Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
244. S2 - Hadiah dari Tante


__ADS_3

"Assalamualaikum," ucap Ainiya dan Ainaya secara bersamaan, saat memasuki rumah.


"Waalaikumsalam," sahut Bik Ira yang sedang membereskan ruang tamu. Sepertinya baru saja ada orang yang datang. Terlihat beberapa gelas bekas minuman di sana.


"Siapa yang datang, Mak?" tanya Ainaya pada Bik Ira. Anak-anak Zayna dan Ayman memang memanggil Bik Ira dengan panggilan Mak Ira.


"Baru saja teman ibu datang, Neng. Mereka ingin melihat keadaan ibu."


"Mereka mau jenguk apa nyusahin orang? Pasti tadi lama sekali, mama juga masih perlu banyak istirahat," gerutu Ainaya, dia paling tidak suka saat sang mama berkumpul dengan teman-temannya saat seperti ini. Pasti yang ada malah nyusahin, padahal Zayna harus istirahat.


"Sudahlah, Naya. Mama juga perlu hiburan. Orang sakit itu nggak harus istirahat melulu. Ada kalanya kedatangan orang-orang terdekat dan hiburan dari mereka, itu bisa menyembuhkan lebih cepat. Daripada beristirahat sepanjang hari," sela Ainiya.


Naya berjalan menuju ke kamar mamanya. Dia ingin melihat keadaan Zayna terlebih dahulu, sebelum membersihkan diri dan beristirahat. Niya juga mengikuti saudaranya ke kamar sang mama.


"Assalamualaikum, Ma," ucap Naya dengan pelan dan diikuti oleh Niya.


"Waalaikumsalam, kalian baru pulang. Kenapa baru pulang langsung ke sini? Jangan bilang kamu khawatirin Mama! Mana nggak apa-apa, ini juga cuma lelah saja," sahut Zayna yang sedang duduk di ranjang dengan bersandar.


"Iya, Ma. Aku ngerti, Mama jangan terlalu banyak pikiran. Nanti Mama malah tambah sakit."


"Iya, Mama juga nggak memikirkan apa pun."


"Papa sama Kak Arslan belum pulang, Ma?" tanya Niya yang duduk di tepi ranjang mamanya.

__ADS_1


"Tadi Papa telepon, katanya masih dalam perjalanan pulang. Mungkin nanti sore sampai rumahnya, memangnya kenapa? Apa kamu sudah kangen sama papa? Jangan bilang kalau kamu kangen sama kakak kamu?"


"Enggak lah, mana mungkin aku kangen sama dia. Aku kangennya sama papa," kilah Niya.


"Halah, kamu pasti juga kangen sama kakak. Sudah satu minggu nggak dikasih uang," sahut Naya membuat Zayna terkekeh.


"Sama saja! Kamu juga begitu, kan?" Niya mencibir saudaranya itu.


"Mana ada! Aku nggak pernah begitu. Uang aku masih banyak."


"Sombong," cibir Niya dengan menatap sinis ke arah saudaranya itu.


Ainaya memang lebih hemat daripada saudaranya. Dia juga tidak suka berhura-hura ataupun nongkrong bersama dengan teman-temannya. Setiap tidak ada yang dilakukan di kampus, gadis itu lebih memilih pulang atau pergi ke perpustakaan kota.


"Sudah Kalian tidak usah saling sindir. Sekarang lebih baik kalian bersihkan tubuh dulu, lalu istirahat. Jangan pikirkan soal Mama. Mama akan selalu baik-baik saja. Oh iya, tadi ada kiriman paket dari Tante Zanita untuk kalian. Mama sudah taruh di kamar kalian masing-masing, lihat sana!”


"Tante Zanita masih banyak pekerjaan jadi, belum bisa memenuhi janjinya sama kalian. Nanti kalau semuanya sudah selesai juga pasti akan ke sini." Zayna mencoba memberi pengertian pada putri-putrinya. Tadi Zanita juga meminta maaf karena tidak bisa ke sini.


"Iya, tapi kapan? Bilangnya dari tahun kemarin mau ke sini, saat kita mau ulang tahun, tapi ini mau ulang tahun lagi, tidak kunjung datang juga," ucap Niya dengan cemberut.


"Lagian kalau Tante Zanita datang selalu kamu ejek, kalau dia tidak kunjung menikah. Makanya Tante Zanita malas untuk datang ke sini," sela Aina.


Zanita memang belum menikah setelah perceraiannya dengan Fahri. Ada beberapa pria juga yang mencoba dekat dengannya. Namun, wanita itu selalu menolak. Dia selalu beralasan jika belum ada yang cocok di hati.

__ADS_1


Setiap kali datang berkunjung ke rumah Ayman dan Zayna, Ainiya selalu memperkenalkan Zanita dengan beberapa pria, tetapi tetap saja tantenya itu menolak.


Papa Rahmat dan Mama Savina juga sudah meninggal. Itu karena kecelakaan yang dialami keduanya, saat sedang berbelanja untuk toko sembakonya.


"Niat aku 'kan baik agar tante itu segera menikah. Dia itu sudah tua, tapi nggak ada orang yang menemaninya. Apa dia masih mengharapkan mantan suaminya itu? Pria yang tidak bertanggung jawab. Sekarang pria tua itu sudah tidak punya apa-apa. Anaknya saja hampir tidak bisa sekolah gara-gara tidak bisa bayar iuran." Aini kesal dengan setiap kali mengingat Fahri.


Masa lalu Zanita memang bukan rahasia lagi bagi si kembar Ay. Waktu itu, tanpa sengaja mereka pernah mendengar tantenya cerita dengan sang mama. Saat itulah keduanya bertanya langsung pada Zanita. Terpaksa wanita itu menceritakan tentang masalah Fahri, yang sudah menikah lagi dan memiliki seorang anak.


Namun, pria itu mengalami kebangkrutan dalam usaha. Istrinya juga sakit-sakitan dan akhirnya meninggal. Dia hanya hidup berdua dengan sang putra. Fahri seringkali meninggal iuran sekolah, bahkan beberapa kali pindah sekolah karena tidak kunjung membayar.


"Hus! Sudah jangan bahas masalah orang lain. Itu tidak baik, seharusnya kita mendoakannya agar bisa menyelesaikan masalahnya dengan cepat. Semoga Tuhan juga memberi kemudahan dalam setiap usahanya.”


“Buat apa doain mereka? Doain diri sendiri aja lebih bermanfaat."


Zayna menggelengkan kepala. Putrinya yang satu ini memang sangat keras kepala. "Sudahlah, Naya ajak saudaramu ini pergi dari sini. Semakin lama dia bicara, semakin ngawur."


Ainaya pun menarik tangan saudaranya untuk pergi ke kamar masing-masing. Mereka juga ingin tahu, kira-kira hadiah apa yang dikirim oleh tantenya kepada mereka. Zanita memang sudah menganggap Arslan dan si kembar seperti anaknya sendiri. Dia selalu bercanda jika nanti saat tua, wanita itu akan ikut salah satu diantara mereka. Daripada harus menikah kembali yang nantinya, malah ajan menyakiti dirinya lagi.


Ainaya dan Ainiya memasuki kamar masing-masing dan mencari kado yang dimaksud mamanya. Keduanya membuka kotak tersebut, ternyata isinya sepasang sepatu keluaran terbaru. Mereka tentu saja merasa senang, terutama Aini yang memang sebelumnya sudah sangat menginginkannya.


Si kembar pun mengirim pesan pada tantenya, yang berisi rasa terima kasih. Zanita yang berada di kota lain pun ikut tersenyum melihatnya. Dia senang karena kedua keponakannya menyukai pemberiannya. Hanya tinggal Arslan yang belum menerima karena pemuda itu masih dalam perjalanan bisnis. Apalagi Aini juga mengirim gambar saat dia memakainya.


“Kak Zayna hebat, dia berhasil membesarkan anak-anaknya. Ketiganya tumbuh dengan sangat baik. Mereka juga saling menyayangi satu sama lain. Semoga saja mereka seperti itu seterusnya. Jangan sampai rasa iri membuat mereka bercerai berai,” gumam Zanita sambil menatap foto ketiga keponakannya. Sebenarnya dia juga merindukan keponakannya, tapi pekerjaannya masih menunggu.

__ADS_1


.


.


__ADS_2