Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
290. S2 - Opa pingsan


__ADS_3

"Kakak, tadi sama Kak Alin ngomongin apa?" tanya Zea saat Alin dan si kembar sudah pergi.


Kini hanya tinggal dirinya berdua dalam ruangan tersebut. Sudah sedari tadi gadis itu penasaran, tetapi Adam seolah enggan untuk mengatakannya. Lebih tepatnya tidak ingin dia tahu.


"Nggak ngomongin apa-apa, hanya ngobrol biasa," sahut Adam seadanya, terkesan cuek.


"Masa, sih? Kenapa harus menyuruh kita keluar tadi kalau kalian tidak membicarakan apa-apa. Kakak nggak mau jujur sama aku?" tanya Zea dengan nada kecewa.


Dia berharap agar Adam selalu berkata jujur, spa adanya. Tidak perlu ada yang disembunyikan juga, sekali pun kejujuran itu sangat menyakitkan, tetapi juga diperlukan dalam sebuah hubungan. Jika sekarang saja pria itu sudah tidak mau jujur, bagaimana nanti saat mereka hidup bersama. Zea tidak bisa membayangkannya.


"Bukan aku tidak mau jujur sama kamu. Aku hanya takut akan menyakitimu."


"Justru aku akan terluka jika Kakak berbohong padaku. Sebesar apa pun rasa sakit itu, aku lebih suka kejujuran. Selama ini aku juga selalu mencoba untuk jujur sama Kakak."


"Baiklah, aku harap kamu mau mendengarkan semuanya dan berpikir lebih bijak. Tadi Alina memintaku untuk menikahinya. Dia beralasan jika apa yang terjadi pada dia sekarang, itu semua masih termasuk tanggung jawabku. Akmal melakukan semuanya karena dia balas dendam kepadaku. Itulah kenapa dia datang ke sini."


"Terus, apa jawaban Kakak? Apa Kakak akan menerimanya?"


Dalam hati Zea merasa takut kalau Adam akan bertanggung jawab atas perbuatan saudara tirinya. Entah apa yang akan terjadi jika hal itu benar-benar akan dilakukan oleh kakaknya. Dirinya sudah menaruh harapan yang besar pada hubungan ini. Jika gagal maka gadis itu benar-benar akan hancur, bahkan lebih hancur dari sebelumnya.


"Menurutmu bagaimana?" Adam menunggu reaksi Zea. Namun, gadis itu hanya diam saja. "Tentu saja aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Aku akan melakukan apa yang membuatku bahagia, mengenai orang lain itu bukan tanggung jawabku. Alina sudah cukup dewasa, dia bisa berpikir mana yang terbaik untuk dirinya."


Zea tersenyum mendengarnya. "Aku senang karena Kakak tidak terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh Kak Alin."


"Sebenarnya dalam hati, aku merasa kasihan karena Alin sudah diusir oleh keluarganya. Bukankah mereka sebagai orang tua, yang harusnya selalu mendampingi Alin, saat wanita itu dalam keadaan seperti ini, tetapi mereka justru mengusir karena dianggap membuat malu keluarga."


Zea cukup terkejut mendengar apa yang dikatakan kakaknya. Dia memang tidak mendengar apa-apa tentang Alin. Gadis itu bahkan tidak mengenalnya. Yang tidak masuk akal adalah bagaimana mungkin seorang keluarga tega mengusir putrinya. Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya.


Bahkan mereka rela mengorbankan apa pun, tetapi kenapa orang tua Alin tidak. Zea menggelengkan kepala, ini bukanlah urusannya jadi, dia tidak ingin terlalu banyak berpikir. Adam tahu kegelisahan yang dirasakan oleh adiknya. Pria itu pun menggenggam telapak tangan gadis itu, guna mengurangi rasa gelisah yang dirasakan oleh Zea.


"Kamu harus percaya padaku. Yang ada dalam hatiku hanya kamu seorang, tidak ada orang lain dan tidak ada tempat bagi orang lain. Hanya kamu wanita satu-satunya di hatiku, tidak ada lagi. Eh, dua! Yang pertama Mama, wanita yang pertama membuat aku merasa nyaman, baru kamu yang kedua."


"Kok, aku yang kedua?" sela Zea dengan cemberut. Tadi dia senang menjadi satu-satunya, tetapi tiba-tiba sekarang jadi nomor dua. Meskipun yang pertama mamanya, tetap saja gadis itu iri.


"Iya, dong! Karena Mama udah ngasih kasih sayang yang begitu besar padaku, sama seperti kamu."

__ADS_1


"Tapi tetap saja mama yang berada dalam posisi pertama. Aku yang kedua."


"Memang seperti itu. Meskipun mereka bukan orang tua kandungku, tapi merekalah orang yang membesarkanku."


"Iya, Kak. Aku mengerti, maaf."


"Kenapa harus minta maaf? Sudah tidak usah dibahas masalah tadi, yang penting sekarang Alina sudah pergi dan sekarang hanya tinggal kita berdua."


Keduanya pun berbincang, hingga Zea pamit pulang karena hari ini dia harus pergi kuliah. Kinan datang untuk menggantikan putrinya untuk menemani adam. Tadi pagi wanita itu pulang ke rumah bersama sang suami karena Hanif harus ke kantor, baru sekarang bisa datang lagi.


****


"Aduh! Rajin banget nih!" cibir Aini yang baru saja datang dan duduk di samping Zea.


"Apaan, sih. Aku sudah lama nggak datang ke kelas ini jadi, ada beberapa yang harus menyesuaikan," sahut Zea dengan pandangan yang masih tertuju pada buku yang ada di tangannya.


"Bukankah sama saya?"


Zea mengangkat baunya saja. Dia hanya ingin yang terbaik untuk segera lulus dan akan segera menjadi seorang istri. Tetap saja gadis itu ingin memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Apalagi akhir-akhir ini Zea sering merepotkan keluarga.


Pasti si kembar sudah memiliki rencana, terutama Aina. Yang memang dari dulu selalu mengedepankan sekolahnya. Terkadang gadis itu iri pada sepupunya yang memiliki otak encer. Meskipun dirinya juga termasuk mahasiswi yang pandai, tetap saja masih kalah dari Aina.


"Kalau aku sih belum ada rencana, nggak tahu lihat nanti saja," jawab Aini.


Zea kini giliran menatap Aina, sepupunya itu pun menjawab, "Kalau aku ingin buka usaha sendiri, tapi usaha apa masih belum tahu. Aku hanya ingin mandiri dan tidak lagi bergantung pada papak dan mama."


Ketiganya pun berbincang sebelum pelajaran dimulai. Tiba-tiba ponsel yang ada di tas Zea berdering, tertera nama mamanya di sana. Gadis itu mengerutkan kening, tidak biasanya Kinan akan menghubunginya saat ada kelas seperti ini.


"Tumben mama telepon saat aku sedang kuliah," gumamnya sambil melihat ponsel yang ada di tangannya.


"Siapa tahu penting, cepat diangkat," sahut Aina yang mendengar apa yang dikatakan oleh sepupunya tadi.


Zea pun mengangguk dan segera mengangkatnya. "Assalamualaikum, Ma. Apa terjadi sesuatu pada Kak Adam?"


"Tidak ada, justru Opa kamu."

__ADS_1


"Opa! Memangnya ada apa dengan opa?”


"Baru saja Bibi telepon, katanya opa kamu tiba-tiba pingsan dan Bibi sudah membawa ke rumah sakit yang paling dekat dengan rumah. Kamu segera datang ke sini. Mama mau ke sana untuk melihat keadaan opa."


"Ma, biar aku saja yang datang ke sana buat lihat opa. Kalau aku yang ke tempat Kak Adam, pasti terlalu jauh. Mama juga harus bolak-balik, sebaiknya aku yang ke sana. Mama tetap di situ, nanti aku kabari."


"Baiklah, kalau memang seperti itu. Benar, ya, nanti kalau ada apa-apa segera hubungi Mama!"


"Iya, Ma. Aku tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Zea segera merapikan bukunya yang ada di atas meja.


Aini yang penasaran pun bertanya, "Ada apa, Zea? Apa yang telah terjadi pada Opa Wisnu?"


"Aku juga nggak tahu, kata mama, opa dibawa ke rumah sakit yang paling dekat dengan rumah jadi, aku mau langsung ke sana saja. Kasihan opa nggak ada yang nemenin. Papa lagi nggak bisa dihubungi. Mungkin lagi sibuk."


"Kami tapi ikut ya kami juga ingin tahu bagaimana keadaan opa."


"Lalu kamu nggak kuliah?"


"Nggak pa-pa, kita izin saja."


"Iya, sebaiknya kita menemani kamu, daripada kamu nanti sendirian di sana," sahut Aina.


Zea akhirnya mengangguk. Saat mereka akan meninggalkan kelas, ternyata dosen mau masuk. Melihat para mahasiswinya ingin pergi pun bertanya, "Kalian mau ke mana? Mau bolos?"


"Bukan, Pak. Maaf, tapi baru saja mama saya telepon, katanya opa saya masuk rumah sakit dan di sana nggak ada keluarga yang datang. Mama sata jaga kakak yang juga mengalami kecelakaan kemarin. Jadi saya mohon izin pada Bapak," ucap Zea.


"Oh, baiklah. Kamu boleh pulang," sahut dosen tersebut kemudian menatap si kembar yang juga ingin pergi. "Kalian berdua kenapa ikut-ikutan Zea?"


"Bapak ini gimana, sih! Opanya Zea juga opah kami. Kami kan satu keluarga, kami juga khawatir pada Opa Wisnu. Tolong izinkan kami juga ikut pergi ya, Pak," pinta Aini dengan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.


Mau tidak mau dosen itu pun akhirnya mengangguk. Siapa juga yang tidak kenal dengan keluarga Hanif dan Ayman. Mereka pengusaha terkenal dan juga saudara ipar. Seluruh kampus sudah tahu akan hal itu.


.

__ADS_1


__ADS_2