Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
95. Kebersamaan


__ADS_3

Kinan memegangi dadanya yang tiba-tiba berdetak tidak beraturan. Tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan. Dia pun tidak bisa berpikir dengan jernih. Entah apa alasan Hanif melakukannya tadi.


“Neng, kenapa bengong?” tegur Bik Ira.


“Hah?”


“Neng, lagi kesambet?” tanya Bik Ira dengan menatap takut pada Kinan.


“Nggak lah, Bik. Siapa juga yang kesambet.”


“Terus kenapa bengong?”


“Hah? Oh, Pak Hanif ke mana, Bik?” tanya Kinan setelah sadar dari lamunannya.


“Kan, tadi dipanggil Tuan karena orang tuanya mau pulang.”


Kinan segera berjalan keluar dengan amarahnya. Bisa-bisanya dosen itu bersikap mesum padanya. Mereka hanya pura-pura menerima perjodohan ini, tetapi kenapa pria itu bersikap seolah mereka semua nyata? Namun, tidak dipungkiri jika ada sesuatu dalam dirinya yang merasa berbunga-bunga.


“Ke mana Pak Hanif tadi, Ma?” tanya Kinan dengan amarah yang tertahan.


“Sudah pulang. Memang ada apa?”


Kinan menghentakkan kakinya karena kesal. Dia sudah terlambat untuk memberi pelajaran pada dosennya itu. Hanif pergi begitu saja setelah mencuri ciuman di keningnya.


“Awas saja kalau ketemu. Eh, aku nggak mungkin menghajarnya di kampus. Bisa-bisa semua orang tahu hubungannya denganku,” ucap Kinan dalam hati.


“Kamu kenapa, sih, Kinan?” tanya Mama Aisyah karena melihat putrinya hanya diam setelah bertanya mengenai Hanif.


“Nggak apa-apa, Ma. Kinan mau ke kamar dulu, mau istirahat.”


Kinan pun pergi meninggalkan kedua orang tuanya menuju kamar. Menumpahkan semua kekesalannya di sana. Hari ini terlalu banyak berita mengejutkan untuk gadis itu.


“Pa, apa keputusan kita benar dengan menuruti keinginan Aida? Mama takut malah membuat Kinan sedih. Papa lihat ‘kan tadi dia begitu emosi, sepertinya dia marah pada Hanif,” ujar Mama Aisyah.


“Sepertinya tidak apa-apa, Ma. Papa percaya pada Hanif. Dia pria yang baik. Seperti yang dikatakan Aida tadi, kita hanya akan pura-pura menjodohkan mereka sesuai permintaan Hanif. Jika nanti Kinan tidak menyukai Hanif dan memiliki pilihan sendiri, kita tidak akan memaksanya.”

__ADS_1


Mama Aisyah mengangguk. “Lagian si Hanif, kalau naksir anak kita, kenapa nggak bilang langsung saja pada Kinan. Kenapa harus ada drama, sih? Pake ngelibatin kita.”


Awalnya Mama Aisyah ingin menolak permintaan sahabatnya, tetapi Bu Aida mencoba membujuknya agar mau pura-pura menjodohkan anak-anak mereka. Lagi pula Hanif tidak akan pernah memaksa Kinan untuk menerimanya. Pria itu akan melepaskan pujaan hatinya jika memang tidak ada cinta.


Papa Hadi dan Mama Aisyah hanya berpura-pura melakukan semua itu dengan tujuan agar Kinan tidak dekat dengan pria lain. Itu juga baik untuk putrinya, jadi mereka setuju saja dengan catatan tidak akan ada pemaksaan.


“Sudahlah, Ma. Kita berdoa saja, semoga Hanif benar-benar mencintai Kinan dan bisa memperlakukannya dengan baik.”


“Amin.”


****


Sementara itu, di dalam kamar. Zayna bersandar di dada sang suami. Keduanya masih berbincang, kegiatan yang selalu mereka lakukan sebelum tidur.


“Mas, apa Kinan dijodohkan dengan pria tadi?” tanya Zayna.


“Aku juga nggak tahu, Sayang. Kemungkinan sih, iya. Hanif itu tidak pernah mau ikut campur dalam urusan bisnis papanya. Bahkan untuk sekadar berkenalan dengan rekan bisnis Om Wisnu pun dia tidak mau, tapi sekarang malah datang ke rumah bersama kedua orang tuanya. Apalagi kalau bukan dijodohkan.”


“Apa Kinan akan menerima perjodohan ini, Mas?”


Zayna mengangguk. Dia juga bisa melihat keluarga mereka yang sangat baik. Semoga saja Kinan dan Hanif memang berjodoh. Kalau pun tidak, mudah-mudahan kedua keluarga masih tetap bisa menyambung tali silaturahmi. Wanita itu tidak ingin kejadian keluarga Wina terulang kembali.


Meskipun Mama Aisyah mengatakan tidak apa-apa, tetap saja Zayna merasa bersalah atas apa yang terjadi. Apalagi sekarang ini keluarga Wina meminta ponakannya itu menikah dengan Ayman. Meskipun dia merasa bersalah, tetap saja wanita itu tidak akan pernah mau berbagi suami bagaimanapun keadaannya.


“Memang kenapa, sih, Sayang. Apa Kinan sudah memiliki kekasih?” tanya Ayman karena merasa aneh pada sang istri. Biasanya wanita itu tidak pernah ikut campur urusan orang lain sekalipun keluarganya.


“Aku tidak tahu. Kinan tidak pernah menceritakan masalah pribadinya.”


“Oh, aku kira kamu tahu. Ya sudah, kamu tidak perlu terlalu memikirkannya. Besok kita jadi, kan, ke rumah sakit buat tanya ke dokter, apa kamu bisa naik pesawat atau tidak?”


“Sepertinya tidak perlu, Mas.”


“Kenapa?”


“Tadi Papa telepon karena lihat status Papa Hadi yang berbahagia karena sebentar lagi akan menjadi kakek, jadi Papa tahu kalau aku hamil. Padahal aku ingin memberi kejutan pada Papa, ternyata gagal. Papa melarang aku buat naik pesawat karena itu berbahaya buat kandunganku. Nanti saja, biar Papa yang ke sini.”

__ADS_1


"Maafin Papa, ya! Dia telah menggagalkan rencanamu. Pasti karena terlalu bahagia."


"Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti."


“Ya sudah, kalau seperti itu. Aku juga khawatir sama keadaan kamu kalau naik pesawat. Nanti kita buat acara di sini saja.” Zayna mengangguk dan semakin mempererat pelukannya pada sang suami.


“Sayang, aku boleh tanya sesuatu dan aku harap kamu menjawabnya dengan jujur,” ujar Ayman.


“Tanya apa, Mas?”


“Apa kamu pernah merasa menyesal karena sudah menikah denganku?”


“Maksud kamu?” Aku tidak mengerti, menyesal kenapa?” tanya Zayna bertubi.


“Kamu tahu ‘kan kalau awal pernikahan kita, tidak ada cinta. Di dalam hatimu, yang kamu cintai adalah Fahri dan sekarang pria itu sudah sendiri, apa kamu tidak ingin kembali dengannya? Aku yakin dia juga pasti masih mencintaimu.”


Zayna tidak suka dengan pertanyaan sang suami. Dia segera melepas pelukannya dan menjauhkan tubuhnya. Sudah satu tahun lebih mereka bersama, tidak bisakah pria itu melihat cintanya?


“Kamu bicara apa sih, Mas? Iya, memang dulu aku tidak ada cinta sama kamu, tapi bukan berarti selamanya seperti itu. Aku juga tidak pernah berpikir untuk kembali pada Fahri. Aku tidak mau jatuh ke lubang yang sama. Sekalipun kamu tidak mencintaiku, aku tidak akan mungkin kembali padanya. Perlu kamu tahu, saat ini dan selamanya, hatiku sudah terpaut padamu. Cintaku hanya untuk kamu seorang. Apalagi ditambah dengan keluarga kamu yang begitu menyayangiku dan selalu memperlakukan seperti keluarga mereka sendiri. Itu tidak akan pernah aku dapatkan di mana pun. Kenapa kamu meragukanku? Apa aku bukan wanita yang baik, hingga kamu mempertanyakan cintaku padamu?” tanya Zayna dengan meneteskan air matanya.


Dia sudah menyerahkan seluruh hatinya pada pria itu. Kenapa masih ada keraguan di hati Ayman. Tidak cukupkah kebersamaan mereka selama ini untuk membuktikan perasaannya.


“Bukan begitu, Sayang. Aku hanya tidak percaya diri saja. Aku takut jika selama ini aku belum bisa memberikan kamu kebahagiaan yang kamu inginkan. Maafkan aku," ucap Ayman yang mencoba menghapus air mata Zayna.


“Mas, kebahagiaanku hanya ada padamu. Selama kamu ada bersamaku dan selalu menemaniku, itu kebahagiaan yang tidak akan bisa tergantikan.”


“Tentu, kamu adalah segalanya bagiku. Apalagi sekarang sudah ada pengikat diantara kita. Itu semakin membuat aku tidak ingin jauh darimu.”


“Karena itulah, jangan pernah meragukan cintaku padamu.”


“Begitu juga denganku. Meski Wina atau siapa pun wanita yang dekat denganku, Aku tidak pernah tertarik pada mereka. Hatiku sudah terikat padamu dan selamanya hanya ada kamu di dalam hati. Kamu harus percaya padaku. Sekali lagi, maafkan aku,” ujar Ayman.


Zayna mengangguk kemudian kembali memeluk sang suami dengan erat. Begitu juga dengan Ayman yang dan tak ingin ada yang bisa memisahkan mereka. Kebahagiaan mereka sederhana, semoga saja selamanya seperti ini.


.

__ADS_1


.


__ADS_2