Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
239. Kebahagiaan keluarga


__ADS_3

Air mata tidak hentinya mengalir di kedua pipi Ayman. Dia begitu terharu melihat kedua putrinya yang begitu cantik dan sehat. Terlebih lagi sang istri juga dalam keadaan baik-baik saja. Rasa syukur tak hentinya pria itu panjatkan. Ayman begitu bahagia karena Tuhan begitu baik dengan mengirimkan kedua malaikat seperti mereka.


"Maaf, Pak. Kami harus membawa anak-anak Anda ke ruang dokter anak. Beliau sudah menunggu dari tadi. Anda juga bisa ikut bersama kami untuk melihat bagaimana kondisi anak Anda,” ucap seorang perawat pada Ayman yang baru saja mengazani kedua putrinya.


"Iya, Sus. Saya mau ikut ke sana. Saya mau tahu keadaan anak saya," jawab Ayman yang kemudian menyerahkan putrinya pada perawat tersebut.


Kedua putri Ayman diletakkan dalam kotak bayi, yang kemudian didorong menuju ruangan dokter. Pria itu mengikutinya dari belakang. Dia juga ingin tahu bagaimana kondisi putrinya. Mudah-mudahan semuanya baik. Ayman tidak akan sanggup jika terjadi sesuatu pada putrinya.


Hingga sampailah mereka di sebuah ruangan dokter anak. Dokter tersebut memeriksa kedua anak Ayman. Berbagai pemeriksaan dijalani kedua bayi itu.


"Anak-anak Anda sehat-sehat saja, Pak. Semua hasil pemeriksaan juga bagus. Anda hanya perlu memberi makan istri Anda makanan yang bergizi agar nanti, bisa memberikan ASI yang bagus. Saya anjurkan agar kedua putri anda minum ASI saja, tapi jika tidak memungkinkan karena saya tahu anak Anda ada dua, bisa ditambah susu formula. Nanti saya akan rekomendasikan merk yang cocok dan bagus untuk pertumbuhan anak Anda.”


"Terima kasih, Dokter."


Ayman senang karena kedua anaknya yang dalam keadaan baik-baik saja. Dia tadi sempat khawatir karena anaknya lahir sebelum waktunya. Apalagi mereka berbagi tempat berdua. Setelah mendengar penjelasan dokter mengenai keadaan kedua anaknya.


Pria itu kembali pergi ke ruangan di mana sang istri dirawat. Di sana sudah ada para orang tua yang menunggu. Baby Ars sendiri sedang ada di rumah bersama dengan Bik Ira dan Nina. Anak itu sekarang sudah mulai mau diajak oleh orang lain, selain Mama Aisyah dan Zayna.


"Bagaimana keadaan kedua anak kamu, Ayman?” tanya Mama Aisyah yang melihat putranya masuk ke dalam ruangan.


Wanita paruh baya itu sedari tadi juga ingin tahu bagaimana keadaan cucunya. Akan tetapi, tadi perawat hanya memperbolehkan satu orang untuk masuk. Dia akhirnya memutuskan ikut ke ruangan Zayna saja.


"Alhamdulillah, Ma. Semuanya baik-baik saja. Semoga kedepannya, mereka baik-baik saja."

__ADS_1


"Amin."


Ayman mendekati sang istri dengan senyum lebarnya. Pria itu memberi kecupan kening istrinya sambil mengucapkan rasa terima kasih, yang begitu besar karena sudah mau mempertaruhkan nyawa, demi anak-anak mereka. Rasanya, ucapan terima kasih saja tidak akan pernah cukup, untuk dia berikan pada sang istri.


Zayna sendiri tidak merasa berbuat sesuatu yang besar, untuk mendapatkan ucapan terima kasih dari sang suami. Baginya itu adalah kewajiban sebagai seorang ibu. Tidak seharusnya Ayman berterima kasih padanya. Jika seperti itu rasanya seperti dia seorang ibu yang perhitungan saja.


"Sudah, tidak usah sedih-sedih. Sekarang kita harusnya bahagia karena baby twins sudah lahir ke dunia," sela Mama Aisyah yang tidak ingin melihat air mata anak dan menantunya. "Kalian sudah ada nama belum, untuk mereka?"


"Sudah, Ma. Namanya Ainaya dan Ainiya. Kami sudah sepakat untuk memberi nama itu," jawab Ayman.


Saat mengetahui jika anak mereka kembar, Ayman dan Zayna memang sudah memikirkan nama yang cocok. Baik laki-laki maupun perempuan. Keduanya berusaha memberi nama yang baik untuk anak mereka, hingga nama itulah yang dipilih


"Bagus namanya, Mama setuju," sahut Mama Aisyah dengan menganggukkan kepala.


Semua orang terlihat begitu bahagia dengan kehadiran baby twins. Ayman menunjukkan foto kedua anaknya kepada sang istri. Meskipun sebelumnya Zayna sudah melihat, tetapi tetap saja dia masih ingin tahu karena tadi hanya sekilas saja. Wanita itu tidak sabar ingin menggendong kedua anaknya.


"Amin. Apa pun keinginannya kelak, kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan dan mendukungnya saja. Semua pilihan biar mereka yang memutuskan sendiri."


Ayman dan Zayna begitu bahagia dengan kehidupannya sekarang. Keluarganya juga begitu lengkap dengan kedua orang tua masing-masing, yang begitu baik dan perhatian pada mereka, terutama Zayna. Wanita itu tidak menyangka akan bisa mendapatkan hidup sebaik ini. Bisa mendapatkan suami yang baik saja dia begitu bersyukur, apalagi sekarang dengan mertua dan kedua orang tua yang sudah berubah.


Tentu saja hal itu membuat Zayna semakin bahagia. Kehidupannya yang terdahulu menjadi pelajaran baginya, untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Dia tidak akan melakukan kesalahan untuk anak-anaknya. Wanita itu tidak ingin mereka nanti merasakan apa yang dulu Zayna rasakan.


Wanita itu akan memperlakukan ketiga anaknya dengan seadil-adilnya, semampu dia. Semoga semuanya juga berjalan sesuai keinginannya. Zayna hanya ingin yang terbaik untuk keluarga dan masa depan anak-anaknya.

__ADS_1


Begitu juga dengan Hanif dan Kinan, kehidupan keluarga mereka juga, tak kalah bahagianya dengan kedua anak mereka yang saling menyayangi. Meskipun Baby Zea belum mengerti apa pun, tetapi bayi itu selalu tenang saat Adam ada di sisinya. Bahkan saat demam pun selalu sang Kakak yang menjaganya.


“Kamu tidak ingin menambah anak lagi, Sayang? Adam dan Baby Zea juga pasti butuh teman,” tanya Hanif dengan berbisik di telinga sang istri.


Tentu saja hal itu membuat Kinan melototkan matanya. Baru sebulan yang lalu dia melahirkan seorang anak, bisa-bisa sang suami membicarakan anak lagi. Memang wanita itu tidak akan menolak rezeki. Jika memang Tuhan memberikan kehamilan lagi padanya, sama seperti Zayna. Akan tetapi, untuk saat ini Kinan masih belum berencana. Biarlah Tuhan yang menentukan bagaimana nanti.


"Kamu nggak lihat Baby Zea masih kecil, Mas? Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu? Apa kamu nggak kasihan sama anak-anak?"


"Aku cuma bertanya, Sayang. Mengenai bagaimana keputusan kamu, itu terserah kamu. Aku hanya bertanya saja," kilah Hanif yang tidak ingin mendengar kemarahan sang istri. Dia sangat tahu jika Kinan sedang marah, lebih baik dirinya menghindar saja.


"Aku tahu kamu modus, ya, Mas. Pokoknya untuk saat ini biarkan seperti ini dulu. Biarkan Baby Zea dan Adam menikmati kebersamaan mereka. Saling mencurahkan kasih sayang dan mendapatkan cinta yang sepenuhnya dari kita. Mengenai rencana yang lain, kita pikirkan nanti. Terutama soal anak ketiga. Lagi pula kalau kita bisa bahagia dengan dua anak, apa salahnya kalau hanya ada mereka berdua."


Hanif mengangguk meski keberatan. Dia tidak akan pernah memaksa istrinya untuk hamil lagi. Sekarang dirinya juga sudah punya dua anak, itu sudah cukup untuk menjalani hari tua nanti. Apa yang dikatakan Kinan juga benar. Jika dengan dua anak saja sudah membuat mereka bahagia, tidak perlu memikirkan anak yang lainnya. Akan tetapi, jika Tuhan yang sudah mengirimkannya, mereka juga tidak akan pernah menolak.


“Aku sangat mencintai kamu, Sayang," bisik Hanif tepat di telinga Kinan, membuat wanita itu tersenyum malu.


Wanita itu berbisik pula. "Aku juga cinta sama kamu, Mas. Hanya kamu pria yang aku cintai."


Mereka berharap kebahagiaan dan kebersamaan seperti ini selalu terjalin. Apa pun rintangan di kehidupan selanjutnya, semoga bisa teratasi dengan mudah.


.


.

__ADS_1


.


The End


__ADS_2