Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
38. Sarapan


__ADS_3

Zayna menata semua makanan di atas meja, dibantu oleh Bik Ira. Dia juga menyiapkan teh hangat untuk sang suami, untuk papa mertuanya secangkir kopi. Sementara untuk para perempuan cukup susu hangat saja. Bik Sudah menjelaskan kebiasaan setiap orang di pagi hari dan apa saja kesukaan mereka.


Tidak sulit bagi wanita itu menyiapkan semuanya karena dirinya sudah terbiasa melakukan pekerjaan ini. Apalagi di rumah ini ada Bik Ira yang membantunya. Berbeda di rumahnya dulu, semuanya Zayna lakukan sendiri.


"Bibi tolong lanjutin, ya! Aku mau panggil Mas Ayman," ucap Zayna sambil mencuci tangannya.


"Iya, Nyonya, tenang saja."


Sebenarnya Zayna merasa risih dipanggil nyonya, Dia lebih suka dipanggil nama atau nak saja, tetapi Bik Ira menolak memanggil seperti itu. Akhirnya wanita itu menerima saja dan tidak memaksa.


Zayna pun pergi memasuki kamar untuk memanggil sang suami. Ternyata Ayman sedang duduk santai di ranjang sambil memeriksa pekerjaannya di laptop. Dulu saat di rumah kontrakan pria itu selalu melihat pekerjaannya lewat ponsel, sekarang dia bisa leluasa memakai laptop.


"Mas, gak kerja?" tanya Zayna sambil duduk di samping sang suami.


"Belum, hari ini aku mau libur dulu. Besok saja kerjanya. Aku juga sudah bilang sama papa kalau hari ini aku kerja dari rumah."


Zayna mengangguk sambil menatap sang suami yang sedang serius. Ayman terlihat sangat tampan, membuat wanita itu semakin jatuh cinta. Tanpa sadar dia tersenyum dan tepat saat itu suaminya menoleh.


"Kenapa senyum-senyum? Hayo lagi ngelamunin apa?" tanya Ayman.


"Nggak ngelamunin apa-apa," jawab Zayna. "Hanya ngelihatin kamu yang semakin tampan," lanjutnya yang membuat Ayman terdiam.


Baru kali ini Zayna memuji suaminya. Bahkan Ayman perlu waktu beberapa saat untuk memastikan apa yang baru saja didengarnya. Pria itu tersenyum sambil menatap istrinya.


"Kamu mengakui juga kalau aku tampan," ujar Ayman dengan tersenyum.


"Karena kamu memang tampan, kan! Ayo, kita sarapan dulu! Makanan sudah siap," ajak Zayna mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah, ayo!" Ayman mematikan laptop dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Terima kasih sudah memujiku. Kamu juga cantik," lanjutnya dengan berbisik.


Zayna menunduk malu. Padahal dia tidak ada niat apa pun tadi saat memuji suaminya. Kenapa sekarang Ayman malah menggodanya? Wanita itu benar-benar malu, tidak tahu sekarang wajahnya seperti apa.


Pria itu berjalan keluar diikuti sang istri di belakang dengan tangan saling menggenggam satu sama lain. Ternyata di meja makan sudah ada papa dan mamanya. Keduanya sedang berbincang sambil menikmati minuman terlebih dahulu.

__ADS_1


"Selamat pagi, Pa, Ma," sapa Ayman.


"Selamat pagi."


"Bik, kok, Kinan belum turun?" tanya Aisyah.


"Tadi sudah saya panggil, Nyonya. Katanya sebentar lagi," jawab Bik Ira yang diangguki Aisyah.


"Kamu nggak kerja, Ayman?" tanya Mama Aisyah.


"Tidak, Ma. Besok saja, hari ini aku bekerja dari rumah seperti sebelumnya."


"Selamat pagi semua!" seru Kinan yang baru datang. "Masakan hari ini, sepertinya enak, nih! Ada sambalnya lagi. Tiba-tiba aku sangat lapar padahal aku lagi diet," lanjut Kinan sambil mengusap perutnya.


"Sudah, nggak usah diet. Makan saja, sayang sekali loh ini nggak dimakan. Nanti kamu di kampus nggak bisa tenang, mikirin makanan di rumah," goda Ayman. Kinan hanya mendengus. Namun, tidak dipungkiri jika memang benar apa yang dikatakan kakaknya. Pasti nanti dia akan kepikiran mengenai makanan jika tidak melahapnya saat ini juga.


"Sudah, ayo, duduk! Kita sarapan dulu," tegur Papa Hadi.


Ayman benar-benar berubah sekarang. Zayna telah banyak merubah pria itu dan Aisyah menyukainya. Papa Handi dan Kinan juga sangat lahap, itu bisa membuktikan jika wanita itu telah berhasil mengambil hati penghuni rumah lewat perut mereka.


"Tumben Bik Ira masaknya enak banget kayak gini," ucap Kinan di sela makannya.


"Bukan saya, Non, yang masak," sela Bik Ira yang kebetulan sedang lewat.


"Bukan Bi Ira? Terus siapa yang masak?"


"Nyonya Zayna tadi yang masak semua. Bibi cuma lihatin saja."


"Wah! benarkah? Kakak iparku ini, pintar masak rupanya. Ini enak sekali, pantas saja rasanya beda dari biasanya."


"Berarti masakan saya selama ini nggak enak, ya, Non?" tanya Bik Ira dengan nada sedih.


"Bukannya nggak enak, Bik, tapi itu ... itu ...."

__ADS_1


"Kinan hanya sudah terlalu sering merasakan masakan Bibi. Jadi saat ada makanan buatan orang lain jadi terasa spesial. Aku yakin masakan Bi Ira enak. Buktinya setiap hari semua orang selalu menghabiskan makanan buatan Bibi seperti tadi malam," sela Zayna yang juga merasa tidak enak pada Bik Ira.


"Iya, Bik. Bener seperti itu," sahut Kinan dengan cepat.


"Syukurlah kalau begitu. Jadi saya nggak akan kehilangan pekerjaan," ucap Bik Ira dengan tersenyum malu.


"Apa, sih, Bibi. Kinan suka masakan Bibi dan Kinan juga suka masakan Kak Zayna karena ada sesuatu yang baru. Dua-duanya enak, kok, jadi Bik Ira dan Kak Zayna sama-sama memiliki kelebihan sendiri-sendiri," ucap Kinan yang tidak ingin menyakiti hati Bik Ira.


Baginya Bik Ira sudah seperti keluarga sendiri karena wanita paruh baya itu sudah bekerja di rumah ini sejak dirinya masih dalam kandungan. Sementara Papa Hadi dan Mama Aisyah diam saja menikmati makanan tanpa ikut menyela. Memang benar apa yang dikatakan Kinan, makanan buatan Zayna terasa enak, sangat sayang untuk dilewatkan.


Mereka juga pernah merasakan menu seperti yang dimasak Zayna, tetapi rasanya berbeda. Buatan menantunya itu, ada rasa segar dan manis yang pas. Semua tidak berlebihan.


"Makanya, Kinan, nanti kamu belajar masak sama Kakak iparmu. Biar nanti kalau punya suami, kamu sudah bisa masak. Jangan hanya bisa makan saja," ujar Papa Hadi di sela suapannya.


"Ih ... Papa, kok, malah ngomongin Kinan?"


"Memangnya kenapa? Benar, kan, apa yang Papa katakan?"


"Tapi sudah ada Bik Ira yang sudah masak."


"Tetap saja kamu harus belajar masak. Kamu lihat mama kamu. Meskipun mama jarang masak, tapi dia masih bisa membuat makanan enak walaupun jarang sekali Papa merasakannya."


"Bilang saja Papa kangen sama makanan mama. Pakai bawa namaku segala, alasan suruh belajar masak!" seru Kinan.


"Papa, kangen sama masakan Mama?" tanya Mama Aisyah sambil menatap sang suami.


Mau berkata tidak, takut menyakiti hati istrinya. Bilang iya, takut merepotkan. "Sebenarnya sih, iya, Ma, tapi Papa nggak akan maksa Mama buat ke dapur, kok, jadi tenang saja." Akhirnya kalimat itu yang ke luar dari bibirnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2