Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
210. Pulang ke rumah


__ADS_3

Hari ini Kinan sudah diperbolehkan pulang. Tadi saat dokter memeriksa, semuanya juga sudah membaik. Hanya saja Kinan masih harus benar-benar bedrest untuk waktu yang tidak ditentukan. Wanita itu juga harus kembali, untuk melakukan pemeriksaan setiap satu minggu satu kali, sampai keadaannya benar-benar membaik.


Hanif selalu berada di sisi istrinya bersama dengan Mama Aisyah. Wanita paruh baya itu memang sedari pagi sudah ada di sana. Dia ingin mengetahui keadaan putrinya secara detail. Mama Aisyah tidak ingin kejadian buruk kembali menimpa Kinan lagi.


Dokter juga menjelaskan makanan apa saja yang sangat disarankan agar Kinan segera sehat, juga untuk kesehatan calon anaknya. Bahkan Hanif tidak segan mencatat di ponselnya. Pria itu takut lupa jika tidak dicatat. Dokter kemudian pamit, setelah menjelaskan semuanya dengan rinci, dari apa saja yang boleh dan tidak dilakukan oleh Kinan.


Hanif mengurus administrasi lebih dulu, sekaligus menembus obat di apotek sebelum meninggalkan rumah sakit. Sementara itu, di kamar Mama Aisyah membereskan barang-barang milik Kinan dan Hanif. Adam juga ikut membantu.


"Kinan, dokter sudah melarangmu pergi ke mana pun lebih dulu. Malah disarankan memperbanyak istirahat. Bagaimana dengan kuliah kamu?" tanya Mama Aisyah di sela pekerjaannya memasukkan baju ke dalam koper.


"Aku sudah memutuskan untuk cuti dulu, Ma. Sampai keadaanku benar-benar membaik. Kalaupun nanti sampai melahirkan aku tidak kunjung baik-baik saja, aku mungkin akan berhenti kuliah," jawab Kinan dengan nada sedih.


Dia terpaksa harus mengubur cita-citanya demi calon buah hatinya. Dirinya seorang wanita yang meski belum melahirkan seorang anak, tetapi dalam hatinya Kinan tidak rela, jika terjadi sesuatu pada calon anaknya. Biarlah dia mengubur cita-citanya, asalkan buah hatinya baik-baik saja. Meskipun wanita itu tidak kuliah, masih bisa membaca buku di rumah.


Niatnya untuk kuliah agar Kinan bisa menjadi wanita yang hebat. Yang mampu mendidik anaknya dengan baik. Sekarang tanpa sekolah mudah-mudahan dia masih bisa, mendidik anaknya dengan apa yang dia pelajari. Nanti jika dirinya tidak bisa, masih ada Hanif yang bisa ditanyai.


"Apa kamu yakin dengan hal itu? Kamu sudah sangat menginginkan kuliah dari dulu. Apa tidak bisa kuliah dengan cara online?" tanya Mama Aisyah.


Bukan dia tidak mendukung keputusan putrinya, tetapi wanita itu tidak mau Kinan menyesal di kemudian hari. Mama Aisyah sangat tahu jika putrinya sangat ingin kuliah. Bahkan dulu sempat sampai ingin mengambil magister. Sekarang belum apa-apa sudah mau berhenti.


"Aku sudah memutuskan itu, Ma. Aku tidak ingin mengorbankan anakku hanya karena cita-citaku. Mungkin aku hanya bisa belajar sampai di sini saja." Kinan menarik napas dalam-dalam, guna mengurangi sesak di dadanya.


"Apa pun keputusanmu, Mama pasti akan mendukung. Mama hanya tidak ingin kamu menyesal di kemudian hari. Mama sangat tahu seberapa besar keinginanmu."


"Insya Allah tidak, Ma."

__ADS_1


"Mengenai hal itu kamu jangan khawatir, Sayang. Aku sudah izin pada kampus untuk kamu kuliah secara online saja. Sekarang juga banyak mahasiswa yang seperti itu. Kamu juga mengalami kecelakaan di kampus, secara tidak langsung mereka juga punya tanggung jawab. Lagi pula setiap hari juga, selalu aku yang ajarin kamu," ucap Hanif yang diangguki oleh Kinan. Wanita itu begitu senang mendengar apa yang suaminya katakan.


Meskipun selama ini dia mengikuti kelas, setiap hari Hanif yang selalu mengajarinya. Bahkan Kinan lebih suka dengan cara sang suami mengajar daripada Frans. Keduanya sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, tetapi Kinan lebih nyaman saat suaminya yang mengajar. Pria itu selalu mengajarinya dengan detail. Bahkan Hanif akan mengulanginya berkali-kali, sampai benar-benar mengerti.


Wajah Kinan berbinar, dia tidak menyangka jika sang suami sudah memikirkan hak sampai sejauh itu. Wanita itu bahkan tidak pernah mengatakan pada suaminya. Kinan tidak ingin semakin menambah beban pikiran Hanif, tetapi pria itu sepertinya lebih mengerti.


"Benarkah itu, Mas? Kamu sudah mengurus semuanya?" tanya Kinan dengan tersenyum.


"Iya, sudah jangan terlalu pikirkan dulu mengenai hal itu. Sekarang kita pulang, semuanya sudah siap kan?"


"Sudah, Nak Hanif. Semuanya sudah Mama masukkan ke dalam koper, tinggal bawa pulang saja."


Hanif mengangguk menatap semua barang yang sudah siap. Dia pun menatap sang istri. "Ayo, aku angkat ke kursi roda."


Kinan begitu senang akhirnya bisa pulang juga. Dia benar-benar tidak betah berada di sana. Wanita itu tidak bisa bebas melakukan apa pun yang diinginkan, tidak seperti saat di rumah. Kinan jadi berpikir apakah mungkin nanti di rumah juga mertua dan suaminya akan bersikap seperti itu.


Dia menarik napas dalam-dalam, mengingat apa saja larangan dokter. Kali ini, apa pun itu jika demi kesehatan anaknya akan Kinan lakukan. Wanita itu tidak ingin melakukan kesalahan lagi yang akan disesalinya. Biarlah dia menahan kesenangan dirinya, itu juga demi calon buah hati.


"Apa kamu ingin membeli sesuatu, Sayang?" tanya Hanif saat mereka sedang dalam perjalanan. Dia melihat ke arah kaca di depan karena Kinan, duduk di belakang bersama Mama Aisyah. Dirinya di depan dengan ditemani Adam.


"Tidak, Mas. Aku tidak menginginkan apa pun. Mungkin Adam mau sesuatu."


Hanif melihat ke arah sampingnya, di mana Adam duduk. “Ada mau sesuatu?”


"Tidak, Pa. Aku tidak ingin sesuatu," jawab Adam sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


Saat ini dia hanya ingin sampai di rumah agar mamanya bisa beristirahat. Sebenarnya tadi anak itu juga mendengar apa saja yang dikatakan dokter. Adam secara tidak langsung, ingin Kinan melaksanakan apa yang diperintahkan dokter.


"Benar Adam tidak mau apa-apa? Nanti di rumah nggak ada cemilan bagaimana? Apa tidak apa-apa?" tanya Hanif sekali lagi.


Biasanya Kinan yang akan membawa Adam membeli snack dan makanan ringan lainnya. Sekarang keadaan wanita itu tidak memungkinkan akan hal itu.


Adam mengangguk. “Tidak apa-apa, Pa.”


Suasana pun kembali hening. Mereka tidak mau memaksa jika memang Adam tidak mau. Nanti Hanif bisa meminta tolong Bik Isa untuk membeli saat berbelanja. Sisa perjalanan hanya keterdiaman yang mendominasi.


Kinan sibuk dengan ponselnya, mencari tahu mengenai kehamilan dan keadaannya yang harus bedrest beberapa hari. Di dalam keluarganya tidak ada yang seperti itu, begitu juga dengan Mama Aida. Dia harus belajar sendiri dari yang dijelaskan oleh dokter, juga yang dia cari lewat Ponsel.


Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga di halaman rumah. Hanif menoleh ke arah sang istri dan menawarkan bantuan. "Biar aku gendong kamu, ya, Sayang?"


"Tidak usah, Mas. Aku bisa sendiri, lagian kata dokter aku masih bisa berjalan tanpa harus bantuan dari siapa pun. Meskipun harus pelan-pelan dan tidak terlalu sering."


"Ya sudah, tapi kamu hati-hati. Kamu duduk di ruang tamu saja, biar aku yang beresin kamar tamu dulu. Nanti kita pindah ke lantai bawah di kamar tamu saja. Biar kamu mudah bergerak, kalau turun pasti susah."


"Iya, Mas." Kinan pun turun dan berjalan dengan pelan memasuki rumah. Adam mengikutinya dari belakang bersama Mama Aisyah. Tampak rumah begitu sepi. Mungkin Mama Aida ada di belakang sama dengan Bibi.


"Assalamualaikum," ucap Kinan dengan pelan kemudian duduk di ruang tamu.


.


.

__ADS_1


__ADS_2