Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
254. S2 - Datang membawa sang kekasih


__ADS_3

"Terus sekarang rencananya, Kakak mau bagaiman?" tanya Aina pada kakaknya.


Arslan membuang napas kasar. "Itulah, Kakak juga bingung mau bagaimana. Kakak sendiri tidak tahu video Itu disimpan di mana. Mencari keterangan dari dia itu susah banget."


Sebenarnya Arslan juga sudah lelah ingin mengakhiri semuanya. Namun, apa yang dicarinya belum juga dapat. Sekarang ditambah Imel banyak bertingkah seperti sekarang. Dia tidak tahu apa jadinya jika hal ini dibiarkan berlarut-larut.


"Kak, kalau aku boleh saran, lebih baik Kakak temui teman kakak itu. Bilang kalau Kakak nggak bisa melakukan hal itu lagi. Kakak sama saja mempermainkan perasaan orang. Meskipun Imel itu wanita yang jahat, tapi tidak sepantasnya Kakak mempermainkan perasaannya juga. Bagaimana kalau suatu hari nanti ada seorang wanita, yang juga ingin mempermainkan perasaan Kakak. Dia juga punya alasan yang sama, ingin balas dendam. Kita tidak tahu seberapa banyak orang di luar sana yang membenci kita," ujar Ainaya.


"Tapi Kakak sudah janji mau membantunya, Kakak tidak bisa lepas begitu saja."


"Membantu, sih, membantu, tapi tidak harus seperti ini!" seru Aina yang sudah kesal dengan kakaknya.


"Sudahlah, Na. Sebaiknya kita bantu Kak Arslan. Aku juga sudah geram sama Imel," sela Aini membela kakaknya. Dia juga ingin memberi pelajaran pada wanita itu.


"Kamu malah ikut-ikutan kakak." Aina kesal karena kembarannya justru membela kesalahan Arslan.


"Aku sangat penasaran, sejauh mana Imel berhubungan dengan pria di luaran sana, sampai punya video seperti itu. Aku pikir selama ini dia hanya suka berpacaran untuk menguras harta saja. Sekarang malah melebihi apa yang aku pikirkan." Aini bergidik ngeri membayangkan apa yang dilakukan Imel.


"Kamu ini malah pikirannya ke sana," tegur Arslan dengan menjentikkan jarinya ke kening sang adik, membuat Aini mengadu kesakitan. Pria itu pun menatap adiknya yang lain. "Ayolah, Aina! Cobalah untuk mengerti keadaanku, untuk kali ini saja. Tolong bantu aku, ya! Imel itu orangnya pandai sekali berakting. Bahkan tadi di depan mama saja dia terlihat seperti wanita baik dan polos."


Aini dan Aina saling pandang, keduanya juga bingung harus berkata apa. Satu sisi perbuatan kakaknya tidak dibenarkan sama sekali. Akan tetapi, di sisi lain dia juga kasihan pada kakaknya, yang sudah terlanjur janji kepada temannya. Apalagi Imel itu bukan wanita baik-baik, pasti. Dia juga sudah menjerat seorang pria beristri. Mungkin akan ada korban-korban lainnya.


"Baiklah, aku akan bantu Kakak," ucap Aini membuat Arslan begitu bahagia. Pria itu menatap Aina yang belum memberikan jawaban.


"Ya sudahlah, terserah kalian, aku ikut saja," sahut Aina yang sudah tidak ada pilihan lain.


Mereka pun memikirkan rencana apa yang akan dilakukan nanti pada Imel. Sejujurnya mereka juga takut jika orang tua mereka sampai mengetahuinya.


"Bagaimana kalau mama dan papa sampai tahu masalah ini?" tanya Aina membuat semua orang terdiam. Mereka tidak memikirkan masalah ini dengan benar.


"Mengenai itu, Kakak akan tanggungjawab sepenuhnya."

__ADS_1


****


Ini hari Minggu, seluruh keluarga masih bersantai di rumah. Adam sudah memberitahukan kepada kedua orang tuanya jika hari ini, Alina akan datang. Kinan dan Hanif pun tidak keberatan karena memang mereka juga tidak ada rencana untuk pergi. Kalau Zea, dia pergi bersama dengan si kembar untuk membantu Arslan melanjutkan misinya.


Semalam Arslan dan si kembar, memang sudah memutuskan untuk melakukan semuanya malam ini. Mereka tidak ingin semuanya berlarut-larut dan akan semakin membuat Arslan terikat dengan Imel. Si kembar juga mengajak Zea, untuk membantu.


Pagi-pagi setelah sarapan, Adam pergi ke apartemen sang kekasih untuk menjemputnya dan dibawa ke rumah. Alina merasa sangat khawatir, dia takut jika kedua orang tua Adam tidak menyukainya. Namun, sang kekasih mencoba untuk meyakinkan gadis itu. Kalau kedua orang tua Adam pasti bisa menerimanya dengan baik.


“Assalamualaikum,” ucap Adam dan Alina secara bersamaan, saat memasuki rumah.


Tidak ada satu orang pun yang menjawab salam. Padahal biasanya ada Kinan di ruang keluarga. Rumah tampak begitu sepi, Adam pun meminta Alina untuk duduk di ruang tamu lebih dulu, sementara dirinya akan mencari kedua orang tuanya. Entah ada di mana mereka saat ini.


Alina mengangguk sebagai jawaban. Adam segera masuk ke dalam rumah. Dia pergi ke kamar kedua orang tuanya, barangkali mereka ada di sana. Namun, sayang, tidak ada satu orang pun di sana. Pria itu mencoba mencari ke semua tempat, ternyata Papa Hanif dan Mama Kinan ada di taman samping rumah, sementara Bik Isa dan Erin sedang menjemur pakaian yang juga di sana.


“Wah! Ternyata semua orang ada di sini. Aku sudah cari ke mana-mana," ucap Adam sambil berjalan mendekati kedua orang tuanya.


"Eh, kamu sudah datang?" tanya Mama Kinan yang baru saja menikmati minumannya.


"Iya, Ma. Aku datang sama Alina, dia ada di ruang tamu sendirian. Ayo, kita keluar!" ajak Adam.


"Assalamualaikum, Tante, Om," sapa Alin begitu melihat Adam datang bersama dengan kedua orang tuanya.


"Waalaikumsalam, duduk saja," sahut Kinan dengan tersenyum. Mereka semua pun duduk di sofa. Adam memilih duduk di samping sang kekasih.


"Nama kamu siapa?" tanya Kinan sambil menatap gadis itu.


"Nama saya Alin, Tante."


"Sudah lama kenal sama Adam?"


"Sudah dua tahun lebih, Tante. Kenal juga nggak sengaja saat itu kami bertemu di pesta ulang tahun teman," jawab Alina yang diangguki Kinan.

__ADS_1


"Adam sudah cerita sama saya, kalau dia ingin menikah sama kamu. Kalau menurut kamu sendiri bagaimana? Apa kamu sudah siap menikah? Zaman sekarang banyak sekali wanita yang ingin mengejar karir terlebih dahulu, daripada harus menikah."


"Insya Allah saya siap, Tante. Karena memang sebelumnya saya dan Adam memang sudah ada rencana ke sana. Kedua orang tua saya juga selalu mendesak saya agar segera menikah. Mereka selalu bilang, terlalu lama berpacaran juga tidak baik, hanya akan semakin menambah dosa saja."


Kinan kembali mengangguk sambil tersenyum. Dia juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh orang tua Alina. Wanita itu juga tidak ingin membuat Adam berdosa. Akan tetapi, menyetujuinya begitu saja, rasanya sangat berat. Kinan juga tidak mengenal keluarga mereka.


"Kalau kamu sendiri, punya rencana nggak kedepannya, setelah kalian menikah. Seperti, mau tinggal di mana, rencana soal anak 6 lainnya."


"Kalau saya rencananya mau tinggal di apartemen saya saja, Tante."


"Kenapa di apartemen? Kan, lebih enak di rumah? Nanti anak-anak juga bisa bersosialisasi dengan para tetangga. Kalau di apartemenkan sangat jarang sekali."


"Kalau untuk jangka panjangnya, saya belum ada rencana, Tante. Nanti bisa dibicarakan lagi sama Mas Adam."


Erin datang dengan membawa minuman. Kinan pun mempersilakan tamunya untuk menikmati minuman. Banyak hal yang mereka bicarakan, mengenai masa depan Adam dan Alina. Termasuk juga rencana pernikahan.


Kinan dan Hanif menyerahkan semuanya pada Adam dan Alin. Keduanya tidak ingin dibilang terlalu mencampuri urusan anak-anak. Mereka hanya akan mengawasi dari jauh. Jika ada sesuatu yang kurang, barulah Hanif dan Kinan akan bersuara.


"Kedua orang tua kamu sudah mengetahui rencana pernikahan kamu dan Adam?" tanya Papa Hanif.


"Belum, Om, tapi mereka pasti senang kalau aku memberitahunya. Mereka juga sudah menginginkannya dari dulu."


"Segera bicarakan dengan orang tuamu, nanti kalau semuanya sudah pasti, kamu bilang pada Adam, kapan kami bisa datang ke rumah kedua orang tuamu untuk melamar."


"Iya, nanti akan saya sampaikan."


Adam begitu senang kedua orang tuanya bisa menerima kehadiran Alina dengan tangan terbuka. Padahal sebelumnya dia takut jika mereka akan menolak, terutama Zea. Gadis itu yang selalu membuat masalah saat dirinya membawa wanita, tetapi kini adiknya itu malah pergi entah ke mana. Tadi saat sarapan masih ada di rumah.


Setelah cukup lama berbincang, Alina pamit undur diri. Adam pun mengantar sang kekasih ke apartemennya.


"Bagaimana menurut Papa? Apa dia gadis yang baik?" tanya Kinan sambil melihat kepergian Adam dan kekasihnya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2