Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
325. S2 - Ingin menjemput


__ADS_3

Aina menutup mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang mertua. Ternyata dampak dari semua ini begitu besar untuk sang suami, tetapi kenapa Ali sama sekali tidak mengatakan padanya kemarin? Ali memang meminta doa padanya agar Tuhan memberi kemudahan dalam setiap langkahnya. Namun, dirinya tidak menyangka jika inilah yang dimaksud oleh pria itu.


"Lalu sekarang Mas Ali mencari kerja di mana, Bu?" tanya Aina.


"Mengenai hal itu Ibu tidak tahu. Tadi Ali juga tidak mengatakannya."


Sementara itu, Ayman hanya terdiam. Bisa saja dia memberi pekerjaan, tetapi pria itu juga ingin melihat usaha dari menantunya. Sejauh apa Ali berusaha untuk bertanggungjawab dan menafkahi keluarganya. Semoga Tuhan melancarkan usaha Ali agar bisa secepatnya mendapat pekerjaan. Ayman juga ingin yang terbaik untuk anak dan menantunya.


"Ibu mohon maaf sama kamu, Ibu sudah sangat berdosa selama ini. Ibu mengerti jika kamu memang tidak mau memaafkan Ibu karena sudah terlalu banyak kejahatan yang Ibu lakukan," ucap Bu Nur dengan menundukkan kepala. Air matanya juga ikut mengalir seiring rasa bersalahnya yang begitu besar pada sang menantu.


Aina mendekat ke arah sang mertua dan duduk di sana. Dia menggenggam telapak tangan Bu Nur dan tersenyum lembut. Di hatinya sama sekali tidak pernah ada dendang untuk siapa pun. Wanita itu tahu jika setiap manusia juga pasti pernah melakukan kesalahan, sama seperti dirinya.


"Bu, aku sudah memaafkan Ibu sebelum Ibu minta maaf. Aku juga minta maaf jika selama menjadi menantu Ibu aku selalu membuat Ibu kesal."


Bu Nur menggeleng dengan cepat. "Kamu tidak pernah melakukan kesalahan apa pun, tidak perlu meminta maaf. Ibu lah yang sudah membuat kamu susah, bahkan sampai membuatmu masuk rumah sakit."


"Ya sudah, Bu. Kita lupakan saja semuanya, aku juga sekarang sudah baik-baik saja."


"Tapi tetap saja Ibu bersalah sama kamu."


"Sudah sekarang kita doa sama-sama buat kebaikan Mas Ali agar dia cepat mendapat pekerjaan."


"Amin," sahut Bu Nur yang kemudian menatap menantunya. "Na, kamu mau ikut Ibu pulang, kan?" tanyanya sesekali dia melirik ke arah besannya takut jika pria itu akan marah.


Aina tahu apa yang menjadi kekhawatiran sang mertua, tetapi dia juga tidak mungkin pergi begitu saja. "Ibu jangan khawatir, aku akan pulang, tapi nanti setelah satu bulan. Aku juga kangen sama orang tuaku, kemarin aku sudah bilang sama Mas Ali kalau aku akan tinggal di sini selama satu bulan."


"Baiklah, Ibu tidak akan memaksa. Kamu jaga diri baik-baik. Ibu dan Fiani balik pulang dulu," pamit Bu Nur yang kemudian memeluk Aina, Fiani juga melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Iya, Ibu hati-hati di jalan."


Bu Nur dan Fiani pun berpamitan pada keluarga Ayman dan segera meninggalkan rumah itu. Aina hanya mengantar sampai depan, hingga taksi yang dipesan datang dan segera pergi.


Di malam hari, Aina mendapat telepon dari sang suami. Dia pun menanyakan tentang pekerjaan Ali dan memang benar suaminya sudah mengundurkan diri. Tadinya pria itu tidak ingin mengatakan pada istrinya dulu, sampai dia mendapatkan pekerjaan, tetapi ternyata ibunya sudah datang ke sana. Padahal sampai sekarang pun Ali belum mendapatkan pekerjaan.


Semua tempat yang dia datangi selalu mengatakan jika mereka tidak membuka lowongan pekerjaan. Entah itu benar atau memang alasan yang sengaja dibuat-buat.


"Maafkan aku, ya, Dhek. Bukan maksudku untuk menutupi semuanya dari kamu. Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir," ucap Ali yang merasa bersalah pada istrinya.


"Tidak apa-apa, Mas. Lain kali kamu harus mengatakan semuanya padaku."


"Iya, ke depannya aku pasti akan mengatakan semuanya. Tidak akan ada yang aku tutup-tutupi," jawab Ali dengan yakin. "Dhek, boleh nggak aku datang ke sana sesekali untuk melihat keadaanmu. Aku juga ingin bertemu denganmu."


"Rumah orang tuaku selalu terbuka untuk kamu, Mas. Papa memang melarang aku untuk pulang bersamamu, tapi bukan berarti Papa melarang kamu untuk datang ke sini."


"Iya, Mas."


"Ya sudah, kamu istirahat saja. Ini sudah malam, jangan lupa mimpikan aku."


Wajah Alina memerah karena malu. Namun, sebisa mungkin suaranya terdengar biasa saja. "Iya, Mas. Kamu juga harus istirahatlah. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Sejujurnya Aina sangat tahu jika sang suami masih sangat ingin mengajar di pondok, tetapi keadaan yang memaksanya untuk berhenti. Dia juga tidak ingin pria itu merasa tertekan, biarlah Ali mengambil keputusan sendiri.


Satu bulan telah terlewati. Ali datang ke rumah sang mertua setiap satu minggu sekali. Untung saja Papa Ayman mengizinkan karena memang sang mertua tidak pernah melarang sebelumnya.

__ADS_1


Semalam Ali berjanji akan menjemput istrinya pagi ini. Namun, Sekarang waktu sudah hampir siang, tetapi pria itu tidak kunjung datang. Hal itu tentu saja membuat Aina khawatir . Dia takut jika sang suami berubah pikiran dan tidak mau menjemputnya.


"Ma, apa mungkin Mas Ali batal menjemputku? Kenapa sampai siang begini belum sampai juga?" tanya Aina di tengah rasa khawatirnya.


"Kamu tenang saja, sebentar lagi juga suamimu akan datang. Bukankah dia sudah berjanji sama kamu."


"Iya, Ma, tapi ini sudah siang."


"Kamu sabar, dong! Nanti juga Ali pasti akan sampai. Mudah-mudahan memang tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya."


Mendengar apa yang dikatakan mamanya semakin menambah kekhawatiran Aina. Namun, wanita itu mencoba untuk menenangkan diri dan menunggu sang suami dengan tenang. Tidak berapa lama terdengar suara motor memasuki halaman rumah. Dia yakin jika itu adalah suara motor suaminya dan benar saja pria yang sejak tadi dia tunggu masuk ke dalam rumah dengan pakaian yang sudah tidak rapi lagi.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, kenapa pakaian kamu kotor begini, Mas?" tanya Alina sambil memandangi sang suami dari atas sampai bawah.


"Tadi di jalan motornya mogok, jadi terpaksa harus bongkar sebentar."


Alina menghela napas lega, apa yang ditakutkan tadi ternyata tidak terbukti. "Kenapa nggak dibawa ke bengkel saja?"


"Bengkelnya masih jauh, Dhek. Ini tidak apa-apa, aku juga bisa sedikit-sedikit."


"Ya sudah, sebaiknya kamu bersihkan tubuh kamu dulu. Papa ada di belakang, nanti setelah kamu mandi baru temui mereka."


Ali mengangguk dan menuju kamar sang istri, di sana juga ada baju pria itu yang sebelumnya memang ditinggal di sini. Saat dia sedang mandi Aina memilih dapur untuk pembuatan sang suami teh hangat. Memang sudah menjadi kebiasannya untuk meminumnya saat dalam keadaan lelah.


.

__ADS_1


__ADS_2