Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
71. Merasa tidak adil


__ADS_3

Sementara itu, Zanita berpikir apa yang membuat adiknya itu bisa meninggal. Apa Zayna yang melakukan itu karena dendam padanya yang ingin membunuh dia saat itu? Sekarang membuat kakaknya balas dendam pada Zivana? Akan tetapi, pikiran itu segera ditepis oleh Zanita. Dia sangat tahu kakaknya tidak mungkin memiliki dendam, lalu apa penyebab adiknya bisa meninggal dunia?


Zanita pulang ke rumahnya dengan dikawal dua petugas kepolisian yang memakai pakaian santai. Selama perjalanan, wanita itu terus saja berdoa agar apa yang dia dengar tidaklah benar. Semoga adiknya baik-baik saja. Namun, saat sampai di depan rumah, semuanya hancur begitu saja kala melihat bendera kuning sudah berkibar.


Air mata menetes di pipi wanita itu. Dia tidak menyangka adiknya akan secepat ini meninggalkan dunia ini. Selama ini wanita itu belum bisa membahagiakan Zivana. Zanita bahkan sering memarahi adiknya karena memakai barangnya tanpa izin. Dia juga tidak segan memukul adiknya.


Bayangan kebersamaan dengan adiknya, hadir di dalam pikirannya. Justru Zanita melihat kebaikan Zayna pada adiknya yang tidak pernah bisa dia lakukan. Betapa buruknya dia sebagai kakak.


"Kita sudah sampai, apa kamu tidak mau turun?" tanya seorang petugas. Zanita melihat sekitar dan mengangguk tanpa mengucapkan satu kata pun.


Wanita itu turun dari mobil dan melangkah menuju rumah. Begitu kakinya menginjak teras rumah, di sana terlihat mamanya menatap tubuh yang terbaring dengan tertutup selimut. Zanita bisa melihat kesedihan di wajah Mama Savina. Wanita paruh baya itu hanya diam, tapi justru di dalam tatapannya ada luka yang begitu dalam.


Tidak cukup dirinya yang membuat masalah, kini adiknya justru meninggalkan sang mama selama-lamanya. Meski berat, Zanita tetap melangkahkan kakinya ke arah Mama Savina. Dia ingin memeluk wanita yang sudah melahirkannya itu dan ingin mengucapkan beribu-ribu kata maaf pada mamanya.


"Mama," panggil Zanita pelan, saat dia hampir mendekati mamanya. Namun, wanita paruh baya itu hanya diam dengan pandangan kosong ke depan. Tidak sedikit pun dia menoleh. Mungkin karena rasa sedihnya itu, Mama Savina tidak sadar dengan apa yang ada di sekitarnya.


Zayna yang tahu kehadiran adiknya pun menepuk pundak mamanya dan berbisik, "Ma, ada Zanita. Dia baru datang."


Seketika Mama Savina pun melihat keseliling dan benar saja, ada putrinya di sana. Air mata yang tadinya sudah mengering pun kembali mengalir. Zanita segera memeluk mamanya. Dia juga ikut menangis karena merasa sedih dengan keadaan keluarganya kini.


Seandainya saja wanita itu punya sedikit hati agar tidak punya niat jahat kepada siapa pun. Pasti dirinya kini masih berada di samping mamanya untuk menguatkan wanita itu. Zanita benar-benar merasa tidak berguna.

__ADS_1


"Zivanna pergi, Nita. Dia ninggalin Mama. Sekarang Mama sendiri. Mama harus bagaimana?" tanya Mama Savina dengan terisak, membuat hati wanita itu terasa teriris.


"Ma, kan, masih ada papa sama Kak Zayna. Pasti mereka akan menjaga Mama dengan baik. Maafkan Nita yang tidak bisa menemani Mama. Setelah hukumanku selesai, aku pasti akan kembali menjaga Mama. Mama harus kuat sampai aku kembali," ucap Zanita sambil mengusap punggung wanita paruh baya itu.


Mama Savina hanya mengangguk. Yang dikatakan putrinya benar, masih ada sang suami dan putri sambungnya yang selalu menjaga dia dengan baik. Namun, wanita itu justru memperlakukannya dengan semena-mena. Keduanya pun berusaha saling menguatkan dan saling mendukung.


Waktu telah berlalu, acara pemakaman pun sudah selesai. Hanya tinggal keluarga yang masih berada di tempat pemakaman. Wajah-wajah sedih itu menatap gundukan tanah yang masih basah. Meski berat, mereka berusaha untuk mengikhlaskannya.


"Saudari Zanita, sudah saatnya kita kembali," ucap seorang petugas polisi yang tadi mengantar Zanita.


"Iya, Pak. Tunggu sebentar," ucap Zanita yang kemudian berbicara pada mamanya. Dia menggenggam telapak tangan wanita itu. "Ma, aku harus kembali. Mama jaga kesehatan, jaga diri baik-baik. Aku tidak mau Mama sakit."


"Tentu, aku pasti menjaga diri dengan baik," sahut Zanita kemudian berbalik ke arah Zayna. "Kak, aku titip Mama. Jaga dia baik-baik, sampai aku kembali. Aku juga ingin minta maaf selama ini aku sudah sangat jahat, terutama kejadian yang terakhir. Itu benar-benar tindakan yang paling bod*h yang pernah aku lakukan. Sebenarnya bukan cuma kejadian itu saja, sih. Selama ini aku memang selalu melakukan hal bod*h, tapi sekarang aku benar-benar minta maaf. Semoga Kakak mau memaafkanku."


"Tentu saja, aku sudah memaafkanmu sebelum kamu minta maaf."


"Kamu memang selalu baik. Hal itu juga yang selalu aku manfaatkan. Bahkan untuk saat ini pun, aku memanfaatkanmu untuk menjaga Mama dan juga Papa," ujar Zanita dengan terkekeh.


"Kamu bicara apa? Itu juga tugasku sebagai seorang anak."


Zanita mengangguk kemudian berjalan ke arah papanya. Dia berjongkok di depan pria paruh baya itu. "Pa, aku minta maaf, sudah membuat Papa seperti sekarang ini. Aku juga berterima kasih, selama ini Papa sudah sangat baik padaku. Padahal aku bukanlah anak kandung Papa, tapi Papa memperlakukanku seperti putri kandung. Terima kasih sudah menyayangiku. Maaf jika aku hanya membuat Papa susah. Saat ini aku sedang menjalani hukuman atas apa yang sudah aku lakukan. Aku pamit dulu. Semoga saat bertemu nanti, aku sudah menjadi manusia yang lebih baik lagi. Assalamualaikum," pamit Zanita sambil mencium punggung tangan pria paruh baya itu, kemudian melakukan hal yang sama pada mamanya dan Zayna.

__ADS_1


Zanita pergi bersama dengan dua orang petugas kepolisian. Sementara itu, Zayna hanya berdiam diri, dia masih bergulat dengan pikirannya mengenai apa yang dikatakan Zanita tadi. Bahwa adiknya itu bukanlah anak kandung Papa Rahmat. Apa benar yang Zayna dengar?


Ada rasa iri dalam hatinya. Jika Zanita memang bukanlah anak kandung Papa Rahmat. Kenapa selama ini adiknya itu selalu mendapat kasih sayang dari papanya, sedangkan dirinya yang anak kandung justru di anak tirikan oleh pria itu. Bukankah itu tidak adil untuknya?


Mobil yang membawa Zanita sudah pergi. Ayman pun mengajak keluarganya untuk pulang. Mereka harus mempersiapkan acara tahlilan untuk Zivana.


"Sayang, ayo, kita pulang!" ajak Ayman sambil menepuk bahu istrinya, hingga membuat wanita itu terkejut.


"I—iya, Mas. Ada apa?"


"Ayo, kita pulang! Kamu kenapa? Apa ada masalah?"


"Tidak ada. Ayo, kita pulang!" Zayna berlalu begitu saja tanpa menunggu yang lain. Padahal biasanya wanita itu yang mendorong kursi roda papanya, tetapi sekarang dia pergi tanpa menoleh ke belakang.


Ayman merasa ada sesuatu yang terjadi pada istrinya, tetapi tidak mungkin dia bertanya sekarang. Nanti saja jika sampai rumah, akan pria itu tanyakan pada Zayna. Mama Savina pun mendorong kursi sang suami menuju mobil milik Ayman. Kedua orangtua itu tidak curiga apa pun. Mereka mengira jika putrinya masih sedih atas kehilangan Zivana.


Selama perjalanan pulang pun, Zayna sama sekali tidak berbicara. Padahal Ayman sudah memancingnya untuk membuka mulut, tetapi wanita itu masih asyik melihat jalanan melalui kaca jendela di sampingnya. Seolah di luar sana lebih indah.


.


.

__ADS_1


__ADS_2