
Mama Aida memberikan beberapa nomor pemilik event organizer pada putranya. Dia mendapatkannya dari teman-teman arisannya. Biar saja Hanif sendiri yang memilih mau pakai jasa yang mana. Wanita itu menyerahkan semua pada anaknya.
Kali ini Mama Aida hanya akan mengawasi saja. Dia tidak ingin membuat tubuhnya lelah yang akan berakhir dirinya sakit. Wanita itu masih ingin sehat agar bisa melihat kehadiran cucunya nanti.
“Sudah ketemu, Hanif? Mau pakai jasa event organizer yang mana?” tanya Mama Aida saat memasuki kamar putranya.
“Belum, Ma. Tadi aku sudah mencoba menghubungi beberapa dari mereka dan masih belum ada yang cocok," jawab Hanif dengan lesu.
“Memang kamu sudah ada rencana pernikahannya itu mau dilaksanakan kapan?”
“Mengenai itu sebaiknya kita juga bicarakan dengan keluarga Kinan, Ma. Tidak enak juga kalau aku yang memutuskan sendiri. Takutnya nanti keluarga mereka punya kesibukan saat hari itu.”
“Iya, kamu benar. Sebaiknya tanyakan dulu pada mereka. Tadi Tante Aisyah bilang sama Mama, mengenai gaun pengantin dan baju keluarga, kita pesan saja di butiknya Tante Maysa. Kamu tahu 'kan kalau buatan Tante Maysa tidak akan mengecewakan. Kinan juga suka gaun rancangannya.”
“Itu terserah Mama saja. Lagi pula aku juga pakainya jas dan kemeja. Di mana-mana pun sama."
“Baiklah, kalau begitu kita pilih butik Tante Maysa saja. Sebaiknya kamu tanyakan dulu sama Kinan, barangkali dia juga ada rekomendasi jasa EO yang bagus.”
“Iya, Ma, tapi besok saja. Ini sudah malam.”
“Terserah kamu, Mama juga mau istirahat. Sepertinya Mama juga setelah ini akan sangat repot.”
“Mama tidak perlu capek, ingat kemarin waktu pertunangan. Habis acara Mama kecapean, seharian tidur saja di kamar. Pokoknya kali ini Mama harus jaga kesehatan. Biarkan semuanya yang kerjain EO-nya. Kita hanya tinggal mengawasi saja, barangkali ada yang kurang.”
“Iya, Mama terserah kamu saja.”
Mama Aida kembali ke kamarnya, meninggalkan putranya yang masih sibuk mencari EO yang cocok. Tak kunjung mendapatkan hasil yang sesuai keinginannya, Hanif pun memutuskan untuk tidur saja. Besok akan dia cari lagi.
Sementara itu, Ayman yang baru saja turun dari pesawat, segera pulang ke rumah dengan menaiki mobil yang dikendarai Pak Doni. Dia ingin memberi kejutan pada sang istri karena besok adalah hari ulang tahunnya. Pria itu ingin menjadi orang yang pertama mengucapkan selamat.
__ADS_1
Untungnya sekarang masih jam sebelas malam. Masih ada waktu sebelum pergantian hari. Tadi dia sudah meminta Pak Doni untuk mengambil pesanan kue di tempat Ayman biasa membeli kue brownies kesukaan sang istri. Tidak lupa juga mereka mampir ke sebuah restoran untuk membeli makanan.
“Semua orang sudah tidur, Pak Doni?” tanya Ayman.
“Tadi sewaktu saya keluar, rumah sudah sepi, Den, tapi saya tidak tahu mereka sudah tidur apa belum. Seperti yang Anda minta, saya sudah bilang sama Nyonya dan yang lainnya, nanti saat jam dua belas malam, semua orang diharapkan untuk berkumpul di ruang tengah. Mereka semua bersemangat dengan rencana Anda."
“Mudah-mudahan saja mereka nggak kebablasan tidurnya.”
“Nyonya sudah menyetel alarm, Den. Mereka senang saat saya memberi tahu jika Anda ingin membuat kejutan untuk Neng Zayna. Bahkan Bik Ira bilang tidak sabar menunggu malam.”
“Iya, Pak. Tahun kemarin aku hanya mengajaknya makan di luar, tanpa ada kejutan apa pun. Kali ini aku berharap dengan kejutan ini Zayna merasa disayangi oleh semua orang yang ada di rumah.”
“Iya, Den. Apalagi sekarang Neng Zayna sedang hamil, dia masih sangat sensitif sekali. Padahal biasanya orang hamil itu sensitifnya hanya terjadi di awal kehamilan, tapi Neng Zayna sampai sekarang pun sepertinya sangat sensitif sekali.”
“Justru aku suka Zayna yang seperti ini, Pak. Dia menjadi wanita yang bergantung padaku. Tidak seperti biasanya yang selalu mandiri dan bisa melakukan apa pun tanpa bantuanku. Aku merasa seperti suami yang tidak diharapkan saja saat itu, tapi sekarang setiap melakukan sesuatu, pasti selalu meminta tolong padaku. Bahkan dalam hal-hal yang kecil sekalipun. Aku merasa menjadi suami yang sesungguhnya saat dibutuhkan seperti itu.”
“Aden ini aneh, biasanya orang akan suka melihat istrinya yang mandiri, tanpa merepotkanmu suaminya, tapi Aden malah suka direpotin sama istrinya.”
“Saya sih di antara keduanya saja, Den. Kadang juga bisa mandiri, kadang juga bergantung.”
“Kalau itu sih semuanya juga mau, Pak Doni.”
Terlalu asik mengobrol, hingga tanpa sadar mereka sudah sampai di halaman rumah. Dilihat dari depan, suasana terasa sunyi. Pintu utama terbuka, Ayman memasuki rumah yang sudah tampak gelap. Ada Bik Ira yang membukakan pintu untuknya tadi.
Wanita itu sudah tidak bisa tidur sejak Pak Doni memberitahunya mengenai kejutan ulang tahun untuk Zayna. Padahal Bik Ira sudah berusaha untuk memejamkan matanya. Namun, dia tidak bisa tidur.
“Bibi, tidur saja dulu. Masih ada satu jam sampai waktunya tiba. Biar saya yang siapin sendiri."
“Saya tidak bisa tidur, Den. Sebaiknya saya di sini saja menemani Aden untuk menyiapkan semuanya.”
__ADS_1
“Apa Bibi nggak capek? Seharian sudah kerja, malam-malam pun masih membantu saya."
“Saya menunggu di kamar malah nggak bisa. Saya tidak sabar buat memberi kejutan. Selama Neng Zayna tinggal di sini, baru hari ini kita membuat kejutan untuknya.”
Ayman mengangguk membenarkan ucapan Bik Ira. Ternyata bukan hanya dirinya yang merasakan hal itu. Orang yang selama ini bersama mereka pun juga tahu akan hal itu.
“Ya sudahlah kalau begitu, Bibi bantu saya saja untuk menyiapkan semuanya.”
Pak Doni membawa beberapa kantong kresek makanan yang tadi Ayman beli di restoran. Ada pula yang dibeli di pinggir jalan karena dia sangat tahu, sang istri tidak pernah pilih-pilih makanan. Justru Zayna sangat suka makanan yang dibeli di pinggir jalan. Asal rasanya tetap enak.
Bik Ira menata semua makanan di atas meja makan. Wanita paruh baya itu sangat antusias membantu majikannya. Apalagi dengan hidangan sebanyak ini. Dia juga ingin menikmatinya.
“Ayman, kamu sudah pulang?” tanya Mama Aisyah yang baru saja keluar.
“Iya, Ma. Mama terbangun? Apa aku terlalu berisik?" tanya Ayman yang juga takut jika membangunkan Zayna.
“Tidak, tadi Mama memang sengaja menyetel alarm sebelum jam dua belas. Kamu jangan khawatir, Zayna pasti masih tidur," ucap Mama Aisyah, seolah tahu apa yang ditakutkan putranya.
“Kalau gitu, Mama tolong bantuin Bik Ira nyiapin semuanya, ya! Aku mau ke kamar bangunin Zayna. Sepuluh menit lagi jam dua belas.”
“Iya, kamu tenang saja, Mama pasti bantuin.”
Ayman pun ke kamar dengan membawa sekotak kecil kue.
“Kamu nggak bawa kue ini?” tanya Mama Aisyah sambil menunjuk kue yang berada di atas meja makan.”
“Tidak, Ma. Itu nanti buat makan di sini saja. Aku bawa yang kecil buat di kamar,” jawab Ayman yang diangguki oleh Mama Aisyah.
.
__ADS_1
.