
"Tadi siang Kinan ke sini sama Adam, Mas," ucap Zayna saat dirinya dan sang suami sudah berada di kamar.
Baru saja wanita itu menidurkan putranya. Saat ini dirinya bersiap untuk tidur. Namun, dia ingin meluangkan waktu sebentar untuk berbincang dengan sang suami. Sudah menjadi kebiasaan mereka setiap akan tidur.
Zayna tidak ingin kebiasaan itu hilang begitu saja. Sebisa mungkin wanita itu akan mengusahakan bisa berbincang sejenak untuk saling meluapkan semua suka duka hari ini.
Ayman mengerutkan keningnya, dia merasa tidak mengenal pria yang bernama Adam. "Adam anak yang ditabrak Hanif waktu itu?"
"Iya, tadi juga Kinan juga bercerita tentang keluarga anak itu. Kasihan sekali dia, Mas. Dia seperti anak terbuang."
"Anak terbuang bagaimana?" tanya Ayman yang memang belum tahu mengenai cerita anak itu.
Zayna pun menceritakan apa yang dia dengar dari Kinan, tanpa mengurangi sedikit pun. Ayman begitu terkejut mendengarnya. Apalagi dengan nada suara istrinya yang bergetar. Dia tahu jika sang istri juga ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh anak itu.
Mengingat masa lalu Zayna juga hampir sama dengan Adam. Meskipun dia masih diterima di rumah, tetapi wanita itu juga mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari ibu tiri dan juga saudaranya.
"Aku berharapnya Kinan mau merawat anak itu dengan baik, Mas. Jika pun Kinan Tidak bisa merawatnya, aku siap untuk merawatnya. Kamu keberatan 'kan kalau aku merawatnya?" tanya Zayna sambil melihat ke arah sang suami.
Ayman tersenyum sambil mengusap rambut sang istri. "Aku mengerti bagaimana perasaan kamu. Aku pun tidak keberatan jika kamu memang punya niat seperti itu, tapi Hanif sudah mengurus surat-menyurat mengenai surat adopsi Adam."
"Mas tahu dari mana?"
"Papa yang bilang, aku tidak begitu tahu karena aku tidak mau ikut campur urusan mereka. Yang penting semuanya berjalan lancar, itu sudah cukup."
Zayna tersenyum, wanita itu merasa senang sekaligus lega, setelah mendengar bahwa Adam sudah ada yang mau merawat. Dia takut jika anak itu akan kembali ke keluarganya dan mendapat perlakuan yang tidak adil.
"Syukurlah kalau memang seperti itu. Aku senang mendengarnya."
__ADS_1
Ayman menghela napas panjang, membuat Zayna menatap sang suami. Dilihat dari wajahnya, pria itu sepertinya sedang banyak pikiran.
"Kamu kenapa, Mas? Apa ada masalah?"
"Tidak, hanya terkadang aku merasa jenuh, setiap hari melakukan pekerjaan dan melaksanakan hal yang sama. Aku ingin sekali menghabiskan waktu dengan kamu dan Baby Ars. Kita bersenang-senang, melupakan segala beban yang ada, tapi saat keinginan itu ada, sudah pasti setelahnya akan ada banyak sekali pekerjaan yang menumpuk." Ayman menundukkan kepalanya, rasa bosan benar-benar datang menghampirinya.
"Yah, memang begitulah hidup. Kita harus tetap terus berjalan meski kita tidak suka. Selelah apa pun kita, semuanya harus tetap dikerjakan. Bukannya aku ingin kamu bersikap layaknya atasan yang tidak bertanggung jawab. Tidak ada salahnya 'kan kalau kamu mengambil libur. Kamu juga punya anak buah yang bisa mengambil alih pekerjaan kamu."
"Memang benar, Sayang, tapi ada beberapa juga pekerjaan yang tidak bisa mereka kerjakan. Hanya ada beberapa sih, tapi tetap saja aku juga nggak tega dengan mereka. Mereka juga pasti akan sama sepertiku, yang ingin berkumpul dengan keluarganya. Sudahlah, apa pun itu, ini semua aku lakukan juga untuk kalian dan juga untuk keluarga para pegawai. Banyak diantara mereka yang masih sangat membutuhkan pekerjaan ini. Aku tidak ingin membuat mereka sengsara karena atasannya yang pemalas," pungkas Ayman yang mencoba membesarkan hatinya.
"Aku semakin bangga memiliki suami seperti kamu."
Ayman tersenyum dan memeluk sang istri. "Sudah larut, tidur yuk! Nanti kita juga pasti akan dibangunkan oleh Baby Ars," ucap Ayman yang diangguki oleh Zayna. Keduanya pun merebahkan tubuhnya. Pria itu merentangkan tangannya agar sang istri masuk ke dalam pelukannya.
Sementara itu, Kinan dan Hanif juga masih terjaga. Keduanya membicarakan masalah Adam. Pria itu tidak ingin menutupi apa pun dari istrinya. Dia tahu jika Kinan selalu saja mengkhawatirkan keadaan Adam.
"Aku sudah menemukan orang tua Adam." Hanif memulai pembicaraan dengan serius ini. Kinan yang semula memainkan ponselnya pun segera menatap sang suami. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan pria itu.
Dia tidak ingin Adam dilukai oleh keluarganya, sudah cukup selama ini mereka memperlakukan anak itu dengan tidak baik. Keluarga itu tidak punya perasaan, Kinan tidak ingin Adam diperlakukan tidak adil lagi.
"Tidak, aku sudah berbicara dengan pengacara. Menurutnya lebih baik kita meminta izin pada keluarga Adam. Jika mereka menolah, terpaksa kita harus menggunakan sedikit ancaman."
"Maksud kamu?"
"Kita kan punya beberapa bukti saat Adam ditelantarkan sama mereka, jadi kita minta tanda tangan mereka dengan mengancam kalau mereka tidak mau tanda tangan, kita terpaksa melaporkan mereka ke pihak yang berwajib. Meskipun aku yakin sih tanpa ancaman pun mereka pasti mau memberikan Adam. Paling tidak mereka pasti akan meminta uang. Aku juga sudah menyiapkan jika mereka memang benar-benar meminta uang."
"Apa tidak apa-apa, Mas, seperti itu? Aku takutnya mereka akan menolak keinginan kita."
__ADS_1
"Tidak, ibu tirinya pasti akan mengizinkan begitu saja. Hanya tinggal meyakinkan papanya Adam saja, tapi melihat keadaan pria itu yang selalu menuruti keinginan istrinya, pasti tidak akan sulit untuk membujuknya."
"Semoga saja seperti itu, ya, Mas."
"Iya, mudah-mudahan besok semuanya lancar. Aku akan pergi bersama dengan pengacara ke tempat tinggal Adam. Apa kamu mau ikut?"
"Aku ada kelas, Mas. Kalau ikut ke luar kota sama kamu, sudah pasti akan pulang sore."
Kinan sebenarnya ingin ikut, tetapi dia tidak mungkin membolos lagi, kemarin saat Adam di rumah sakit, wanita itu tidak pernah datang ke kampus. Jika sekarang lagi, sudah pasti akan ada masalah dengan Frans sebagai dosennya.
"Iya, tidak apa-apa. Kamu kuliah saja, aku akan meyakinkan keluarga Adam agar melepaskan anak itu."
"Apa Adam juga perlu ikut sama kamu ke sana, Mas?"
"Kata pengacara memang harus ikut, untuk meyakinkan kita bahwa mereka memang orang tua Adam. Nanti aku bawa orang yang bisa menjaganya agar dia tidak mendengarkan pembicaraan kita nanti. Aku takutnya dia akan semakin sakit hati begitu mendengar pembicaraanku dengan orang tuanya."
Ada perasaan tidak rela jika Adam ikut, tetapi ada benarnya juga apa yang dikatakan Hanif. Ini semua juga demi kebaikan mereka nanti.
"Memang kamu mau ajak siapa?"
"Mama kalau mau, kalau tidak mungkin Bik Isa atau orang-orang yang biasanya dekat dengan Adam."
"Yang paling dekat dengan dia cuma penghuni rumah ini, Mas. Adam juga tidak pernah pergi keluar."
Hanif mengangguk, benar apa yang dikatakan sang istri. Adam memang tidak pernah keluar. Padahal dirinya maupun Kinan tidak pernah melarang anak itu untuk berinteraksi dengan para tetangga. Mereka malah senang jika Adam bisa berbaur dengan anak seusianya.
Kinan juga sudah meminta Adam untuk bermain di taman kompleks, di sana biasanya banyak anak-anak bermain bola. Namun anak itu selalu menolak dengan alasan Lebih enak bermain sendiri di rumah.
__ADS_1
.
.