
"Papa kapan pulang?" tanya Aini saat memasuki ruang keluarga. Di sana semua orang sudah berkumpul, hanya dirinya sendiri yang baru saja keluar. Gadis itu baru terbangun dari tidurnya.
"Sudah dari tadi, Neng. Kamu saja yang tidurnya kebangetan, sampai suara mobil pun nggak kedengeran," jawab Ayman.
"Kamar aku ada di ujung, Pa. Mana bisa dengar suara mobil yang ada di teras depan," kilah Aini beralasan.
"Kamu itu paling bisa membuat alasan. Sudah, kamu ke sini Aini! Papa bawakan oleh-oleh juga buat kamu." Papa Ayman menepuk sisi sofa yang kosong agar putrinya duduk di sana.
"Wah, benarkah!" seru Aini yang kemudian duduk di samping Papanya.
Ayman memberikan sebuah papper bag pada putrinya itu Aini pun menerima dengan senang hati. Memang sudah menjadi kebiasaan pria itu jika ke luar kota, pasti akan membawakan hadiah untuk keluarganya.
“Terima kasih, Pa,” ucap Aini sambil memeluk papanya, kemudian dia teringat dengan kakaknya yang juga ada di sana. “Kak Ars nggak bawa oleh-oleh?”
"Kamu sudah dapat dari Papa, kenapa masih minta sama kakak juga? Kakak nggak beli apa-apa, itu juga sama saja dari papa," timpal Arslan dengan santai.
"Ya bedalah, Kak. Mana ada seperti itu! Dasar pelit, bilang saja nggak mau beliin kado," cibir Aini dengan cemberut.
"Begitu saja sudah ngambek," sahut Arslan dengan menyerahkan kotak kecil pada adiknya.
Aini yang tadinya cemberut pun jadi tersenyum. Hadiahnya memang tidak seberapa, dia bisa membelinya kapan pun, tetapi perhatian dari papa dan kakaknya yang membuatnya bahagia.
"Terima kasih, Kak."
Semua orang pun berbincang sejenak untuk menumpahkan rasa rindu mereka. Hingga akhirnya Bik Ira memanggil karena makan malam sudah siap. Semuanya pergi ke ruang makan dan menikmati makan malam dengan tenang.
****
__ADS_1
Sementara itu, Adam sedang dalam perjalanan menuju ke rumah orang tua kandungnya. Dia sudah memantapkan hati untuk bertemu dengan mereka. Hanif awalnya menolak keinginan putranya. Namun, setelah diberi pengertian oleh Kinan, akhirnya pria itu pun terpaksa menyetujuinya.
Akan tetapi, Hanif memberikan syarat pada putranya. Adam hanya boleh di sana untuk sebentar saja. Jujur pria itu takut jika sang putra akan kembali pada keluarganya. Dia sudah menganggap pemuda itu seperti anaknya sendiri.
Meskipun Hanif tidak turut andil dalam keberadaannya di dunia ini. Namun,dialah yang sudah membesarkan dan menyayanginya dengan begitu tulus. Adam pun mengiyakan apa yang papanya inginkan. Dia juga tidak akan mungkin meninggalkan keluarga ini.
Keluarga yang sudah memberinya begitu banyak kasih sayang, yang tidak dia dapatkan dari keluarga kandungnya. Mungkin juga tidak di keluarga lain. Begitu sampai di depan sebuah rumah, Adam ragu untuk ke sana. Entah dirinya harus masuk atau tidak. Tangan yang berada di kemudi pun berkeringat, padahal begitu terasa dingin.
Adam menarik napas beberapa kali, mencoba untuk membuat dirinya senyaman mungkin. Pria itu menguatkan tekadnya, untuk turun dan masuk ke dalam rumah yang ada di depannya. Dia ingin tahu apakah sampai detik ini mereka masih sama seperti dulu. Yang tidak memedulikannya atau sudah berubah menjadi lebih baik lagi.
Adam pun turun dari mobil dan berjalan, menuju rumah tempat tinggal sewaktu masih kecil. Beberapa kali pria itu menekan bel yang ada di samping pintu. Hingga tidak berapa lama, pintu pun terbuka. Tampak seorang wanita paruh baya ada di sana. Dia kenal dengan siapa yang membuka pintu.
Wanita itu adalah asisten rumah tangga di rumah ini, sejak dirinya belum lahir. Namanya Bik Nur. Adam tersenyum ke arah wanita itu, membuat wanita paruh baya itu menatap aneh karena merasa tidak mengenalinya. Namun, saat bertatapan, Bik Nur seperti mengenalinya.
“Assalamualaikum, Bik Nur. Apa kabar?” sapa Adam dengan tersenyum.
"Saya Adam, Bik? Apa Bibi lupa sama saya? Sebelumnya saya juga sudah menulis surat untuk Bibi, kan?"
"Masyaallah, Den! Bibi tidak menyangka bisa bertemu dengan Aden lagi." Bik Nur menggenggam telapak tangan Adam sambil meneteskan air mata.
Wanita itu sangat terharu karena akhirnya bisa bertemu dengan pria itu. Dulu hanya Bik Nur lah yang selalu perhatian pada Adam. Hal itu juga yang membuat wanita paruh baya itu, sampai sekarang masih bertahan di rumah ini. Dia yakin suatu hari nanti, bisa bertemu dengan Adam.
Bik Nur ingin memastikan, bahwa keadaan orang yang sudah dianggapnya anak itu baik-baik saja. Bik Nur adalah orang yang ditolong oleh almarhumah mamanya Adam. Itulah kenapa dia setia menunggu pemuda itu datang kembali. Dulu mamanya Adam yang meminta untuk bekerja bersama dengannya.
Wanita paruh baya itu tidak punya tempat tinggal lain selain di rumah ini. Namun, saat mamanya Adam meninggal, semuanya berubah. Bik Nur bertahan di rumah ini karena keberadaan anak majikannya. Akan tetapi, akhirnya Adam diadopsi orang lain.
Dia merasa sedih sekaligus bahagia. Sedih karena tidak akan bertemu dengan Adam. Bahagia karena anak itu sudah tidak akan mengalami kesulitan lagi. Yang dia sayangkan saat itu adalah, saat Adam datang bersama dengan orang tua angkatnya untuk meminta surat adopsi.
__ADS_1
Waktu itu, dirinya sedang pergi keluar untuk berbelanja jadi, tidak melihat bagaimana orang yang sudah mengadopsi Adam. Bik Nur ingin pergi juga dari rumah ini. Namun, setelah dipikir kembali, dia pun mengurungkan niatnya. Wanita paruh baya itu yakin jika anak majikannya akan kembali.
Sekarang apa yang Bik Nur yakini ternyata benar. Adam kembali berkunjung. Dia bisa merasa lega kali ini dan meninggalkan rumah ini dengan tenang tentunya. Apalagi melihat keadaan pemuda itu yang sangat gagah, semakin menambah keyakinan wanita itu. Jika anak majikannya dalam keadaan yang sangat baik.
"Bibi, apa kabar? Tidak bertemu beberapa tahun, Bibi sudah semakin tua. Lihat! Keriputnya ada di mana-mana," ucap Adam dengan nada bercanda, membuat Bik Nur juga ikut tertawa.
Dia tahu jika Adam hanya bercanda. Dulu mereka juga sering saling ejek untuk menghibur diri. Bik Nur juga senang melihat keadaan Adam yang baik-baik saja. Wanita itu akan sangat berterima kasih kepada orang yang sudah membesarkan Adam.
Hingga membuat pemuda itu bisa sampai seperti ini. Bik Nur yakin jika mereka adalah orang-orang yang baik. Kalau saja Adam masih tetap di sini, dia tidak yakin jika anak itu akan menjadi hebat, seperti yang wanita itu lihat kini. Meskipun Adam belum mengatakan apa pun, tetapi melihat penampilannya saja semua orang sudah tahu
"Kenapa Bibi malah menangis lihat aku datang? Apa Bibi tidak suka?"
Bik Nur menggeleng dengan cepat. Tentu saja dia sangat senang, bahkan kedatangannya sudah dinantikan sejak lama.
"Tidak, Den. Justru Bibi senang melihat kedatangan Aden. Bibi hanya terharu saja," jawab Bik Nur dengan mengusap air matanya yang masih mengalir.
"Apa papa dan mama ada di rumah, Bik? Aku ingin bertemu dengan mereka. Bagaimana keadaan mereka sekarang?” tanya Adam dengan tersenyum, membuat Bik Nur menghentikan air matanya dan menatap pemuda yang ada di depan ini.
Dia penasaran, kira-kira apa yang membuat Adam datang dan menanyakan kedua orang itu. Apakah ada sesuatu yang sudah terjadi.
"Kenapa melihatku seperti itu, Bik? Apa ada yang salah, kalau aku mencari mereka? Aku hanya ingin melihat keadaan mereka. Sudah bertahun-tahun kita semua berpisah, tidak ada salahnya 'kan berkunjung dan saling menanyakan kabar. Meskipun aku sudah menjadi anak orang lain."
Bik Nur pun mengangguk dengan ragu. Entah apakah penghuni rumah ini menerima kedatangan Adam atau tidak. Wanita paruh baya itu mempersilakan Adam untuk duduk di ruang tamu, sementara dia masuk untuk memanggil pemilik rumah, sekaligus membuatkan minuman untuk Adam.
.
.
__ADS_1