Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
251. S2 - Gadis yang bersama Arslan


__ADS_3

Aina duduk di antara saudara dan sepupunya. Dia juga penasaran, apa yang ingin dikatakan Zea, sepertinya sangat serius sekali. Gadis itu yakin jika ini ada hubungannya dengan Adam. Pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan pria itu.


“Tadi pagi, saat sarapan, Kak Adam bilang sama Mama dan Papa, kalau dia mau menikah,” jawab Zea pelan, membuat Aini melototkan mata ke arahnya. Dia tidak percaya dengan apa yang di dengar.


“Apa? Mau menikah? Sama siapa?” tanya Aina dengan berteriak karena terkejut.


Zea dan Aini sontak menatap Aina. Tidak biasanya sepupunya itu ikut campur mengenai Adam. Biasanya dia hanya diam mendengarkan saja, tetapi kini seperti sangat terkejut. Terlebih gadis itu sampai berteriak, hal yang sama sekali tidak disukainya. Aina menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena sadar, apa yang dia perbuat.


“Aku hanya terkejut saja. Selama ini 'kan kita tahu kalau Kak Adam tidak punya kekasih," kilah Aina membela diri.


Aini kembali menatap sang sepupu dan bertanya, “Kak Adam akan menikah dengan siapa? Bukankah dia tidak punya pacar? Apa Tante Kinan dan Om Hanif yang menjodohkannya?”


“Enggak, Kak Adam ternyata sudah punya pacar. Dia sengaja menyembunyikannya dari semua orang. Ini juga gara-gara kita selalu membuat ulah. Kak Adam sudah berpacaran selama dua tahun dengan kekasihnya,” jawab Zea semakin membuat Aini dan Aina terkejut.


“Enggak! Aku nggak mau seperti ini. Aku harus merebut Kak Adam kali ini,” sahut Aini.


Zea yang mendengar ucapan sepupunya pun tampak gelagapan. Dia tidak mau Ainiya membuat semuanya jadi kacau. Gadis itu akan berusaha membuat sepupunya tenang dan tidak merusak kebahagiaan kakaknya.


“Niya, untuk kali ini, tolong biarkan Kakak bahagia dengan pilihannya sendiri. Aku sudah sangat merasa bersalah dengan apa yang kita lakukan selama ini," ucap saya sambil memohon kepada sepupunya.


Aini terdiam sejenak, sambil memikirkan sesuatu dan bertanya, "Kenapa kamu baru sekarang mengatakannya? Apa kamu sengaja melakukannya? Kamu tahu 'kan kalau aku sangat mencintai Kak Adam?"


"Tidak, aku tidak tahu sama sekali. Justru aku baru tahu tadi saat sarapan. Selama ini Kak Adam juga tidak pernah cerita apa-apa. Kak Adam takut jika kita membuat ulah lagi dan melakukan sesuatu kepada kekasihnya. Kak Adam sangat mencintainya. Kamu harus mengikhlaskan Kak Adam, dia hanya menganggap kamu seperti adiknya sendiri. Sekuat apa pun kamu merebut hatinya, pasti tidak akan bisa."

__ADS_1


Zea menatap Aina agar sepupunya juga membantu dirinya, untuk memberi pengertian pada Aini. Dia tahu jika Ainaya lebih bijak dalam menghadapi masalah. Terkadang gadis itu juga meminta sarannya saat ada masalah.


"Aini, mungkin memang kamu dan Kak Adam tidak berjodoh. Sebaiknya kita doakan saja agar Kak Adam bahagia dengan pilihannya. Cinta tidak harus memiliki, Tuhan pasti sudah menyiapkan jodoh yang lain untuk kamu," sela Ainaya sambil menatap saudaranya.


Zea mengangguk dengan cepat. Dia mengiyakan apa yang dikatakan oleh Aina. Cinta memang tidak harus memiliki. Kalau memang tidak berjodoh, mau dipaksa sekuat apa pun pasti tidak akan bisa bersama.


"Aku akan melepaskan Kak Adam jika memang wanita itu baik dan bisa membuat Kak Adam bahagia," sahut Aini.


Meskipun dalam hatinya dia tidak rela jika Adam menjadi milik orang. Akan tetapi, benar apa yang dikatakan saudara dan sepupunya. Jika memang dirinya dan Adam memanglah tidak berjodoh. Mungkin sekarang sudah saatnya bagi dia untuk melepaskan pria itu.


"Alhamdulillah, bener kamu akan melepaskan Kak Adam? Aku senang mendengarnya kalau seperti itu," ucap Zea dengan wajah bersinar, sementara Aina hanya diam.


Gadis itu sendiri tidak yakin apakah Aini bisa menerimanya atau tidak. Semoga saja apa yang dikatakan itu benar karena apa yang dia dengar hari ini, semuanya terasa mengejutkan untuknya. Apalagi saudaranya yang selama ini sudah yakin dengan usahanya. Selama ini Adam tidak diketahui dekat dengan siapa pun, tetapi tiba-tiba ada berita jika pria itu akan menikah.


Rasanya dia tidak percaya dengan apa yang didengar. Ketiganya pun berbincang sejenak, sebelum pulang ke rumah masing-masing. Meski masih ada yang mengganjal di hati, tetapi Aini mencoba untuk terlihat biasa saja.


"Aku juga tidak tahu apa itu pilihan yang benar atau tidak, tetapi sampai detik ini aku yakin dan percaya pada takdir. Jika memang Kak Adam jodoh kamu sekuat apa pun niat Kak Adam untuk menikah, dia akan kembali padamu. Begitu pun sebaliknya, sekuat apa pun kamu meraih hati Kak Adam, kalau dia memang bukan jodohmu dia tidak akan pernah kamu miliki," jawab Ainaya tanpa melihat ke arah saudaranya, dia fokus pada kemudi.


Mereka sudah bersama-sama sejak kecil. Terkadang Aini berpikir, apakah mungkin perasaannya pada Adam hanyalah sebatas kagum terhadap saudara. Namun, jika dipikirkan kembali rasanya tidak mungkin seperti itu. Pada Arslan saja, dia terlihat biasa saja. Padahal pria itu kakak kandungnya, yang setiap hari bertemu.


"Apa yang sedang kamu pikirkan saat ini?" tanya Aina melihat keterdiaman saudara kembarnya itu. Sejak pulang tadi, Aini tidak banyak bicara padahal biasanya dia sangat cerewet.


"Tidak ada apa-apa, hanya saja hatiku merasa tidak tenang dengan mengikhlaskan Kak Adam. Apakah dia gadis yang baik dan bisa dipercaya untuk membahagiakan Kak Adam? Kok aku jadi ragu, ya!"

__ADS_1


"Kak Adam pasti bahagia dengan wanita yang dia cintai. Kalaupun tidak bahagia, itu bukan urusan kita. Saat mereka sudah memutuskan bersama, mereka harus bisa menghadapi masalah sama-sama."


"Kalau Kak Adam tidak bahagia, percuma dong aku ikhlasin dia sama perempuan itu. Kalau begini aku jadi ragu untuk melepaskan Kak Adam. Pokoknya aku harus memastikan kalau wanita itu, wanita yang baik. Kalau tidak, dia akan berurusan denganku," ucap Aini dengan menghayal keberadaan kekasih Adam di depannya.


"Kamu sok-sokan melindungi Kak Adam. Sebaiknya kamu pikirkan diri kamu sendiri saja, tidak usah memikirkan orang lain. Kak Adam juga pasti bisa melindungi dirinya sendiri."


Aini tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh saudaranya. Dia juga tidak akan memaksakan apa yang diinginkan kepada Adam. Gadis itu hanya ingin memastikan jika pujaan hatinya dalam keadaan baik.


“Na, oma kapan pulangnya? Sudah seminggu pergi jengukin Oma Aida, tapi belum pulang juga," tanya Aini.


"Aku juga tidak tahu, tapi kemarin sempat telepon mama, katanya kalau nggak besok ya lusa. Memang kenapa? Jangan minta oleh-oleh, ya! Oma sudah tua, tidak bisa jika harus bawa barang-barang banyak.”


“Kamu suudzon terus sama aku. Aku beneran kangen sama oma dan opa. Sudah satu minggu tidak bertemu. Telepon juga cuma sebentar."


"Nanti kalau sudah selesai juga mereka akan pulang. Jangan terlalu diharapkan juga, nanti oma dan opa nggak bisa tenang di sana. Doakan saja agar mereka cepat pulang dan selamat sampai tujuan.”


Keduanya berbincang sejenak, hingga akhirnya mobil yang dikendarai Aina sampai juga di depan rumah. Mereka turun dan segera masuk ke dalam rumah sambil mengucap salam. Alangkah terkejutnya saat mendapati Arslan di ruang tamu dengan seorang gadis yang sangat mereka kenali. Ada Kinan juga di sana.


"Kakak, kenapa bisa sama dia?" tanya Aini dengan nada ketus. Dia sangat tidak suka dengan gadis yang berada di samping kakaknya. Bahkan bisa dibilang sangat benci.


"Sayang, kenapa bicara seperti itu? Itu tidak baik," tegur Zayna yang juga di sana.


"Ma, aku nggak suka sama dia. Lagian Kenapa dia ada di sini? Jangan bilang kalau Kak Arslan menjalin hubungan dengan dia. Aku nggak akan setuju,” ucap Aini yang memang sangat mengenal siapa gadis yang bersama dengan Arslan.

__ADS_1


Namanya Imel, dia adalah salah satu mahasiswa di kampus. Gadis itu juga termasuk senior di sana. Namun, semua orang tahu dan mengenal siapa Imel sesungguhnya. Begitu juga dengan si kembar Ay. Aini juga pernah bermasalah dengannya karena membela mahasiswa lain yang dibully.


“Itu bukan urusan kamu. Kamu setuju atau tidak, Kakak akan tetap bersamanya. Aku sangat mencintainya. Dia gadis yang baik, kenapa kamu sangat membencinya? Pasti kamu sering membuat ulah," tebak Arslan.


__ADS_2