Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
166. Menjenguk Baby Ars


__ADS_3

“Kinan, Mama sudah dapat hadiahnya. Lihat ini! Lucu, kan?” tanya Mama Aida sambil menunjukkan dua baju anak bayi beserta aksesorisnya.


“Iya, Ma. Itu lucu sekali,” jawab Kinan sambil melihat mertuanya.


“Kamu sudah dapat apa yang mau kamu mau beli?”


“Iya, Ma. Aku sudah dapat ini,” jawab Kinan sambil menunjukkan sepasang sepatu bayi.


“Ayo, kita pergi ke depan buat bayar! Mama sudah tidak sabar untuk bertemu dengan anaknya Zayna.”


“Iya, Ma.” Kinan bersama dengan mertuanya menuju kasir. Keduanya pun membayar apa yang mereka beli dan segera pergi menuju rumah sakit.


“Kamu dari tadi diam saja, Kin. Memangnya ada apa? Apa kamu sakit?” tanya Mama Aida saat mereka dalam perjalanan.


“Tidak, Ma. Aku nggak papa, kok!” jawab Kinan dengan tersenyum.


Mama Aida merasa ada sesuatu yang disembunyikan menantunya. Dia yakin pasti ada sesuatu, wanita itu pun mencoba membujuk Kinan agar mau bicara. Bagaimanapun juga Mama Aida sudah menganggapnya putri sendiri.


“Kenapa sekarang jadi main rahasia-rahasiaan sama Mama? Memang kamu ada apa? Cerita dong sama Mama. Apa karena Mama paksa kamu buat ikut Mama ke salon? Kalau kamu nggak mau, nggak pa-pa kita nggak jadi."


“Tidak ada apa-apa, bukan itu. Aku cuma berpikir, pasti menyenangkan saat ada anak diantara pasangan suami istri."


Mama Aida pun mulai mengerti apa yang dipikirkan oleh Kinan. Dulu juga dia mempunyai pikiran seperti itu, tetapi semangat dari orang-orang sekitar membuatnya kuat. Terutama keluarga yang selalu bersama setiap hari.


“Setiap rezeki itu atas kehendak Tuhan. Jika saat ini kamu belum diberikan kepercayaan, itu artinya Tuhan sedang mempersiapkan rezeki yang lain. Kamu jangan pesimis, kamu masih pengantin baru. Kamu tahu, Mama dulu juga sering berpikir seperti itu, terutama setelah kelahiran Hanif. Mama selalu berusaha agar memiliki anak lagi. Namun, Tuhan berkehendak lain. Tuhan hanya memberikan Mama satu anak. Mana sangat frustrasi, berbagai cara Mama lakukan, tapi mungkin Tuhan hanya mengizinkan Mama memberikan kasih sayang sepenuhnya untuk Hanif. Sekarang Mama bersyukur karena Tuhan memberikan putri yang cantik dan sebaik kamu di keluarga Mama.”


“Mama sudah memiliki Mas Hanif, sedangkan aku belum ada.”


“Itu artinya Tuhan memberi waktu kalian untuk saling menyayangi satu sama lain dulu. Kalian belum pernah pacaran, kemarin ‘kan langsung menikah saja jadi, ini gunakan waktu sebaik mungkin untuk menghabiskan waktu bersama. Kalau nanti ada anak, kalian tidak akan punya waktu untuk berpacaran. Pasti anak kalian akan selalu menjadi orang ketiga. Jangan terlalu dipikirkan, nanti malah membuatmu stress," ujar Mama Aida sambil mengusap pundak Kinan.


"Iya, Ma. Terima kasih atas nasehatnya."


Keduanya pun membicarakan hal-hal lain. Mama Aida mencoba untuk membuat menantunya kembali ceria. Akhirnya tidak terasa mereka telah sampai juga di rumah sakit. Di tempat parkir, keduanya tanpa sengaja bertemu dengan Mama Aisyah.


"Kalian ke sini juga?" tanya Mama Aisyah.

__ADS_1


"Iya, aku baru tahu tadi pagi kalau Zayna sudah melahirkan. Kinan sama Hanif nggak ada cerita apa-apa kemarin," ucap Mama Aida sambil bercipika-cipiki dengan besannya, sementara Kinan mencium punggung tangan mamanya.


"Iya, semuanya serba mendadak. Aku juga terkejut, tapi alhamdulillah sekarang baik-baik saja."


"Syukurlah kalau begitu."


"Ayo, kita masuk! Kalian pasti sangat ingin bertemu dengan bayinya Ayman," ajak Mama Aisyah sambil melangkah lebih dulu.


"Iya, ayo! Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Zayna dan anaknya."


Mereka segera menuju ruangan Zayna, ternyata di sana juga masih ada kedua orang tua wanita itu. Terlihat Papa Rahmat dan Mama Savina mengajak putrinya berbincang.


"Assalamualaikum, Bu Savina dan Pak Rahman. Sudah ada di sini ternyata," ucap Mama Aisyah.


"Waalaikumsalam, iya, Bu Aisyah. Kami baru sampai subuh tadi jadi, langsung ke sini," jawab Papa Rahmat.


"Kenapa tidak bilang? Tahu gitu saya bisa jemput ke bandara."


"Kami takut merepotkan keluarga Bu Aisyah. Kami sudah terlalu sering merepotkan Anda sekeluarga."


"Tidak, Pak Rahmat. Justru saya senang dengan kedatangan Anda dan Bu Savina."


"Bagaimana keadaan kamu, Sayang?" tanya Mama Aisyah pada menantunya.


"Sudah lebih baik, Ma. Meski masih nyeri sedikit di bagian itu."


"Memang sudah sewajarnya, semua wanita melahirkan memang rasanya seperti itu. Ini Tante bawakan hadiah untuk si kecil. Maaf, Tante cuma bawa ini saja." Mama Aida menyerahkan satu kotak hadiah pada Zayna.


"Terima kasih, Tante sudah mau repot-repot tantenya repot membawa hadiah segala," ucap Zayna saat menerima hadiah itu.


"Tidak repot. Tante justru senang bisa melihat kamu dan anak kamu. Tante Boleh melihat anakmu?"


"Boleh, Tante, tapi sayangnya cuma bisa dilihat saja tidak bisa disentuh. Dia masih dalam masa observasi."


"Iya, Tante mengerti. Tante ke sama dulu sama Kinan."

__ADS_1


"Iya, Tante."


Mama Aida menuju ruang bayi bersama dengan Kinan, sementara Mama Aisyah masih berbincang dengan besannya. Ayman sendiri sedang keluar untuk mencari sarapan.


"Dokter hari ini sudah memeriksa kamu?"


"Belum, Ma. Mungkin nanti agak siangan."


"Ini lucu sekali! Dari mana kamu dapat ini?" tanya Mama Aisyah saat melihat sepasang sepatu rajutan tangan di atas meja. Bentuknya sangat lucu, warnanya juga tidak terlalu mencolok, sesuai untuk anak laki-laki.


"Itu dari Zanita, Ma. Tadi Mama Savina yang membawanya," jawab Zayna.


"Ini bagus sekali!"


"Itu hanya sepatu biasa saja, Bu Aisyah. Dibandingkan dengan hadiah lain yang Zayna dapat."


"Tapi ini lebih spesial karena dibuat dengan tangan sendiri."


"Iya, Bu Aisyah. Zanita memang diajari berbagai kerajinan di sana. Makanya dia mencoba untuk membuat karya pertama untuk keponakannya," sahut Mama Savina dengan bangga.


Sejak Zanita tinggal di LAPAS, banyak sekali perubahannya dan itu membuat Mama Savina senang. Dia merasa terharu karena orang lain mampu membuat putrinya berubah. Hal yang tidak bisa dilakukan oleh wanita itu.


"Wah! Benarkah? Baby Ars pasti senang mendapatkan hadiah dari tantenya."


"Syukurlah kalau memang dia senang jadi, Zanita juga akan senang karena usahanya tidak sia-sia rasa."


"Sampaikan rasa terima kasihku pada Zanita karena sudah meluangkan waktu untuk membuat keponakannya sepatu itu. Aku sangat suka, baby Ars juga suka."


Tidak berapa lama Ayman atang dengan membawa beberapa kotak makanan. Dia tahu jika kedua mertuanya pasti belum makan. Mereka malam-malam sudah terbang ke sini, juga tidak pulang ke rumah Mama Aisyah, langsung ke rumah sakit. Pasti mereka tidak sempat untuk menikmati sarapan.


"Ayo, kita sarapan dulu! Aku beliin ini di depan tadi," ajak Ayman.


"Mama sudah sarapan di rumah. Kamu ajak mertuamu saja," sahut Mama Aisyah.


Ayman pun mengajak kedua mertuanya untuk sarapan. Papa Hadi dan Mama Aisyah sempat menolak. Namun, pria itu memaksa. Lagi pula dia sudah terlanjur beli banyak makanan. Daripada nanti terbuang mubazir.

__ADS_1


.


.


__ADS_2