Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
60. Masih di rumah sakit


__ADS_3

"Bukannya ada Kinan di rumah! Aku sendirian dong kalau kamu pulang," sahut Ayman.


"Karena itu aku tadi bilang sama mama, kalau aku akan pulang kalau pekerjaan kamu sudah selesai. Apalagi sekarang Papa juga kecelakaan. Aku tidak mungkin meninggalkan Papa," ujar Zayna.


"Iya, biar nanti aku bilang sama mama. Mereka juga perlu tahu kalau besannya sedang sakit. Mungkin mama mau jenguk. Mereka, kan, belum pernah bertemu."


Zayna memeluk sang suami. Dia menjadikan lengan pria itu sebagai bantal. Ayman pun tidak keberatan dengan apa yang dilakukan sang istri. Asalkan wanita itu senang dan nyaman, tidak masalah.


"Memangnya mama mau datang ke sini, Mas?"


"Kenapa tidak! Mama pasti senang bisa bertemu dengan Papa Rahmat dan Mama Savina. Dia juga bisa jalan-jalan di sini."


Keduanya pun berbincang mengenai kedua orang tua mereka masing-masing. Zayna juga menceritakan tentang almarhumah mamanya, yang juga memiliki nama seperti mertuanya. Hingga tanpa terasa wanita itu tertidur dalam pelukan sang suami. Ayman tersenyum dan mengecup kening istrinya padahal tadi wanita itu bilang tidak mengantuk. Akan tetapi, akhirnya tumbang juga.


Ayman mengambil ponselnya, dia ingin menghubungi Ilham. Sedari tadi pria itu menahan diri untuk tidak menghubungi asistennya karena tidak ingin Zayna kepikiran.


"Bagaimana perkembangan kasus kecelakaan papa, apa sudah ada petunjuk?" tanya Ayman pada Ilham yang berada di seberang telepon.


"Belum, Tuan. Mobil yang menabrak Tuan Rahmat ternyata mobil yang memang sengaja disewa di tempat penyewaan mobil. Kami masih perlu melihat data-data siapa penyewa mobil hari itu."


"Berapa lama kita bisa menerima data-data orang itu?"


"Besok pagi, Tuan, karena tempat penyewaan mobil bukanya pagi."


"Aku percayakan semuanya padamu. Cepat temukan pelakunya, aku yakin sebenarnya tujuan utama dia adalah Zayna. Aku tidak ingin di kemudian hari orang itu kembali menginginkan Zayna celaka."


"Tuan, tidak perlu khawatir. Saya akan melakukan semuanya semampu saya."


"Baiklah begitu saja. Jika ada kabar terbaru segera hubungi saya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Ayman segera menutup ponselnya. Dia menatap wajah sang istri yang telah terlelap. Pria itu tidak ingin terjadi sesuatu pada Zayna. Siapa pun pelakunya, Ayman tidak akan melepaskan orang itu. Hingga akhirnya pria itu pun tertidur dengan memeluk sang istri.


Sebelum subuh, Zayna sudah terbangun. Dia melihat sang suami masih terlelap kemudian teringat papanya. Wanita itu berusaha bangkit dengan pelan agar tidak membangunkan Ayman. Zayna ingin melihat keadaan papanya.

__ADS_1


Mudah-mudahan ada perkembangan yang baik. Namun, saat berada di depan ruang ICU, dia kembali kecewa karena keadaan papanya masih tetap sama. Sebelumnya wanita itu sangat berharap saat bangun, dia bisa melihat papanya membuka mata. Namun, semuanya tidak seperti keinginannya.


"Sayang, kamu ada di sini aku cariin dari tadi!" seru Ayman dengan sedikit berlari ke arah istrinya.


"Ah, maaf, Mas. Tadi aku nggak enak bangunin kamu, makanya aku ke sini sendiri. Aku ingin melihat keadaan papa. Ternyata masih sama, belum ada perkembangan," jawab Zayna dengan nada sedih.


"Kamu yang sabar saja, mudah-mudahan papa segera sembuh. Sebaiknya kita ke masjid dulu, sudah adzan subuh."


"Iya, Mas." Zayna pun mengikuti sang suami ke masjid. Dia akan berdoa untuk kesembuhan papanya.


****


"Ini masih pagi, Ma. Kenapa sudah bangunin aku, sih?" gerutu Zivana.


"Kita harus cepat ke rumah sakit. Mama ingin melihat keadaan papa," sahut Savina.


"Tapi, kan, bisa nanti. Lagi pula papa juga nggak bisa dijenguk. Cuma bisa dilihat dari kaca jendela doang."


"Sudah, kamu ikut saja. Tidak usah banyak protes. Cepat kamu makan, Mama mau nyiapin bekal buat Zayna sama Ayman."


"Kamu masih kecil, sebaiknya diam saja."


"Aku sudah lulus kuliah kalau Mama lupa."


"Sebenarnya Mama masih penasaran dengan apa yang menimpa papa. Mama yakin Zayna pasti tahu sesuatu atau mungkin dia terlibat dengan kecelakaan yang dialami papa. Mama semalam nggak bisa tidur dengan nyenyak. Selalu kepikiran keadaan papa."


Zivana bisa melihat kesedihan di mata mamanya. Meski selama ini wanita itu selalu bersikap seenaknya, tetapi dia tahu jika Mama Savina mencintai Papa Rahmat.


Setelah selesai sarapan, Mama Savina dan Zivana pergi ke rumah sakit. Mereka menaiki taksi yang sebelumnya sudah dipesan. Sepanjang perjalanan, Mama Savina selalu gelisah memikirkan keadaan sang suami.


Tidak berapa lama akhirnya keduanya sampai di rumah sakit. Mereka langsung saja menuju tempat di mana Papa Rahmat berada. Tampak Zayna menangis dalam pelukan Ayman, membuat Savina merasa tidak enak. Segera mendekat. Zivana hanya mengikuti mamanya dari belakang.


"Ada apa, Zayna? Kenapa kamu menangis? Apa terjadi sesuatu sama papa?"


"Dokter sedang memeriksa papa di dalam. Tadi papa kejang-kejang," jawab Ayman.

__ADS_1


Mama Savina terkejut. Dia takut terjadi sesuatu pada suaminya, tanpa sadar air matanya menetes. Meskipun selama ini wanita itu sering bertengkar dengan Papa Rahmat, tetapi hanya pria itu yang bisa memperlakukannya dengan baik. Bahkan keluarganya sendiri selalu memandangnya rendah. Mama Savina belum siap jika harus kehilangan sang suami.


"Ya Allah, terlalu banyak dosa yang sudah aku lakukan, tapi aku mohon, tolong selamatkan suamiku." Doa Savina dalam hati. Dia memang bukan orang baik, tetapi wanita itu juga ingin yang terbaik untuk sang suami.


Pintu kamar terbuka, tampak dokter berjalan keluar. Keluarga pun langsung mendekat dan menanyakan keadaan Papa Rahmat.


"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Savina.


"Alhamdulillah. Pak Rahmat sudah melewati masa kritis. Perawat sedang menyiapkan ruangan untuk beliau. Sebentar lagi beliau akan dipindahkan."


"Alhamdulillah, papa tidak papa, Dok?"


"Iya, tidak apa-apa. Kalau begitu saya permisi. Jika nanti perlu sesuatu Anda bisa memanggil perawat."


"Terima kasih, Dok."


Dokter tersebut pergi diikuti seorang perawat untuk memeriksa pasien yang lain. Sementara keluarga masih menunggu perawat memindahkan Papa Rahmat.


"Zayna, kamu belum menjelaskan bagaimana papa bisa kecelakaan dan bagaimana bisa papa bertemu dengan kamu?" tanya Mama Savina.


"Waktu itu aku sedang menyebrang. Tiba-tiba saja ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Papa datang dan mendorongku, akhirnya papa yang tertabrak, tapi orang yang menabrak melarikan diri."


"Jadi semua ini gara-gara kamu? Dari dulu kamu itu selalu saja membawa sial. Bahkan sekarang pun papa berada di rumah sakit gara-gara kamu!" hardik Mama Savina. Zayna hanya diam dengan menundukkan kepalanya. Wanita itu tahu kalau ini kesalahannya, tetapi dia juga tidak ingin ini semua terjadi.


"Ma, maaf, tapi itu memang sudah takdir. Papa hanya ingin menyelamatkan putrinya. Saya juga sedang mencari pelaku, saya yakin kecelakaan ini memang disengaja," ucap Ayman membela istrinya. Mama Savina hanya mendengus kesal.


"Kenapa papa bisa ada di sana? Bukankah Papa sedang bekerja?" tanya Zivana yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.


Benar apa yang Zivana katakan. Bagaimana bisa Papa Rahmad ada di sana? Padahal saat itu masih jam kerja. Semua orang pun menatap Zayna, menunggu jawaban dari wanita itu.


"Aku tidak tahu."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2