai sesama manusia ada rasa iba di dalam hatinya.


Tidak berapa lama, pintu ruangan terbuka. Seorang dokter keluar dari sana. Dia pun memanggil orang yang sekiranya bertanggungjawab "Keluarga saudara Alin?"


Adam hanya diam duduk di kursi rodanya. Zea pun merasa tidak enak pada dokter tersebut. Sudah jelas mereka ada di sini, tetapi kakaknya tidak menjawab apa pun. Akhirnya dia pun menjawab, "Kami temannya, Dok."


"Oh, begini, mohon maaf saya harus menyampaikan berita duka, kalau kandungan Ibu Alin tidak bisa kami selamatkan. Sekali lagi kami mohon maaf karena memang saat sudah sampai di sini tadi, janinnya sudah tidak bernyawa lagi, kami juga terpaksa mengeluarkannya tadi karena tidak ada satu pun orang yang bertanggung jawab. Demi keselamatan Ibu Alin, kami melakukan operasi tersebut."


"Innalillahi wa Innalillahi rojiun, saya mengerti, Dok. Kalau Mbak Alin bagaimana kondisinya?" tanya Zea lagi.


"Alhamdulillah, kalau ibunya baik-baik saja. Hanya saja saat ini kondisinya masih begitu lemah. Mungkin perlu beberapa hari untuk segera pulih."


"Alhamdulillah, terima kasih, Dok."


"Tolong segera selesaikan administrasinya, nanti Perawat akan memindahkannya ke ruang rawat." Dokter pun pamit undur diri, sementara Zea hanya mengangguk.


Dalam hati dia merasa kasihan pada Alin, tidak tahu bagaimana wanita itu melewati ini nanti. Entah merasa senang atau sedih, mengingat Alin juga pernah mengatakan jika tidak menyukai kehamilan ini. Akan tetapi bagaimanapun juga dia seorang wanita dan akan menjadi seorang ibu. Ikatan anak itu dengannya pasti sudah sangat kuat.


"Kak Adam di sini saja, tunggu perawat memindahkan Kak Alin. Aku mau ke bagian administrasi mau mengurus biayanya," ucap Zea, dia tidak mungkin membiarkan Adam yang mengurus, biar dia saja yang pergi.


"Iya, kalau sudah selesai langsung ke sini, ya! Jangan lama-lama."


"Iya, Kak. Nanti kalau sudah dipindahin ke kamar, Kakak kirim pesan saja sama aku."


Adam mengangguk saja, Zea pun segera berlalu dari sana. Gadis itu mengurus segala keperluan Alin, dia bahkan memberikan pelayanan yang terbaik untuk wanita itu dengan memberikan fasilitas kamar VVIP. Saat sedang mengurus administrasi, tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya.


"Hai, Zea, apa kabar?" sapa seorang pria, membuat Zea yang tadi begitu serius menunggu panggilan pun menoleh.


"Eh! Kamu Lukas, kamu sudah ada di Indonesia?" tanyanya.


Lukas adalah senior Zea yang ada di luar negeri saat gadis itu menuntut ilmu di sana. Mereka cukup dekat karena berasal dari negara yang sama.


"Iya, aku sudah lulus jadi, sudah pulang."


"Kenapa kamu jam segini ada di rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanyanya karena ini sudah hampir larut. Namun, temannya itu masih berada di sini.


"Beberapa hari yang lalu mamaku masuk rumah sakit. Sebenarnya aku bulan depan masih harus kembali ke sana, tapi lihat nanti keadaan mama. Kalau kamu sendiri siapa yang sakit?"

__ADS_1


"Temanku, dia mengalami kecelakaan."


Mereka pun berbincang sambil menunggu panggilan. Lukas dari tadi tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Zea, gadis itu tahu hanya saja pura-pura tidak tahu. Dia tidak ingin memberi harapan palsu pada seseorang yang nantinya malah akan menyakiti hati pria itu. Zea tahu sakitnya tidak bisa memiliki, jadi tidak ingin orang lain juga merasakannya.


Tanpa keduanya sadari, ada seseorang yang melihatnya dari kejauhan, siapa lagi kalau bukan Adam. Tadinya pria itu ingin menyusun sang istri karena tak kunjung kembali. Namun, yang dilihat kini justru melukai hatinya. Dia pun memutuskan untuk kembali ke depan ruang UGD.


"Aku sudah dipanggil, aku duluan," ucap Zea yang kemudian menuju tempat administrasi dan membayar semua tagihan.


Setelah itu, barulah dia kembali ke tempat di mana sang suami sedang menunggu. Namun, ternyata sudah tidak ada siapa pun di sana. Wanita itu melihat ponselnya apakah Adam yang sudah mengirim pesan atau belum, ternyata tidak ada apa pun di sana.


Zea pun memutuskan untuk menghubungi sang suami. Namun, tidak ada jawaban. Wanita itu tidak mau menyerah dan kembali menghubungi sang suami. Untungnya kali ini Adam mengangkatnya.


"Halo, Kakak ada di mana? Kenapa tidak ada di depan ruang UGD?" tanya Zea saat panggilan sudah tersambung.


"Alin sudah dipindahkan ke lantai tiga nomor 210. Kamu ke sini saja."


"Oh iya, Kak. Aku akan segera ke sana."


Zea mengerutkan rekeningnya karena merasa ada sesuatu dengan suara suaminya. Namun, dia berusaha untuk menepisnya. Mungkin karena kegelisahan yang dirasakan Adam, tanpa sadar ada yang beda.


"Belum, kata dokter sih kemungkinan besok pagi," jawab Adam tanpa melihat Zea dan terus menatap Alin yang sedang tertidur.


"Kakak istirahat saja, biar aku yang menunggu Kak Alin."


"Kamu saja yang istirahat, aku sudah terlalu sering beristirahat juga akhir-akhir ini, sekali-kali begadang juga tidak apa-apa."


"Tapi, Kakak harus ...."


"Aku sudah baik-baik saja, Zea. Kamu saja yang istirahat, Kakak juga sudah nggak ngantuk."


Zea pun mengangguk dengan terpaksa, ada sudut hatinya yang merasa terluka karena Adam lebih memilih untuk menemani Alin daripada beristirahat. Tiba-tiba saja gadis itu merasa cemburu, dalam hati dia takut jika sang suami akan kembali pada mantan kekasihnya itu, mengingat mereka pernah bersama.


Semalaman baik Adam maupun Zea sama-sama tidak bisa tidur. Adam yang terus saja terbayang dengan sang istri, yang berbincang begitu bahagia bersama dengan seorang laki-laki, sementara Zea juga terbayang kenangan masa lalu suaminya bersama dengan Alin. Wanita itu takut jika dirinya akan ditinggalkan dan berakhir menjadi seorang janda.


"Kamu sudah sadar, Alin?" tanya Adam, sementara Zea tidur di ranjang yang tersedia di ruangan itu, hanya bisa mendengarkannya karena saat ini, posisinya sedang membelakangi Adam dan Alin.


"Aku ada di mana ini? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Alin yang masih merasa sedikit pusing.

__ADS_1


"Kamu sedang ada di rumah sakit, tadi pihak rumah sakit menghubungiku karena tidak ada orang yang bertanggung jawab atas dirimu di sini. Nomor yang ada di ponselmu juga tidak ada yang bisa dihubungi."


Alin mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. Dia sekarang memang hidup seorang diri dan terlunta-lunta. Bahkan wanita itu juga sudah kehilangan pekerjaan, uang tabungannya juga sudah menipis. Sudah beberapa kali dia mencari pekerjaan, tetapi tidak ada yang mau menerima wanita hamil. Apalagi saat tahu Alin belum menikah.


"Terima kasih, sudah mau menemaniku."


"Sama-sama, tapi maafkan aku, aku harus menyampaikan kabar yang kurang baik untukmu," ucap Adam dengan hati-hati, takut jika akan semakin menyakiti Alin.


"Kabar kurang baik apa?" tanya Alin yang terlihat biasa saja. Baginya kabar buruk selalu datang padanya sejak dirinya mengkhianati Adam jadi, dia sudah terbiasa akan hal itu.


"Bayimu tidak bisa diselamatkan, dokter sudah mengeluarkannya kemarin."


Alin mengembuskan napasnya, terdengar seperti ada kelegaan di dalamnya. Adam menatap wanita itu dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Dia tidak mengerti jalan pikiran mantan kekasihnya.


"Aku sudah merasakannya kemarin, saat aku mengalami kecelakaan perutku begitu terasa sakit. Di rumah sakit juga samar-samar aku mendengar hal itu, tetapi karena kesadaranku yang lemah akhirnya merenggut semuanya. Aku tidak akan apa-apa dan aku tidak pernah menyesal karena anak ini sudah mati."


Adam terkejut mendengarnya, bahkan dia membeku untuk beberapa saat. "Kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Anak itu tidak harus hidup dengan cacian seluruh masyarakat yang setiap saat ditujukan padanya. Lebih baik seperti ini, cukup aku saja yang dihina, jangan anak kecil yang tidak memiliki dosa. Ditambah dengan panggilan anak haram, itu sangat menyakitkan."


Adam mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan Alin. Di negara ini memang banyak orang yang seperti itu, mereka menyalahkan takdir yang tidak bisa orang pilih seenaknya.


"Kamu sendirian di sini?" tanya Alin yang sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Tidak, aku sama Zea, dia juga yang mengurus semua keperluan kamu tadi selama di sini."


"Terima kasih, kamu sudah membantuku. Istrimu juga sangat baik, sudah mau menolongku. Padahal kami tidak begitu saling kenal."


"Dia memang selalu baik pada siapa pun karena kebaikannya juga, terkadang membuatku cemburu," ucap Adam sambil menatap punggung istrinta.


"Cemburu? Cemburu karena apa? Bukannya kamu suka dengan wanita yang baik?"


"Iya, aku memang menyukai wanita yang baik, tapi ada kalanya juga seorang wanita harus tegas, bahwa apa yang tidak boleh dan apa yang boleh."


Alin mengerutkan keningnya, dia benar-benar tidak mengerti maksud Adam. "Kamu bicara apa, sih, Dam! Sepertinya ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan, kenapa bicara berbelit-belit seperti itu?"


.

__ADS_1


__ADS_2