
"Maaf, Ayman. Kami terlambat," ucap seorang pria yang baru saja datang sambil menyalami Ayman. Siapa lagi kalau bukan Lukman.
"Tidak apa-apa, Lukman. Kamu seperti sama siapa saja," sahut Ayman dengan tersenyum.
Mereka pun salaman satu persatu. Arslan yang melihat gadis bersama dengan teman ayahnya, cukup terkagum karena ternyata, tidak seperti yang dia pikirkan. Selama ini pria itu berpikir jika gadis yang akan dijodohkan dengannya adalah gadis yang cupu dan jelek. Ayman yang melihat sang putra sedari tadi menatap ke arah gadis itu pun, menyenggol kakinya agar Arslan menjaga pandangan. Anak dari sahabatnya juga dari tadi hanya menundukkan kepala.
"Apa ini anak kamu, Lukman?" tanya Ayman sambil melihat gadis tersebut sekilas.
"Iya, dia putriku satu-satunya. Dua adiknya laki-laki," jawab Lukman yang kemudian menatap Arslan. "Kalau laki-laki ini pasti anak tertuamu, ya?"
"Iya, sama seperti anakmu, ia anak laki-laki satu-satunya di keluargaku. Untuk itulah aku ingin dia berkenalan dengan putrimu agar kita bisa berbesanan dan semakin mempererat persaudaraan kita."
"Kalau aku setuju saja, kebetulan putriku juga belum ada yang datang meminang untuk dijadikan istri. Kalau putramu sendiri, bagaimana? Aku takutnya dia punya pacar."
"Kamu jangan khawatir soal itu. Arslan selama ini juga tidak punya pacar. Iya, kan, Ars?” tanya Ayman sambil menatap putranya.
“I–iya, Pa,” jawab Arslan tergagap karena sedari tadi, dia terus saja melirik ke arah gadis di depannya.
Mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama. Dari awal bertemu saja hatinya terasa berdesir, ada sesuatu yang tidak pernah dia rasakan. Jantungnya pun berdetak tidak beraturan. Zayna tersenyum melihatnya, wanita itu tahu jika sang putra ternyata sudah jatuh cinta.
Dia bersyukur akan hal itu karena merasa jika perjodohan ini bukanlah sebuah paksaan. Gadis di depannya juga sepertinya memang orang yang baik. Sudah dari tadi terus menunduk kepala, artinya dia bisa menjaga pandangannya. Mudah-mudahan seterusnya seperti itu, bukan sekarang saja yang hanya ingin mencari perhatian.
"Jadi kamu sudah setuju untuk menikahkan anak kita?" tanya Lukman.
"Tentu saja, semua aku serahkan padamu. Aku yakin kamu bisa mencari hari yang baik untuk pernikahan anak-anak kita, tapi terlebih dahulu sepertinya putraku ingin melihat wajah putrimu, yang sudah dari tadi menunduk terus. Sekalian memperkenalkan diri, kita semua belum tahu namanya."
Lukman tersenyum, dia pun meminta putrinya untuk mengangkat kepala agar calon suaminya bisa melihat wajah dengan jelas. Gadis itu pun mengangkat kepalanya sambil tersenyum. Hati Arslan semakin berdesir kala melihat senyumnya yang begitu manis. Berkali-kali dia mengucap kalimat tasbih karena begitu kagum, akan ciptaan Tuhan yang ada di depannya.
__ADS_1
"Nama saya Nurul Zahira, biasa dipanggil Hira," ucapan gadis itu sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Begini, Hira. Di depan ini teman Abi, namanya Pak Ayman dan istrinya. Seperti yang Abi jelaskan sebelumnya. Jika Abi dan teman Abi berniat ingin menjodohkan kamu dengan anaknya dan di depan kamu ini adalah anaknya," ucap Lukman yang kemudian beralih menatap Arslan. "Silakan kamu memperkenalkan diri."
Arslan tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Nama saya Arslan Narendra Respati. Semua orang biasa memanggil Arslan atau lebih singkatnya Ars," ucap Arslan dengan tersenyum.
Gadis yang ada di depannya pun ikut tersenyum, membuat Arslan semakin kesulitan untuk bernapas. Hira benar-benar membuat pria itu tidak bisa berpaling. Dalam hati Arslan bertanya, apa benar jika gadis secantik Hira tidak ada yang melamar. Mungkin ada, tapi selalu ditolak atau mereka tidak berani melamar, mengingat siapa Pak Lukman sebenarnya.
"Baiklah, karena memang semua sudah setuju, lebih baik kita tentukan saja harinya," ucap Lukman yang disetujui oleh semua orang.
Para orang tua pun mulai membahas tentang rencana selanjutnya, untuk hubungan mereka. Arslan dan Hira sedari tadi selalu curi-curi pandang. Mereka sama sekali tidak ikut campur mengenai pembicaraan orang tua. Keduanya hanya bisa menerima semua keputusan dengan ikhlas.
Dalam hati Hira mengagumi ketampanan pria yang ada di depannya. Dia berdoa semoga Arslan memang jodoh terbaik yang Tuhan kirimkan untuknya. Meskipun dalam hati dia pernah menyukai pria lain, tetapi cintanya hanya untuk suaminya kelak. Sebagai manusia biasa tentu pernah memiliki rasa kagum terhadap lawan jenis, tetapi kembali lagi itu hanya sebatas rasa kagum.
Makanan pesanan mereka datang, semuanya pun menikmati hidangan. Rencana pernikahan mereka sudah ditetapkan, bahwa satu minggu lagi mereka akan melangsungkan akad saja. Mengenai resepsi akan dilangsungkan dua bulan kemudian. Itu karena semuanya juga pasti butuh proses, sementara akad hanya acara sederhana saja.
Sementara itu, Adam dan Kinan sedang menunggu Hanif yang saat ini sedang membersihkan tubuhnya. Mereka ingin membicarakan masalah kepergian Zea. Dalam hati Adam meyakinkan jika dia akan berusaha agar mendapat restu.
Hingga tidak berapa lama Hanif pun akhirnya turun juga. Dia heran melihat istri dan anaknya yang berada di ruang keluarga dengan televisi yang mati.
"Sepertinya ada sesuatu yang ingin kalian bicarakan, sampai terlihat tegang begitu," ucap Hanif yang kemudian ikut duduk bersama mereka di ruang keluarga.
"Pa, aku ingin mengatakan suatu kejujuran. Aku harap Papa mengerti perasaanku."
Hanif mengerutkan keningnya, dia penasaran apa yang ingin dibicarakan sang putra. "Katakan saja, memang kamu mau mengatakan apa, sampai serius begitu?"
"Aku mencintai Zea, Pa. Dan aku ingin Papa merestui aku dan Zea."
__ADS_1
Hanif terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh putranya. Pria itu mengira jika masalah perasaan Zea pada Adam sudah selesai dengan kepergian putrinya ke luar negeri. Namun, ternyata dia salah. Justru sekarang sang putra malah mengatakan hal yang tidak Hanif kira. Pria itu tidak bisa membayangkan jika dirinya harus benar-benar menikahkan kedua anaknya.
"Apa maksudmu dengan berkata seperti itu? Bukankah kamu sudah memiliki kekasih dan akan menikah dengan dia? Apa kamu ingin mempermainkan perasaan wanita?" tanya Hanif dengan wajah yang penuh emosi.
Dia tidak suka dengan sikap Adam yang seolah mempermainkan perasaan para wanita. Setelah dijanjikan dengan sebuah pernikahan, sekarang ditinggalkan begitu saja. Pria itu juga memiliki anak gadis, sudah pasti Hanif bisa merasakannya.
"Aku sadar jika selama ini memang aku mencintai Zea, Pa. Selama ini aku berusaha menutupinya." Adam pun menceritakan semua tentang apa yang terjadi di apartemen Alin. Juga saat dia merasa kehilangan separuh jiwanya, setelah mengetahui adiknya itu akan pergi. Hanif mendengarkan penjelasan sang putra dengan saksama tanpa menyela sedikit pun.
"Jadi kamu menjadikan putriku sebagai pelarianmu?" tanya Hanif dengan tidak suka.
"Bukan, Pa. Aku memang sudah mencintai Zea sejak lama. Hanya memang aku sengaja berusaha menguburnya. Aku akan menerima apa pun hukuman untukku, tapi aku mohon jangan pisahkan aku dan Zea. Tolong restui kami, Pa.”
Adam bersujud di depan Hanif dengan air mata yang menetes. Pria itu tidak peduli jika ada yang mengatakan jika dirinya cengeng, yang penting bagi dia saat ini adalah restu sang papa. Kinan yang tidak tega pun ikut bersujud di samping putranya. Ini satu-satunya yang bisa dia lakukan untuk anak-anaknya, setelah sedari kemarin selalu diam.
“Mama, kenapa ikut-ikutan?” tanya Hanif yang berusaha membantu Kinan untuk bangun.
Namun, wanita itu menolak. Dia ingin membantu putranya dan tidak peduli lagi apa yang orang luar akan katakan tentang keluarganya. Adam dan Zea juga tidak ada hubungan darah, juga tidak satu ibu susu.
"Baiklah, sekarang kalian berdua bangun dulu, kita bicarakan baik-baik," ucap Hanif yang akhirnya mengalah.
Setelah dipikirkan kembali, memang tidak ada salahnya jika Adam dan Zea bersama. Mereka juga tidak memiliki hubungan darah, mengenai omongan orang biarlah mereka berkata apa. Yang penting saat ini adalah keluarganya bahagia. Dia juga merasa sedih berjauhan dengan putrinya, tetapi pria itu tidak mungkin memulangkan Zea.
Adam dan Kinan pun akhirnya bangun dan duduk di sofa yang tadi mereka tempati. "Papa memang setuju dengan Adam dan Zea bersama, tapi Papa juga punya syarat untuk kamu, Adam "
.
.
__ADS_1