Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
275. S2 - Pernikahan


__ADS_3

Kata sah menggema di sebuah masjid pondok pesantren, yang dipimpin oleh Kyai Hasan. Semua orang merasa terharu dengan acara pernikahan ini. Mereka masih tidak percaya jika gadis yang menjadi panutan mereka akhirnya sudah menjadi milik orang lain. Mungkin nanti akan meninggalkan pondok ini. Pasti mereka akan merasa kehilangan.


Tetesan air mata juga membasahi pipi masing-masing orang, yang begitu mencintai kedua calon pengantin. Arslan dan Hira merasa lega, akhirnya mereka bisa menjadi pasangan halal, setelah melalui pergolakan batin dari kemarin. Doa-doa yang dibacakan oleh Kyai Hasan begitu menyentuh ke dalam hati. Bahkan tanpa sadar air mata menetes, ikut merasakan keharuan yang telah terjadi di masjid.


Para santri yang hadir juga merasakan keharuan. Dalam hati mereka juga ingin seperti Ning Hira, menikah dengan orang yang sempurna dalam segi fisik. Mudah-mudahan hatinya juga sama. Betapa beruntungnya gadis yang bisa bersamanya.


Selanjutnya acara penandatanganan berkas-berkas pernikahan oleh kedua pasangan pengantin. Di sinilah Arslan dan Hira bisa bertemu secara langsung, bahkan dengan jarak yang begitu dekat. Keduanya sama-sama terharu. Arslan tidak menyangka jika bisa memiliki istri secantik dan sebaik Hira.


Penghulu meminta kedua pengantin menandatangani berkas. Setelah itu Hira diminta mencium punggung tangan sang suami. Arslan membaca doa yang sudah dipelajarinya, tepat di ubun-ubun istrinya. Keduanya berharap keberkahan dalam rumah tangga mereka.


Begitupun sebaliknya, gadis itu juga begitu kagum dengan calon suaminya. Dia yakin pilihan orang tuanya tidak akan pernah salah. Sikap Arslan juga terlihat hangat dalam memperlakukan orang sekitar. Yang paling penting pria itu begitu menyayangi ibunya.


Acara dilanjutkan dengan sungkeman. Para orang tua memberikan wejangan pada mereka. Arslan dan Hira mendengarkan setiap kata yang mereka katakan dengan saksama. Keduanya bisa merasakan kasih sayang dari keluarga masing-masing.


Padahal sebelumnya Hira merasa takut jika mertuanya orang yang keras, seperti diceritakan teman-temannya. Namun, setelah bertemu beberapa kali dan puncaknya hari ini, dia yakin jika mertuanya adalah orang yang baik. Kerabat Arslan juga begitu sopan dan menghormati abinya. Tentu saja hal itu semakin membuat Hira kagum.


Setelah akad nikah selesai seluruh keluarga Arslan yang hadir, dijamu oleh Kyai Hasan di rumah kediamannya. Mereka semua pergi ke sana bersama-sama. Pasangan pengantin pun juga ikut bersama rombongan. Saat berjalan keluar, Hira jadi bingung harus berbuat dan melakukan apa.


Hingga sebuah tangan menggenggam telapak tangan dan membawanya ikut pergi bersama. Siapa lagi kalau bukan Arslan. Hira sempat memberontak, tetapi setelah tahu siapa pelakunya gadis itu pun terdiam. Ini pertama kalinya dia bergandengan tangan dengan laki-laki, rasanya jiwa ini tidak lagi pada tempatnya.


Sebenarnya Arslan juga merasa gugup. Namun, sebisa mungkin dia harus memberikan kenyamanan untuk sang istri. Apa yang pria itu lakukan ternyata berhasil membuat Hira tersenyum malu. Orang-orang yang melihatnya pun jadi ikut terbawa, dalam suasana yang pengantin ciptakan.


Banyak yang memuji mereka karena keduanya sangat serasi, yang satu tampan dan satunya juga cantik. Akan tetapi, ada juga yang iri dengan apa yang didapatkan Hira. Selama ini wanita itu selalu mendapatkan apa saja yang diinginkan. Bahkan saat tidak ingin pun kebaikan selalu menyertainya.


“Nak Arslan, tinggal di sini dulu untuk beberapa hari, ya! Sebelum membawa Hira dari sini," ucap Umi Rikha—uminya Hira.


"Iya, Umi, tapi saya tidak bisa lama-lama. Hanya tiga hari saja. Saya ada pekerjaan juga di sana," jawab Arslan dengan sopan. Umi Rikha pun mengerti dan tidak memaksa. Waktu tiga hari sepertinya juga sudah cukup.


"Iya, tiga hari juga sudah cukup."


Mereka menikmati hidangan dengan sangat lahap. Rasa masakan di pondok ternyata terasa begitu nikmat, tidak seperti yang Arslan bayangkan selama ini. Padahal semuanya dimasak oleh santriwati yang mondok di sana, bukan dari catering seperti orang lain. Pria itu jadi penasaran apakah sang istri juga bisa memasak, mengingat wanita itu adalah anak dari pemilik pondok.


"Dhek, apa kamu juga bisa masak seperti ini?" tanya Arslan sambil berbisik.


"Bisa, Mas," jawab Hira dengan pelan.


Dia malu dan takut jika ada orang yang mendengar pembicaraan mereka. Bagi Hira, ini semua masih terlalu asing, saat dirinya harus berdekatan dengan seorang pria selain ayah dan kedua kakaknya. Begini saja sudah membuatnya berkeringat dingin, bagaimana nanti mereka menjalani rumah tangga.


Gadis itu harus mulai membiasakannya dari mulai hari ini. Sekarang surganya berada pada sang suami. Hira harus melakukan apa pun atas persetujuan sang suami. Itu bukan masalah baginya, selama ini dia juga jarang keluar rumah.

__ADS_1


Semua orang menikmati makanan dengan tenang. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, keluarga Arslan harus pamit untuk undur diri. Si kembar sebenarnya masih ingin di sini, mereka ingin melihat area pondok, tetapi area pondok bukan tempat yang bisa didatangi dengan seenaknya.


"Saya titip anak saya, Umi. Tegur saja dia jika melakukan kesalahan," ucap Zayna saat berpamitan pada besannya.


"Bu Zayna tidak perlu memanggil saya seperti itu. Panggil saja Rikha, rasanya aneh saja saat Bu Kinan memanggil saya seperti itu. Kita sekarang 'kan besan."


"Mana bisa seperti itu, Umi. Umi adalah istri dari pemilik pondok pesantren ini. Rasanya tidak pantas jika hanya memanggil nama saja."


"Kalau begitu, bagaimana kalau sama-sama enak panggil mbak saja. Saya juga panggil Mbak Zayna."


Zayna berpikir sejenak, tidak ada salahnya juga ada panggilan seperti itu. Akhirnya dia pun mengangguk saja. "Kalau memang itu membuat Umi tenang, baiklah. Mulai hari ini saya akan panggil Mbak Rikha."


Umi Rikha mengangguk sambil tersenyum. Dia bisa melihat kebaikan dalam diri besannya, semoga saja nanti putrinya nyaman berada di sana. Wanita itu sempat takut jika Hira diperlakukan dengan tidak baik. Sang putri juga orangnya sangat sabar, takut diperlakukan semena-mena.


Ayman, Zayna dan anak-anak pamit undur diri. Begitu juga Hanif sekeluarga dan kerabat lainnya. Arslan sempat meminta Adam untuk menginap di sini semalam saja agar dia ada yang menemani. Namun, sepupunya itu dengan tegas menolak.


Adam sudah merasa, pastinya nanti akan jadi obat nyamuk pasangan pengantin itu. Lebih baik Arslan mencari orang lain saja untuk menemani. Di pondok juga banyak pria, sudah cukup dia dibuat pusing dari kemarin oleh sepupunya. Dia juga butuh istirahat yang cukup untuk menjalani hari esok.


"Kak Adam kalah cepat sama Kak Arslan," sindir Aini yang saat ini sedang satu mobil dengan pria itu dan juga Aina, sementara para orang tua juga satu mobil.


"Memangnya kenapa? Aku tidak masalah, memangnya pernikahan itu ajang cepat-cepetan? Masih ada satu tahun menunggu jodohku."


"Memang Kakak yakin kalau dia masih menunggu Kakak? Jangan-jangan di luar negeri Zea sudah ada gebetan," ucap Aini yang sengaja ingin membuat Adam cemburu.


"Bagaimana caranya?"


Adam pun menjawab dengan santai. "Sama seperti yang kalian lakukan dulu padaku."


Aini dan Aina saling pandang, seolah mengerti apa yang dimaksud Adam. Namun, sepertinya akan sulit mengingat jarak tempuh mereka sangat jauh.


"Bagaimana bisa, Kak? Kalau dulu kan kita tinggal di satu kota, sementara sekarang jangankan di luar kota, malah di luar negeri. Bagaimana Kakak bisa menjauhkan Zea sama pria-pria di luar sana?" tanya Aina yang diangguki Aini.


"Itu urusanku, kalian tidak perlu tahu. Yang ada nanti malah mengacaukan rencanaku saja."


Si kembar semakin bingung, tetapi setelah dipikirkan lagi, keduanya tidak mau memusingkan hal itu. Adam dan Zea juga saling mencintai. Tidak ada salahnya jika keduanya saling berusaha, untuk mempertahankan jodoh mereka masing-masing.


"Memang Kak Adam nanti maunya langsung menikahi Zea, kalau dia sudah selesai kuliah? Bagaimana kalau nanti Zea masih ingin mengejar karirnya lebih dulu?"


"Tidak masalah kalau dia mau mengejar karirnya. Aku juga akan mendukungnya," sahut Adam tanpa beban.

__ADS_1


"Iya, tapi saat itu usia Kak Adam sudah tidak muda lagi, sudah tidak produktif. Yakin masih mau menunggu Zea?" tanya Aini yang sengaja ingin mengompori sepupunya.


"Kalian ini, bukannya mendukungku, malah membuatku down saja. Seharusnya kalian itu memberi support dan membantuku untuk mendapatkan Zea. Bukan malah sebaliknya. Aku jadi malas cerita sama kalian."


Bukannya marah si kembar malah terkekeh dengan apa yang dikatakan Adam. Mereka bersyukur karena pria itu sekarang sudah lebih baik daripada kemarin. Setidaknya bisa marah juga meskipun dalam hati, sepupunya pasti masih merasa sedih karena harus berjauhan dengan orang yang dia cintai. Setidaknya kesedihan itu tidak berlarut-larut.


Semuanya juga tidak akan mengubah keadaan. Aini juga sudah mulai mengiklaskan perasaannya terhadap Adam. Sudah tidak ada gunanya juga memaksakan kehendak. Pria itu juga tidak akan pernah mencintainya. Saat ini dia ingin fokus saja pada kuliahnya, sama seperti kedua saudaranya.


Buktinya Arslan sekarang juga mendapatkan jodoh yang baik, tanpa harus repot memikirkannya. Itu juga yang membuat Aini yakin jika Tuhan sudah menentukan jodoh untuknya. Entah siapa pun itu, dia berharap pria itu baik. Cinta bisa datang seiring berjalannya waktu, tetapi kebaikan sangat sulit untuk dicari.


Aina yang mengerti perasaan Aini pun memeluk saudaranya sambil tersenyum. Dia senang dengan perubahan yang dialami saudaranya. Memang benar kata orang jika luka bisa membuat orang bisa bersikap dewasa. Semoga setelah ini semua orang bisa berbahagia dengan caranya masing-masing.


"Kalian mau ke pantai nggak? Mumpung bentar lagi kita melewatinya, kita mampir sebentar," ajak adam.


"Boleh, Kak. Kebetulan juga lagi pengen liburan, nih! Nanti kakak yang traktir, ya? Kita nggak bawa duit," sahut Aini dengan cepat.


"Alasan saja kalian pakai nggak bawa duit. Om Hanif mana mungkin membiarkan anaknya keluar tanpa membawa uang."


"Yaelah, Kak. Nggak tiap hari juga Kak Adam traktir kita. Masa pelit gitu sama saudara sendiri."


"Iya,"


Tiba-tiba Adam teringat dengan restoran milik almarhumah ibunya. Dia sampai melupakan hal itu. Tadinya pria itu kemarin hanya menggertak saja dengan mengatakan ingin mengambil restoran itu, tetapi setelah apa yang Akmal lakukan padanya. Adam tidak bisa tinggal diam dan harus benar-benar, mengambil alih restoran tersebut.


Pria itu pun mengirim pesan pada pengacaranya untuk mengurus segala keperluan untuk berkasnya. Adam penasaran, membayangkan bagaimana reaksi keluarga tirinya nanti. Mereka terlalu meremehkan dirinya yang sudah sangat baik. Kali ini dia tidak akan main-main.


Aina dan Aini yang melihat Adam tersenyum pun menjadi aneh. Sepertinya pria itu sedang merencanakan sesuatu. Keduanya takut jika Adam akan melakukannya saat di pantai nanti. Apalagi saat ini mereka hanya bertiga saja.


"Kak Adam, nggak akan macam-macam di pantai nanti, kan?" tanya Aina sambil melihat ke arah sepupunya itu.


"Memang apa yang akan aku lakukan?" Adam mengerutkan keningnya, sambil melihat ke arah si kembar sekilas kemudian fokus kembali pada kemudinya.


"Aku hanya takut saja dengan ekspresi Kak Adam barusan, sepertinya Kakak sedang merencanakan kejahatan."


Adam mendengus mendengar apa yang dikatakan sepupunya. "Memang aku ini ada tampang penjahat, apa? Kalian ini sudah mengenalku dari dulu, tapi masih saja menuduhku yang tidak-tidak!"


"Barangkali saja Kakak mau bunuh diri karena tidak bisa mendapatkan Zea," jawab Aini sekenanya.


"Enak saja kalau bicara. Aku masih tahu dosa, nggak mungkin aku bunuh diri."

__ADS_1


.


.


__ADS_2