
Ayman sedang meneliti setiap laporan yang diterima bersama dengan Ilham. Dia harus mempelajari semua berkas yang ada di meja sebelum rapat dimulai. Saat pria itu sedang fokus pada pekerjaannya, seseorang mengetuk pintu. Ayman pun memintanya untuk masuk.
"Maaf, Pak. Di depan ada seorang wanita yang mencari Anda," ucap Yuli—sekretaris Ayman—di kantor cabang ini.
"Siapa?" tanya Ilham yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Mereka baru mulai kerja hari ini, sudah ada saja wanita yang datang. Ayman pun sama, ingin tahu siapa yang datang.
"Saya kurang tahu, Pak. Wanita itu tidak menyebutkan namanya. Dia hanya mengatakan jika dia kerabat Pak Ayman."
"Suruh masuk saja," sahut Ayman.
Yuli pun mengangguk dan berlalu dari sana. Tidak lama setelah itu, pintu kembali diketuk dan seorang wanita memasuki ruangan tersebut. Ayman dan Ilham mendongakkan kepala. Ternyata Zanita yang datang.
Wanita itu tersenyum ramah, sementara pria yang dituju hanya menatapnya datar. Zanita datang dengan memakai rok yang begitu minim, serta kemeja yang kekecilan. Jangankan memakai, orang yang melihatnya pun sudah tidak bernapas.
Ayman merasa ada sesuatu yang diinginkan oleh adik iparnya itu. Dia mulai waspada akan apa yang dilakukan adik iparnya. Pria itu yakin, pasti ada sesuatu yang diinginkan Zanita.
"Kamu ada apa kesini?" tanya Ayman dengan acuh.
"Aku ingin bicara berdua denganmu," ujar Zanita yang melihat keberadaan Ilham di ruangan Ayman. Dia tidak ingin rencananya berantakan. Wanita itu hanya ingin melakukan sesuatu untuk menjerat pria yang jadi incarannya.
"Ilham adalah sekretaris saya. Lagipula wanita dan laki-laki juga tidak baik berada dalam satu ruangan. Bisa menjadi fitnah."
"Ayman, aku hanya ingin bicara berdua denganmu."
__ADS_1
"Sebaiknya jaga kata-katamu. Bagaimanapun juga aku adalah kakak iparmu jadi, panggil aku kakak. Kamu pasti pernah, kan, diajari sopan santun dan bagaimana cara memanggil orang yang lebih tua?"
Zanita kesal dengan kata-kata Ayman. Akan tetapi, wanita itu berusaha untuk sabar demi mendapatkan tangkapan yang besar. Dia tidak boleh menyerah begitu saja, ini demi masa depannya. Zanita yakin bisa meluluhkan hati kakak iparnya.
"Baiklah, Kakak ipar. Sebagai adik, bolehkah aku bicara berdua denganmu?"
"Sayangnya aku tidak mau. Ilham bukan orang lain. Bagiku, dia sudah aku anggap sebagai adik jadi, kamu tenang saja. Dia bukan orang yang suka bergosip," ujar Ayman dengan berusaha menahan kesabarannya.
"Baiklah kalau begitu."
Zanita berjalan dengan pelan mendekati Ayman yang masih duduk di kursinya. Dia berdiri di samping kakak iparnya itu dengan bersandar di meja kerja Ayman. Wanita itu membuat gerakan yang sengaja dibuat-buat untuk menggoda kakak iparnya.
"Kamu seorang pemimpin perusahaan, apa kamu tidak malu saat jalan dengan Zayna? Lihatlah dengan baik. Dia biasa saja, tidak ada yang spesial dari dirinya. Dia juga tidak pandai dalam berdandan. Memang apa yang bisa dibanggakan darinya? Apa kamu tidak ingin memiliki seorang wanita yang bisa membuatmu bangga dan tidak menjadi bahan ejekan orang lain?" tanya Zanita dengan suara menggoda.
Ayman tersenyum sinis. Dia berbalik dan berjalan ke arah jendela, yang memperlihatkan pemandangan kota yang begitu ramai dengan kendaraan bermotor. Tiba-tiba saja pria itu merindukan istrinya, entah apa yang dilakukan wanita itu.
"Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Zayna di hatiku dan juga di rumahku. Dia satu-satunya wanita yang bisa menjadi Nyonya Ayman dan satu-satunya wanita yang aku cintai selain Mama dan adikku. Sekarang aku tanya padamu. Apa kelebihanmu dibanding Zayna hingga membuatmu percaya diri datang ke sini menawarkan diri?" tanya Ayman dengan menatap adik iparnya itu.
Zanita tertawa mendengarnya. Dia berjalan mendekati Ayman dengan menegakkan kepala dan berpose layaknya model papan atas. "Bukankah kamu bisa melihat sendiri, kalau aku jauh lebih segalanya dari Zayna. Aku lebih cantik dan juga lebih pintar. Zayna hanya lulusan SMA, sedangkan aku seorang sarjana."
"Oh ya, sarjana, tapi semua tugasmu Zayna yang mengerjakannya juga, kan. Cantik! Aku rasa Zayna juga cantik. Hanya saja dia tidak suka berdandan layaknya ondel-ondel. Sebagai seorang istri, Zayna sangat pintar memanjakan lidah dengan makanan buatannya. Bukan hanya aku, mama dan papa juga sangat menyukai masakannya dan aku sangat yakin kamu tidak bisa melakukannya. Membuat kopi untuk suami saja tidak bisa, apalagi membuat makanan. Bisa kebakaran dapurku. Sekarang di mana lagi letak kelebihan kamu daripada Zayna?"
Ilham dari tadi hanya diam mendengarkan kedua orang berbeda jenis itu berdebat. Dia sendiri juga tidak tahu wanita yang berbicara dengan atasannya itu siapa. Dari pembicaraannya, bisa disimpulkan jika itu adik Zayna. Pria itu tidak menyangka jika Zanita seberani itu.
__ADS_1
Untung saja dia adik ipar atasannya. Jika tidak, bisa dipastikan setelah keluar dari kantor ini, wanita itu hanya tinggal nama. Ilham sangat ingat bagaimana dulu Ayman menghukum seseorang yang sudah merayunya.
Zanita semakin berani. Dia mendekati Ayman dan mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu. "Aku bisa memuaskanmu di atas ranjang. Aku yakin untuk kali ini, Zayna tidak bisa melakukannya," bisiknya dengan sensual.
Ayman berusaha melepaskan tangan Zanita yang ada di lehernya. Namun, wanita itu semakin mengeratkan tangannya. Dia memajukan wajahnya berniat untuk mencium bibir pria itu. Segera Ayman mendorongnya dengan kasar saat berhasil melepaskan tangan Zanita, hingga wanita itu terjatuh.
"Aauuw," pekik Zanita saat pantatnya mendarat di lantai. Bahkan kakinya terkilir karena dia memakai hak cukup tinggi sekali.
"Murahan tetap saja murahan. Jangan samakan aku dengan suamimu yang mudah tergoda dengan wanita sepertimu. Aku peringatkan, jangan mencoba bermain-main denganku atau kamu tahu sendiri akibatnya. Aku juga tidak tertarik denganmu. Wanita seperti kamu di luaran sana juga banyak," ujar Ayman. Dia menatap jijik pada adik iparnya.
"Kamu mau pergi dari sini sendiri atau diseret satpam?" tanya Ayman.
Zanita hanya diam karena dia memang belum ingin pergi. Ayman segera mengambil gagang telepon di ruangannya dan menempelkannya di telinga.
"Suruh security datang ke ruanganku," ucap Ayman dengan seseorang yang berada di seberang telepon.
Zanita berdiri, berusaha membersihkan bagian bajunya yang kotor karena terjatuh tadi. Dia menatap Ayman dengan kesal. Bagaimana bisa pria itu tega mendorongnya dengan sekadar itu.
.
.
.
__ADS_1