
“Assalamualaikum,” ucap Adam begitu memasuki rumah. Pria itu berjalan melihat ke sekeliling untuk mencari mamanya.
“Mbak Erin, Mama mana?” tanya Adam saat berpapasan dengan Erin. Wanita itu memang masih bekerja di sana untuk membantu Bik Isa. Dia sudah nyaman di rumah ini, hingga enggan untuk berhenti.
“Ada di gazebo, Den.”
Adam mengangguk dan segera menuju tempat yang dikatakan oleh Erin. Terlihat Kinan sedang merangkai bunga dan memasukkannya di vas. Pria itu berjalan pelan menuju tempat di mana mamanya berada. Begitu sampai, dia memeluk wanita yang sudah membesarkannya itu.
“Astaghfirullah! Kamu ngagetin Mama saja,” seru Kinan sambil mengusap dadanya.
“Aku kangen banget sama Mama,” ucapnya yang semakin mempererat pelukannya.
"Kamu jangan terlalu memanjakan adikmu. Kamu juga perlu istirahat."
"Nggak pa-pa, Ma. Aku juga kangen sama dia, satu bulan nggak ketemu. Sama seperti aku kangen sama Mama."
“Duduklah.” Kinan menepuk sisi kosong di sebelahnya.
Adam pun mengurai pelukan, tapi bukannya menuruti perintah Kinan untuk duduk. Pria itu lebih memilih merebahkan tubuhnya di pangkuan mamanya. Dia hanya bisa melakukannya saat sedang berdua karena kalau ada Zea, sudah pasti gadis itu yang akan menguasai sang mama.
“Apa masalah restoranmu sudah selesai?” tanya Kinan sambil mengusap rambut putranya.
“Alhamdulillah, sudah, Ma. Itu juga berkat doa Mama. Mama dan papa juga yang selama ini selalu mendukungku.”
“Mama heran sama kamu, kamu selalu menolak tawaran papa untuk memimpin perusahaan. Kamu lebih memilih untuk membangun restoran sendiri.”
“Aku Cuma nggak mau ngerepotin Mama dan papa. Lagi pula aku juga merasa tidak berhak untuk mendapatkan itu. Aku bukan anak—“
__ADS_1
“Mama tidak suka kamu bicara seperti itu!” Kinan memotong ucapan Adam.
Dia dan sang suami tidak pernah membahas hal itu lagi karena dia sudah menganggap Adam anaknya. Akan tetapi, hal tersebut sepertinya belum cukup untuk meyakinkan pemuda itu.
“Apa kasih sayang yang Mama dan papa berikan tidak berarti untukmu? Hingga kamu masih tidak menganggap keberadaan kami?” tanya Kinan dengan nada sedih.
Tentu saja hal itu membuat Adam merasa bersalah. Dia sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Pria itu hanya tahu diri saja dari mana Adam berasal. Dia bukannya tidak mau berterima kasih, hanya saja dirinya ingin berdiri sendiri untuk menunjukkan pada semua orang, bahwa dirinya hebat.
Adam segera bangun dari pangkuan mamanya. Dia menggenggam telapak tangan wanita itu dan berkata, “Maaf, Ma. Bukan maksudku seperti itu. Aku hanya ... hanya ....”
“Mama nggak mau dengar apa pun alasan darimu. Mama hanya ingin tidak ada kalimat seperti itu yang keluar dari mulutmu lagi.”
Adam menghela napas dan menatap mamanya. “Tapi orang di sekitarku juga perlu tahu siapa aku sebenarnya, Ma. Aku takut mereka akan kecewa setelah tahu siapa aku sebenarnya.”
Kinan menatap putranya dengan intens. Dia merasa ada makna dibalik kata-kata yang terucap dari bibir putranya. Wanita itu masih menerka, kira-kira apa maksud Adam. Hanya ada satu jawaban yang Kinan temukan.
“Apa kamu punya kekasih? Apa kamu takut kalau dia berubah kalau dia tahu kamu bukan anak kandung Mama begitu?”
Dia sudah berusaha untuk menutupinya, tetapi sang mama sepertinya lebih memiliki kepekaan. Lagi pula kekasihnya juga tidak tahu siapa orang tua Adam. Pria itu belum mengatakan apa pun tentang orang tuanya. Bahkan restoran pun dia bilang jika itu usaha keluarga.
Kinan bisa merasakan kebohongan Adam, tetapi dia tidak bisa memaksa putranya. Jika memang pemuda itu tidak mau mengatakannya, wanita itu bisa apa. Kinan hanya bisa mendoakan saja, semoga semuanya baik-baik saja.
“Mama sebenarnya tidak suka kalau kamu pacaran, tetapi jika memang dia baik dan bisa membuatmu bahagia, Mama tidak akan melarang. Pesan Mama buat kamu, jaga wanita itu dengan sebaik-baiknya, jangan sampai kalian melakukan kesalahan yang akan kalian sesali seumur hidup. Kamu mengerti maksud Mama, kan?” tanya Kinan dengan pelan karena tidak ingin membuat Adam merasa dihakimi.
“Aku akan selalu mengingat nasihat Mama. Terima kasih sudah mengajarkan banyak hal padaku. Mama juga sudah menyayangiku sepenuh hati. Rasa terima kasih saja tidak akan cukup untuk semua yang sudah Mama lakukan.”
“Melihat kamu dan Zea selalu bahagia bersama, itu sudah cukup buat Mama.”
__ADS_1
Kinan sangat bahagia dengan keberadaan anak-anaknya selama ini. Meskipun kadang dia dibuat kesal oleh keduanya. Justru hal tersebut juga yang membuat wanita itu rindu dengan mereka. Apalagi manja dan cerewetnya Zea yang selalu bisa membangun suasana meriah.
“Ma, bolehkah aku melihat keadaan mereka?” tanya Adam dengan perasaan takut jika Kinan melarang.
“Mereka? Mereka siapa?” tanya Kinan balik yang memang tidak mengerti siapa yang dimaksud putranya.
“Orang yang sudah membuangku,” jawab Adam.
Kinan tersenyum, dia tahu hal seperti ini akan tiba saatnya, tetapi wanita itu tidak suka dengan panggilan Adam pada keluarganya. Dari dulu Kinan juga tidak pernah melarang sang putra, untuk bertemu dengan keluarganya. Dia juga berpesan, seburuk-buruknya keluarga Adam, mereka tetaplah orang yang membuat pemuda itu lahir ke dunia ini. Meskipun mereka tidak pernah melakukan tanggung jawabnya.
Kinan tidak ingin Adam menjadi anak yang durhaka. Mengenai apa yang dilakukan orang tuanya, biarlah mereka yang bertanggung jawab sendiri. Untuk Adam dia hanya ingin yang anak itu menjadi orang yang baik.
"Jika kamu ingin bertemu dengan mereka, pergilah! Mama juga tidak pernah melarang, itu semua terserah padamu. Kamu sudah dewasa, bisa memilih mana yang terbaik untuk diri kamu sendiri, tapi sebelum itu kamu harus siap dengan kemungkinan apa pun yang akan terjadi nanti. Mama tidak ingin kamu kecewa."
Adam mengangguk, dia mengerti maksud mamanya. Pria itu juga sudah menguatkan mentalnya untuk kemungkinan yang terburuk. Bahkan jika dirinya tidak diterima kedatangannya pun bukan masalah.
"Apa kamu masih mengingat wajah mereka? Kamu sudah lama sekali tidak melihat mereka," tanya Kinan.
"Aku pernah melihat mereka di sosial media. Anak wanita itu seorang yang cukup terkenal di dunia maya.”
“Kamu mengikuti perkembangan mereka?"
"Tidak juga, hanya kebetulan saat itu aku mencari nama mereka di kolom pencarian. Ternyata dia yang muncul. Jujur aku merasa kecewa. Dia yang bukan anak kandung saja, bisa mendapatkan nama keluarga di belakang namanya, tapi aku sama sekali tidak mendapatkan apa pun.”
Kinan mengusap lengan putranya. "Mungkin saat itu ayahmu sedang khilaf. Kita tidak tahu bagaimana perjalanan hidup mereka selama kalian berpisah. Semoga selama itu keluarga kamu juga berubah menjadi orang yang lebih baik lagi. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini."
“Semoga saja, Ma. Aku juga ingin melihat mereka berubah menjadi orang yang baik.”
__ADS_1
.
.