Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
42. Tekanan


__ADS_3

"Enak juga sekarang masakan kamu. Meskipun nggak enak-enak banget, tapi cukuplah untuk orang yang baru belajar memasak," ucap Lusi kepada menantunya.


Zanita yang dipuji demikian pun hanya diam saja. Dia sama sekali tidak merasa tersanjung atau apalah. Wanita itu benar-benar malas berdebat dengan mertuanya, apalagi dirinya sering disalahkan atas semua pekerjaan yang menurut Lusi tidak benar. Zanita terbiasa dilayani, tetapi di sini dirinya yang malah melayani.


Kemarin dia bermimpi bisa menjadi Nyonya Fahri yang semua tinggal tunjuk pasti akan datang sendiri. Namun, sekarang semua hanya angan semata. Andai dirinya tidak menuruti keinginan mamanya untuk menggoda Fahri, pasti dirinya masih bisa bersenang-senang.


"Kamu sudah rapi begitu mau ke mana?" lanjut wanita itu.


"Saya mau ke rumah Mama Savina, Ma. Sudah lama nggak ke sana," jawab Zanita.


"Oh, iya, pernikahan kalian sudah satu bulan lebih. Apa tidak ada tanda-tanda kehamilan?" tanya Mama Lusi, seketika membuat suasana tiba-tiba menjadi hening. Tidak ada yang menjawab pertanyaan Lusi. Fahri dan Zanita hanya saling pandang. "Kok, kalian diam, sih? Mama, kan, bertanya!"


"Ma, kami sebenarnya sudah sepakat untuk menunda kehamilan dulu. Masih banyak yang perlu kami pikirkan untuk masa depan kami," jawab Fahri berbohong.


Nyatanya Zanita yang belum siap untuk memiliki anak. Dia tidak mau direpotkan dengan tangisan anak kecil. Namun, Fahri tidak mungkin mengatakan pada mamanya. Bagaimanapun Zanita sekarang adalah tanggungjawabnya.


Satu hal yang tidak disukai Fahri dari sifat istrinya adalah tidak pernah merasa dirinya salah. Setiap ada perbincangan diantara mereka pasti Zanita yang lebih dominan. Seberapa pun Fahri menjelaskan tetap saja wanita itu yang merasa paling benar dan tidak mau mengalah.


"Apa kamu bilang, menunda? Kenapa kalian memutuskan semuanya sendiri? Kalian menikah untuk memiliki anak. Keluarga kita juga perlu penerus. Kalau kalian menundanya, buat apa kalian menikah? Kenapa nggak pacaran saja?" tanya Lusi dengan emosi.


Padahal dia sudah sangat berharap dengan kehadiran seorang bayi di keluarganya. Banyak teman-teman arisannya yang sudah memiliki cucu. Itulah kenapa saat Fahri ingin menikah, Lusi setuju saja meskipun saat itu Zayna bukanlah menantu yang dia inginkan.


Pada akhirnya Fahri mengatakan akan menikah dengan Zanita, tentu saja saat itu Lusi begitu senang karena pendidikannya juga cukup tinggi. Namun, sekarang ternyata mereka menundanya. Dia sering berangan-angan memiliki banyak cucu diusianya yang tidak muda lagi. Kadang juga sampai terbawa mimpi.


Bolehkah dia serakah memiliki menantu yang baik dan penurut. Bisa memberi cucu yang lucu-lucu.

__ADS_1


"Ma, pernikahan bukan hanya tentang cucu. Kami menikah karena ingin menjauhkan diri dari dosa."


"Dosa? Itu hanya alasan basi. Di mana dosa yang kamu katakan saat kalian dengan teganya mengkhianati Zayna? Tidak ada, kan! Pokoknya mama tidak mau tahu, kalian tidak boleh menundanya, ingat itu!"


"Papa sudah selesai. Papa mau berangkat kerja dulu," ucap Ma'ruf yang segera beranjak dari duduknya.


"Papa, kan, baru saja makan. Itu juga belum separuh," sela Lusi.


"Selera Papa sudah hilang. Entah kenapa akhir-akhir ini, ketenangan di rumah sudah tidak ada lagi," ucap Ma'ruf yang langsung saja pergi dari sana.


Lusi hanya diam, memang benar ketenangan di rumah ini sudah tidak ada lagi. Dirinya juga lupa kapan terakhir mereka bisa bercanda bersama. Setelah kepergian Ma'ruf, Fahri juga ikut pergi. Sama seperti papanya, dia juga merasakan hal yang sama.


"Aku juga sudah selesai, Ma. Aku mau berangkat kerja, sekalian mengantar Zanita ke rumah Mama Savina."


Lusi hanya mengangguk dan tidak mengatakan apa pun. Fahri mencium punggung tangan wanita itu diikuti Zanita. Keduanya pergi meninggalkan Lusi bersama dengan Bik Mina yang sedang membersihkan dapur.


Dulu Lusi sering mengejek Zayna, padahal wanita itu tidak memiliki kekurangan apa pun. Semua yang dilakukan Zayna di mata Lusi selalu salah. Kini saat kesalahan itu benar-benar ada, wanita paruh baya itu jadi mengingat perilakunya dan menyesali apa yang sudah dia lakukan terhadap mantan kekasih anaknya itu.


Andai waktu bisa berputar kembali, pasti Lusi akan tetap meminta wanita itu untuk menjadi menantunya. Namun, semuanya sulit, dia sudah terlalu banyak menyakiti hati Zayna. Kalau saja dulu wanita itu mengikuti apa yang dikatakan sang suami, pasti kehidupannya juga akan tenang.


"Nyonya, kenapa Anda melamun?" tanya Bik Mina yang sudah selesai dengan pekerjaannya.


"Tidak apa-apa, Bik. Apa Bibi tidak merindukan Zayna?" tanya Lusi.


Bik Mina mengerutkan keningnya. Dia merasa heran kenapa majikannya. Kenapa tiba-tiba menanyakan calon mantan menantunya? Padahal dia tahu jika Lusi sama sekali tidak menyukainya. Apa penyesalan itu kini dirasakan atasannya itu? Kalau benar, rasanya sangat terlambat. Zayna sudah menjadi milik orang lain yang pasti sangat menyayanginya.

__ADS_1


"Kenapa diam, Bik? Jawab saja sejujurnya."


"Bibi juga merindukan Non Zayna, Nyonya. Dia wanita yang baik dan juga rajin. Selalu melakukan semua pekerjaan dengan baik. Bibi jadi teringat saat masak bersamanya. Dia sama sekali tidak memperbolehkan saya membantunya, malah meminta saya duduk saja."


"Kami semua bodoh, ya, Bik. Melepaskan berlian yang begitu berharga hanya untuk batu kerikil."


"Maksud, Nyonya!"


"Bibi, pasti tahulah bagaimana Zanita. Dia sangat berbeda dengan kakaknya. Dia tidak bisa apa-apa."


"Jangan bicara seperti itu, Nyonya. Saya yakin Non Zanita pasti mau belajar dan akan menjadi istri yang baik."


"Mudah-mudahan saja, tapi entah kapan itu akan terjadi," gumam Lusi.


Sementara itu dalam perjalanan, Fahri dan Zanita sama sekali tidak ada perbincangan. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing memikirkan apa yang diinginkan oleh Mama Lusi. Pria itu sebenarnya juga menginginkan seorang anak, tetapi tidak mungkin dia memaksa wanita itu.


Bisa saja Fahri memaksanya. Namun, bagaimana dengan saat hamil dan melahirkan nanti? Dia tidak ingin anak-anaknya kekurangan kasih sayang dari orangtuanya. Biarlah wanita itu sendiri yang berpikir kapan dirinya siap untuk menjadi ibu. Fahri berharap Zanita tidak menunggu terlalu lama.


Tidak berapa lama, mobil akhirnya sampai di halaman rumah keluarga Rahmat. Rumah tampak sepi, pasti papanya sudah berangkat kerja sementara Mama Savina dan Zivana entah berada di mana. Fahri tidak mau tahu.


"Pikirkan baik-baik keinginan Mama tadi," ucap Fahri pada Zanita sebelum wanita itu benar-benar turun. Sang istri hanya diam tidak membalas. Dirinya sudah lelah ditekan mertuanya di rumah, sekarang ditambah sang suami.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2