Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
227. Daftar sekolah


__ADS_3

Hanif mengetuk pintu ruangan kepala sekolah yang sudah terbuka separuh. Tampak seorang pria sedang memeriksa beberapa berkas. Entah dokumen apa yang diperiksa orang yang ada di dalam ruangan.


"Assalamualaikum," ucap Hanif saat pria itu menoleh.


"Waalaikumsalam, silakan masuk!"


Hanif dan Adam masuk ke dalam ruangan tersebut. Keduanya duduk di depan meja kepala sekolah. Setelah memastikan tamunya sudah bersantai, kepala sekolah pun memulai pertanyaan.


"Maaf, Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya kepala sekolah itu sambil tersenyum.


"Begini, Pak. Saya datang ingin melihat-lihat sekolah ini jika diperbolehkan. Saat ini saya sedang mencarikan sekolah yang cocok untuk anak saya. Barangkali anak saya juga nyaman sekolah di sini. Untuk sekarang masih melihat-lihat dulu, apakah sesuai atau tidak," jawab Hanif.


"Oh, tentu saja bisa. Saya bisa menemani Anda berkeliling di sekolah ini. Saya juga akan menjelaskan beberapa hal tentang keunggulan sekolah ini. Anda mau melihat sekarang atau besok?"


"Sekarang saja, Pak. Kebetulan saya juga tidak ada pekerjaan jadi, saya masih ada waktu untuk melihat-lihat keadaan sekolah ini."


"Baiklah, mari, Pak!"


Hanif dan Adam pun mengikuti kepala sekolah tersebut mengelilingi sekolah. Pria dengan tubuh gempal itu menjelaskan banyak hal tentang sekolah ini. Dari mulai program belajar mengajar dan juga tentang kegiatan ekstrakurikuler. Ada beberapa keunggulan yang dimiliki sekolah ini juga.


Hanif juga melihat ke sekeliling. Lingkungannya cukup bersih. Setiap ruangan kelas juga tertata rapi, semua siswa juga terlihat begitu tenang saat guru menjelaskan. Kepala sekolah mengatakan jika saat pelajaran, memang suasana dibuat setenang mungkin.


Bukan maksudnya untuk membuat para siswa takut. Hanya saja zaman sekarang banyak anak yang menyepelekan ketenangan saat guru saat menjelaskan. Mereka menganggap para guru tidak begitu berarti. Bahkan sopan santun pun tidak mereka hiraukan lagi.


"Beginilah lingkungan sekolah kami, Pak. Jika Anda masih ada sesuatu yang masih belum jelas dan ingin bertanya kembali, silakan saja. Sebisa mungkin saya akan menjawabnya," ucap kepala sekolah setelah menjelaskan banyak hal.


"Kalau mengenai sekolah, semuanya sudah jelas, Pak. Anda menjelaskan dengan begitu detail, saya pun senang mendengarnya," sahut Hanif yang kemudian menatap putranya. "Adam, kamu ada yang ingin ditanyakan pada Bapak kepala sekolah?"

__ADS_1


Adam mengangguk dengan cepat kemudian, menatap kepala sekolah itu. "Di sini apa semuanya anak orang kaya, Pak? Saya lihat sekolahannya bagus. Di sini pasti bayar sekolahnya mahal.”


Kepala sekolah tersenyum menanggapinya. Dia tidak menyangka akan mendapat pertanyaan semacam ini dari anak kecil. Pria itu mengira, pasti ada sesuatu pada anak ini mengenai perbedaan status. Apa pun itu, bukanlah urusannya.


“Tidak juga, semua sama saja. Ada juga yang dari kalangan menengah ke bawah. Jika orang tua dan anak memang memiliki niat yang besar, tidak ada yang tidak mungkin jika untuk kebaikan anaknya. Setiap orang tua pasti memiliki tujuan berbeda-beda. Meskipun mereka dari kalangan yang tidak mampu, tapi memiliki tekad yang kuat, untuk menyekolahkan anaknya di sekolah yang terbaik, pasti mereka akan berusaha sebaik mungkin, entah apa pun itu. Nanti dari pihak sekolah juga tidak akan tinggal diam. Jika memang ada murid yang memiliki usaha yang keras untuk sekolah di sini."


"Oh, jadi, mereka juga dapat beasiswa, ya, Pak?" tanya Adam lagi yang diangguki oleh kepala sekolah.


Entah apa yang dipikirkan oleh anak itu. Terlihat dari wajahnya dia sangat puas dengan jawaban yang diberikan oleh kepala sekolah. Hanif penasaran kenapa Adam bertanya seperti itu, tetapi lebih baik nanti saja dia tanyakan saat berdua.


"Adam, sebaiknya main di sana. Itu ada ayunan dan perosotan. Papa masih mau ngobrol sama Bapak kepala sekolah," ucap Hanif yang diangguki putranya.


Adam pun mengangguk dan memilih pergi ke taman. Ada beberapa permainan di sana. Padahal ini sekolah dasar, tetapi pihak sekolah juga menyediakan permainan seperti ini. Semua permainan juga ukurannya lebih besar.


"Mohon maaf, Pak kepala sekolah. Saya ingin menanyakan sesuatu. Saya harap Anda menjawabnya dengan jujur. Apakah sekolah bisa menyimpan data agar tidak ada seorang pun yang tahu? Meskipun itu para guru. Setidaknya hanya ada beberapa guru, yang terlibat dalam pendaftaran saja, yang tahu mengenai identitas anak saya," ucap Hanif membuat kepala sekolah itu mengerutkan keningnya.


"Jujur, Pak Hanif. Itu agak sulit karena memang, data sekolah juga setiap tahun pasti harus mendaftar ke lembaga yayasan. Semua anak juga pasti akan mengumpulkan kartu keluarga. Kegiatan itu sudah pasti akan melibatkan banyak orang jadi, saya tidak bisa berjanji, tetapi saya pasti akan berusaha untuk menutupinya. Mohon maaf sebelumnya, jika tidak keberatan kenapa Anda ingin menutupi identitas anak Anda?"


Hanif membuang napas pelan. "Sebenarnya dia bukan anak kandung saya, Pak. Saya mengadopsinya satu bulan yang lalu. Saya tidak ingin dia menjadi bahan olok-olokan teman-temannya atau mungkin orang yang mengenalnya. Itulah kenapa saya ingin menghapus masa lulurnya untuk sementara waktu. Hingga anak itu benar-benar mampu menerima serangan dari semua orang. Pasti Anda juga sangat tahu jika sekarang ini mulut manusia tidak bisa dijaga lagi. Mereka suka berbicara asal, tanpa memikirkan perasaan orang lain."


"Saya mengerti maksud Anda. Boleh tahu sudah berapa lama Anda menikah?"


"Belum ada setahun, Pak."


"Ini yang sulit, Pak Hanif. Jika usia pernikahan Anda lebih tua dari Adam, itu bisa diakali, sedangkan sekarang pernikahan Anda bahkan belum setahun sementara Adam sudah sebesar itu. Semua keputusan ada pada Anda, terserah mau tetap sekolah di sini atau tidak. Seperti yang saya katakan tadi. Saya tidak bisa menjamin apa yang Anda minta, tapi saya akan mengusahakannya."


Sebenarnya Hanif tidak ingin mengatakan pada siapa pun mengenai identitas Adam. Akan tetapi, dia juga perlu seseorang yang bisa dipercaya agar bisa menutupi rahasianya. Pria itu memang sengaja memilih sekolah ini karena di sini, semua murid memang berasal dari semua kalangan. Tidak ada pembullyan yang terjadi juga.

__ADS_1


Hanif dalam dilema, bukan maksudnya agar ada melupakan keluarga kandungnya. Namun, untuk saat ini demi kebaikan anak itu, lebih baik tidak usah mengenal keluarganya sekarang. Nanti saat Adam sudah benar-benar siap, barulah Hanif akan membiarkan putranya mengambil keputusan sendiri.


"Mengenai hal itu, saya tidak bisa mengambil keputusan. Semuanya saya serahkan pada putra saya. Sebaiknya kita bertanya langsung saja padanya. Dia mau atau tidak sekolah di sini," sahut Hanif yang segera mendekati putranya bersama dengan kepala sekolah.


Ini memang sekolah dasar. Namun, sekolah tetap memberi fasilitas area bermain untuk anak-anak. Itu lebih baik untuk mereka agar bisa menggerakkan tubuhnya, daripada harus memainkan ponsel. Yang nantinya akan merusak mata dan juga otak. Mereka juga bisa mengenal jenis-jenis permainan.


"Adam, sini dulu!" panggil Hanif. Adit pun segera berlari mendekati sang papa. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dibicarakan lagi.


"Ada apa, Pa? Kenapa memanggilku? Apa ada sesuatu yang telah terjadi?" tanya Adam saat sudah berada di dekat papanya.


"Begini, Sayang. Papa mau tanya sama kamu. Kamu nyaman nggak sekolah di sini? Atau mau cari sekolah lain? Tadi Papa sudah janji kalau Papa nggak akan maksa kamu buat sekolah di sini jadi, semua keputusan ada sama kamu."


"Aku mau sekolah di sini, Pa. Di sini sekolahnya bagus, ada tempat bermain juga. Nanti kalau aku bosan bisa main di sini. Aku mulai sekolahnya kapan, Pa?"


"Papa bahas dulu sama Bapak kepala sekolah. Papa juga mau menanyakan kebutuhan kamu selama sekolah di sini. Kamu mau main di sini atau ikut Papa kembali ke ruangan kepala sekolah?"


"Aku mau di sini saja, Pa. Nanti kalau Papa sudah selesai, panggil saja aku di sini."


"Baiklah, kalau begitu. Ingat jangan kemana-mana! Jangan jauh-jauh dari area bermain ini, ya! Biar Papa nanti nggak bingung buat cari kamu," ucap Hanif sebelum pergi.


Adam menganggukkan kepala. "Iya, Pa. Aku akan di sini saja, nggak akan ke mana-mana."


Hanif dan kepala sekolah pun kembali ke ruangan, untuk membahas apa saja yang diperlukan Adam saat sekolah nanti. Tidak lupa pria itu juga mengisi formulir dan menyerahkan beberapa syarat yang diperlukan.


.


.

__ADS_1


__ADS_2