Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
278. S2 - Adam dan Zea


__ADS_3

Zea baru saja pulang dari kampus dan dia dikejutkan dengan kehadiran Adam di rumah omanya. Pria itu tersenyum ke arah adiknya. Gadis itu belum siap untuk bertemu secara langsung dengan kakaknya. Dia sudah berusaha untuk menyingkirkan perasaannya. Zea bingung harus melakukan apa, tubuhnya seolah kaku di tempat.


Namun, ternyata semuanya runtuh saat bertemu secara langsung dengan seperti ini. Saat menggunakan sambungan telepon, gadis itu masih bisa menahan semuanya. Kini saat dihadapkan, ternyata dia benar-benar rapuh. Cintanya pada kakaknya sangat besar.


Adam yang melihat keterdiaman adiknya pun segera mendekati gadis itu dan memeluknya. Sungguh dia merindukan Zea, gadis yang sudah mencuri hatinya. Dia yang mendapat pelukan dari Adam pun hanya bisa menangis. Sebelum pergi kemarin, Zea tidak mendapatkan pelukan ini, tetapi kenapa sekarang saat dirinya sudah berusaha untuk melupakan semuanya, pria ini justru ada di hadapannya. Apa ini yang dinamakan permainan takdir, kenapa hal ini harus terjadi padanya.


"Kakak merindukanmu," berisik Adam, tepat di telinga Zea, membuat air mata gadis itu semakin deras.


Ternyata sampai detik ini pria itu hanya menganggap dia sebagai adik. "Aku juga merindukan kakak."


"Kenapa kalian malah peluk-pelukan di sini? Ayo, Zea. Kamu ajak Kakakmu duduk dulu biar makan, Tadi Adam bilang sudah kelaparan di jalan. Oma sudah siapin makanan, kamu temenin Kakakmu. Oma mau istirahat dulu, Oma capek."


"Kakak ini, datang-datang bikin Oma repot. Kalau mau makan buat sendiri atau beli di luar. Kenapa ngerepotin Oma, nanti kalau Oma tambah sakit bagaimana?" tanya Zea dengan nada sinis.


"Aku nggak minta sama Oma. Aku minta sama Bibi," kilah Adam yang memang sudah sedari tadi mencoba melarang omanya.


"Sama saja," sela Zea dengan cemberut.


Dia tidak suka jika omanya bertambah sakit, itu akan membuat kedua orang tuanya bersedih. Apalagi akhir-akhir ini keadaan wanita itu semakin menurun. Padahal Oma Aida selalu melakukan apa yang dokter perintahkan meski terkadang sangat menyiksa. Opa Wisnu dan Zea selalu memberi semangat padanya.


"Iya, Sayang. Oma tadi cuma arahin Bibi saja karena Bibi belum tahu selera Adam. Kamu tahu sendiri lidahnya susah kalau makan sesuatu," sahut Oma Aida.


"Nanti Kak Adam bisa makan di luar, enggak usah makan di rumah. Bikin repot orang saja," ucap Zea yang kemudian mengantar omanya ke kamar.


Sementara itu, Adam hanya bisa menghela napas. Dirinya tadi memang tidak meminta pada omanya. Bahkan dia sendiri yang membantu Bibi memasak, Oma Aida hanya melihat saja. Mau membela diri pun akan sulit, lebih baik diam saja.


"Kakak ngapain ke sini?" tanya Zea dengan sinis


"Kok ngapain, sih! Kan, kamu yang suruh Kakak ke sini, masa sudah sampai sini malah tanya ngapain. Pasti kamu lupa, ya? Masih muda sudah lupa."


Zea mengerutkan keningnya, dia berpikir kapan dirinya meminta Adam datang. Ternyata dia teringat saat candaan dirinya dengan pria itu di telepon. Padahal gadis itu tidak bersungguh-sungguh, untuk meminta kakaknya datang karena Zea pikir Adam tidak akan mungkin bisa datang. Ternyata sekarang malah di sini.


Sekarang pun pria itu terlihat biasa saja dengannya, seperti tidak terjadi apa pun. Zea berpikir jika kakaknya melakukan hal itu agar membuatnya nyaman. Dia menghargai usaha Adam, semoga dirinya juga bisa melupakan perasaannya dengan cepat.


"Aku kan cuma bercanda, Kak. Malah ke sini beneran."


"Memang kenapa? Mau kamu bercanda atau enggak, kalau kamu minta Kakak ke sini, pasti Kakak akan datang ke sini. Apa pun permintaan kamu, pasti Kakak akan turuti," ucap Adam dengan begitu yakin.


"Kalau aku meminta kakak buat batalin pernikahan Kakak, apa Kakak akan melakukannya juga?" tanya Zea sambil menatap kakaknta.


Ingin sekali Adam mengatakan jika memang pernikahannya sudah batal, tanpa gadis itu minta. Namun, semuanya tertahan di tenggorokan karena sebuah janji, yang diucapkan untuk papanya. Sebagai seorang pria dia tidak mungkin mengingkari itu semua. Meskipun saat ini sang papa berada di tempat yang jauh.


Zea yang melihat keterdiaman Kakaknya hanya bisa berdecih sinis. Sebegitu besarkah cinta Adam pada Alin, hingga membuat pria itu harus meralat kata-katanya. Ternyata dirinya tidak begitu berharga dari wanita itu. Dia penasaran apa yang spesial dari diri Alin, hingga membuat Adam begitu mencintainya.


"Lupakan saja permintaanku, sebaiknya Kakak lanjutkan makan saja. Aku masuk ke dalam dulu." Zea melangkahkan kakinya menuju kamar. Namun, ucapan Adam membuat langkah gadis itu terhenti sejenak.


"Jika Kakak mau membatalkan pernikahan itu, kira-kira apa yang dapat kamu berikan pada Kakak?"


Zea kembali melanjutkan langkahnya, dia tidak memedulikan apa yang kakaknya katakan. Gadis itu terus saja melangkah menuju kamarnya. Adam menghela napas dengan menundukkan kepala. Andai saja dia bisa mengatakan yang sejujurnya, semua ini tidak akan terjadi.


Pria itu pun mulai menikmati makanannya. Adam sudah sangat lapar setelah perjalanan jauh. Setelah ini dia ingin mengajak Zea jalan-jalan. Entah gadis itu mau atau tidak, Adam akan memaksanya. Sangat mudah membujuk adiknya agar mau pergi.


Setelah menyelesaikan makannya, Adam membersihkan diri terlebih dahulu, setelah itu mengajak Zea jalan-jalan. Namun, gadis itu menolak dengan beralasan jika masih ada tugas kuliah. Nyatanya tidak ada tugas sama sekali.

__ADS_1


"Ayolah, Dhek. Kakak sudah di sini, masa kamu tega biarin Kakak nganggur, sih!" Adam berusaha membujuk adiknya.


"Kakak jalan-jalan saja sendiri, kan, bisa."


"Kakak di sini nggak tahu arah."


"Aku juga sama, aku baru di sini."


"Setidaknya kalau Kakak kesasar bisa berdua sama kamu, nggak sendirian."


Zea melototkan matanya, bagaimana bisa Adam mengajaknya tersesat. Kenapa tidak tersesat sendiri saja. "Pokoknya aku nggak mau. Aku mau ngerjain tugas."


Mendengar hal itu, tentu saja membuat Adam sedih. Dia sudah berusaha datang, tetapi hanya bisa di rumah saja tanpa bisa berduaan. Akan tetapi, kasihan juga jika Zea benar-benar banyak tugas.


"Ya sudah, maaf kalau Kakak mengganggu," ucap pria itu dengan nada lesu.


Pria itu berjalan gontai menuju ruang tengah, membujuk adiknya saat ini ternyata semakin sulit. Berbeda dengan dulu, andai saja dia tidak membuat kesalahan pasti tidak akan seperti ini. Penyesalan memang datangnya terlambat, tetapi akan menjadi pelajaran ke depannya.


Zea menatap kepergian kakaknya dengan tidak enak. Adam sudah meluangkan waktu datang ke sini di tengah kesibukannya mempersiapkan pernikahannya. Sekarang dengan teganya Zea malah menolak permintaan pria itu. Akhirnya terpaksa gadis itu menutup buku dan menemui kakaknya.


"Ya sudah, ayo aku antar jalan-jalan!" ajak Zea yang baru saja keluar dari kamarnya.


Hal itu membuat senyum di wajah Adam mengembang. Pria itu segera berdiri dan pergi bersama dengan adiknya. Dia meminjam mobil milik opanya yang ada di garasi. Meskipun Adam tidak tahu jalan kota ini, tetapi masih ada ponsel yang bisa digunakan. Pria itu juga hanya tahu beberapa tempat saja.


"Kita mau ke mana, Kak?"


"Kira-kira kamu tahu nggak, tempat yang enak buat menyegarkan otak?"


"Sejak aku datang ke negara ini, aku tidak pernah jalan-jalan, Kak. Aku nggak tahu di mana saja tempat hiburan."


Akhirnya pilihan Adam tertuju pada sebuah penampilan teater, di sebuah gedung yang tidak jauh dari tempat mereka tinggal. Zea pun setuju saja, itu juga bisa dia pelajari, siapa tahu ada yang penting. Syukurlah mereka masih kebagian tiket. Sepanjang mereka melihat pementasan, tangan Adam tidak pernah melepaskan genggaman pada adiknya.


Padahal sedari tadi gadis itu mencoba untuk melepaskannya, tetapi kesulitan. Akhirnya lama-lama Zea membiarkan saja kakaknya melakukan semuanya. Adam juga tidak akan melepaskannya dengan alasan takut jika mereka berpisah. Setelah tiga jam lamanya berada di gedung teater, keduanya memutuskan untuk bersantai sejenak di sebuah taman, yang tidak jauh dari gedung tersebut.


"Di sini kalau malam sangat ramai, ya?" ucap Adam memulai pembicaraan.


"Entahlah, aku sudah bilang tadi, kalau aku jarang sekali keluar kalau tidak sama pak sopir."


"Itu lebih baik. Zea, kamu harus baik-baik di sini. Tidak ada yang bisa menjaga kamu, opa dan oma juga pasti sibuk, apalagi oma sedang sakit."


"Jangan terlalu mengkhawatirkanku. Saat ini Kakak pasti sibuk dengan persiapan perni—"


"Kalau ada apa-apa, segera hubungi Kakak. Sesibuk apa pun Kakak, pasti akan meluangkan waktu untukmu," potong Adam yang tidak ingin Zea membahas pernikahannya, yang sebenarnya tidak pernah ada. Saat ini, dia hanya ingin membahas mereka berdua saja. Tidak ada pembicaraan lain.


Zea merasa ada sesuatu yang aneh pada kakaknya. Apa dia melewatkan beberapa kejadian. Gadis itu menatap pria yang ada di sampingnya dengan saksama. "Kakak kenapa? Datang ke sini tiba-tiba jadi berubah. Bukankah kita sedang bertengkar, ya?"


"Memang siapa yang bertengkar? Kamu saja yang baperan, pakai kabur segala. Terus pindah ke luar negeri, sampai-sampai tidak tahu apa saja yang sudah terjadi di sana."


"Memang apa yang sudah terjadi?"


"Lupakan saja, tidak ada yang penting juga untuk kamu. Sekarang kita nikmati malam ini dengan tenang. Besok Kakak harus kembali," kilah Adam dengan menatap lurus ke depan.


"Kembali? Cepet banget!"

__ADS_1


"Tadi kamu bilang ngapain ke sini, sekarang malah bilang cepet banget, terus kamu maunya apa?"


"Tahu, ah." Zea memalingkan wajahnya dengan cemberut.


Adam tidak memedulikan ekspresi adiknya. Yang penting bagi pria itu, bisa berduaan dengan Zea seperti ini, membuat hatinya lebih senang. Dia menyandarkan kepalanya di pundak adiknya, membuat gadis itu terkejut. Namun, tidak menepisnya. Zea tahu jika kakaknya sangat lelah, baru saja datang, malah sekarang mengajak jalan-jalan.


"Kak, sebaiknya kita pulang saja, ya! Kakak pasti capek, nanti di rumah Kakak bisa istirahat."


"Tidak apa-apa, begini saja dulu. Kakak tiba-tiba rindu dengan masa kecil kita dulu. Semuanya ringan, nggak ada beban. Semakin dewasa, masalah itu semakin banyak silih berganti."


"Iya, Kakak benar. Seandainya kita masih kecil, tentu kita tidak akan pernah memikirkan perasaan. Asalkan bisa terus bersama Kakak, yang lainnya tidaklah penting."


"Kakak harap juga begitu, selamanya kita selalu bersama-sama, tanpa memedulikan sekitar kita."


Adam mendongakkan kepala, menatap wajah cantik sang adik di bawah lampu taman yang renang-remang. Wajah gadis itu justru terlihat semakin cantik. Zea yang sadar jika sedang ditatap pun ikut menatap kakaknya. Pandangan Keduanya bertemu, gejolak dalam hati masing-masing, yang berusaha ditahan akhirnya tumbang juga.


Hingga tanpa sadar jarak mereka semakin menipis dan bibir keduanya pun saling terpaut. Ini yang pertama bagi mereka. Namun, naluri hati keduanya yang bekerja, membuat lidah mereka pun saling berbelit. Hingga Adam mengakhirinya saat tahu Zea sudah kehabisan napas.


Gadis itu menundukkan kepala. Dia tahu sudah melakukan kesalahan. Namun, hatinya juga menginginkan hal itu. Jiwa dan tubuhnya pun tidak menolak, entah apa yang akan dikatakan oleh orang nanti, saat mengetahui apa yang Zea lakukan. Gadis itu tidak akan menyesal. Mungkin setelah ini kakaknya akan menjadi milik wanita lain.


“Kak, Ma—“


Adam meletakkan jari telunjuknya di bibir Zea, pertanda agar gadis itu tidak mengatakan apa pun. Ini bukan kesalahan gadis itu, juga bukan kesalahannya. Semuanya terjadi begitu saja. Hati mereka saja yang tidak bisa menahan.


"Sebaiknya kita pulang, nanti oma dan opa nunggu kita. Pasti mereka takut kalau kita kesasar," ajak Adam yang dianggap oleh Zea.


Adam pun menggenggam telapak tangannya adiknya dan membawa gadis itu menuju mobil. Sepanjang perjalanan, tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir keduanya. Tangan pria itu pun tidak pernah melepaskan genggamannya pada tangan adiknya. Zea berpikir kakaknta juga memperlakukan Aini seperti ini kemarin.


Itulah kenapa sepupunya menganggap Adam ingin menjadikan dia istri kedua. Sekarang apakah dirinya juga akan menjadi istri ketiga? Zea menggelengkan kepala, dia tidak akan pernah mau. Sebesar apa pun cintanya pada Adam, gadis itu tidak akan mau berbagi suami dengan wanita lain.


"Kak, apa setelah menikah nanti Kakak masih akan datang ke sini?" tanya Zea dengan menatap wajah kakaknya, yang sedang mengemudi.


"Sudah pernah Kakak katakan, kalau kamu meminta Kakak datang, detik itu juga Kakak akan mencari penerbangan terakhir."


"Kakak janji, ya! Kalau Kakak akan datang saat aku memintanya," pinta Zea yang ingin meyakinkan janji kakaknya.


"Iya, Kakak pasti akan datang."


"Aku tidak yakin Kakak akan memenuhinya. Bagaimana kalau aku meminta Kakak untuk datang ke sini saat hari pernikahan Kakak? Pasti Kakak akan menolaknya," ucap Zea dalam hati.


Kalau dia mengatakannya secara langsung, pasti Adam akan mengalihkan pembicaraan yang lain. Tidak berapa lama, mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai juga di depan rumah. Pria itu melihat ke arah adiknya, ternyata Zea sudah tertidur. Dia pun berinisiatif untuk menggendongnya dan membawa ke kamar gadis itu.


Rumah tampak begitu sepi. Oma dan opanya ternyata sudah tidur, hanya tinggal bibi yang masih menunggu kedatangannya.


"Maaf, ya, Bik. Saya sudah merepotkan," ucap Adam yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, Den."


Adam pun membawa Zea ke kamar dan menidurkan gadis itu di atas ranjang. Sebelum pergi, dia memandangi wajah cantik adiknya kemudian, mencium kening gadis itu.


"Kakak mencintaimu, seperti kamu mencintai Kakak. Kakak harap hatimu tidak akan berubah sampai satu tahun ke depan. Selamat malam, semoga mimpi indah." Adam menyelimuti tubuh Zea dan segera meninggalkan kamar itu.


Kenangan malam ini tidak akan pernah Adam lupakan. Entah bagaimana nanti saat Zea bertemu dengannya, biarlah semuanya terjadi. Dia tidak akan menyesali apa pun.

__ADS_1


.


.


__ADS_2