
Seperti yang diperintahkan Papa Hanif kemarin, hari ini Adam datang ke rumah keluarga Ayman. Dia ingin mengatakan apa yang terjadi pada rencana pernikahannya, sekaligus meminta Arslan dan si kembar untuk tidak menceritakan apa pun pada Zea. Yang lebih penting lagi, pria itu ingin meminta maaf pada Aini karena tidak bisa membalas Perasaan gadis itu. Selama ini Adam hanya menganggap sepupu saja, tidak lebih. Semoga saja mereka mau membantu dan Aini juga mau memaafkannya.
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, akhirnya Adam sampai juga di rumah sepupunya. Tampak di depan rumah ada tukang kebun yang sedang membersihkan halaman. Dia baru melihatnya hari ini mungkin pekerja baru. Pria itu pun langsung masuk saja, sudah biasa juga baginya.
"Assalamualaikum," ucap Adam sambil mengetuk pintu yang sudah terbuka.
"Waalaikumsalam. Eh, kamu Adam. Ayo, masuk saja," sahut Zayna yang sedang berada di ruang tamu. Tampak wanita itu sedang sibuk dengan buku yang ada di tangannya.
"Tante sepertinya sangat sibuk sekali," tegur Adam saat mendekati tantenya itu.
Tanpa melihat ke arah Adam wanita itu menjawab, "Tante lagi mempersiapkan pernikahan Arslan."
"Arslan beneran mau menikah, Tante? Jadi perjodohan itu berhasil?"
"Ya, begitulah."
Adam tidak menyangka jika Arslan benar akan menikah. Pria itu pikir jika sepupunya itu tidak akan pernah mau dijodohkan. Mengingat pergaulan Arslan yang dari berbagai kalangan. Teman wanitanya juga terbilang cukup banyak. Dia pernah mendengar jika ada salah satu dari mereka menyukai sepupunya.
"Aku ketinggalan berita sepertinya."
"Tidak juga, rencana ini juga dadakan. Kami semua baru memutuskannya semalam. Kalau Tante tahu kamu ke sini, Tante suruh sekalian ajak mama kamu biar dia bisa bantu-bantu Tante buat mikir."
"Besok saja, Tan. Biar aku antar Mama ke sini."
"Iya, boleh, biar nanti Tante telepon dia dan besok tinggal kamu ajak ke sini."
"Iya, Tante. Arslan mana, Tan?" tanya Adam sambil melihat sekeliling yang ternyata begitu sepi.
"Dia ada di atas. Kalau tidak di kamarnya sendiri mungkin di kamar adik-adiknya. Kamu cari saja di lantai atas."
__ADS_1
Adam pun segera ke atas untuk mencari di mana Arslan berada. Namun, saat akan pergi ke kamar sepupunya itu, ternyata sedang bersama dengan dua adiknya duduk di balkon lantai dua. Pria itu pun mendekati mereka yang terlihat begitu asyik mengobrol.
"Sore-sore lagi ngobrolin apa, nih?" tanya Adam begitu sampai di teras.
"Eh, kamu Adam. Sore-sore gini masih saja bertamu, numpang makan," balas Arslan karena memang sekarang sudah sore hampir petang, tetapi sepupunya malah datang bertamu. Dia yakin pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakan Adam.
"Biarin, di rumah juga sendirian bosan jadi, aku ke sini buat gangguin kalian."
"Makanya jangan suka menyakiti hati wanita, sekarang kena karmanya, kan?" sindir Aini tanpa melihat Adam. Aina dan Arslan jadi merasa tidak enak pada sepupunya.
Adam menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan perlahan. "Itulah kenapa aku datang ke sini. Aku ingin minta maaf sama kamu Aini, aku sudah menyakiti hatimu. Jujur aku tidak pernah berniat seperti itu. Selama ini aku benar-benar menganggap kamu sebagai sepupu, tidak lebih karena memang itulah hubungan kita. Kalau kamu menginginkan lebih, aku mohon maaf. Aku tidak bisa, aku juga bersalah pada Zea karena aku juga berbohong mengenai perasaanku yang sebenarnya. Aku juga mencintai adikku," ucap Adam membuat ketiga bersaudara itu terkejut dan secara bersamaan menoleh ke arah Adam.
"Apa yang kamu katakan, Dam? Jangan bilang kamu mencintai Zea?" tanya Arslan seolah mewakili isi hati kedua adiknya, yang juga belum mempercayai apa yang baru saja Adam katakan.
"Faktanya memang begitu, aku memang mencintai Zea, hanya saja selama ini aku mencoba menutupinya karena tidak ingin membuat mama dan papa bersedih. Aku tidak mau disebut sebagai seorang anak yang tidak tahu diri dan tidak tahu Terima kasih, tetapi sejak kepergian Zea, aku baru sadar meskipun aku menutupinya, cinta itu tetap tumbuh subur di dalam hatiku."
"Lalu bagaimana dengan calon istri Kak Adam?" tanya Aina.
"Maksudnya? Kak Adam disakiti calon istri Kakak?" timpal Aini.
"Iya, dia selingkuh dengan adik tiriku," jawab Adam dengan pelan, tetapi masih bisa didengar oleh ketiga bersaudara.
"Apa?" teriak ketiganya secara bersamaan.
"Bagaimana bisa Alin selingkuh sama saudara tirimu? Bukankah rumah saudara tirimu itu ada di luar kota?" tanya Arslan yang semakin penasaran dengan cerita Adam.
"Bagaimana bisa mereka saling kenal, aku juga tidak tahu dan aku juga tidak mau tahu. Yang namanya selingkuh tetap saja selingkuh, terlepas siapa yang bersamanya. Entah itu bersama dengan saudara tiriku atau dengan pria lain. Aku juga tidak mungkin kembali padanya. Selain karena dia sudah selingkuh, aku sekarang sudah sangat-sangat yakin jika hatiku hanya untuk Zea. Aku juga tidak mungkin menyakiti hati wanita lain dengan berpura-pura mencintainya."
"Jadi Kak Adam selama ini tidak cinta sama Alin?" tanya Aini yang mulai tertarik dengan cerita Adam.
__ADS_1
"Dari awal aku memang tidak mencintainya, hanya saja aku terkesan dengan Alin karena dia wanita yang baik, lemah lembut dan suka menolong orang lain."
"Jangan bilang dulu saat Kak Adam dan Alin jadian, Alin lah yang nembak duluan?" tebak Aini yang diangguki oleh Adam, membuat ketiga bersaudara menggelengkan kepala.
Pantas saja Adam selalu mendahulukan keluarganya daripada Alin, nyatanya pria itu memang tidak ada rasa cinta untuk kekasihnya. Meskipun Apa yang dilakukan Adam memang sudah benar dengan mendahulukan keluarga. Alin saat itu juga statusnya hanya sebagai pacar.
"Terus rencana kamu sekarang apa? Apa Om Hanif dan Tante Kinan setuju? Apa kamu akan menjemput Zea dan membawanya pulang?" tanya Arslan.
"Itu juga yang membuatku ke sini. Papa memberikan syarat padaku."
Adam pun menceritakan apa yang diinginkan oleh Hanif darinya. Ketiga bersaudara hanya diam mendengarkan, sementara Aini hatinya merasa terluka. Ternyata Adam memang benar-benar tidak berjodoh dengannya. Sebesar apa pun dia mencintai pria itu, tidak akan pernah membuat cinta datang padanya.
Gadis itu juga tidak mau menjalin hubungan dengan seorang pria yang tidak mencintainya. lebih baik dicintai dari pada mencintai, itulah yang ingin Aini rasakan suatu hari nanti. Semoga saja ada seorang pria yang benar-benar mencintainya dan memberikan dia kebahagiaan.
"Jujur, kalau aku setuju sama Om Hanif. Sebaiknya kamu juga pikirkan baik-baik mengenai perasaanmu. Aku juga tidak mau kalau kamu hanya mempermainkan Zea," ucap Arslan setelah Adam menyelesaikan ceritanya.
"Itulah yang aku pikirkan, tapi jujur dalam hatiku aku juga takut. Bagaimana jika hati Zea sudah tidak lagi untukku, saat waktu sudah terlewati? Satu tahun bukanlah waktu yang sebentar," ucap Adam dengan lesu.
"Maksudnya pacar? Kamu takut setahun kemudian Zea punya pacar?" tanya Arslan yang diangguki oleh Adam, membuat ketiga bersaudara terkrkeh.
Mereka sangat tahu jika Zea sangat menjunjung tinggi apa yang kedua orang tuanya katakan. Hanif dan Kinan sendiri dulu melarang anak-anaknya berpacaran. Hanya Adam saja yang bandel mau menjalin hubungan dengan wanita dan akhirnya dikhianati juga. Sekarang memikirkan adiknya juga seperti itu.
"Percayalah, Dam. Kalau dia memang jodoh kamu, dia pasti akan kembali padamu. Begitu pula sebaliknya, kalau dia memang bukan jodohmu, sekuat apa pun kamu mempertahannya, hatinya tetap untuk orang lain."
"Kata-katamu sama seperti apa yang papa katakan. Berkata memang lebih mudah, yang sulit itu menjalaninya."
"Memang Hanya itu yang bisa kita katakan. Semoga kamu bisa sabar dalam menghadapi semuanya." Arslan menepuk bahu Adam sebagai ungkapan jika dirinya, mendukung apa pun yang dilakukan sepupunya itu.
.
__ADS_1
.