
Setelah cukup lama menghabiskan waktu di danau itu sambil berbincang. Keduanya memutuskan untuk pulang, hari juga sudah mulai sore. Mengenai rencana pernikahan, Kinan menyerahkan semuanya pada Hanif. Mungkin nanti dia akan berkonsultasi dengan kakak dan kakak iparnya. Gadis itu tidak tahu apa pun mengenai pernikahan.
“Kinan, kamu mau mampir ke suatu tempat dulu? Atau mau beli sesuatu?” tanya Hanif saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.
Tangan pria itu tidak mau melepaskan genggamannya pada tangan Kinan. Padahal gadis itu sudah memperingatkan, bahwa saat ini Hanif sedang menyetir, tidak baik seperti ini. Namun, pria itu sama sekali tidak memedulikannya. Waktu yang terbatas untuk keduanya membuat Hanif ingin memanfaatkan pertemuan ini sebaik-baiknya.
“Nggak usah, Mas. Tadi juga aku sudah belanja sama Kak Zayna. Semenjak hamil Kak Zayna suka sekali belanja, apa pun yang menarik baginya pasti langsung dibeli,” jawab Kinan yang diangguki Hanif.
“Aku nanti mampir ke rumah, ya! Mau sekalian bilang sama mama dan papa kamu mengenai rencana pernikahan kita.”
“Itu terserah kamu saja, Mas. Lagi pula aku juga bingung harus bagaimana bicaranya sama papa dan mama. Pasti mereka juga akan kaget mendengar berita ini karena sebelumnya, aku sudah menolak untuk menikah.”
“Iya, tidak apa-apa. Nanti biar aku yang bicara sama kedua orang tua kamu.”
Kinan tersenyum sambil mengangguk. Dia senang Hanif selalu menjadi tameng bagi dirinya. Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga di halaman rumah gadis itu. Sudah ada mobil Papa Hadi dan Ayman yang terparkir di halaman rumah.
Kinan mengajak sang kekasih untuk segera masuk. Hanif berusaha untuk terlihat santai, padahal dalam hatinya dia benar-benar takut. Bagaimana jika kedua orang tua Kinan akan menolak rencana pernikahan ini, mengingat bagaimana keadaan gadis itu yang masih kuliah.
Dalam hati pria itu berdoa agar rencananya berjalan dengan lancar. Dia tidak ingin apa yang diusahakannya dari dulu harus berakhir sia-sia. Hanif sangat mencintai Kinan dan tidak ingin kehilangannya.
“Assalamualaikum,” ucap Kinan dan Hanif secara bersamaan. Keduanya berjalan beriringan memasuki rumah.
“Waalaikumsalam,” jawab Bik Ira yang sedang membersihkan ruang tamu.
“Barusan ada tamu, Bik?” tanya Kinan yang melihat wanita itu membersihkan bekas minuman yang ada di meja.
“Iya, Non. Tadi temannya Tuan datang, tapi saya tidak kenal siapa orangnya.”
“Sekarang Papa sama Mama ada di mana?” tanya Kinan sambil melihat ke dalam rumah.
“Baru saja masuk kamar, Non.”
“Iya, Bik. Kalau begitu aku masuk dulu,” ucap Kinan pada Bik Ira dan kemudian beralih menatap Hanif. “Mas, tunggu di sini, biar aku yang panggilin Papa sama Mama.”
“Iya.”
__ADS_1
Kinan pun berlalu menuju kamar orang tuanya yang berada di lantai dua. Begitu sampai di depan kamar orang tuanya, dia jadi ragu untuk mengetuk pintu. Beberapa kali gadis itu menarik napas dan membuangnya dengan pelan. Akhirnya Kinan memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
Hingga beberapa kali dan akhirnya terbuka. Tampak Mama Aisyah yang membukakan pintu. Wanita paruh baya itu sedikit terkejut, lalu berusaha untuk terlihat biasa saja.
“Kamu sudah pulang, Kin? Ada apa?” tanya Mama Aisyah.
“Di bawah ada Mas Hanif, Ma. Dia ingin bicara sama Papa dan Mama.”
“Mau bicara apa?”
“Katanya ada yang penting. Mama dan Papa turun saja."
Mama Aisyah mengangguk dan berkata, “Kamu duluan saja, biar Mama panggilin Papa dulu. Papa sedang ada di kamar mandi."
Kinan mengangguk dan kembali turun ke lantai satu. Dia ke dapur karena ingin membuatkan minuman untuk Hanif. Saat Kinan kembali ke ruang tamu, ternyata Mama dan Papanya sudah ada di sana. Mereka masih tampak berbasa-basi saling menanyakan kabar.
“Silakan diminum dulu, Mas,” ucap Kinan sambil maletakkan segelas minuman.
“Iya, terima kasih.” Hanif pun mengambil minuman tersebut dan menyesapnya dengan pelan.
“Begini, Om. Saya dan Kinan sudah sepakat untuk melangsungkan acara pernikahan tahun ini juga,” ucap Hanif membuat kedua orang tua itu terkejut.
Bagaimana tidak, sebelumnya gadis itu sudah mengatakan bahwa dirinya tidak ingin menikah lebih dulu. Putrinya bilang belum siap untuk menanggung tugas seorang istri, tetapi kenapa sekarang tiba-tiba pikiran itu berubah? Mereka penasaran, apa yang membuat Kinan mengubah pendiriannya.
Kedua orang tua itu menatap wajah putrinya, seolah bertanya lewat ekspresi gadis itu. Kinan hanya menunduk salah tingkah, dia tahu hal ini akan terjadi.
“Benar itu, Kinan?” tanya Papa Hadi pada putrinya.
“I–iya, benar, Pa.”
“Apa kamu tidak merasa diancam karena papa tahu, kemarin kamu dengan tegas menolak pernikahan ini. Sekarang malah tiba-tiba bilang ingin menikah. Jujur Papa sangat terkejut mendengarnya. Bukan Papa tidak senang kalau kamu ingin segera halal untuk menghindari dosa, tapi Papa merasa aneh saja tiba-tiba pendirian kamu yang berubah begitu saja. Biasanya sangat teguh pada pendirian."
“Pa, tidak ada yang mengancamku. Ini murni keinginanku sendiri untuk menikah. Aku hanya tidak ingin menambah dosa dengan selalu pergi bersama dengan Mas Hanif. Untuk mengendalikan diri tidak bertemu dengannya juga itu sangat sulit. Kami sudah terbiasa bersama.”
Papa Hadi menganggukkan kepala. Dia mulai mengerti alasan dari sang putri untuk mempercepat rencana pernikahan itu. Secara tidak langsung Kinan sudah mengakui keberadaan calon suaminya. Awalnya pria itu takut jika putrinya merasa terpaksa dengan pernikahan ini. Mengingat apa yang sudah Hanif lakukan untuk pertunangan ini.
__ADS_1
“Jika itu memang sudah keputusan kalian, Papa tidak bisa berbuat apa-apa. Yang menjalani semuanya itu kalian sendiri.”
“Mama juga akan selalu mendukung kalian jika memang apa yang kalian pilih itu benar. Mama percaya kalian bisa memikirkan masa depan kalian sendiri, tanpa kami yang ikut campur," sela Mama Aisyah.
“Terima kasih, Ma. Kalian selalu ada untukku dalam keadaan apa pun,” ucap Kinan sambil memeluk Mama Aisyah.
Dia begitu senang memiliki orang tua seperti mereka. Yang sangat mengerti akan dirinya. Papa Hadi dan Mama Aisyah juga sudah mengajari Kinan hidup mandiri dan tidak terlalu memanjakannya.
“Mengenai pernikahan kalian, nanti kita bicarakan juga dengan orang tuamu. Apa mereka juga sudah tahu mengenai rencana kalian ini?” tanya Papa Hadi.
“Belum, Om. Niatnya nanti setelah pulang saya akan bicara dengan mereka.”
“Baiklah, nanti kalau kamu sudah bilang sama orang tuamu, kabari kami. Kapan waktu yang tepat untuk saling berbicara. Kita rencanakan semua bersama-sama.”
“Iya, Om.”
“Kenapa kamu dari kemarin selalu manggil kami Om dan Tante? Padahal Kinan sudah memanggil orang tuamu Papa dan Mama. Seharusnya kamu juga seperti itu, mulai membiasakan dari sekarang," ucap Mama Aisyah.
Hanif menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa aneh dengan panggian itu, tetapi benar kata Mama Aisyah. Seharusnya pria itu juga sudah mulai membiasakan dengan panggilan itu.
“Maafkan saya, Om, Tante. Saya akan berusaha.”
“Papa, Mama." Ralat Mama Aisyah.
“I–iya, Papa, Mama.”
Mereka terlibat sedikit obrolan mengenai rencana pernikahan. Setelah itu, Hanif pamit undur diri. Mulai hari ini pasti dia akan sangat sibuk dengan persiapan pernikahan, tetapi pria itu akan berusaha memberikan yang terbaik untuk calon istrinya.
“Maaf, Pa, Ma, saya pamit dulu.”
“Iya, hati-hati. Jangan lupa kabari kami rencana pernikahanmu nanti.”
“Iya, Pa.”
.
__ADS_1
.