
Kinan pulang dengan menggunakan mobil yang di kendarainya sendiri. Di pertengahan jalan, ponselnya berdering. Awalnya Kinan mengira jika itu Niko yang kembali mengganggunya. Namun, saat dilihat ternyata dari Hanif. Gadis itu pun segera menepikan mobil untuk mengangkat panggilan tersebut.
“Halo, assalamualaikum,” ucap Kinan setelah menggeser tombol hijau.
“Waalaikumsalam, kamu ada di mana?” tanya Hanif yang berada di seberang telepon.
“Lagi di jalan, baru saja dari perusahaan Papa.”
“Ada apa? Tumben kamu ke sana?”
“Nggak pa-pa cuma makan bareng saja. Sudah lama nggak kencan sama Papa,” jawab Kinan membuat Hanif tersenyum.
Pria itu sangat tahu bagaimana manjanya Kinan pada sang papa. Meski tidak ada orang yang mengatakannya, jangan lupa jika Hanif termasuk pengagum rahasia gadis itu. Sudah pasti dia tahu segala hal mengenai Kinan.
“Kalau kencan sama aku kapan?”
“Kapan, ya?” tanya Kinan pada dirinya sendiri sambil berpura-pura berpikir. “Nanti deh saat kita sudah halal,” jawabnya sambil tersenyum.
“Yah, masih nunggu lagi, dong. Padahal aku tuh maunya sekarang.”
“Kamu harus sabar dong!”
“Aku jadi iri sama papa kamu, yang bisa pergi ke mana pun sama kamu sedangkan aku, hanya bisa memandangi gambarmu saja."
“Nanti juga kamu bisa merasakannya, saat sudah mendapat label halal.”
Keduanya terdiam sejenak, seolah sedang memikirkan masa depan mereka kelak. Siapa pun boleh bermimpi, begitu juga dengan calon pengantin itu. Mereka ingin
“Kinan, sudah beberapa hari tidak bertemu denganmu, aku jadi kangen sama kamu,” ucap Hanif yang tiba-tiba menjadi serius.
“Setiap hari juga selalu telepon.”
“Beda kalau setiap hari bertemu secara langsung.”
“Kata orang kalau mau jadi pengantin jangan sering-sering bertemu."
“Itu kata orang zaman dulu. Sekarang berbeda.”
“Memang, tapi setelah dipikir-pikir, benar apa yang orang dulu katakan. Kalau kita terlalu sering bertemu sebelum jadi pengantin, di saat nanti tiba hari H-nya pasti akan terasa biasa saja. Kalau kita tidak bertemu pasti ada rasa penasaran dan juga kangen yang sudah menumpuk dalam hati.”
“Berarti kamu juga kangen sama aku?” goda Hanif.
Mendengar pertanyaan dari calon suaminya itu, membuat Kinan bingung mau menjawab apa. Jujur dia sangat malu untuk mengatakannya.
“Kenapa diam saja? Jawab, dong! Kamu kangen nggak sama aku?”
__ADS_1
“Nggak, biasa saja,” jawab Kinan berbohong.
“Aku merasa kecewa sekali dengan jawaban kamu,” sahut Hanif dengan lesu
“Nggak boleh kangen sama yang belum sah. Nanti malah mikir yang tidak-tidak. Nanti saja kalau sudah sah, boleh saling merindukan.”
“Tapi perasaan nggak bisa diatur. Entah kapan rasa rindu itu datang.”
Kinan membenarkan apa yang dikatakan oleh Hanif. Namun, mengakui perasaannya terhadap pria itu pun dia merasa malu.
“Mas, saat ini aku sedang di jalan. Nanti saja telepon lagi kalau aku sudah sampai di rumah," ucap Kinan mengalihkan pembicaraan.
“Kamu teleponan sambil menyetir?”
“Enggak, aku berhenti di pinggir jalan,” jawab Kinan membuat Hanif lega. Tadinya dia khawatir karena dirinya yang menelepon.
“Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati di jalannya, jangan ngebut.”
“Iya, Mas. Aku tutup teleponnya, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Kinan pun mengakhiri panggilannya dan segera kembali melajukan mobilnya menuju rumah.
****
“Papa sama Mama benar-benar akan pulang hari ini?” tanya Zayna pada kedua orang tuanya. Baru saja dia melihat kedua orang tuanya keluar dengan membawa barang mereka.
Zayna mengembuskan napas dalam-dalam. Papa Rahmat dan Mama Savina memang miliki kehidupan sendiri di tempat tinggalnya. Tidak mungkin mereka berlama-lama di sini.
“Baiklah kalau begitu, nanti kalau dokter sudah mengizinkan aku buat naik pesawat, insya Allah aku akan datang ke sana.”
“Iya, kalau dokter belum mengizinkan, jangan memaksa. Papa tidak ingin terjadi sesuatu pada cucu Papa," ucap Papa Rahmat sambil melihat ke arah perut Zayna.
“Iya, Pa. Aku juga selalu hati-hati dalam melakukan sesuatu.”
Terdengar suara klakson mobil dari taksi yang dipesan oleh Papa Rahmat tadi. Pria itu memang sengaja memesan taksi. Dia tidak ingin terlalu merepotkan keluarga Ayman.
“Nah, itu taksi pesanan Papa sudah datang. Kami pergi dulu."
“Kenapa tadi pagi Papa nggak bilang? Tahu gitu biar diantar sama Pak Doni saja.”
“Nggak perlu, lagi pula suamimu juga pasti sibuk dan membutuhkan kehadiran Pak Doni untuk mengantarnya. Titip salam sama papa mertuamu dan juga Ayman.”
“Iya, Pa. Nanti aku sampaikan.”
“Bu Aisyah, kami pamit dulu, terima kasih sudah menjamu kami dengan sangat baik. Kami juga berharap agar ibu dan Bapak Hadi bisa berkunjung ke rumah kami," ucap Mama Savina pada besannya.
__ADS_1
"Insya Allah, jika ada waktu senggang, kami akan berkunjung ke sana," jawab Mama Aisyah.
"Kami pamit dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan."
Papa Rahmat dan Mama Savina pun keluar dari rumah diantar oleh Zayna dan Mama Aisyah. Keduanya menaiki mobil dan meninggalkan halaman rumah. Sebenarnya Zayna masih ingin orang tuanya ada di sini, tetapi dia juga tahu jika mereka masih punya kesibukan masing-masing.
Setelah mobil yang ditumpangi oleh Papa Rahmat dan Mama Savina tidak terlihat. Mama Aisyah dan Zayna masuk ke dalam rumah. Keduanya duduk di ruang keluarga untuk berbincang sebentar. Selang beberapa menit Zayna pamit ke kamar karena ada keperluan.
Wanita itu ingin menghubungi Zanita, sebenarnya sejak kemarin dia ingin melakukannya. Namun, Zayna belum memiliki keberanian dan sekarang ingin mencobanya. Semoga saja adiknya tidak menolak panggilan darinya. Seperti dulu kedatangannya yang ditolaknya.
"Halo selamat siang, dengan kantor kepolisian. Terima kasih sudah menghubungi kami, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pria yang berada di seberang.
"Selamat siang, Pak. Saya dari keluarga penghuni lapas yang bernama Zanita. Boleh saya berbicara sebentar dengannya? Saya saudara jauh jadi, tidak mungkin mendatanginya."
"Bisa, ini dengan saudara siapa? Agar saya bisa memastikannya."
"Saya Zayna, Pak. Saya kakaknya Zanita."
"Mohon ditunggu, akan kami panggilkan saudara Zanita."
"Terima kasih, Pak."
Zayna pun menunggu dengan harap-harap cemas. Dia takut juga Zanita menolak untuk berbicara dengannya. Namun, wanita itu salah. Beberapa menit kemudian, sang adik mengangkatnya.
"Halo, assalamualaikum." Suara Zanita terdengar di balik telepon.
"Waalaikumsalam, bagaimana kabarmu?" tanya Zayna.
"Baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya?"
"Aku selalu baik. Maaf aku tidak pernah menjengukmu di sana."
"Tidak perlu meminta maaf, aku mengerti keadaanmu. Aku dengar dari Mama, kamu sekarang sudah hamil? Selamat, ya!"
"Iya, sebentar lagi kamu juga akan memiliki keponakan."
"Iya, nggak nyangka ternyata aku sudah tua juga."
Kedua kakak beradik itu tertawa bersama. Hal yang selama ini tidak pernah terjadi. Hingga tanpa sadar membuat air mata Zayna menetes. Andai saja dari dulu mereka bisa seperti ini. Betapa bahagianya hidup wanita itu.
.
.
__ADS_1
(Mohon maaf jika ada yang tidak sesuai. Untuk yang berhubungan dengan hukum atau sejenisnya. Saya hanya menggunakan insting saja karena saya tidak tahu bagaimana berusaha dengan pihak berwajib)