Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
58. Dia papamu


__ADS_3

"Sayang!" panggil Ayman begitu melihat keberadaan sang istri. Pria itu segera berlari mendekati Zayna dan memeluknya. Sepanjang perjalanan tadi dia khawatir terjadi sesuatu pada istrinya karena saat di telepon wanita itu menangis meraung-raung.


Zayna memeluk sang suami dan menangis di sana. Dia merasa lega karena Ayman sudah datang. Wanita itu merasa takut sedari tadi, tetapi ditahannya. Sekarang pria itu sudah datang, tempat dia menyandarkan hidupnya.


"Mas, papa ada di dalam. Darah papa keluar banyak sekali. Aku takut ... aku takut terjadi sesuatu pada papa. Ini semua karena aku. Papa tertabrak mobil karena menolongku. Mobil itu berjalan ke arahku, tapi papa mendorongku dan akhirnya papa lah yang akhirnya tertabrak."


Ayman semakin mempererat pelukannya untuk menenangkan sang istri. Dia tidak tahu kejadiannya, tetapi yang pria itu tangkap dari kata-kata istrinya adalah Papa Rahmat kecelakaan karena menolong Zayna. Akan tetapi, Ayman merasa pasti ada sesuatu di sini. Kenapa Papa Rahmat ada di sana?


Nanti dia akan menghubungi seseorang untuk mencari tahu penyebab kecelakaan itu dan siapa pelakunya. Entah ini disengaja atau tidak, Ayman tidak ingin istrinya merasa bersalah. Pasti ada seseorang yang ingin mencelakai Zayna.


"Papa akan baik-baik saja. Kamu jangan pesimis begini. Sebaiknya kita banyak berdoa, semoga papa baik-baik saja," ucap Ayman. Meski dalam hati dia ragu, apalagi saat melihat banyaknya noda darah di baju sang istri.


Zayna yang berada dalam pelukan Ayman pun hanya bisa mengangguk. Saat ini memang hanya doa yang diperlukan papanya. Air mata masih menetes di pipi wanita itu, seakan mewakili kegelisahan hatinya. Tidak ada yang bisa dilakukan selain berdoa.


Suara langkah mendekat ke arah mereka. Terlihat Mama Savina berlari diikuti Zivana di belakang. Wanita itu terlihat khawatir dan panik. Ada jejak air mata di matanya yang sedikit merah. Pasti sepanjang perjalanan dia menangis.


"Bagaimana keadaan papa?" tanya Mama Savina.


"Masih di dalam, Ma. Dokter masih menanganinya." Bukan Zayna yang menjawab, tetapi Ayman. Wanita itu masih sesenggukan di pelukan sang suami.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa papa bisa sama kamu? Bukankah seharusnya papa bekerja?" tanya Mama Savina pada Zayna.


"Ma, sebaiknya kita bahas nanti saja. Kita menunggu dokter saja dulu. Semua masih terlalu mengejutkan."


Ayman tidak ingin istrinya disalahkan atas kejadian ini. Dia yakin jika mertuanya mendengar cerita Zayna, pasti akan menyalahkan sang istri. Tidak ada yang ingin semua ini terjadi. Papa Rahmat pasti hanya ingin menyelamatkan putrinya.


Mama Savina hanya mendengus kesal karena merasa tidak tahu apa-apa. Dia melihat baju Zayna yang sudah ternoda darah, meyakini pasti ini ada sangkut pautnya dengan putri tirinya itu. Akan tetapi, saat ini wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa. Biarlah nanti dia bertanya saat semuanya sudah tenang.


Cukup lama mereka menunggu dokter keluar. Ayman juga sudah meminta sang istri untuk berganti baju yang sudah dibelikan Ilham. Dia juga ikut berganti baju karena tadi saat memeluk sang istri, noda darah ada yang menempel di bajunya.

__ADS_1


Pintu ruangan terbuka, tampak dokter keluar diikuti suster yang membawa catatan di tangannya. Semua orang pun mendekati dokter tersebut.


"Dokter, bagaimana keadaan Papa Rahmat?" tanya Ayman mewakili semua orang yang ada di sana.


"Keadaan beliau masih kritis dan belum stabil. Kita lihat saja nanti bagaimana perkembangannya. Mudah-mudahan Bapak Rahmat bisa melewati masa kritisnya. Mohon doanya saja."


"Apa saya boleh masuk melihat keadaan papa saya?" tanya Zayna.


"Untuk saat ini masih belum bisa, terapi kalau mau, Anda bisa masuk dengan pantauan perawat dan hanya boleh satu orang saja. Nanti Anda bisa memakai baju steril. Biar nanti perawat yang menyediakannya."


"Iya, Dokter."


"Baiklah, saya permisi dulu."


Setelah kepergian dokter, Zayna ingin masuk. Namun, dicegah oleh Savina. "Biar Mama saja yang masuk. Kamu tunggu di luar."


"Tapi aku juga ingin melihat keadaan papa!"


Zayna ingin bicara lagi, tetapi segera dicegah oleh Ayman. Pria itu tidak ingin membuat keributan di rumah sakit. Apalagi yang ada di ruangan itu mertuanya.


"Sayang, nanti saja setelah mama," sela Ayman dengan terpaksa Zayna mengangguk. Mudah-mudahan saja nanti dia bisa melihat keadaan papanya. Mama Savina memasuki ruangan bersama dengan perawat. Sementara Zayna, Ayman dan Zivana menunggu di depan.


"Zivana, Zanita ke mana?" tanya Zayna.


"Tadi pagi pulang ke rumah suaminya. Tadi Tante Lusi meminta kakak pulang."


"Kamu sudah memberitahunya kalau papa masuk rumah sakit?"


"Sudah. Kakak bilang nanti akan datang bersama Kak Fahri."

__ADS_1


Zayna pun mengangguk dan tidak bertanya lagi. Sementara itu, Ayman mengirim pesan pada Ilham untuk menyelidiki tentang kecelakaan yang menimpa Papa Rahmat. Mudah-mudahan apa yang dipikirkan pria itu tidak benar dan kejadian itu murni kecelakaan. Jika sampai pelakunya memang sengaja melakukan itu, dia tidak akan pernah memaafkannya karena sudah pasti targetnya adalah Zayna.


Ayman menghela napas berat. Pekerjaan di kantor masih begitu banyak dan sekarang masalah keluarga juga datang. Semoga semua bisa terselesaikan dengan baik. Papa Rahmat pun segera sadar.


****


"Kamu mau ke mana?" tanya Lusi begitu melihat Zanita rapi.


"Mau ke rumah sakit, Ma," jawab Zanita sambil berkirim pesan dengan adiknya.


"Siapa yang sakit?" tanya Lusi lagi dengan mengerutkan keningnya. Dia berpikir jika menantunya itu hamil. Namun, jawaban Zanita membuatnya lemas meski sempat terkejut mendengar besannya kecelakaan.


"Papa tadi siang kecelakaan. Aku mau ke rumah sakit sekarang."


"Kecelakaan!" seru Lusi. "Kamu ke sana sama siapa?"


"Setelah ini Mas Fahri juga pulang, Ma."


Lusi hanya mengangguk. Dia tidak mungkin melarang menantunya untuk pergi. Meskipun saat ini wanita itu sedang membutuhkan bantuan Zanita untuk berbelanja. Tidak berapa lama Fahri datang. Pria itu langsung langsung mengajak istrinya pergi setelah berpamitan pada Mama Lusi. Keduanya pun menuju rumah sakit.


"Kamu sepertinya biasa saja saat Papa ada di rumah sakit. Kamu tidak terlihat khawatir sedikit pun. Apalagi sampai menangis," tanya Fahri setelah melihat wajah sang istri yang terlihat biasa saja. Dirinya saja yang anak menantu sempat khawatir, kenapa Zanita yang putrinya sendiri merasa biasa saja? Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan istrinya, tetapi entah apa itu.


"Kenapa aku harus sedih?" tanya Zanita acuh.


"Kan, dia papa kamu. Aku lihat dia juga sangat menyayangimu."


Zanita hanya diam. Dia masih sakit hati atas apa yang dilakukan papanya kemarin. Wanita itu merasa iri karena Papa Rahmat lebih membela Zayna daripada dirinya. Padahal selama ini pria itu selalu menuruti apa yang dia inginkan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2