Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
294. S2 - Pulang ke rumah


__ADS_3

“Sayang, ada apa? Kenapa dari tadi diam saja?” tanya Arslan saat mereka dalam perjalanan pulang.


“Tidak apa-apa, Mas,” jawab Hira dengan tersenyum paksa.


“Ada apa? Apa kamu nggak mau jujur sama aku?”


“Aku takut kamu akan meninggalkanku, Mas,” ucap Hira pelan, sambil menundukkan wajahnya.


Arslan mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti dari mana sang istri memiliki pemikiran seperti itu. Padahal sedari tadi mereka tidak ada pembahasan yang mengarah ke sana. Pria itu berpikir jika ini pasti ada hubungannya dengan keberadaan Imel.


Arslan menepikan mobilnya dan segera mengambil telapak tangan istrinya. “Apa yang membuatmu berpikir seperti itu? Apa karena Imel? Atau aku sudah mengatakan sesuatu yang membuatmu terluka?”


Hira menggeleng. “Aku hanya takut jika kamu juga akan meninggalkanku.”


“Kenapa kamu punya pemikiran seperti itu?”


“Aku tidak tahu, aku merasa tidak percaya diri saat melihat Mbak Imel tadi. Dia begitu cantik, tapi kamu meninggalkannya, bagaimana dengan aku yang serba kekurangan.”


Arslan memeluk sang istri, entah bagaimana lagi meyakinkan wanita itu jika dirinya benar-benar mencintainya. Imel memang cantik, tetapi Arslan sama sekali tidak menyukainya. Selain karena wanita itu pernah dengan beberapa pria, sopan santunnya juga minus. Tidak ada sedikit kebaikan pun dalam diri Imel.


Berbeda dengan Hira, sejak pandangan pertama saja Arslan sudah jatuh cinta. Aura yang dimiliki wanita itu juga sangat kuat, hingga membuat sang suami tidak akan mungkin bisa berpaling. Semua yang diharapkan sudah ada pada wanita itu.


Arslan mengurai pelukannya dan menatap wajah sang istri. Hira masih saja menunduk, pria itu pun mengangkat wajah sang istri dengan tangannya. Terlihat kesedihan di sana, sungguh membuat hati Arslan terluka.


"Kamu lihatlah wajahku baik-baik. Apakah kamu menemukan kebohongan dalam wajahku? Aku tidak akan mengatakan apa pun padamu saat ini karena aku rasa percuma juga, jika dalam hatimu kamu masih meragukan perasaanku. Lihat saja apa yang aku lakukan, aku yakin kamu bisa merasakan semuanya."


"Maafkan aku, bukan maksudku untuk meragukanmu, hanya saja entah kenapa hatiku merasa tidak tenang," ucap Hira yang merasa bersalah, tetapi dia tidak ingin membohongi hatinya yang terasa aneh.


"Tidak apa-apa, jangan terlalu dipikirkan. Nanti kamu malah sakit. Ikuti saja perjalanan hidup kita yang mengalir, aku yakin suatu hari nanti kamu akan percaya padaku tanpa dijelaskan sekalipun."


Hira mengangguk, Arslan kembali melajukan mobilnya menuju rumah. Sepanjang perjalanan, pria itu terus menggenggam telapak tangan sang istri agar wanita itu yakin, jika dirinya akan selalu ada di sisinya dalam keadaan apa pun.


****

__ADS_1


Kinan dan Hanif menunggu di depan ruangan operasi, di mana saat ini sang putra sedang menjalani operasi. Keduanya terlihat begitu khawatir dan gugup, memikirkan jalannya operasi itu. Opa Wisnu juga sampai saat ini belum sadarkan diri. Dia di sana dari jaga asisten Hanif.


Terkadang juga Kinan meminta Ayman dan Zayna untuk bergantian menunggu. Untung saja kakaknya itu dengan senang hati membantu. Mereka juga sudah menganggap Papa Wisnu seperti orang tua sendiri. Papa Hadi juga terkadang menjenguknya.


"Mama, bagaimana keadaan Kak Adam?" tanya Zea sambil berlari mendekati mamanya. Si kembar Aini dan Aina juga mengikutinya dari belakang, mereka baru pulang dari kampus.


"Masih belum ada kabar. Dokter masih melakukan operasi di dalam."


Mereka pun duduk di kursi di depan ruang operasi, menunggu dengan harap-harap cemas. Berharap keajaiban datang dan membuat Adam bisa segera sembuh. Semua orang tidak hentinya berdoa di dalam hati, berharap semuanya berjalan lancar.


Satu jam kemudian operasi pun selesai. Dokter mengatakan semuanya berjalan dengan lancar, tetapi mereka juga masih harus menunggu Adam sadar terlebih dahulu. Untuk bisa memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Meskipun sudah dipastikan semuanya lancar, tetapi dokter mengantisipasi agar tidak terjadi sesuatu yang buruk.


Adam masih belum dipindahkan ke ruang rawat inap. Dokter masih harus menunggu hingga pasien sadar dan semuanya baik-baik saja. Keluarga juga masih setia menunggu di sana. Hanif sendiri pamit untuk melihat keadaan papanya. Tadinya dia berniat memindahkan papanya ke rumah sakit yang sama dengan Adam agar memudahkan mereka, tetapi keadaan Papa Wisnu yang tidak memungkinkan.


Jika memaksa memindahkan papanya, takut jika terjadi sesuatu di jalan. Hanif pun terpaksa mengalah dengan bolak-balik rumah sakit. Dia bersyukur masih memiliki keluarga dan kerabat yang perhatian.


“Ma, sebaiknya Mama pulang saja. Biar aku yang menjaga Kak Adam,” ucap Zea yang merasa kasihan melihat wajah lelah mamanya.


"Mama tidak apa-apa. Kalau Mama di rumah juga pasti tidak bisa tenang selalu kepikiran Adam sama opamu. Di rumah juga tidak ada siapa-siapa. Mama kesepian di rumah,” sahut Kinan pelan. Dia rindu kehidupan biasanya, tetapi wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa.


“Opa ke mana, Ma? Aku tidak melihatnya,” tanya Adam saat dirinya sampai.


“Sebaiknya masuk dulu, kita bicara di dalam,” jawab Kina yang diangguki sang putra.


Meskipun saat ini pria itu sedang dilanda rasa penasaran yang besar.


Semua orang pun masuk ke dalam rumah. Zea membawa barang-barang kakaknya dan menaruhnya di kamar. Tidak lupa juga obat dia letakkan di atas meja agar Adam mudah mencarinya.


"Ma, jadi opa ke mana?" tanya Adam yang sudah tidak sabar.


"Sebenarnya opa kamu dirawat di rumah sakit." Kinan pun akhirnya menceritakan semua apa yang terjadi pada sang mertua.


Dia yakin jika Adam bisa menerima berita itu karena putranya bukan orang yang lemah. Apalagi sakitnya ada pada kaki. Adam merasa sangat sedih karena tidak bisa bersama opanya. Padahal dulu saat dirinya sudah, pria tua itulah yang selalu menemani.

__ADS_1


"Kenapa Mama tidak bilang padaku saat di rumah sakit?" tanya Adam dengan sedih.


"Mama nggak mau kamu kepikiran. Mama ingin kamu sembuh dulu, baru Mama ceritakan semuanya.


Adam menunduk dengan perasaan sedih. Dia sangat menyayangi Opa Wisnu. Dulu waktu kecil, beliaulah yang sering bermain dengannya di saat Hanif sibuk bekerja. Sekarang saat opanya sakit Adam sama sekali tidak berguna karena keadaan kakinya yang tidak sempurna.


"Kamu Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi pada diri kita. Opa pasti akan mengerti keadaanmu sekarang," ucap Kinan yang mengerti kesedihan putranya.


"Opa di rumah sakit sama siapa, Ma?"


"Ada papa yang jagain, terkadang juga sama asisten papa. Kita semua bergantian menjaga, kadang juga Om Ayman dan Tante Zayna."


"Aku boleh jenguk opa nggak, Ma?"


"Besok, ya! Kamu 'kan baru pulang dari rumah sakit, banyak istirahat. Kamu harus jaga kesehatan juga, ingatlah kaki kamu juga masih sakit."


"Iya, Ma, tidak apa-apa besok saja aku lihat keadaan opa."


Kinan pun tersenyum. "Oh iya, Mama sudah memerintahkan bibi, untuk memindahkan kamar kamu ke lantai bawah. Kamu nggak apa-apa 'kan pindah ke kamar tamu untuk sementara, sampai kaki kamu bisa dibuat jalan."


"Tidak apa-apa, Ma. Terima kasih, maaf sudah merepotkan."


"Kamu bicara apa, tidak ada yang merepotkan. Mama justru senang melakukan semua ini untuk anak Mama. Sekarang sebaiknya kamu tidur!" perintah Kinan kemudian beralih menatap putrinya. "Zea, antar Kakak kamu ke kamar."


"Iya, Ma," sahut Zea yang kemudian mendorong kursi roda kakaknya menuju kamar.


Gadis itu juga membantu Adam untuk naik ke atas ranjang. Meskipun kesulitan, dia tetap berusaha dan tidak mengeluh.


"Maafin Kakak, ya, Dhek. Malah kamu yang repot."


"Apaan, sih, Kak. Tadi mama sudah bilang kalau nggak ada yang direpotkan. Kita semua satu keluarga harus saling tolong menolong. Kakak juga pasti akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi padaku, kan?"


"Jangan bilang seperti itu! Cukup aku saja yang mengalaminya, kamu jangan," sahut Adam dengan cepat. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada keluarganya, cukup dirinya saja yang merasakan. Jangan keluarganya, apalagi Zea.

__ADS_1


"Iya, Kak."


.


__ADS_2