Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
169. Terlambat


__ADS_3

Kinan tersenyum sambil menatap sang suami, membuat Hanif mengerutkan kening karena merasa aneh dengan istrinya yang senyum-senyum sendiri. Padahal dia juga tidak sedang membicarakan hal yang lucu.


“Kamu kenapa, Sayang? Jangan membuat aku takut lihat kamu senyum-senyum gitu,” ucap Hanif dengan menatap ngeri pada sang istri.


“Aku senang, Mas, kalau kamu cemburu sama aku," ucap Kinan dengan menaik turunkan alisnya.


“Cemburu apa? Aku nggak cemburu.”


“Buktinya tadi kamu nggak bolehin aku dekat sama pria lain, berarti kamu cemburu.”


“Iya, dong, Sayang. Mana ada suami yang rela istrinya dekat-dekat dengan pria lain. Tentu saja aku cemburu. Aku sudah cinta banget sama kamu, cuma kamu yang selalu mengisi hatiku. Tidak ada wanita lain dan tidak akan pernah ada.”


“Aaa, nanti aku malah terbang kalau kamu selalu memujiku,” ucap Kinan dengan tersenyum.


Akhir-akhir ini Hanif sering sekali berkata manis terhadap istrinya. Awalnya Kinan merasa aneh, tetapi semakin ke sini, dia mulai suka dan sudah terbiasa.


“Ya, nggak pa-pa, dong! Suami sendiri yang muji, kalau bukan aku memang mau dipuji siapa lagi?”


“Enggak ada, dong, Mas. Cuma jangan terlalu banyak memuji, nanti aku malah jadi sombong. Sudah, cepat habiskan makanannya,” tegur Kinan.


Hanif pun melanjutkan makan siangnya karena waktu istirahat hampir habis. Dia harus kembali karena masih banyak dokumen yang belum diperiksa. Pria itu juga harus membuat laporan pertemuannya tadi dengan klien. Banyak sekali kerjaannya.


Padahal ingin sekali Hanif menghabiskan waktu hari ini di rumah saja, tetapi pekerjaan sudah menunggu di kantor. Dulu dia beranggapan jika enak sekali menjadi bos di perusahaan. Semua tinggal perintah, dan dirinya hanya bisa diam. Namun, semua ternyata salah.


Menjadi seorang pemimpin justru tanggung jawabnya bertambah besar. Dia harus memikirkan nasib banyak orang. Bukan hanya karyawan, tetapi juga keluarganya.


“Mas, nanti aku ke rumah Mama Aisyah, ya! Kak Zayna sudah pulang ke rumah. Aku mau lihat keadaannya," ucap Kinan sebelum sang suami pergi.


“Baby Ars juga sudah pulang?”


“Belum, Kak Zayna saja yang pulang, kalau Baby Ars masih di rumah sakit.”

__ADS_1


“Apa perlu aku antar kamu sebelum berangkat ke kantor?”


“Tidak perlu, arah kantor kamu sama rumah Mama ’kan berbeda. Lagi pula aku cuma sebentar, habis itu ke supermarket mau belanja kebutuhan semuanya habis.”


“Iya, terserah kamu. Nanti aku transfer ke rekening kamu.”


“Masih ada, Mas, yang kemarin jadi, nggak perlu.”


“Nggak apa-apa, kamu bisa beli yang lain. Ya sudah, aku berangkat dulu. Kamu hati-hati nanti di jalannya, jangan ngebut juga.”


“Iya, Mas. Seharusnya aku yang bilang gitu sama kamu, hati-hati di jalan. Jangan melamun, jangan tengok kanan kiri yang tidak penting.”


“Iya, Sayang. Aku pergi dulu, assalamualaikum," ucap Hanif yang kemudian mencium kening istrinya.


“Waalaikumsalam.”


Setelah kepergian Hanif, Kinan membereskan meja makan. Tidak lupa juga dia mencuci piring bekas makan dia dan juga sang suami. Setelah pekerjaan semuanya selesai, gadis itu bersiap ingin ke rumah mamanya. Namun, tiba-tiba ponsel di dalam tasnya berdering, tertera nama Hira di sana. Dia salah satu teman sekelas Kinan


“Kamu di mana sekarang? Kamu nggak ke kampus hari ini?” tanya Hira yang berada di seberang telepon.


“Bukannya nggak ada kelas hari ini? Katanya dosennya belum hadir?”


“Kamu nggak buka grup apa? Kan di sana sudah dibilang kalau hari ini dosennya sudah datang dan kelas akan dimulai.”


“Hah! Masa, sih? Aku sama sekali nggak pegang ponsel dari pagi. Kapan kelasnya?" tanya Kinan dengan wajah panik.


Wanita itu tidak pernah terlambat jika mengenai kuliah. Baru kali ini dia ceroboh seperti ini dengan meninggalkan ponselnya di kamar. Seharusnya tadi dia membawa saja ke dapur. Kalau seperti ini sudah pasti kena hukuman.


“Ya ampun! Mungkin lima belas menit lagi kelas akan dimulai. Bagaimana dong? Mana dosennya aku dengar killer.”


“Aku akan coba pergi sekarang, semoga bisa sampai dengan cepat. Tahu gitu tadi aku mau bareng saja sama Mas Hanif," gumam Kinan diakhir kalimatnya.

__ADS_1


“Ya sudah, cepat! Aku tunggu.”


Kinan segera menutup panggilan dan membereskan beberapa buku yang akan dia pakai hari ini. Wanita itu berlari menuruni tangga dan bertemu mertuanya di sana.


“Kinan, kamu mau ke mana? Kenapa terburu-buru sekali?” tanya Mama Aida.


“Aku mau ke kampus, Ma. Baru saja ada pemberitahuan kalau hari ini ada kelas. Tadi aku nggak pegang ponsel jadi nggak tahu apa-apa. Barusan ada temen aku yang telepon. Aku pergi dulu. Assalamualaikum,” pamit Kinan dengan mencium punggung tangan mertuanya.


“Waalaikumsalam, jangan terburu-buru. Nggak pa-pa telat, nanti dosennya juga akan mengerti,” teriak Mama Aida karena Kinan sudah berjalan keluar.”


“Iya, Ma,” sahut Kinan sambil berlari ke depan.


Mama Aida hanya bisa menggelengkan kepala. Ini pasti karena keasyikan memasak jadi, lupa mengecek ponselnya.


“Mudah-mudahan saja Kinan selamat sampai tujuan,” gumam Mama Aida.


“Pasti, Nyonya. Neng Kinan juga bukan orang yang ceroboh. Dia pasti lebih mementingkan keselamatan,” sahut Bik Isa yang ada di belakang wanita itu. Mama Aida hanya mengangguk tanpa melihat ke arah Bik Isa.


Sementara itu, Kinan segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Sebelumnya dia memang pernah mendengar jika dosen kali ini lebih killer daripada sang suami. Dulu menghadapi Hanif saja sudah membuatnya pusing, apalagi sekarang. Wanita itu tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Mudah-mudahan saja Kinan tidak terlambat. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.


Selama dalam perjalanan, sesekali Kinan melihat jam yang ada di tangannya. Dia berharap bisa sampai tujuan tepat waktu. Namun, sayang waktu kelas sudah dimulai, tapi wanita itu belum juga sampai di universitas, tempat dia menimba ilmu. Kinan sudah yakin pasti nanti dirinya akan mendapat hukuman.


Mudah-mudahan saja hukumannya tidak terlalu berat. Akhirnya setelah beberapa menit, Kinan sampai juga di kampus. Wanita itu segera turun dan berlari menuju kelasnya. Di pertengahan jalan, ada Niko yang sengaja ingin menghadang. Namun, dengan tegas dia menepis.


"Kamu mau ke mana, lari-lari begitu?" tanya Niko.


"Please, ya, Niko! Sekarang bukan saatnya untuk berbicara. Nanti saja, saat kelas sudah selesai. Sekarang ini aku benar-benar terburu-buru. Aku sudah terlambat," sahut Kinan yang segera meninggalkan pria itu.


Dia tidak peduli dengan teriakan Niko yang memanggil namanya. Yang penting bagi dirinya saat ini adalah sampai di ruang kelas tepat waktu. Begitu sampai di depan kelasnya, Kinan menarik napas dalam-dalam agar tidak terlihat sedang ngos-ngosan saat masuk.


.

__ADS_1


.


__ADS_2