Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
274. S2 - Arslan menuju halal


__ADS_3

Zea sedang berada di kamarnya. Gadis itu sedang melamun, memikirkan apa yang sudah terjadi di negaranya. Saat ini pasti semua orang sedang sibuk mempersiapkan rencana pernikahan kakaknya. Membayangkannya saja sudah membuat hatinya terluka. Dia tidak sanggup jika harus melihat semuanya.


“Semoga Kak Adam bahagia dengan Kak Alin. Di sini aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kakak," ucap Zea dalam hati sambil memandangi foto dirinya bersama Adam yang sengaja dia bawa.


Pintu kamar diketuk seseorang dari luar, Zea pun segera membukanya. Ternyata ada Oma Aida di sana. Wanita itu tersenyum ke arah sang cucu kemudian menyerahkan ponselnya. Zea yang belum mengerti hanya memandangi benda yang ada di tangan omanya.


“Adam telepon, dia tidak tahu nomor ponselmu.”


“Aku ngantuk, Oma. Tolong Oma bilangin sama Kak Adam, ya!” pinta Zea yang sengaja ingin menghindar.


“Mana boleh seperti itu. Sudah, bicara saja sebentar.”


Oma Aida meletakkan ponsel ke tangan Zea dan segera pergi dari sana. Wanita itu sudah tahu apa yang terjadi pada anak dan cucunya. Hanif sudah menceritakan semuanya sebelum Zea sampai. Dia juga diminta untuk tidak mengatakan apa pun pada gadis itu, mengenai kegagalan pernikahan Adam.


Oma Aida juga tidak keberatan jika Adam dan Zea bersama. Sejak dulu wanita itu tidak pernah peduli dengan omongan orang lain. Sebenarnya dia kasihan pada cucu-cucunya, tetapi setelah dipikirkan kembali apa yang katakan Hanif memang benar. Mereka juga perlu mengetahui perasaan Adam yang sebenarnya.


Lebih baik keduanya sama-sama merenungkan diri, setelah benar-benar yakin, barulah mereka bisa bersama. Cinta yang mereka miliki bukan hanya soal hubungan berdua, tetapi juga keluarga. Jika memang mereka berjodoh, pasti akan bersama.


Zea pun terpaksa mengangkat panggilan dari kakaknya. Gadis itu membawa ponsel omanya ke kamar dan mulai berbicara dengan Adam. Terlebih dahulu sebelum itu, dia menarik napas dalam-dalam, guna mengurangi sesak di dalam dadanya. Dia tidak ingin terdengar lemah lagi.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, kenapa kamu pergi tanpa berpamitan padaku dan tidak mengatakan apa pun? Apakah aku tidak begitu penting dalam hidupmu? Sampai-sampai berbicara denganku pun kamu tidak sudi," ucap Adam dengan nada sedih.


Ingin sekali pria itu mengatakan pada Zea jika dirinya juga mencintai gadis itu. Akan tetapi, mau bagaimana lagi, dirinya sudah terlanjur janji pada Papa Hanif. Untuk tidak mengatakan apa pun terlebih dahulu pada Zea. Padahal pria itu sudah sangat merindukan adiknya.


"Bukan seperti itu, Kak. Hanya saja semuanya memang semua serba dadakan. Aku ... aku ...."


Zea bingung harus berkata apa pada kakaknya. Dia tidak pernah berpikir jika Adam akan menghubunginya seperti ini karena sebelumnya, hubungan mereka juga tidak baik. Gadis itu berpikir jika sang kakak marah padanya. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Zea senang karena Adam masih memperhatikannya.


Adam yang mengerti keadaan Zea pun segera memotong kata-katanya. "Tidak apa-apa, maafkan aku yang sudah menyakitimu. Sungguh aku tidak termaksud melakukan hal itu."


Setetes air mata jatuh di mimpi Adam. Rasa bersalah pria itu terhadap adiknya begitu besar. Dia merasa menjadi seorang kakak yang tidak berguna. Zea yang berada di seberang pun bisa merasakan kesedihan kakaknya. Gadis itu jadi merasa bersalah, seharusnya dia berpamitan dulu pada Adam dan tidak membuat pria itu bersedih.

__ADS_1


"Kak, maafkan aku yang sudah membuat Kakak bersedih."


Bukan seperti itu maksud Zea. Dia tidak ingin berpamitan dengan Adam karena gadis itu pasti akan menangis nanti jadi, lebih baik Zea menghindarinya. Itu semua juga demi kebaikan bersama.


"Tidak, kamu tidak bersalah dalam hal ini. Sepenuhnya semua salah Kakak. Seandainya saja kakak tidak menyakiti hatimu, ini semua tidak akan terjadi. Seandainya saja ...."


Adam tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Ingin sekali pria itu menemui Zea dan memeluk gadis itu, sambil mengucapkan kata cinta yang pria itu rasakan. Namun, semuanya tertahan karena janjinya. Mungkin ini juga hukuman untuknya karena sudah membuat masalah, di keluarga yang sudah memberikan cinta untuknya.


"Tidak usah dibahas lagi. Yang penting sekarang kamu harus fokus pada kuliah dan segera kembali dengan hasil yang memuaskan," lanjut Adam yang mencoba untuk menghibur Zea dan dirinya sendiri.


"Iya, Kak. Oh iya, bagaimana persiapan pernikahan Kakak? Maaf, mungkin nanti aku tidak bisa datang ke acara pernikahan Kakak."


"Iya, kamu di sana sudah pergi ke mana saja? Pasti sudah banyak tempat yang menyenangkan," tanya Adam yang sengaja mengalihkan pembicaraan.


Dia tidak ingin membicarakan hal yang sebenarnya tidak akan pernah terjadi jadi, lebih baik mengalihkan. Pria itu juga terlalu malas untuk membahas mantan kekasihnya. Adam mengajak adiknya berbincang sejenak, hingga akhirnya Zea mengakhiri panggilan karena di tempatnya sudah terlalu malam. Gadis itu juga harus beristirahat karena besok harus pergi kuliah.


Adam terpaksa mengakhiri panggilan meski sebenarnya, pria itu masih ingin berbicara dengan adiknya. Setelah panggilan berakhir, Zea terdiam sejenak. Dia sudah sangat berusaha melupakan cintanya pada kakaknya. Akan tetapi, pria itu malah mengingatkannya lagi dengan melakukan panggilan telepon.


Apa Adam tidak sadar jika adiknya sengaja ingin menghindarinya? Kenapa pria itu masih saja mengganggunya? Zea merasa apa yang dilakukan kakaknya memang disengaja. Seharusnya Adam tidak menghubunginya agar dia bisa melupakannya. Bukan seperti ini yang malah akan semakin membuatnya sulit melupakan cintanya.


Dia dibuat pusing dengan Arslan yang selalu menanyakan padanya, apa yang harus dilakukan dan harus bagaimana. Dirinya saja belum menikah, bagaimana memberi solusi. Ada rasa iri dalam hati pria itu kala mendengar cerita sepupunya mengenai calon istrinya. Andai saja Adam bisa lebih cepat memahami isi hatinya, pasti semua tidak akan seperti ini. Nasi sudah menjadi bubur, sudah tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain menunggu saat ini.


“Dam, kenapa kamu dari tadi diam terus? Kasih aku solusi, dong! Bagaimana nanti?" tanya Arslan di sela kegiatannya di depan cermin. Padahal semua sudah siap, hanya saja pria itu belum percaya diri.


"Aduh, Ars, aku juga tidak tahu apa-apa soal pernikahan. Kenapa kamu tanya sama aku? Aku juga tidak tahu apa yang harus dilakukan Kamu tanya saja sama papamu."


Ada kemudian menutup telinganya dengan headset agar tidak mendengar keluhan dari Arslan lagi, yang akan semakin menambah sakit kepalanya. Dia sendiri merasa bingung harus berbuat apa. Sampai akhirnya datanglah Zayna yang meminta kedua pria itu untuk segera turun. Mereka harus segera berangkat sebelum penghulu datang.


Arslan pun segera mendahului Adam. Pria itu tidak ingin datang terlambat dan membuat calon istrinya kecewa. Dia juga tidak sabar untuk menghalalkan wanita yang sudah mengganggu malamnya. Adam yang melihat tingkah sepupunya hanya menggelengkan kepalanya. Namun, dalam hati dia senang jika Arslan bahagia.


Sementara itu, di sebuah pondok pesantren segala persiapan dilakukan oleh para santri. Mereka begitu antusias dengan acara pernikahan Ning Hira. Semua tahu betapa baik dan sabarnya gadis itu. Mereka penasaran, kira-kira seperti apa pria yang akan menjadi imamnya.


“Aku tidak menyangka kalau, Ning, akan menikah dengan pria lain. Aku kira Ning akan menikah dengan Ustaz Ali,” ucap Ustazah Nurul—salah satu pengajar di sana—yang membantu Hira bersiap.

__ADS_1


“Kenapa Ustazah bisa berpikir seperti itu?” tanya Hira dengan heran. Dia dan keluarga sama sekali tidak ada niat untuk melakukan hal itu.


“Karena hanya Ustaz Ali yang paling memiliki kualitas untuk bersanding dengan Ning. Bukan aku saja yang berpikiran seperti itu, seluruh penghuni pondok juga sepertinya berpikir hal yang sama. Itulah kenapa mereka semua terkejut saat mendengar, kamu mau menikah dengan seorang pria yang bukan dari berasal dari pondok ini. Kita semua penasaran, seperti apa laki-laki yang mengalahkan Ustaz Ali. Bagaimana juga pria pilihan Kyai Hasan," ucap Ustazah Nurul.


Kyai Hasan adalah nama lain dari Lukman. Orang yang mengenalnya terdahulu memang memanggil seperti itu, tetapi setelah memimpin pondok pesantren, nama Hasan diambilnya. Yang juga termasuk nama lengkapnya. Pondok juga semakin maju semenjak dipimpinnya meski ada saja orang-orang yang ingin menjatuhkan pria itu.


"Kenapa harus seperti itu, Ustazah? Tidak baik membandingkan orang. Lagi pula jodoh manusia tidak ada yang tahu, manusia bisa berencana, tapi Tuhan yang menentukan," ucap Hira yang diangguki oleh Ustazah Nurul.


Hira tidak habis pikir bagaimana penghuni pondok bisa berpikir seperti itu. Dia memang mengagumi sosok Ustadz Ali, tetapi untuk menikah dengannya tidak terpikirkan sama sekali. Gadis itu sudah menyerahkan keputusan mengenai jodoh pada abinya.


Tidak ada lagi perbincangan di antara mereka, hingga terdengar kasak-kusuk di luar jika pengantin pria sudah datang. Banyak santriwati yang memuji ketampanan calon suami Ning Hira. Hingga sampailah berita itu pada pengantin wanita. Gadis itu merasa cemburu karena banyak wanita yang sudah memuji calon suaminya.


Padahal dirinya saja belum melihat bagaimana tampilan pria itu kini. Namun, Hira tidak mampu mengatakan hal sejujurnya. Dia malu jika ketahuan kalau dirinya sudah jatuh cinta pada pria yang bernama Arslan. Gadis itu berdoa semoga acara hari ini lancar tanpa hambatan.


Arslan sendiri saat ini merasa sangat gugup. Apalagi saat memasuki area pondok pesantren, rasa gelisahnya semakin bertambah. Dia selalu memaksakan senyum meski suasana hatinya sudah tidak karuan. Beberapa orang yang terlihat seperti pengajar menyalami satu persatu.


Keringat dingin keluar dari tubuhnya, sebisa mungkin pria itu terlihat biasa saja. Adam yang berada di sampingnya, menjadi sasaran sepupunya. Dia ingin menjauh, tetapi kasihan juga pada Arslan.Banyak pasang mata yang memandangi keduanya membuat pria itu merasa risih.


Beberapa santri menyambut kedatangan mereka dan mempersilakan segera memasuki masjid, tempat yang akan digunakan untuk ijab kabul. Kyai Hasan beserta istrinya menyambut kedatangan besan dan calon menantunya. Mereka segera masuk dan menempati tempat yang sudah disediakan. Ustazah Nurul membawa pengantin wanita ke masjid. Keduanya duduk di tempat para wanita, yang terhalang tirai dengan laki-laki.


“Saya tidak menyangka Ustaz Ali bisa kalah dengan pria ini,” bisik seorang pria yang ada di belakang Arslan.


Tentu saja pengantin pria masih bisa mendengarnya. Dalam hati Arslan bertanya, "Siapa Ustaz Ali itu? Kenapa pria di belakangku berkata seperti itu? Apa mungkin dia kekasih Hira? Tapi gadis itu sebelumnya mengatakan tidak memiliki kekasih. Meskipun saat itu yang mengatakan adalah papanya."


Arslan berusaha mengabaikan apa yang dikatakan oleh pria yang ada di belakangnya. Yang penting saat ini adalah Hira menjadi miliknya. Mengenai tentang Ustaz Ali nanti akan dia tanyakan kepada istrinya. Mudah-mudahan saja mereka tidak memiliki hubungan apa pun.


Seorang ustaz meminta Arslan untuk duduk di depan Kyai Hasan. Pak penghulu sudah datang, maka acara akan dimulai. Duduk di depan calon mertuanya semakin membuat pengantin pria gugup. Padahal sedari tadi Arslan sudah mencoba untuk tenang, tetapi tetap saja jantungnya berdetak lebih cepat.


Tidak jauh berbeda dengan Arslan, Hira juga sangat gugup. Gadis itu bisa melihat calon suami dan abinya di sana karena hanya tirai tipis yang membatasi mereka. Tidak hentinya dia berdoa dalam hati.


“Bisa dimulai?” tanya pak penghulu yang diiyakan oleh beberapa orang.


Seorang ustaz membacakan doa agar semuanya berjalan lancar, semua orang pun mengaminkannya. Berharap agar rumah tangga calon pengantin bisa langgeng.

__ADS_1


.


.


__ADS_2