
“Duduklah,” ucap Hanif mengalihkan fokus Kinan pada tangannya yang sudah terlepas.
Entah sejak kapan tangan itu sudah tidak bertautan lagi. Padahal gara-gara itu, dia jadi hilang fokus. Baginilah kalau dekat dengan Hanif, dia seperti orang bod*h.
“Oh, i–iya terima kasih,” sahut Kinan dengan gugup yang kemudian duduk di kursi yang ada di sampingnya.
Dia mencoba mengalihkan pandangan melihat ke sekeliling. Dari tempat ini, gadis itu bisa melihat pemandangan laut di malam hari, yang hanya bisa dilihat samar-samar. Suara ombak masih terdengar bergemuruh, bagai alunan musik romantis yang mengiringi pasangan beda jenis. Lampu kerlap-kerlip yang memang sengaja dipasang pemilik kedai, menambah suasana syahdu.
Tampak beberapa orang duduk di pinggir pantai sambil mengelilingi api unggun. Ada yang malu-malu, ada pula yang membuat suasana meriah. Mereka tampak seperti keluarga. Namun, nyatanya mereka tidak saling mengenal dan baru dipertemukan di sini.
“Kamu mau pesan apa?” tanya Hanif saat ada seorang pelayang yang mendekati mereka.
“Di sini ada apa saja, Bang?” tanya Kinan pada pelayan yang berdiri di samping mejanya.
Pelayan tersebut menyebutkan beberapa menu, sambil menunjuk ke arah papan yang sudah tertulis beberapa menu di sana beserta harganya. Di sini memang tidak ada buku menu, hanya ada papan yang besar dan pengunjung bisa memilih dengan melihat ke arah papan itu.
“Saya mau kepiting saus pedas saja. Minumnya es kelapa muda.”
“Saya ikan bakar. Minumnya, samakan saja,” ucap Hanif yang diangguki oleh pelayan yang kemudian meninggalkan keduanya.
“Apa, Bapak, sering ke sini?” tanya Kinan sambil memperhatikan sekeliling.
“Mas,” ralat Hanif.
“Oh, iya. Apa ... Mas sering ke sini?”
“Tidak juga, ini pertama kali saya ke sini.”
“Dari mana, Mas, tahu tempat ini?”
__ADS_1
“Ada teman yang pernah cerita. Dia pernah ke sini bersama dengan kekasihnya. Aku penasaran saja, jadi ajak kamu ke sini. Ternyata tempatnya lumayan bagus. Meski hanya kedai sederhana, tapi tempatnya bersih dan pelayanannya juga bagus."
Kinan mengangguk. Keduanya pun berbincang sejenak. Tidak berapa lama, akhirnya pesanan datang juga. Hanif dan Kinan menikmati makanan dengan tenang. Tidak diragukan lagi, rasa makanannya juga sangat enak, tidak kalah dengan restoran bintang lima. Sepertinya lain kali Kinan bisa ke sini lagi jika ada waktu.
Makanan di sini juga khas Indonesia, masakan rumahan. Mama dan kakak iparnya pasti senang diajak ke sini. Terutama Zayna, sejak hamil wanita itu suka makan, tetapi sangat malas masak. Berbeda sekali dengan dulu. Keluarga juga tidak keberatan asal menantu dan cucu mereka sehat.
“Kamu sudah selesai makannya?” tanya Hanif yang diangguki oleh Kinan.
Pria itu pun memanggil pelayan dan membayar tagihan. Setelah itu dia mengajak Kinan berjalan di tepi pantai. Udara yang sangat dingin, membuat tubuh gadis itu kedinginan. Hingga menusuk tulangnya karena dia hanya memakai baju saja.
Kinan tidak tahu jika pria itu akan mengajak ke tempat seperti ini. Kalau tahu begitu, dia akan membawa jaket. Hanif yang tahu jika Kina kedinginan segera membuka jaket yang dia pakai dan memakaikannya di tubuh Kinan.
“Tidak perlu, Mas. Nanti kamu kedinginan,” tolak Kinan.
“Tidak apa-apa, aku laki-laki, masih bisa menahannya. Masukkan tanganmu, biar lebih hangat.”
“Sepertinya sangat menyenangkan. Bagaimana kalau kita ikut berdansa!” ajak Hanif sambil menunjuk ke arah orang-orang yang berdansa.
“Aku nggak bisa berdansa, nanti malah malu-maluim.”
“Di sini tidak ada yang malu-maluin. Lihat mereka! Mereka juga berdansa asal-asalan. Bagi mereka, kebersamaan itu yang lebih utama. Ayo! Pasti menyenangkan bisa berdansa bersama banyak orang,” ajak Hanif dengan merangkul pundak gadis itu.
Kinan tidak melakukan menolak dan hanya bisa menurut saja. Hanif meletakkan kedua tangannya di kedua sisi pinggang gadis itu, sementara Kinan bingung harus bagaimana. Tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan. Hanif pun membawa kedua tangan gadis itu ke pundaknya dan mencoba untuk menggerakkan tubuh mereka.
Sedari tadi Kinan sangat sulit bernafas. Posisi yang seperti ini, sungguh sangat membahayakan bagi tubuhnya. Bisa-bisa nanti dia kehilangan nyawa karena jantungnya yang tidak stabil atau mungkin karena tidak bisa bernapas.
“Tidak perlu gugup, santai saja. Aku tidak gigit orang,” ucap Hanif yang semakin ingin menggoda Kinan.
Dia tahu jika gadis yang berada di depannya ini sedang gugup. Justru Hanif senang, itu artinya Kinan masih memiliki rasa malu. Semakin lama, gadis itu mulai terbiasa dengan gerakan yang dilakukan oleh Hanif. Namun, jantungnya masih brerdetak tak beraturan.
__ADS_1
Kinan harus banyak belajar untuk merilekskan tubuh agar tidak mempermalukan diri sendiri. Setelah musik berhenti, Hanif mengajak Kinan duduk bersama dengan yang lainnya. Mereka mengelilingi api unggun untuk menghangatkan diri.
“Kinan, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu dan aku harap kamu menjawabnya dengan jujur,” ucap Hanif memulai pembicaraan.
Tentu saja dengan suara yang pelan agar tidak didengar orang yang ada di sekitar. Jarak antara mereka sedikit jauh, jadi pasti pembicaraannya tidak didengar orang lain. Apalagi suara ombak yang masih terdengar, menambah kebisingan tempat itu. Mereka harus bicara sedikit keras agar bisa terdengar satu sama lain.
“Tanya apa, Mas?”
“Apa kamu masih mencintai Niko?” tanya Hanif sambil menatap ke arah Kinan.
“Kenapa, Mas, bertanya seperti itu?”
“Aku hanya ingin memastikan bahwa aku masih memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam hatimu. Aku ingin mengatakan sesuatu, sebenarnya aku mulai tertarik denganmu.” Hanif memejamkan mata sejenak. Kenapa dia harus mengatakan ‘mulai tertarik’ bukankah pria itu sudah tertarik sejak lama.
Kinan masih mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Hanif. Semudah itukah pria itu jatuh cinta padanya? Mereka baru saja dekat. Mungkinkah perasaan itu benar-benar ada dan tulus untuknya? Sejujurnya dia belum bisa membuka hati untuk pria lain. Memang saat berdekatan dengan Hanif ada sesuatu getaran yang gadis itu rasakan, tetapi Kinan tidak tahu itu cinta atau bukan.
Luka yang disebabkan oleh Niko saja belum sembuh, sekarang sudah datang pria lain dalam kehidupannya. Dia tidak tahu apakah sanggup memulainya atau tidak. Tidak bisakah semua mengalir begitu saja?
“Apa yang membuat kamu tertarik padaku? Kita baru saja saling mengenal, bagaimana mungkin kamu bisa berkata seperti itu?”
“Aku juga tidak tahu apa yang menarik dalam dirimu, tapi yang perlu kamu tahu. Ada rasa rindu saat aku tidak bisa melihat wajahmu. Aku juga tidak tenang saat belum melihatmu. Kamu tidak mau menerimaku, apa karena kamu memang belum bisa melupakan Niko? Apa kamu masih mencintainya?” tanya Hanif kembali.
“Aku sudah tidak ada perasaan apa pun dengannya, tapi bukan berarti aku bisa dengan mudah membuka hatiku untuk pria lain. Hatiku masih terluka," ucap Kinan dengan meneteskan air mata.
Luka yang selama ini dia coba kubur, kini kembali ke permukaan. Salahkah jika dirinya perlu waktu?
.
.
__ADS_1