
Hanif baru saja sampai rumah. Tubuhnya terasa tidak bertenaga. Kepalanya terasa sangat pusing. Dia memang jarang sekali sakit. Sekalinya sakit, tubuhnya tidak bisa melakukan apa pun.
“Kamu dari mana saja? Dari tadi Mama nyariin kamu! Kamu ‘kan masih sakit, belum sarapan juga, sudah kelayapan ke mana-mana. Mama telepon nggak diangkat,” gerutu Mama Aida saat Hanif memasuki rumah.
“Iya, Ma. Barusan dari kampus, ada sedikit masalah. Ada apa, sih?”
“Kok ada apa! Kamu kan belum minum obat, belum sarapan juga. Kamu mau tambah sakit?”
“Iya, ini juga mau sarapan,” jawab Hanif sambil memijat kening.
Kepala pria itu terasa pusing sedari tadi. Hanif berjalan menuju meja makan, diikuti mamanya. Mama Aida yang tidak tega melihat putranya pun segera mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan ikan. Begitulah orang tua sekesal apa pun dia, pasti rasa sayangnya jauh lebih besar.
“Ini segera dimakan, sebentar mama ambilin obat kamu dulu.” Mama Aida akan pergi.
“Nggak perlu, Ma. Nanti biar aku sendiri yang ambil.” Hanif mencoba untuk menghentikannya. Namun, wanita itu tetap pergi.
“Muka kamu pucat gitu, sudah duduk saja.”
Mama Aida berlalu menuju kamar putranya. Hanif tersenyum sambil menatap kepergian mamanya. Meskipun wanita paruh baya itu selalu mengomel, tetapi dia tahu ada cinta yang begitu besar untuk dirinya. Pria itu sangat mengerti kenapa mamanya seperti itu, dia pun sama sekali tidak keberatan. Justru Hanif senang karena merasa diperhatikan.
“Dari mana saja, Den? Dari tadi Ibu nungguin sampai belum sarapan,” tegur Bik Isa.
“Mama belum sarapan, Bik?” Bukannya menjawab Hanif malah balik bertanya.
“Belum, Den. Dari tadi nyariin Aden.”
Hanif merasa bersalah karena dia, mamanya bahkan tidak sarapan. Wanita itu terlalu mengkhawatirkan keadaannya, hingga lupa dengan dirinya sendiri. Hanif pun mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta ikan yang ada di meja. Mama Aida datang dengan membawa obat milik Hanif dan menyerahkannya pada pria itu.
“Mama tadi belum sarapan, kan? Ini udah aku ambilin. Sekarang Mama sarapan dulu.”
“Kenapa kamu ribet gini? Kamu ‘kan masih sakit, Mama bisa ambil sendiri.”
“Buktinya dari tadi Mama belum sarapan. Ayo, duduk dulu!”
__ADS_1
“Mama belum makan karena nunggu kamu. Mama khawatir, kamu pergi ke mana, nggak ada yang tahu," sahut Mama Aida yang kemudian duduk di samping putranya.
“Aku pergi juga sama sopir, nggak sendiri.”
“Ya, mana Mama tahu, kalau kamu pergi sama sopir. Mama nggak kepikiran tadi buat nyariin Pak Hari.”
Keduanya pun mulai menikmati sarapan yang sudah sangat terlambat. Bik Isa yang berada di dapur tersenyum melihat majikannya. Dia senang bisa bekerja dengan mereka, orang-orang baik yang tidak pernah memandangnya sebelah mata. Berbeda dengan majikan sebelumnya yang selalu marah-marah tanpa sebab.
“Ma, mengenai Kinan, apa boleh aku mengikatnya terlebih dahulu?” tanya Hanif setelah selesai makan.
“Maksud kamu?”
“Aku ingin bertunangan dengan Kinan lebih dulu agar aku bisa menjaganya.”
“Memang selama ini kamu tidak bisa menjaganya?”
“Beda, Ma. Kalau ada status, aku lebih punya hak untuk menjaganya. Selama ini aku menjaganya dari jarak jauh, tanpa siapa pun tahu.”
“Kalau mengenai itu, Mama tidak bisa memaksanya. Kamu ingat ‘kan kalau orang tua Kinan tidak mau memaksa anaknya. Semua diserahkan pada Kinan. Kalau anak itu mau, mereka tidak masalah. Kalau Kinan sendiri menolak, mereka tidak mau memaksa."
“Tentu, apa pun yang akan kamu lakukan, selama itu baik, doa Mama ada sama kamu. Apalagi Kinan juga gadis yang baik, begitu juga keluarganya. Mama percaya padanya. Ngomong-ngomong, kenapa kamu tiba-tiba meminta pertunangan dipercepat? Apa ada masalah?”
“Itu dia, Ma. Kemarin waktu aku jalan sama Kinan, ada yang memotret kami dan menyebarkan foto itu di kampus. Aku tidak masalah jika mereka memberikan sanksi padaku, tetapi aku tidak rela jika Kinan yang harus menanggung semuanya.”
“Foto? Foto apa?”
Hanif pun memperlihatkan foto yang tadi dia ambil dari Kinan. Mama Aida sempat terkejut melihat gambar itu. Pantas saja jadi masalah karena fotonya juga terlihat berlebihan. Wanita itu tidak habis pikir, siapa yang berani-beraninya mengambil gambar seperti itu?
“Itu tidak seperti yang Mama lihat. Waktu itu Kinan hampir saja tertabrak dan aku mencoba menolongnya. Tanpa sengaja kami terjatuh, akhirnya jadi begitulah fotonya, tapi semua orang pastinya kan berpikir yang aneh-aneh.”
Benar juga apa yang katakan Hanif. Pasti Kinan menjadi bahan gunjingan penghuni Kampus. Mereka tidak akan berani membicarakan Hanif karena dia dosen. Berbeda dengan Kinan yang seorang mahasiswi.
Andai saja mereka tahu siapa orang tua gadis itu sebenarnya. Pasti tidak akan pernah ada yang berani membicarakan kejelekan Kinan. Beberapa orang memang pernah melihat Papa Hadi dan Mama Aisyah, keduanya pernah datang ke kampus. Namun, dengan memakai pakaian biasa tentunya.
__ADS_1
Papa Hadi juga tidak pernah muncul di televisi, jadi tidak ada yang tahu dia seorang pengusaha. Kinan juga tidak pernah menceritakan pekerjaan orang tuanya karena tidak ingin dimanfaatkan orang lain.
“Karena itu, Ma. Aku ingin pertunangan ini segera dilaksanakan. Mengenai pernikahan, biar Kinan yang memutuskan. Walaupun sebenarnya aku ingin segera menikah saja, nanti Kinan juga masih bisa kuliah, tetapi aku tidak mau memaksakan keinginanku.”
“Biar nanti Mama yang bicara sama Tante Aisyah bagaimana baiknya.”
“Iya, Ma. Aku mau ke kamar dulu. Mau istirahat, kepalaku pusing," ucap Hanif. Setelah meminum obatnya, dia merasa sangat mengantuk. Mudah-mudahan saat bangun nanti tubuhnya kembali sehat.
“Iya, istirahat sana! Ingat jangan pergi-pergi lagi. Mama susah cariin kamu.”
Hanif mengangguk dan terus melanjutkan langkahnya. Saat ini kepalanya pusing. Dia harus mengistirahatkan tubuhnya sebentar, sementara di ruang makan, setelah menyelesaikan makannya, Mama Aida kembali ke kamar. Dia ingin menghubungi Mama Aisyah.
Ada yang ingin dibicarakan mengenai hubungan Hanif dan Kinan. Wanita itu mencoba mencari nomor calon besannya, setelah ketemu segera dia menekan tombol memanggil. Beberapa detik kemudian, akhirnya diangkat juga.
“Halo, assalamualaikum,” ucap Mama Aisyah yang berada di seberang.
“Halo, waalaikumsalam, Aisyah, apa kabar?” tanya Mama Aida berbasa-basi.
“Alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana?”
“Alhamdulillah, baik juga. Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu mengenai anak kita.”
“Ada apa dengan anak kita?”
Mama Aida pun menjelaskan mengenai apa yang dia dengar dari putranya tadi. Mama Aisyah tidak begiti terkejut, sepertinya wanita itu sudah tahu mengenai apa yang terjadi pada putrinya.
“Kamu sudah tahu, Aisyah?”
“Iya, tadi Kinan sudah menceritakan semuanya. Awalnya dia nggak mau ngaku, dia bilang nggak ada apa-apa. Setelah aku dan Zayna mendesaknya, dia mengaku juga mengenai apa yang terjadi di kampus. Sebenarnya aku sangat kesal terhadap teman-temannya itu. Bisa-bisanya mereka memfitnah Kinan seperti itu,” geram Mama Aisyah.
Tadi, setelah mendengar cerita putrinya, Mama Aisyah ingin mendatangi kampus. Namun, Kinan melarangnya. Dia bukan anak kecil yang hanya bisa bersembunyi di ketiak mamanya. Biarlah dirinya sendiri yang menyelesaikan masalah ini.
.
__ADS_1
.