
Akhirnya Adam dan Zea sampai juga di kampus tempat gadis itu menuntut ilmu. Banyak mahasiswa yang berlalu-lalang dengan kesibukannya masing-masing. Keduanya turun dari mobil, semua orang juga tahu siapa mereka.
“Belajar yang rajin, jangan pacaran-pacaran saja,” ucap Adam sambil mengusap kepala adiknya.
“Aku nggak pernah pacaran, enak saja,” kilah Zea.
“Bagus kalau begitu. Lebih baik belajar yang rajin. Nanti kalau sudah bekerja dan bisa membahagiakan orang tua, baru boleh pacaran.”
“Selamat pagi, Kak Adam!” seru dua orang gadis yang menyapa pria itu.
Adam dan Zea pun mengalihkan pandangan ke arah dua orang itu. “Selamat pagi, wah! Kalian makin hari, makin cantik, ya!” puji pria itu pada si kembar Ay.
“Terima kasih, Kak Adam. Kakak juga selalu tampan,” balas Ainiya dengan tersenyum malu.
Zea memutar bola matanya malas, si kembar memang selalu paling bisa cari muka, terutama si Niya. Gadis itu yang selama ini menaruh hati pada kakaknya, tetapi sama sekali tidak mendapat respon. Jujur dia kasihan melihatnya, kembali lagi sepupunya sendiri yang cari masalah. Selama ini dia juga selalu membantunya dengan menjauhkan para gadis, yang mendekati Adam.
Sebenarnya Zea juga merasa tidak enak pada kakaknya, tetapi melihat cinta Niya yang begitu besar, dia tidak tega. Gadis itu juga yakin Adam akan bahagia dengan sepupunya. Yang paling penting, keluarga mereka saling mengenal satu sama lain. Akan tetapi, masih ada keraguan dalam hati Zea.
Gadis itu takut jika Adam dan Niya tidak boleh menikah karena masih satu keluarga. Dia sama sekali tidak mengerti hal seperti itu. Zea juga belum mengetahui jika Adam bukanlah kakak kandungnya, begitu juga dengan Ainaya dan Ainiya. Semua informasi itu dikubur dalam-dalam.
Hanif dan Kinan memang sengaja merahasiakan hal ini. Mereka tidak ingin kasih sayang antara kedua anaknya berubah. Lebih baik dirahasiakan saja. Adam juga sama sekali tidak keberatan mengenai hal itu.
Pria itu yakin jika keputusan yang diambil kedua orang tuanya memanglah yang terbaik.
Justru dia takut, bagaimana kalau Zea tahu yang sebenarnya. Apakah adiknya tetap akan memperlakukan Adam seperti sebelumnya. Mungkinkah kebersamaan mereka selama ini akan berubah, mengingat keduanya tidak memiliki ikatan darah.
__ADS_1
“Kak Adam, apa kabar? Sudah satu bulan kita nggak ketemu, aku kangen banget sama Kakak,” ucap Niya dengan bergelayut manja di lengan Adam.
Naya yang ada di sebelah saudaranya itu hanya bisa menghela napas. Dia sudah berkali-kali menasehati saudaranya agar mengubur cintanya, tetapi hal itu justru akan membuat mereka bertengkar. Gadis itu hanya kasihan karena cinta Niya bertepuk sebelah tangan. Naya bisa melihat tidak ada cinta sedikitpun di mata Adam untuk saudaranya, lalu untuk apa dikejar.
“Baik, aku selalu baik.” Adam berusaha melepas tangan Niya yang memeluk lengannya.
“Alhdulillah kalau begitu. Setiap malam aku selalu mendoakan Kakak agar selalu sehat. Tidak lupa juga agar kita berjodoh dari dunia hingga akhirat.”
Adam hanya diam tidak menanggapi ucapan Niya. Dia masih terus berusaha melepaskan tangan gadis itu. Pria itu terlihat tidak nyaman di dekat Niya. Zea yang mengerti pun segera membantu kakaknya.
“Niya, Kakak harus pulang. Kasihan dia masih lelah, dia baru pulang tadi pagi. Ayo kita masuk!” ajak Zea yang segera menarik tangan sepupunya. Naya pun mengikuti dari belakang.
Adam menghela napas lega. Akhirnya dia bisa lepas dari jeratan Niya. Pria itu tidak ingin ada hubungan diantara mereka. Selain karena dirinya sudah memiliki kekasih, Adam sangat tahu diri dari mana dia berasal. Pria itu tidak ingin melempar kotoran ke wajah Kinan sekeluarga.
"Kamu ini apa-apaan, sih Zea. Aku 'kan lagi nyari kesempatan buat deket sama Kak Adam. Kamu malah melarang aku. Jangan bilang kalau kamu nggak setuju kalau aku jadi kakak ipar kamu." Nia melotot ke arah Zea.
"Bukan seperti itu, Nia. Kakak tuh bener-bener lagi capek, baru pulang tadi pagi. Kalau bukan karena kamu yang ngotot mau kakak antar aku, aku juga nggak akan minta Kak Adam buat antar aku. Kasihan dia pasti masih capek," sahut dengan Zea cepat.
"Niya, kamu apa-apaan, sih! Zea juga sudah nurutin keinginan kamu, tapi kamu masih saja berburuk sangka. Lagian Kak Adam itu nggak suka sama kamu. Kamu nggak boleh maksa perasaan seseorang. Kamu juga Zea, kamu jangan selalu menuruti keinginan Niya. Dia itu suka ngaco," sela Naya yang juga geram dengan tingkah saudaranya.
Naya dan Zea sama-sama terdiam. Keduanya mengakui jika sama-sana melakukan kesalahan. Mereka sadar akan hal itu, tetapi mau bagaimana lagi. Baik Zea maupun Naya sama-sama saling membantu dalam keadaan apa pun, bahkan untuk hal yang tidak, mereka pasti tetap melakukannya.
"Iya, iya kalian yang menang. Ayo kita masuk! Kalau aku semakin di sini, pasti akan mendapat ceramah panjang lebar dari Naya. Ayo Zea." Niya menarik tangan Zea dan membawanya untuk masuk ke kelas.
Zea merasa tidak enak dibuatnya. Kedua saudara kembar itu memang tampak kompak di luar, tetapi juga mereka sering bertengkar karena hal-hal yang kecil. Sementara itu, Naya hanya memandang saudara dan sepupunya dengan kesal. Selalu saja seperti itu, Niya tidak pernah mau mendengarkan pendapatnya, saat dirinya merasa benar.
__ADS_1
Sementara itu, Adam memilih untuk kembali ke rumah. Dia masih sangat rindu dengan Mama Kinan. Sudah sebulan hanya lewat sambungan telepon saja, tidak bisa bermanja-manja. Biasanya kalau di rumah, setiap ada kesempatan, pria itu pasti akan menghabiskan waktu dengan mama dan adiknya.
Dalam perjalanan pulang, ponsel Adam berdering. Tertera nama sang kekasih di sana, yang sengaja Adam samarkan dengan nama laki-laki agar saat Zea membukanya, gadis itu tidak tahu. Sebenarnya dia juga merasa bersalah karena sudah membohongi keluarga, tetapi pria itu tidak punya pilihan lain.
"Assalamualaikum, selamat pagi, Sayang," ucap Adam begitu menggeser tombol hijau.
"Waalaikumsalam, kamu masih tidur, Sayang?" tanya wanita yang berada di seberang, yang tidak lain adalah kekasih Adam yang bernama Alin.
"Tidak, ini aku sedang di jalan. Baru saja aku mengantar Zea ke kampus. Biasalah dia selalu manja, ingin diantar sama aku."
"Oh ... aku kira kamu masih tidur. Aku jadi iri sama adik kamu, yang selalu bisa bersama kamu kapan pun dan di mana pun. Kamu juga selalu mendahulukannya dari siapa pun, termasuk aku. Kapan aku akan berada di posisi itu," ucap Alin dengan nada sedih.
Sebagai seorang kekasih, dirinya juga ingin diperhatikan. Apalagi saat melihat teman-teman nya yang begitu romantis, tentu saja wanita itu iri. Dia tahu jika Adam sangat mencintainya, tetapi cinta tanpa perhatian juga rasanya percuma. Setiap wanita pasti juga ingin diperhatikan.
"Kamu sabar, ya! Nanti akan ada saatnya kamu juga spesial dalam hidupku. Untuk saat ini kamu mengerti 'kan keadaanku? Kita jalani semua ini seperti ini dulu. Nanti kamu juga akan menjadi yang terspesial."
Adam merasa bersalah pada kekasihnya. Selama ini Alin selalu mengalah dan mengerti, tetapi dirinya yang selalu mengabaikan perasaan kekasihnya itu. Dia berharap saat waktu itu tiba, seluruh keluarga mendukungnya, termasuk Zea.
"Iya, aku mengerti. Kamu jangan terlalu memikirkannya. Sekarang yang penting kamu fokus saja pada pekerjaan. Masalah di restoran kemarin, sudah teratasi, kan?" tanya Alin mengalihkan pembicaraan.
"Iya, kamu tenang saja. Semuanya sudah teratasi dengan baik."
Keduanya pun berbincang sejenak, sebelum akhirnya Adam mengakhiri panggilan, saat dirinya sudah hampir sampai.
.
__ADS_1
.