Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
173. Bisik-bisik


__ADS_3

Setelah menjalani beberapa pemeriksaan, akhirnya Baby Ars bisa pulang hari ini. Zayna dan yang lainnya begitu senang mendengar berita itu. Tidak hentinya mereka mengucapkan kata syukur. Dokter juga menyarankan, saat nanti Baby Ars sudah berusia enam atau tujuh bulan, sebaiknya dilakukan pemeriksaan kembali.


Ayman dan Zayna pun menyanggupinya, asalkan anak mereka sehat. Apa pun pasti akan dilakukan.


“Mama mau gendong Baby Ars?” tanya Zayna pada mertuanya.


“Boleh?” tanya Mama Aisyah balik.


“Tentu saja boleh.” Zayna pun menyerahkan anaknya pada sang mertua.


Wanita paruh baya itu begitu senang. Sedari tadi Mama Aisyah ingin sekali menggendong cucunya. Namun, dia juga tahu jika menantunya sebagai orang tua, pasti lebih membutuhkan waktu bersama. Begitu pun dengan Zayna yang tahu keinginan sang mertua jadi, dia memberikan waktu padanya untuk menggendong cucunya.


“Ayo, kita pulang!” ajak Ayman yang baru saja kembali.


“Sudah selesai administrasinya, Mas?”


“Sudah.”


Mereka pun pulang bersama. Kinan sedari tadi terus saja menempel pada mamanya sambil memperhatikan keponakannya. Saat di mobil pun dia terus saja melihat ke arah Baby Ars.


“Kamu dari tadi nempel Mama terus, pengen ya punya bayi? Apa kamu mau menggendongnya?” tanya Mama Aisyah. Zayna yang duduk di depan pun ikut memperhatikan adik iparnya itu.


“Nggak, Ma. Kecil gitu, aku takut nanti malah nyakitin dia,” tolak Kinan.


“Nggak apa-apa, sekalian latihan.”


“Nggak mau, nanti saja kalau sudah sedikit besar,” jawab Kinan yang takut menyakiti keponakannya. Menyentuh tubuhnya yang lembut saja wanita itu merasa takut. Apalagi harus menggendong, bisa-bisa dia tidak berani gerak.


“Kak, aku turun di depan saja, biar nanti naik taksi,” ucap Kinan.


“Kenapa turun di depan? Kamu nggak ikut ke rumah kakakmu?” tanya Mama Aisyah.

__ADS_1


“Satu jam lagi aku ada kelas, Ma, takut terlambat. Besok aku ke sana lagi.”


“Biar Kakak antar saja, Kin. Kampus kamu kan jauh.”


“Jangan, Kak. Kasihan Baby Ars, dia juga mau istirahat. Kalau ngantar aku malah semakin jauh,” tolak Kinan, dia juga tidak ingin keponakannya jatuh sakit.


Ayman melihat ke arah putranya yang berada di pangkuan mamanya. Kinan benar, anaknya juga butuh istirahat, kalau mengantar Kinan, pasti lebih lama lagi. Akhirnya Pria itu pun menurunkan Kinan di tepi jalan.


“Nanti kalau belum dapat juga taksinya, hubungi Kakak, ya! Biar Kakak balik lagi,” ucap Ayman yang diangguki Kinan. Pria itu pun melajukan mobilnya ke arah rumahnya.


Kinan mencoba mencari taksi di sekitar. Namun, tidak ada satu pun kendaraan yang bisa dia tumpangi. Bahkan tukang ojek pun tidak ada. Wanita itu sampai frustrasi dibuatnya, dia bingung bagaimana nanti jika dirinya telat saat memasuki kelas lagi. Sudah pasti akan mendapat hukuman.


Tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang berhenti di samping Kinan. Pemiliknya pun menurunkan kaca jendela, ternyata dia adalah Pak Frans. Wanita itu cukup terkejut. Namun, berusaha untuk terlihat biasa saja.


“Kamu ngapain di sini? Kamu mau terlambat lagi di kelas saya?” tanya dosen itu.


“Saya sedang mencari taksi, Pak,” jawab Kinan dengan ramah.


“Di daerah ini memang jarang ada taksi. Sebaiknya kamu ikut saya saja. Daripada nanti kamu terlambat lagi dan membuat kelas saya tertunda.”


“Kamu mau ikut saya apa tidak? Apa kamu memang sengaja ingin datang terlambat di kelas saya!” seru Frans saat melihat Kinan yang masih berdiam diri.


“Iya, Pak.” Mau tidak mau Kinan akhirnya ikut ke dalam mobil dosennya itu. Dalam hati wanita itu berdoa, semoga saja hal ini tidak menimbulkan masalah.


Frans melajukan mobilnya menuju kampus. Selama perjalanan, tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Kinan juga selalu melihat ke kiri dan ke kanan, berharap agar mereka cepat sampai.


“Kamu sepertinya takut sekali jika kekasihmu tahu kamu ikut saya?” tanya Frans setelah cukup lama terdiam.


“Saya tidak memiliki kekasih, Pak. Saya sudah bersuami dan saya memang takut jika suami saya melihat dan salah paham padaku.”


“Kamu sedang bercanda? Mana mungkin kamu sudah menikah.”

__ADS_1


“Terserah jika Anda tidak percaya. Saya tidak bisa memaksa.”


Frans terdiam, dia penasaran, apa benar jika wanita yang ada di sampingnya ini sudah menikah? Rasanya sangat tidak mungkin. Mengingat usianya yang masih sangat muda. Pria itu segera menggelengkan kepalanya, dia menepis pikirannya tentang Kinan.


Tidak dipungkiri jika Frans begitu kagum pada mahasiswanya itu karena sudah berhasil menjawab pertanyaannya kemarin. Apalagi jawaban Kinan yang begitu simple dan mudah dimengerti.


Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga di kampus. Begitu Frans memarkirkan mobilnya, Kinan langsung turun setelah mengucapkan terima kasih. Pria itu memandangi kepergian mahasiswanya dari dalam mobil, hingga hilang dari pandangan mata.


“Kinan, aku dengar kamu berangkat bareng dosen baru, benar?” tanya Farah saat keduanya selesai kelas dan menunggu kelas berikutnya.


“Kamu tahu dari siapa?”


“Banyak di grup pesan. Memang benar, ya? Aku kira cuma gosip lewat “


“Itu cuma kebetulan saja. Aku tadi lagi nunggu taksi di pinggir jalan, Terus ada Pak Frans yang lewat. Beliau menawariku tumpangan, ya sudah, aku terima saja daripada nungguin sesuatu yang tidak pasti,” ujar Kinan, berharap temannya percaya. Dia juga sengaja memperbesar suaranya agar semua orang yang ada di sana mendengar.


Kinan hanya tidak ingin ada kesalahpahaman antara dirinya dan sang suami. Wanita itu tadi sebenarnya sudah memberitahu Hanif jika dia ke kampus bersama dosennya. Kinan tidak juga mendapatkan taksi. Namun, hingga detik ini dia tidak mendapat balasan.


“Berarti mereka melebih-lebihkan cerita. Bisa-bisanya mereka bergosip tentang kamu dan Pak Frans. Apa kata Pak Hanif nanti?” tanya Farah dengan sedikit emosi.


“Itu dia yang aku takutkan. Bagaimana jika mereka memberitahu Mas Hanif yang tidak-tidak,” ucap Kinan dengan nada sedih. “Sudahlah, dia tidak ingin terlalu memikirkan sesuatu yang belum tentu kebenarannya.”


Kinan dan Fara berbincang sejenak, sebelum akhirnya mereka kembali ke kelas masing-masing. Selama di kantin, banyak orang yang melihat ke arahnya sambil berbisik. Sepertinya percuma juga memberi penjelasan soal gosip, semuanya tidak akan berubah.


Fara pamit terlebih dahulu, dia ada kelas sebentar lagi. Kinan hanya sendiri di meja itu. Ada sebuah pesan masuk. Wanita itu pun segera melihatnya.


Senyum merekah di bibir Kinan, saat melihat ternyata sang suami yang mengirimnya pesan. Dia juga bersyukur karena Hanif percaya padanya. Wanita itu tidak perlu menjelaskannya panjang lebar.


“Ada apa, nih, senyum-senyum sendiri?” tanya Niko yang langsung duduk di depan wanita itu tanpa banyak bertanya.


Kinan memutar bola mata malas. Pria yang ada di depannya ini terlalu ikut campur urusannya. Dia tidak menjawab pertanyaan Niko dan terus asyik berbalas pesan dengan sang suami.

__ADS_1


.


.


__ADS_2