
Makan malam telah siap Ayman dan Zayna turun dari kamar. Keduanya melihat keberadaan Wina yang berada di ruang makan. Mereka mengira gadis itu sudah pergi, ternyata tidak. Ayman sempat kesal karena takut membuat istrinya tidak nyaman, tetapi Zayna mencoba mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Mereka tidak mungkin mengusir tamu yang datang. Apalagi itu tamu mertuanya, toh wanita itu tidak melakukan sesuatu yang berlebihan. Jika pun nanti membuat masalah, Ayman sudah siap siaga melindungi sang istri.
Dari dulu Ayman hanya menganggap Wina saudara. Selama ini dia selalu berlaku baik karena mengira wanita itu juga sama menganggapnya kakak. Namun, satu tahun yang lalu semua berubah. Saat pria itu mendengar Wina meminta mamanya untuk berbicara dengan Mama Aisyah agar menjodohkan mereka.
Selama ini Wina mengira jika Ayman telah dipengaruhi seseorang untuk menjauhinya. Padahal hubungan mereka sangat dekat, tetapi tiba-tiba Ayman menjauh begitu saja. Dia juga tidak pernah lagi mengangkat panggilan telepon dari wanita itu. Setiap ada pesan masuk, pria itu hanya membalas singkat.
Ayman memang sengaja tidak menjelaskannya. Baginya itu tidaklah penting untuk dijelaskan. Mereka juga tidak memiliki hubungan apa pun.
"Papa sama Kinan belum pulang, Ma?" tanya Ayman setelah duduk di salah satu kursi. Zayna juga ikut duduk di samping sang suami.
"Belum, Papa katanya tadi ada lembur. Kalau Kinan ada tugas jadi pulang agak larut," jawab Aisyah. "Oh, ya, Wina malam ini akan menginap di sini, tidak apa-apa, kan?"
"Memangnya kalau aku bilang nggak boleh, dia bakalan pulang sekarang juga? Nggak, kan? Jadi buat apa bertanya padaku!" ujar Ayman membuat Zayna langsung menoleh ke arah sang suami. Dia tidak menyangka jika pria itu bisa berkata demikian. Padahal biasanya jika Ayman berbicara dengan orang lain, dia menjaga tutur katanya.
"Mari, Mbak! Kita nikmati makan malamnya," ujar Zayna untuk mencairkan suasana.
Dia merasa canggung dengan gadis yang ada di depannya. Baru kali ini mereka bertemu, bahkan belum sempat berkenalan, tapi suasana sudah menjadi seperti ini. Zayna mengira Ayman ada masalah dengan Wina sebelumnya, hingga membuat sang suami tidak menyukai gadis yang ada di depannya. Dia jadi penasaran masalah apa yang terjadi pada mereka.
Zayna pikir jika Wina adalah mantan kekasih Ayman dan mengira jika mereka masih ada masalah yang belum selesai. Apalagi sedari tadi wanita di depannya ini selalu curi-curi pandang pada suaminya. Sebenarnya dia tidak nyaman dengan situasi ini, tetapi dirinya tidak bisa menegurnya begitu saja. Takut dibilang tidak sopan.
"Oh, iya, terima kasih. Kita belum sempat kenalan. Kenalin nama saya Wina," ucap Wina sambil mengulurkan tangannya. Zayna pun menyambutnya dengan senang hati.
__ADS_1
"Saya Zayna, Mbak."
Mereka pun melanjutkan makan malam dengan tenang. Sesekali Zayna berbincang dengan Wina. Berbeda dengan Ayman yang hanya diam saja. Bahkan Mama Aisyah pun hanya sesekali menimpali.
Usai makan malam, Ayman mengajak istrinya ke dalam kamar. Namun, Zayna lebih dulu menolak karena dia harus membantu Bik Ira untuk membersihkan meja makan. Pria itu pun membiarkannya dan meminta segera menyusul ke kamar setelah selesai. Zayna hanya mengangguk menyetujuinya.
Sementara itu, Mama Aisyah mengajak Wina ke taman belakang untuk berbincang sejenak sebelum tidur. Wanita itu dengan senang hati menerimanya. Keduanya berbincang beberapa hal, juga mengenai mama Wina.
"Tante, apa tidak ada kesempatan untukku agar bisa bersama dengan Ayman?" tanya Wina setelah beberapa saat.
"Maksud kamu apa? Kamu ingin menjadi istri kedua Ayman?" tanya Mama Aisyah dengan nada tidak percaya.
"Tidak, aku ingin menjadi istri satu-satunya."
"Aku tahu, Tante, tidak menyukai Zayna. Kenapa Tante tidak membuat wanita itu pergi dari rumah dan menjadikan aku menantu. Aku pasti akan menjadi menantu yang bisa Tante banggakan."
Aisyah mengembuskan napas dengan pelan. Dia tidak tahu jika Wina kecewa, tetapi Aisyah tidak ingin gadis itu menjadi wanita yang tidak memiliki harga diri. Dirinya sudah menganggap Wina seperti putrinya sendiri, tidak mungkin dia menjeruskannya.
"Sebelumnya Tante minta maaf karena sudah memberikan harapan padamu dan tiba-tiba sekarang menjatuhkannya. Tante memang sebelumnya tidak menyukai Zayna, tapi bukan berarti Tante harus menghancurkan rumah tangga Ayman. Kamu lihat sendiri, dia sangat bahagia dengan pernikahannya. Dia juga sangat mencintai istrinya. Tante bukan orang tua egois yang bisa menghalalkan segala cara agar semua keinginan Tante terpenuhi. Asalkan Ayman bahagia, Tante juga bahagia. Apa pun yang Tante lakukan pada Zayna. Itu hanya untuk menguji betapa sabar dan kuatnya dia menghadapi ujian sebagai istri Ayman. Kamu tahu sendiri, menjadi menantu keluarga ini tidaklah mudah. Banyak sekali halangannya, terutama wanita-wanita yang selalu mengejar Ayman. Dulu, Tante bahkan hampir putus asa saat menjadi istri dari Om Hadi. Ada seorang wanita yang merayunya sampai menyebarkan berita palsu bahwa Hadi telah menghamilinya. Kamu tahu, bagaimana perasaan Tante saat itu? Perasaan Tante hancur. Tidak ada satu pun orang yang mendukung, Tante sampai meragukan perasaan Hadi. Bahkan Tante sampai pergi dari rumah membawa Ayman, tetapi syukurlah, Om Hadi bisa membuktikan jika dirinya tidak bersalah. Karena itu Tante ingin siapa pun istri Ayman, dia harus kuat dan mampu menghadapi semua cobaan yang ada di depannya."
"Apa kedatangan saya ke sini juga, Tante, manfaatkan sebagai ujian untuk Zayna?"
"Terserah kamu menganggapnya seperti apa. Tante juga tidak tahu jika kamu akan datang ke sini, tapi yang perlu kamu tahu, bahwa Tante tidak ada niat untuk mempermainkan perasaanmu. Jika kamu merasa seperti itu, Tante minta maaf."
__ADS_1
Wina menundukkan kepalanya. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Hal itu semakin membuat Aisyah merasa bersalah, tetapi dia sungguh tidak ada niat untuk menyakiti hati gadis itu. Waktunya saja yang belum tepat untuk menjelaskan yang sebenarnya.
Aisyah menggenggam tangan Wina dan berkata, "Perlu kamu ketahui, Tante selalu menganggapku seperti putri Tante sendiri. Jangan merasa kecil hati. Tante yakin kamu akan mendapatkan pria yang lebih baik dari Ayman."
"Terima kasih, Tante sudah baik selama ini. Butuh waktu untuk melupakan perasaan yang sudah tumbuh, tapi Tante jangan khawatir. Seiring berjalannya waktu rasa itu pasti akan memudar."
Wina mencoba tersenyum pada Aisyah. Dia tidak ingin membuat wanita paruh baya itu khawatir. Seperti halnya Aisyah yang menganggapnya seperti putrinya, Wina juga menganggap wanita itu mamanya.
"Sudah larut, Tan. Sebaiknya kita istirahat. Angin malam tidak baik untuk kesehatan," ujar Wina.
"Iya, kamu juga pasti butuh istirahat. Ayo, kita ke dalam."
Keduanya berjalan menuju kamar masing-masing. Entah sadar atau tidak, sedari tadi ada seseorang yang mendengar semua perbincangan dua wanita itu. Dia memang sengaja bersembunyi agar tidak terlihat. Ada rasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.