
"Assalamualaikum," ucap Hanif dan Adam secara bersamaan.
Tampak semua orang sudah berkumpul di ruang tamu. Ada juga Mama Aisyah di sana. Kinan juga ada, dia sedang duduk di atas kursi roda. Di sampingnya juga ada Erin. Perawat itu selalu mengikuti majikannya ke mana pun.
"Waalaikumsalam."
"Kamu dari mana saja, Mas? Kenapa bawa barang segini banyak?" tanya Kinan karena dia juga tidak tahu apa yang suaminya beli.
Tadi Hanif hanya mengatakan akan pergi ke sekolah, untuk melihat-lihat lingkungan di sana. Menurut sang suami Adam juga perlu tahu bagaimana situasi di sana. Bukan hanya sekadar tahu namanya saja.
"Ini perlengkapan Adam untuk sekolah, Sayang. Tadi juga dia yang pilih semuanya," jawab Hanif sambil duduk di samping istrinya.
Kinan meraih kantong kresek yang dibawa sang suami. Dia melihat-lihat apa saja yang ada di dalamnya. Ternyata banyak sekali yang sudah dibeli. Sebagai seorang ibu, wanita itu jadi merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apa pun.
"Mana tasnya, Mas?" tanya Kinan saat dia tidak mendapati tas sekolah untuk Adam.
"Astagfirullah! Aku sampai lupa hal itu, Sayang." Hanif menatap putranya. "Adam, kenapa tadi nggak ngingetin Papa kalau belum beli tas?"
"Kenapa kamu malah nyalahin Adam? Seharusnya kamu bisa tahu, perlengkapan anak sekolah itu apa saja, Mas. Namanya anak sekolah sudah pasti pergi bawa tas. Kalau nggak ada tas mau pakai apa?" Kinan terus saja mengomel, sementara Hanif hanya diam.
"Pakai kantong kresek juga bisa, Ma. Aku dulu juga pakai itu," jawab Adam membuat semua orang yang ada di ruang tamu terdiam.
Pantas aja anak itu tadi tidak meminta dibelikan tas. Ternyata dulu dia hanya memakai kantong kresek. Sungguh sangat miris bagi siapa pun yang mendengarnya. Bagi mereka yang orang tidak mampu, memang biasa saja, tetapi keluarga Adam termasuk orang berada, rasanya agak sulit diterima.
Tidak ada satu orang pun yang bisa berkata-kata lagi, setelah mendengar jawabannya Adam. Lidah mereka terasa kelu untuk menimpali ucapan anak itu. Mama Aida yang biasanya cerewet pun sama diamnya.
"Bagaimana kalau perginya sama Oma. Kamu 'kan tidak pernah pergi sama Oma! Oma juga nggak pernah beliin apa-apa buat kamu. Kali ini pergi sama Oma beli tas, ya?" sela Mama Aisyah yang tidak ingin ada suasana sedih di saat seperti ini.
Adam tampak ragu, dia menatap Kinan, seolah meminta persetujuan dari mamanya. Wanita itu pun mengangguk sambil tersenyum ke arah putranya. Tidak mungkin disaat seperti ini dia melarang Adam pergi. Bisa-bisa besok anak itu akan benar-benar memakai kantong kresek, untuk pergi ke sekolah.
__ADS_1
Tentu saja wanita itu tidak sampai hati melakukan hal tersebut. Andai saja Kinan bisa pergi ke mana pun, pasti dirinya sendiri yang akan mengantar sang putra. Semoga nanti saat kenaikan kelas, dia bisa mengantar Adam membeli segala peralatan sekolah.
"Iya, Oma."
"Nanti setelah makan siang, ya! Kamu juga pasti masih capek."
Adam hanya mengangguk, sementara Hanif sendiri merasa bersalah. Dia telah melupakan sesuatu yang penting juga bagi anak sekolah. Pria itu tadi mengira semua sudah lengkap, tetapi ternyata masih ada yang tertinggal.
"Maafin Papa, ya, Adam. Papa lupa beliin kamu tas."
"Tidak apa-apa, Pa. Aku juga biasanya nggak pakai tas."
"Sudah, nggak usah sedih-sedih, nanti Adam bisa pergi sama Oma Aisyah. Sekarang Oma mau dengar tadi Adam di sekolah ngapain aja? Suka nggak sama sekolahnya?" tanya Mama Aida yang memang sengaja ingin mengalihkan pembicaraan.
Dia juga ingin tahu apa saja yang menarik bagi Adam. Kinan juga tertarik dengan pembicaraan ini. Wanita itu tidak mau anaknya merasa terpaksa sekolah di sana.
"Sekolahnya bagus Oma, besar sekali. Banyak muridnya di sana. Ada mainannya juga."
Setelah cukup lama berbincang, Kinan meminta Adam untuk membawa barang-barangnya ke kamar. Nanti biar Erin yang membantu menata semuanya. Semoga apa yang tadi dibeli sang suami bermanfaat nantinya. Saat ini sudah waktunya makan siang.
Semua orang menuju ruang makan dan menikmati makan siang. Tentu saja mereka masih saja berbincang untuk menghindari kebosanan. Hanif sendiri tidak bisa lama-lama karena dia harus memimpin rapat siang ini di perusahaan. Pria itu pun menghabiskan makanan dan segera pergi menuju perusahaan.
Begitu juga dengan Kinan yang harus kembali beristirahat. Sudah cukup lama wanita itu duduk di kursi roda. Awalnya dia menolak karena ingin melihat sang putra menata semua barangnya. Namun, Erin dan Adam memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Keduanya meminta Kinan untuk beristirahat karena memang sudah waktunya. Mau tidak mau wanita itu kembali ke kamarnya.
****
Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa kini usia kandungan Kinan sudah sembilan bulan. Kandungannya pun juga sangat sehat. Wanita itu juga sudah bisa bebas bergerak ke mana pun, sejak usia kandungannya empat bulan. Erin sendiri masih bekerja di sana.
Awalnya Hanif ingin memberhentikan Gadis itu. Namun, Kinan melarangnya karena selama bekerja di sini, Erin tidak pernah melakukan kesalahan. Dia juga kasihan karena sedikit banyak, wanita itu mengetahui tentang kehidupan Erin dan adik-adiknya. Kinan tidak sampai hati jika harus memecatnya dan membuat gadis itu kembali bekerja sebagai perawat.
__ADS_1
Sementara itu, kini usia kandungan Zayna juga sudah menginjak delapan bulan. Wanita itu bersyukur karena bisa melewati usia kandungan tujuh bulan. Yang menurutnya sangat rawan karena dia juga pernah melewati masa itu. Namun, morning sick yang dialami masih tetap saja berlanjut sampai saat ini.
Akan tetapi, sudah tidak separah dulu. Sekarang hanya muntah-muntah saja. Tubuhnya pun masih tetap fit. Anak Bik Ira juga sekarang tinggal di sana, membantu wanita paruh baya itu bekerja. Meski awalnya Bik Ira sudah mengatakan kalau tidak perlu menggaji putrinya, tetapi Mama Aisyah bukan orang yang seperti itu.
Dia tetap memberi gaji pada Nina—anak Bik Ira, terapi hanya setengah dari gaji ibunya. Mengingat jika gadis itu hanya bekerja setengah hari karena dia masih harus kuliah. Sebenarnya Zayna kurang suka dengan keberadaan Nina di rumah. Gadis itu selalu suka seenaknya. Menganggap rumah ini adalah miliknya. Bukan masalah untuknya, asal masih dalam batas wajar.
"Aduh, Mama kalau lihatin kamu jalan gini, perut Mama jadi yang merasa ngilu," ucap Mama Aisyah sambil melihat ke arah perut Zayna yang memang begitu besar. Dokter sudah mengatakan jika janin wanita itu kali ini ada dua dan dua-duanya perempuan. Entah nanti kalau lahir.
"Maklum saja, Ma. Kan, ada dua," sahut Zayna yang ikut duduk bersama mertuanya yang sedang menonton televisi. Baby Ars sedang asyik dengan mainannya. Anak itu kini sudah bisa berjalan.
"Bagaimana waktu pemeriksaan terakhir? Kalian sehat-sehat, kan?"
"Alhamdulillah, semua baik-baik saja. Dokter juga bilang kalau berat badanku sudah cukup. Semoga nanti pas hari H-nya berjalan dengan lancar, tapi kata dokter aku tidak bisa melahirkan secara normal jadi, harus caesar. Posisi bayi juga tidak memungkinkan. Kalau dipaksakan takut terjadi sesuatu jadi, Mas Ayman sudah memutuskan untuk operasi caesar saja. Mas Ayman dan dokter juga sudah menentukan harinya."
Mama Aisyah mendengarkan apa yang dikatakan Zayna dengan hati-hati. Dia tidak ingin kejadian sebelumnya akan terjadi lagi.
"Kapan kira-kira operasinya,?"
"Sekitar tiga minggu lagi."
Mama Aisyah mengangguk, Kinan juga seharusnya akhir bulan ini melahirkan, tetapi belum juga ada tanda-tanda. Semoga saja putrinya juga baik-baik saja saat melahirkan nanti. Tidak peduli bagaimana prosesnya, yang penting ibu dan anaknya sehat dan selamat.
"Apa pun itu, semoga memang yang terbaik untuk kamu dan anak-anak kamu. Kalau Mama yang penting semuanya berjalan dengan lancar, sehat, itu sudah cukup."
"Iya, Ma. Aku juga tidak mau ambil resiko. Aku sudah pernah merasakan hal itu. Apalagi sekarang ada dua nyawa di dalam perutku. Aku tidak sampai hati jika harus ada yang dikorbankan," ucap Zayna dengan menarik napas dalam-dalam. Seperti ada sesuatu yang mengganjal. "Kalau Kinan bagaimana, Ma? Bukankah seharusnya sebentar lagi dia lahiran?"
"Kata dokter, perkiraannya akhir bulan ini, tapi tidak tahu kapan. Perkiraan dokter juga tidak tentu. Kita tunggu saja kabar baik dari mereka. Mama juga sudah beberapa hari tidak ke sana. Terakhir ke sana waktu Hanif ambil raport Adam waktu semester pertama kemarin. Alhamdulillah anak itu dapat nilai yang lumayan, dibandingkan waktu pertama kali masuk. Anak itu sama sekali tidak mengerti apa pun."
"Iya, Ma. Kinan juga sempat mengeluh mengenai hal itu. Untung saja anak itu cepat tanggap jadi, tidak terlalu membuat pusing kedua orang tuanya."
__ADS_1
.
.