
“Pa, apa Tante Indri juga tahu tentang kondisi Wina?” tanya Ayman.
“Biar nanti Papa menghubungi mereka. Bagaimanapun mereka juga keluarga Wina dan lebih punya hak atas diri Wina,” jawab Papa Hadi.
“Sebaiknya seperti itu,” sahut Rudi.
Mereka pun membicarakan langkah-langkah yang harus dilakukan demi menyembuhkan Wina. Semua mendengar penuturan Dokter Roni dengan saksama. Mereka berharap wanita itu bisa sembuh, seperti yang Roni katakan karena Wina belum terlalu parah.
“Baiklah, itu saja. Nanti kalau kamu perlu bantuan lagi, kamu bisa menghubungiku. Kebetulan aku ada obat dalam tas, kamu bisa memberikannya pada Wina. Katakan saja jika ini vitamin,” ujar Rudi pada sahabatnya.
Dokter itu meminta asistennya untuk mengambilkan obat dan dia berikan pada Papa Hadi. Sebelum itu, Rudi menuliskan dosisnya pada kemasan agar tidak salah.
“Terima kasih atas bantuannya, Rud," ucap Papa Hadi sambil memeluk sahabatnya.
“Sama-sama, kita ini teman.”
Dokter Rudi dan asistennya pun berpamitan kepada semua orang. Setelah itu, Papa Hadi menghubungi Tante Indri yang berada di luar kota. Dia meminta wanita itu untuk segera datang karena keponakannya berada di sini. Indri sempat terkejut karena tidak mengetahui kepergian keponakannya, mereka memang tidak tinggal satu rumah.
Tante Indri pun mengiyakan permintaan Papa Hadi. Mereka membuat janji untuk bertemu di luar saja agar Wina tidak tahu. Ada berapa hal yang perlu dijelaskan Papa Hadi pada Indri. Saat wanita itu bertanya Papa Hadi hanya mengatakan akan menjelaskan saat bertemu. Wanita itu merasa ada sesuatu yang sangat penting, tetapi tidak tahu apa itu.
Indri pun menyetujuinya. Yang ada dalam pikirannya hanya ada dua kemungkinan. Pertama, mengenai pernikahan Ayman dan Wina. Kedua, keluarga Hadi sudah mengetahui kondisi Wina.
“Bagaimana, Pa?” tanya Ayman.
“Indri menyetujuinya, tapi Papa tidak ingin bertemu di sini, jadi nanti kamu temani Papa. Biar Mama dan Zayna di rumah saja buat menunggu Wina. Siapa tahu nanti dia sadar. Dan kamu Kinan, ini sudah siang, kamu nggak pergi ke kampus? Jangan bilang kamu mau bolos hari ini.”
“Ah, iya, Pa. Sebentar lagi aku akan berangkat. Kelasnya juga agak siangan,” sahut Kinan.
__ADS_1
Padahal tadi gadis itu sangat serius mendengarkan pembicaraan orang tuanya, tetapi Papa Hadi malah bahas soal kuliah. Kalau dia ke kampus sudah pasti akan bertemu dengan dosen dingin itu. Kinan masih kesal dengan kejadian semalam.
****
Kinan berjalan memasuki kampus. Dia menuju ruangan kelasnya. Sebenarnya hari ini gadis itu sangat malas untuk pergi ke kampus karena masalah yang sudah terjadi di rumah pagi ini. Bukan hanya itu saja, Kinan juga malas bertemu dengan dosen yang mesum itu.
“Kinan, tumben kamu telat? Biasanya pagi sekali kamu sudah ada di perpus,” sapa Fara—teman Kinan.
“Iya, tadi ada sedikit masalah di rumah, jadi sedikit terlambat," jawab Kinan dengan senyum yang dipaksakan.
“Masalah apa? Bukan masalah mengenai Nayla dan Niko, kan?”
Kinan menyernyitkan kening sambil menatap heran pada sahabatnya. “Apa urusannya masalah keluargaku dengan Niko?”
“Ya, kan, kamu mantan pacarnya Niko, sedangkan sekarang Niko sudah pacaran sama Nayla. Mungkin keluargamu marah karena kamu tidak bisa mempertahankan hubunganmu itu."
Kinan tersenyum sinis. “Aku dan Niko sudah putus, sudah tidak punya urusan lagi. Lagian keluargaku juga nggak ada yang tahu kalau aku pernah pacaran. Sekarang aku sudah melupakan perasaanku sama dia. Laki-laki seperti dia itu, nggak pantas buat dipikirin, jadi buat apa masih bahas dia. Dia mau pacaran sama siapa, itu terserah dia.”
“Sebentar lagi kelas dimulai. Aku mau masuk dulu.”
“Barengan aja, yuk!”
Kinan mengangguk sambil berlalu menuju kelasnya. Di pertengahan jalan, dia bisa melihat Nayla yang sedang berdiri sambil bergelayut manja di lengan Niko. Namun, Kinan tidak peduli. Dia terus saja berjalan tanpa menghiraukan keberadaan dua orang itu. Saat akan melewati kedua pasang kekasih itu, Nayla memotong jalannya.
“Kinan, kamu nggak mau nyapa kita.”
“Oh, ada kamu di sini? Maaf aku nggak lihat, kalau kamu tahu ada aku, seharusnya kamu yang nyapa aku, kan, kamu yang lihatin aku. Dari tadi aku sibuk bicara sama Fara, jadi nggak lihat kamu ada di sini.”
__ADS_1
“Kamu kenapa bicara seperti itu? Kamu masih nggak rela, Niko jadian sama aku?” tanya Nayla yang dibuat sesedih mungkin.
“Siapa yang nggak rela, terserah kamu mau jadian sama siapa. Itu bukan urusanku. Aku juga nggak berhak mengatur perasaan orang lain."
“Tapi, kenapa kamu sekarang berubah sama aku. Dulu kamu begitu baik sama aku.”
“Karena aku sudah nggak mau berteman lagi sama kamu. Aku cuma mau berteman dengan orang-orang yang tidak akan pernah menghianatiku dan yang selalu ada untukku. Buat apa berteman dengan seorang pengkhianat. Masih banyak orang di dunia ini yang lebih baik, tidak harus mengandalkan satu orang, kan? Mohon maaf, sebentar lagi kelas akan dimulai, jadi aku harus masuk. Semoga kita tidak bertemu lagi.”
Kinan melanjutkan kembali langkahnya. Dia memang sudah memantapkan diri untuk tidak lagi bergabung dengan teman-temannya. Gadis itu ingin memiliki teman yang benar-benar tulus. Jika memang di kampus ini tidak ada mungkin di luar sana, dia bisa mendapatkan teman yang baik.
“Kinan kenapa bicara seperti itu?” tanya Nayla pada Fara. Dia kesal karena sebenarnya wanita itu ingin Kinan bersedih dan merasa kalah pada Nayla, tetapi kini malah baik&baik saja.
“Aku tidak tahu, tadi sewaktu dia turun dari mobil, tingkahnya sudah aneh seperti itu. Dia tampak berbeda dari biasanya lebih percaya diri.”
“Halah, itu juga paling untuk sementara. Nanti juga balik lagi, memang dasar cari perhatian saja.”
Dalam hati Nayla berjanji akan membuat Kinan tidak berguna. Semua orang harus memujanya karena dia adalah anak seorang pengusaha terkenal.
Sementara itu, Niko sedari tadi hanya diam memperhatikan mantan kekasihnya itu. Jujur dalam hati, pria itu masih sangat mencintai Kinan. Gadis itu sangat baik selama ini. Namun, hanya Nayla yang bisa memenuhi kebutuhannya.
Niko memiliki prestasi yang membanggakan, hingga dia mendapat beasiswa di kampus ini. Pria itu juga termasuk mahasiswa paling populer. Namun, Niko masih harus bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Orang tuanya yang berada di luar kota enggan untuk memenuhi kebutuhan pria itu.
Dari awal Niko kuliah di sini, keluarganya sangat menentang. Mereka ingin anaknya kuliah di kotanya saja, di bidang pertanian karena orang tuanya itu memiliki lahan pertanian yang sangat luas. Mereka ingin Niko meneruskan usaha orang tuanya. Namun, pria itu menolak. Dia ingin bekerja di perusahaan besar.
“Sayang, kamu kenapa lihatin Kinan terus, sih! Apa kamu menyesal sudah putus dengannya?” tanya Nayla dengan kesal.
“Tidak, dong, Sayang. Aku hanya merasa aneh saja melihat tingkah laku Kinan, itu saja. Mana mungkin aku menyesal putus dengannya. Aku justru senang karena sekarang aku bisa memiliki kamu yang lebih sempurna daripada dia,” sahut Niko yang pastinya itu berbeda dengan apa yang ada di dalam hati pria itu.
__ADS_1
.
.