Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
280. S2 - Oma Aida


__ADS_3

Hari-hari udah terlewati, hingga tidak terasa sudah enam bulan Zea berada di luar negeri. Setiap satu bulan sekali, Adam akan mengunjungi adiknya. Sampai detik ini pun gadis itu tidak tahu jika kakaknya belum menikah. Setiap kali dia bertanya tentang rumah tangganya, ada saja yang dikatakan pria itu untuk mengalihkan pembicaraan.


Arslan dan istrinya juga sudah memiliki rumah sendiri. Namun, masih satu kompleks dengan rumah kedua orang tuanya jadi, saat mereka memerlukan sesuatu tidak perlu pergi jauh-jauh. Si kembar juga terkadang menginap di rumah kakaknya. Hira sama sekali tidak keberatan akan hal itu. Justru dia senang karena merasa ada yang menemani di rumah.


Meskipun Arslan dan Hira memiliki asisten rumah tangga, wanita itu tidak pernah mau diam, selalu saja ada pekerjaan yang dia lakukan. Sampai-sampai membuat asisten rumah tangganya merasa tidak enak. Semua pekerjaan sudah dilakukan oleh pemilik rumah lalu, dia hanya mengerjakan sedikit hal. Hira juga sudah mengatakan jika itu tidak masalah untuknya.


Keadaan Oma Aida semakin hari semakin menurun. Sudah tiga hari wanita itu dirawat di ruang ICU. Namun, tidak ada kemajuan sama sekali. Segala usaha sudah dilakukan oleh tim dokter. Kini hanya mukjizat yang bisa membuatnya baik kembali.


Pagi-pagi sekali, Zea pergi ke rumah sakit dengan membawa makanan untuk opanya. Pria itu selalu menemani sang istri ke mana pun wanita itu pergi. Padahal pihak rumah sakit sudah meyakinkan jika akan ada perawat, yang dua puluh empat jam menunggu. Namun, Opa Wisnu tetap ingin menjaga sang istri.


Dia tidak ingin terlewat satu informasi tentang wanita yang sudah menemani hidupnya. Zea merasa terharu dengan apa yang dilakukan oleh opanya. Sebegitu besarkah cinta laki-laki itu pada istrinya. Sampai-sampai dalam keadaan yang seperti ini pun, hatinya tidak goyah oleh apa pun.


"Selamat pagi, Opa. Ini Zea bawain makanan buat Opa. Opa makan dulu, ya! Biar ada tenaga buat jagain Oma," ucap Zea sambil memperlihatkan kotak yang dia bawa.


"Zea, semalam omamu pamit sama Opa. Dia bilang mau pulang, nanti kamu beli tiket untuk pulang, ya! Oma sama Opa mau pulang dulu, kalau kamu mau masih di sini, tidak apa-apa. Opa mau menemani oma kamu pulang."


Hati Zea bergetar, entah kenapa wanita itu merasa ada makna dibalik kalimat opanya. Namun, sebisa mungkin gadis itu terlihat biasa saja. Meski dalam hati sudah menangis, takut jika sesuatu terjadi.


"Iya, Opa. Nanti Zea pesankan tiket untuk Oma dan Opa, tapi kita tunggu Oma sembuh dulu, baru Oma dan Opa bisa pulang," bujuk Zea.


"Tapi Oma kamu mintanya pulangnya besok."


"Iya, besok, kalau Oma Aida sudah sadar," sela Zea yang mencoba untuk menghibur opanya. Entah kenapa hati gadis itu menjadi gelisah, dia merasa akan ada sesuatu yang terjadi. Sebisa mungkin Zea tidak akan menangis dan mencoba membuang apa yang ada di kepalanya.


Zea menyerahkan kotak makanan yang dibawa tadi untuk opanya. Dia berharap pria itu segera menghabiskan apa yang dia bawa. Setelah ini, dirinya juga harus ke kampus. Ini sudah siang gadis itu sudah terlambat, tetapi sebisa mungkin semua baik-baik saja.


Opa Wisnu yang mengerti keadaan cucunya, segera meminta gadis itu untuk berangkat saja. Tidak pa-pa tanpa menunggunya menghabiskan sarapan. Memang sudah terbiasa juga seperti itu.


"Sebaiknya kamu berangkat saja, nanti Opa pasti menghabiskan makanannya."


"Tidak apa-apa, Opa, biar aku tunggu Opa di sini."


"Jangan seperti itu, nanti kamu membuat Opa merasa bersalah karena sudah menghalangi kamu menuntut ilmu."

__ADS_1


Zea menatap pria itu dan akhirnya mengalah. "Benar, ya, anti Opa habisin makannya. Nanti aku akan sedih kalau ternyata makanannya masih tersisa."


"Iya, nanti Opa habiskan." Opa Wisnu berusaha untuk meyakinkan cucunya.


Zea berpamitan untuk segera pergi ke kampus. Opa Wisnu memandangi cucunya yang pergi, hingga hilang saat memasuki lift. Pria itu menutup kembali kotak makannya. Dia sama sekali tidak berselera untuk menikmati makanan itu. Bukan karena tidak enak, tetapi entah kenapa, dia merasa gelisah. Apalagi Opa Wisnu teringat dengan mimpi yang baru saja mendatanginya, mengenai sang istri.


Saat sedang asyik dalam lamunannya, beberapa perawat berlari ke arah ruang ICU, di mana sang istri tengah berada. Opa Wisnu yang khawatir ikut berdiri mendekati pintu. Dia mencoba untuk melihat apa yang sedang terjadi dengan istrinya. Namun, sayang pria itu tidak bisa melihat apa pun. Pintu juga terkunci dari dalam. Opa Wisnu benar-benar khawatir jika sesuatu yang buruk tengah terjadi pada istrinya.


Hingga satu jam lamanya, akhirnya seorang dokter keluar dengan wajah lesunya. Opa Wisnu bisa merasakan apa yang sebenarnya terjadi di sini, tanpa dokter itu katakan. Seorang perawat memberikan dokumen pada dokter.


"Maafkan kami, Tuan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Tuhan sudah berkehendak lain. Ibu Aida baru saja mengembuskan napas terakhirnya. Kami dokter dan perawat serta rumah sakit turut mengucapkan berduka cita. Semoga amal beliau diterima di sisi-Nya dan di tempatkan di tempat yang terindah," ucap dokter dengan perasaan menyesal. Opa Wisnu tahu jika mereka memang sudah sangat berusaha, memang usia istrinya yang sampai di sini.


"Innalillahi wa Innalilahi rojiun. Terima kasih doanya, Dok. Semoga istri saya bahagia di alam sana karena sekarang, sudah tidak lagi merasakan sakit," sahut Opa Wisnu yang berusaha untuk tetap tegar meski dalam hati pria itu menjerit.


Dia sudah kehilangan belahan jiwanya, seperti firasatnya tadi. Dirinya dan sang istri benar-benar akan pulang besok. Sudah tidak ada lagi yang menemani hidupnya, hanya tinggal anak dan cucu.


Opa Wisnu pun mencoba menghubungi Zea. Namun, karena gadis itu saat ini berada dalam kelas jadi, panggilan pun tidak diangkat. Pria itu memutuskan untuk mengirim pesan saja, semoga saja cucunya membaca dan segera kembali ke rumah sakit. Benar saja, Zea yang baru saja membaca pesan dari opanya begitu terkejut.


Tidak lupa juga Opa Wisnu memberi kabar kepada Hanif yang berada di rumah. Seluruh keluarga juga tak kalah terkejutnya dengan berita ini. Adam mencoba untuk mencari penerbangan tercepat. Namun, sayang penerbangan baru saja terlewat setengah jam yang lalu. Ada penerbangan juga besok pagi dan itu pun pasti terlewati karena besok Opa Wisnu, Zea dan jenazah Oma Aida akan terbang kembali pulang.


"Opa!" panggil Zea dengan berlari dan segera memeluk pria itu.


Dalam pelukan kakeknya, gadis itu menangis meraung. Dia tidak menyangka jika akan secepat ini berpisah dengan omanya. Selama enam bulan tinggal di luar negeri, dirinya begitu dekat dengan wanita itu. Sekarang Oma Aida akan pergi selamanya dan tidak akan bisa bertemu lagi. Hanya tinggal kenangan untuk diingat.


"Ikhlaskan kepergian omamu agar dia bisa pergi dengan tenang. Kalau kamu menangis seperti ini, langkahnya akan semakin berat. Kasihan omamu," ucap Opa Wisnu pelan di sela pelukan mereka.


"Iya, Opa. Aku akan mencoba ikhlas," sahut Zea yang masih dalam pelukan opanya.


Segala keperluan sudah diurus oleh orang suruhan Hanif, yang selama ini menjaga kedua orang tuanya. Opa Wisnu dan Zea hanya menunggu hingga semuanya siap. Hanif sengaja menyewa pesawat jet pribadi, milik salah satu kolega bisnisnya, yang ada di luar negeri. Kebetulan mereka berada di negara tetangga. Tempat kedua orang tuanya tinggal jadi, tidak perlu menunggu lama semuanya sudah siap.


Sepanjang perjalanan, Opa Wisnu sama sekali tidak meneteskan air mata. Hal itu tentu saja membuat Zea khawatir. Gadis itu takut jika opanya menahan semuanya. mulut Opa Wisnu tidak hentinya membaca doa, dia tahu itu ditujukan kepada sang istri, yang sedang berbaring di dalam peti.


Sementara itu, di rumah segala persiapan untuk pemakaman sudah disiapkan. Seluruh keluarga merasa sedih dengan kepergian Mama Aida. Di sisi lain, keluarga juga merasa lega karena tidak harus melihat Mama Aida yang merasa kesakitan lagi. Sudah tidak ada lagi yang akan mengeluh tubuhnya lelah.

__ADS_1


Justru Hanif kini kepikiran mengenai bagaimana dengan nasib papanya. Dia sangat tahu jika Papa Wisnu sangat mencintai mamanya. Pasti sangat berat bagi pria itu melepas sang istri untuk pergi selama-lamanya. Hanif berdoa agar papanya bisa tegar dalam menghadapi semuanya.


Suara sirine mobil ambulans terdengar memasuki halaman rumah, sudah dipastikan jika Itu adalah mobil jenazah. Opa Wisnu turun dan langsung memeluk putranya. Di saat itulah pria itu akhirnya meneteskan air mata, yang sudah sejak tadi ditahannya. Zea merasa lega saat melihat opanya menangis. Dia tadi sempat takut jika Opa Wisnu menahan semuanya sendiri. Mungkin yang dibutuhkan pria itu saat ini hanyalah anaknya karena selain Oma Aida, Hanif lah yang lebih dekat dengan oppa Wisnu.


"Mamamu sudah pergi, Han. Mamamu meninggalkan papa sendiri," ucap Papa Wisnu di sela pelukannya, membuat hati Hanif juga ikut terluka.


"Papa jangan berkata seperti itu, ingatlah masih ada aku yang akan selalu menemani Papa. Papa tidak akan sendiri. Lihatlah! Ada Zea juga yang selalu menemani Papa," sahut Hanif dengan berbisik tepat di telinga papanya.


Petugas dibantu keluarga menurunkan peti jenazah dan memasukkannya ke dalam rumah. Hanif pun menuntun papanya untuk segera masuk. Begitu juga dengan Zea yang segera memeluk mamanya. Gadis itu tahu jika Mama Kinan juga merasa sangat kehilangan.


Mamanya memang sangat dekat dengan Oma Aida. Meskipun hubungan keduanya hanya mertua dan menantu, tetapi kasih sayang yang diberikan oleh Oma Aida begitu besar, hingga membuat Kinan merasa nyaman, seperti bersama dengan ibunya sendiri. Dulu mereka sering ke mana-mana berdua, banyak orang yang mengira jika keduanya bersaudara karena terlalu kompak.


Pemakaman berjalan dengan lancar. Seorang ustaz memimpin doa yang ditujukan untuk ahli kubur, yang baru saja meninggal dunia. Setelah selesai, semua orang meninggalkan pemakaman satu persatu. Papa Wisnu merasa berat meninggalkan gundukan tanah yang sudah tertutupi dengan kelopak bunga.


Namun, tidak mungkin juga pria itu akan tetap di sana. Dia tidak ingin menyusahkan anak-anaknya lagi cukup sang istri saja. Opa Wisnu sangat ingat perasaan sang istri yang merasa bersalah, sudah menyusahkan Hanif dengan sakitnya. Beberapa kali pria itu mengatakan bahwa tidak apa-apa, tetapi tetap saja Oma Aida merasa bersalah.


"Hanif, sebaiknya Zea kembali kuliah di sini saja. Kalau dia di sana tidak ada yang menemani, kasihan dia," ucap Papa Wisnu saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Tapi, Pa. Dia kuliah hanya tinggal enam bulan lagi, sayang kalau pindah. Lagi pula di sana juga ada orang yang aku perintahkan menjaganya jadi, Papa tenang saja, tapi kalau memang dia maunya pulang dan kuliah di sini, aku juga tidak akan memaksa. Semuanya terserah padanya."


"Mengenai hubungan Zea dan Adam, sebaiknya kamu restui saja mereka. Adam juga pria yang baik, mereka juga tidak memiliki hubungan darah," tambah Papa Wisnu yang tidak tega pada cucunya.


"Papa jangan terlalu memikirkan urusan anak-anak, sebaiknya Papa jaga kesehatan agar bisa melihat cucu Papa menikah nanti."


Papa Wisnu hanya menanggapinya dengan tersenyum, tanpa mengucapkan satu kata pun. Hanif tidak mempermasalahkan hal itu, yang penting baginya sekarang adalah kehidupan sang papa selanjutnya. Dia berharap Papa Wisnu bisa menjalani hari yang baik, tanpa keberadaan Oma Aida. Meskipun berat, tetapi harus tetap dilalui dengan ikhlas.


Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga di rumah. Tampak beberapa kerabat masih ada di sana. Mereka pasti menunggu kedatangan Papa Wisnu untuk berpamitan pulang. Karakter pria itu yang santun membuatnya sangat dihormati, itulah kenapa pelayat yang datang begitu banyak.


Acara tahlilan berlangsung selama satu minggu. Selama itu pula, Zea sama sekali tidak melihat keberadaan Alin. Dalam hati gadis itu bertanya-tanya, entah apa yang sudah terjadi pada rumah tangga kakaknya. Dia berpikir jika Adam sedang bertengkar dengan istrinya atau Alin yang tidak ingin berbaur dengan keluarganya. Jika benar seperti yang dipikirkan, bukankah itu tandanya dia bukan istri yang baik.


.


.

__ADS_1


__ADS_2