Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
142. Pengganggu


__ADS_3

“Selamat malam, Di. Maaf kami terlambat,” ucap Papa Wisnu yang baru datang bersama dengan keluarganya.


“Nggak juga, kamu tepat waktu. Lihat, masih jam tujuh. Aku saja yang terlalu bersemangat. Ayo, silakan duduk!” ucap Papa Hadi.


Saat ini mereka sedang berada di salah satu restoran, ingin membahas masalah pernikahan anak-anak. Kinan dan Hanif juga ikut dalam pembicaraan para orang tua itu karena mereka juga yang menjalani kehidupan rumah tangga ini. Keduanya juga perlu dimintai pendapat dalam pembahasan ini.


Seorang pelayan mendekati meja mereka. Masing-masing pun mengatakan pesanan.


“Jadi persiapan apa saja yang sudah kamu lakukan, Hanif?” tanya Papa Hadi pada calon menantunya.


“Semua keperluan sudah ada yang menangani. Hanya tinggal menjalankan saja. Juga tinggal mencari harinya, Pa. Semua menunggu keputusan dari Papa Hadi dan Papa Wisnu,” jawab Hanif.


“Kalau kamu sendiri, Wis, apa kamu sudah memiliki hari yang cocok untuk mereka?” tanya Papa Hadi pada calon besannya.


“Kalau aku pribadi, maunya pernikahan ini dilaksanakan satu minggu lagi. Tidak perlu lama-lama,” Jawab Papa Wisnu membuat para orang tua tertawa.


“Saya juga menginginkan seperti itu. Biar nggak lama-lama menunggunya. Saya yakin Hanif juga menginginkan hal yang sama.”


Hanif hanya bisa diam saat para orang tua menggodanya. Selain itu, dia juga merasa senang saat melihat Papa Hadi dan Papa Wisnu bisa berbincang. Tanpa sadar, keduanya juga berbicara mengenai masa lalu.


“Iya, benar. Empat bulan itu terasa sangat lama, harus bisa ditahan, Nif," goda Papa Wisnu. "Aku tidak tahu kapan hari yang baik, bagaimana kalau tanggal dua puluh saja. Itu tepat hari Jumat, bukankah Jumat itu hari baik?” lanjutnya.


“Aku setuju saja, bagaimana dengan kalian?” tanya Papa Hadi pada anak dan calon menantunya.


“Kami sudah menyerahkan sama Papa dan Mama sekalian jadi, terserah saja,” jawab Hanif.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu, kita pilih tanggal itu saja.”


Para orang tua memberi sedikit nasihat kepada Hanif dan Kinan. Keduanya mendengarkan dengan saksama apa yang dikatakan. Mereka yakin itu adalah yang terbaik untuk kehidupan kelak. Saat sedang asyik berbincang, makanan datang, semua orang segera menikmati makan malam dengan tenang. Namun, tiba-tiba saja ada kejadian yang membuat suasana menjadi gaduh. Seseorang tengah menumpahkan kopi panas ke tangan Kinan.


“Aduh, panas!” pekik Kinan sambil mengibaskan tangannya.


“Maaf, maaf, saya tidak sengaja,” ucap orang tersebut.


Saat dilihat ternyata pelakunya adalah Nayla. Ingin sekali Kinan marah pada mantan sahabatnya itu. Namun, gadis itu mencoba untuk menahannya. Dia tidak ingin papanya marah. Kinan tahu pasti kejadian ini disengaja oleh gadis itu dan berpura-pura tidak berdosa.


“Kamu apa-apaan, sih! Seenaknya saja kamu menyiram tangan orang dengan minuman itu. Bagaimana kalau minuman itu aku siramkan kembali padamu,” geram Hanif.


“Maaf, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja."


“Tidak sengaja bagaimana? Kamu kira saya tidak melihatnya? Tadi kamu memang sengaja menumpahkan minuman itu agar terkena tangan Kinan,” sela Mama Aida. Dia memang tadi melihat ke arah Kinan jadi, wanita itu sangat tahu apa yang sudah terjadi.


“Ternyata peringatanku sama sekali tidak kamu hiraukan. Sepertinya aku perlu bertindak sesuatu sama kamu.” Hanif menatap tajam ke arah Nayla, membuat gadis itu semakin membenci Kinan. Dia tidak suka


melihat orang lain berada di atasnya, terutama Kinan yang selama ini selalu di bawahnya.


"Saya tidak me—"


“Cukup, kamu sudah mengganggu acara kami. Siapa namamu?” tanya Papa Hadi.


“Saya Nayla, Om,” jawab Nayla dengan rasa takut. Dia bisa mendengar suara pria itu yang tenang, tapi penuh dengan penekanan.

__ADS_1


“Jadi kamu anak dari pemilik restoran itu? Sepertinya aku perlu melakukan sesuatu pada keluargamu agat membuatmu bisa belajar, apa arti dari sopan santun. Keluargamu juga perlu mengajarimu dengan benar. Mereka terlalu memanjakanmu."


“Om jangan bicara seenaknya, saya tahu Anda seorang pengusaha jadi, Anda pasti tahu bagaimana perjuangan Papa saya dalam membangun restoran ini. Jangan seenaknya mengancam. Belum tentu juga Anda sehebat itu."


“Setelah apa yang sudah kamu lakukan, kamu masih berani menantang saya? Apa kamu belum tahu siapa saya? Saya bisa membuat keluargamu hancur dalam semalam jika saya mau, tapi saya tidak sejahat itu. Saya hanya sedikit bermain-main saja dengan keluargamu."


“Pa, sudah jangan diladenin,” sela Mama Aisyah yang takut jika sang suami melakukan sesuatu. Dia tidak ingin suaminya berbuat jahat pada orang lain. Wanita itu sangat tahu bagaimana Papa Hadi saat sedang marah.


“Iya, Pa. Tidak perlu melakukan sesuatu, aku tidak apa-apa, kok! Ini hanya merah sedikit, nanti juga sembuh jika sudah dikasih salep," timpal Kinan yang bisa merasakan perasaan mamanya. “Nayla, sebaiknya kamu pergi dari sini, sebelum kamu menyesali apa yang sudah kamu lakukan,” lanjut Kinan sambil mendorong pelan tubuh mantan sahabatnya itu.


Meski Kinan sudah diperlakukan tidak baik oleh Nayla, tetapi gadis itu tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya. Terlebih sang pelaku adalah papanya.


Nayla menepis tangan Kinan dan berkata, “Kamu sudah merasa sok berkuasa sekarang ya, Kin? Padahal sebelumnya juga kamu terlihat biasa saja. Jangan mentang-mentang karena di sini sudah ada Pak Hanif kamu jadi bisa melakukan semuanya!"


"Aku selama ini diam karena tidak ingin mencari masalah, Nay. Cobalah untuk membedakan semua itu. Aku tidak pernah takut padamu. Apa pernah aku mengikuti permintaanmu yang konyol, tidak, kan? Jangan sok bossy. Sudahlah, jangan diperpanjang lagi. Sebaiknya kamu cepat pulang. Jika sesuatu terjadi padamu, aku tidak akan ikut campur."


"Kenapa aku harus mengikuti ucapanmu. Aku ingin tahu sejauh mana kekuasaan keluargamu. Sampai papamu bisa percaya diri ini mengatakan kalau dia bisa melakukan sesuatu."


Kinan memejamkan matanya. Nayla memang sangat keras kepala. Jika papanya sudah bergerak, dia sudah tidak bisa lagi menolong gadis itu. Biarkan sajalah, ini juga bisa jadi pelajaran untuk Nayla.


"Kamu kira saya tidak tahu siapa keluargamu? Keluarga kamu itu sudah lama hancur sebelum aku ikut campur jadi, hanya tinggal klik saja pasti sudah tumbang begitu saja," ucap Papa Hadi sambil menjentikkan jarinya.


"Maksud Om apa?" tanya Nayla dengan suara bergetar. Tiba-tiba saja bulu kuduknya berdiri.


"Tunggu saja, tidak akan lama. Mungkin setengah jam lagi juga berita mengenai keluargamu akan muncul. Saat itu terjadi, jangan sampai aku melihat air mata buayamu. Silakan pergi dan tunggu saja apa yang akan terjadi. Jangan lagi mengganggu acara kami."

__ADS_1


.


.


__ADS_2