
“Apa benar, Pak Hanif, kalau wanita itu tunangan Anda?” tanya klien Hanif dengan nada tidak percaya.
“Iya, Bu. Benar dia tunangan saya dan yang hamil itu kakak iparnya,” jawab Hanif sambil menunjuk ke arah dua wanita itu.
“Saya kira Pak Hanif masih sendiri," ucap Wanita itu dengan tersenyum canggung.
“Tidak, Bu. Kami sudah merencanakan pesta pernikahan. Insya Allah jika waktunya tiba, saya akan mengundang Anda,” jawab Hanif.
“Iya, Pak.”
“Oh ya, Mas, saya pakai kartu kredit saja, ya!” Ucap Hanif pada pelayan tadi.
Dia menyerahkan kartu kredit dan menekan pin-nya. Setelah pembayaran selesai, pria itu pamit pada kliennya lebih dulu. Hanif ingin menemui Kinan sebelum kembali ke perusahaan lagi. Dia juga ingin tahu, apa ada kesalahpahaman diantara mereka.
“Assalamualaikum, Kak Zayna, Kinan,” ucap Hanif yang baru bergabung dengan mereka.
“Waalaikumsalam.”
“Kamu nggak bilang kalau di sini?” tanya Hanif pada Kinan.
“Memangnya kalau aku bilang, kamu bakal balas pesan aku? Nggak juga, kan? Kamu lagi sibuk juga sama klien.”
Zayna hanya tersenyum melihat Kinan yang sedang marah. Dia sangat tahu jika adik iparnya saat ini tengah cemburu. Hanya saja, gadis itu tidak ingin mengakuinya. Pasti Kinan merasa gengsi.
“Kakak pergi dulu, nanti kamu minta antar saja sama Hanif,” ucap Zayna yang segera berdiri.
Dia ingin memberi waktu untuk mereka berbicara. Seperti yang wanita itu ketahui, sudah beberapa hari keduanya tidak bertemu. Pasti dalam hati keduanya ada rasa rindu.
“Kita pulang bareng saja, Kak," sahut Kinan.
“Kakak nggak mau pulang dulu, Kakak masih ada urusan. Kalau kamu pulang minta antar saja sama Hanif. Kakak pergi dulu, assalamualaikum.”
“Kak, bagaimana dengan semua makanan ini?”
“Minta bungkus saja, bawa pulang,” sahut Zayna yang kemudian berlalu dari sana. Sementara itu, Kinan masih kesal pada Hanif yang lebih mementingkan wanita tadi daripada membalas pesannya.
“Maafin aku, ya, Sayang. Aku benar-benar nggak ada maksud seperti itu. Aku memang akhir-akhir ini sangat sibuk, sampai rumah juga badan capek sekali. Akhirnya tertidur sebelum sempat melihat ponsel. Maaf, aku nggak nepatin janji aku. Padahal sebelumnya aku sudah berjanji akan berusaha meluangkan waktu, tapi waktuku habis untuk bisnis. Apalagi aku sangat minim sekali dalam hal ini. Walaupun aku pernah kuliah mengenai bisnis, tetap saja prakteknya berbeda,” ucap Hanif dengan lesu.
__ADS_1
Kinan pun menjadi tidak tega melihatnya. Dia juga tahu bagaimana susahnya memimpin perusahaan karena keluarganya juga begitu. Ada banyak yang perlu dikorbankan, terlebih tentang waktu dan kebersamaan yang terbatas.
“Aku juga minta maaf karena sudah terlalu menuntutmu, Mas," ucap Kinan dengan wajah sendu.
“Tidak, kamu tidak salah. Aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu.”
“Ya sudah, tidak usah dibahas lagi. Oh iya, aku minta maaf soal tagihan makanan ini, itu kerjaan Kak Zayna. Ini semua makanan juga dia yang pesan, sekarang malah nggak dimakan.”
“Pasti Kak Zayna juga ikutan kesel, ya?”
“Ya .... begitulah, malah dia mikirnya apakah Kak Ayman juga seperti itu di tempat kerjanya. Meeting dengan klien wanita dan makan bersama.”
Hanif tidak menyalahkan Zayna, dia sangat tahu bagaimana perasaan wanita itu. Dulu mamanya juga merasakan hal yang sama, bahkan sampai sakit. Akan tetapi, Papa Wisnu berusaha meyakinkan sang istri, bahwa dirinya tidak akan berpaling. Akhirnya pernikahan mereka langgeng sampai sekarang.
“Setiap perusahaan memang ada laki-laki dan perempuan. Tidak semuanya laki-laki," ucap Hanif.
“Iya, aku tahu, namanya juga ibu hamil. Pasti dia lagi sensitif.”
“Aku rasa bukan hanya ibu hamil saja. Semua wanita pasti sensitif kalau melihat suaminya dekat dengan wanita lain, termasuk kamu.”
“Kamu tadi begitu, cemburu melihat aku dekat dengan klien.”
“Aku nggak cemburu. Siapa bilang cemburu.”
“Pakai ngeles segala. Aku sangat tahu Kalau kamu cemburu. Ada nada jutek dalam bicaramu. Itu artinya kamu cemburu.”
“Nggak, aku bilang enggak juga,” ucap Kinan dengan cemberut. Hanif hanya tertawa melihatnya.
Pria itu menatap tunangannya dan berkata, "Jika kita sudah menikah, aku harap kamu percaya padaku. Tidak akan ada wanita lain yang bisa memasuki hatiku. Seluruh hati dan pikiranku sudah dipenuhi oleh dirimu. Tidak ada tempat untuk yang lain, hanya kamu seorang, jadi berikan aku kepercayaannya."
"Insya Allah aku akan berusaha untuk percaya padamu. Hanya satu yang kuharapkan, jangan pernah mengkhianatiku."
“Tentu, itu tidak akan pernah terjadi. Kamu sudah selesai makannya? Biar ini dibungkus saja semua, banyak yang masih utuh, sayang kalau nggak dimakan. Kita bisa kasih ke orang yang ada di jalan”
“Iya, terserah kamu saja.”
Hanif pun memanggil pelayan dan meminta mereka untuk membungkus makanan yang masih utuh. Setelah itu dia mengantar Kinan pulang karena dia masih ada pekerjaan yang belum selesai.
__ADS_1
Sementara itu, di sebuah mobil yang masih melaju, Zayna berusaha menghubungi sang suami. Namun, tidak diangkat juga. Dia pun menjadi kesal di buatnya. Wanita itu masih kepikiran, Apakah sang suami juga seperti Hanif yang memiliki klien seorang wanita?
Dalam hati Zayna percaya pada Ayman jika pria itu tidak akan menghianatinya, tetapi tetap saja melihat suaminya berbincang dengan seorang wanita membuatnya kesal.
“Mas Ayman ini ke mana saja, sih! Kenapa nggak diangkat? Jangan-jangan dia sibuk dengan wanita lagi. Awas saja kalau sampai itu terjadi, aku nggak akan biarin dia masuk kamar. Enak saja dia di luar senang-senang,” gerutu Zayna dengan mengutak-atik ponselnya.
Pak Doni menahan tawa saat melihat lewat kaca yang ada di depannya. Bisa-bisanya majikannya ini bisa berpikir seperti itu. Zayna kembali berusaha menghubungi Ayman dan syukurlah akhirnya diangkat juga oleh pria itu.
“Halo, assalamualaikum,” ucap Ayman yang berada di seberang telepon.
“Waalaikumsalam, Mas lagi sama siapa? Kenapa nggak diangkat?” tanya Zayna dengan nada ketus.
“Sama Ilham, Sayang. Aku barusan dari toilet. Ada apa? Apa terjadi sesuatu?”
“Mas nggak lagi sama wanita, kan!”
"Hah ...."
Ayman melongo mendengar pertanyaan dari Zayna. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba istrinya bertanya seperti itu. Pasti telah terjadi sesuatu di sana. Pria itu jadi teringat dengan asistennya Ilham itu. Ayman pikir Zayna sedang membicarakannya.
“Nggak, kalau yang kamu takutkan mengenai asistenku kemarin, dia sudah dipindah ke kantor cabang dan saat ini aku hanya sama Ilham saja.”
“Bukan itu maksudku. Mas nggak lagi meeting sama klien wanita, kan? Mas nggak lagi makan siang bareng mereka, kan?”
“Ya enggaklah, Sayang. Aku di kantor cabang itu bukan untuk menangani masalah di luar. Hanya masalah di perusahaan saja. Kalau ada meeting juga bukan aku yang handle. Ada seseorang yang di sini.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Kamu kenapa tiba-tiba tanya klien wanita?" tanya Ayman sambil menaikkan alisnya.
“Aku takut saja kamu seperti Hanif tadi.”
“Hanif? Memangnya ada apa dengan Hanif?”
.
.
__ADS_1