Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
132. Doa orangtua


__ADS_3

“Mama harap pernikahanmu bisa membawa kebahagiaan untukmu. Mama tidak ingin kamu mengalami kesulitan dalam pernikahanmu nanti. Setiap masalah pasti ada dalam kehidupan manusia, siapa pun itu. Mama berharap kamu bisa melewatinya dengan ikhlas. Ingat, Nak, cobaan pasti akan selalu datang. Kamu harus menghadapinya dengan percaya diri," ucap Mama Aisyah pada putrinya.


“Iya, Ma. Aku pasti akan selalu ingat nasihat Mama. Mama adalah contoh wanita kuat untukku. Mudah-mudahan aku bisa menjadi seperti Mama, kuat dan tidak bisa ditindas oleh siapa pun.” Mama Aisyah dan Kinan saling berpelukan. Ibu dan anak itu saling menumpahkan rasa kasih sayang yang mereka miliki.


Sebagai seorang ibu, Aisyah bangga memiliki Kinan. Diusianya yang masih muda, gadis itu sangat mandiri. Padahal orang tuanya sangat mampu untuk memanjakannya, tetapi dia tidak ingin memanfaatkannya. Kinan juga tidak pernah ingin terlihat di depan semua orang. Gadis itu lebih suka berbaur dengan yang lain tanpa pandang bulu.


“Ada apa ini? Kenapa saling berpelukan? Dan aku nggak diajak,” tegur Zayna saat memasuki ruang tamu. Dia pikir sudah saatnya makan malam, jadi wanita itu keluar. Namun, saat sampai di meja makan, tidak ada seorang pun di sana. Kata Bik Ira semua orang ada di ruang tamu, jadi Zayna ke sini.


“Nggak ada apa-apa, cuma Mama lagi senang karena Kinan sudah setuju untuk segera menikah," jawab Mama Aisyah.


“Wah! Bener tuh, Dhek? Apa ini gara-gara wanita tadi? Kamu cemburu sampai ngajakin Hanif menikah?" tanya Zayna dengan antusias.


“Apaan sih, Kak! Kenapa bahas masalah itu?” tanya Kinan sambil cemberut.


“Wanita? Wanita siapa? Kenapa Kinan yang mengajak Hanif menikah?” tanya Mama Aisyah


“Tadi Kinan cemburu, Ma. Melihat Hanif makan siang sama wanita, jadi dia marah sama Hanif. Padahal itu rekan bisnisnya Hanif. Mungkin itu yang buat mereka langsung menikah saja.”


“Benar itu, Kinan, jadi kamu yang ngajakin Hanif menikah?” tanya Mama Aisyah dengan nada tidak percaya.


“Mama kenapa percaya saja sama Kak Zayna. Itu nggak sepenuhnya benar. Memang aku marah saat melihat Mas Hanif makan siang sama wanita, tapi aku nggak pernah ngajakin dia menikah. Itu murni keinginan Mas Hanif sendiri yang ingin menikah.”


Kinan berusaha menjelaskan pada mamanya. Gadis itu kesal karena menganggap kehadiran Zayna hanya membawa masalah saja untuknya. Memang pemicunya karena kliennya Hanif, tetapi itu bukan alasan yang sesungguhnya.


“Tapi kamu juga menginginkannya, kan? Buktinya kamu mengiyakan saja ajakan Hanif. Padahal sebelumnya kamu menolak mentah-mentah.”


“Pantas saja dari tadi Papa merasa ada yang aneh. Ternyata ada cerita dibalik itu semua,” sela Papa Hadi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Papa kenapa jadi ikut-ikutan juga! Sudah, enggak usah didengerin apa yang Kak Zayna katakan. Sekarang sudah malam, sebaiknya kita makan malam saja,” pungkas Kinan.


“Mengalihkan pembicaraan,” sindir Zayna membuat Kinan mendengus kesal.


“Sebaiknya kamu mandi dulu, Kin. Setelah itu kita makan sama-sama. Kamu belum membersihkan diri, kan!” ujar Mama Aisyah.


“Iya, Ma, aku mau membersihkan diri dulu kalau begitu. Di sini malah bikin orang makin emosi saja.” Kinan berlalu dari sana dan memasuki kamarnya.


“Memang tadi kamu sama Kinan ke mana? Kok, bisa ketemu sama Hanif?” tanya Mama Aisyah pada Zayna setelah Kinan tidak terlihat.


“Tadi kami ke mall, Ma. Habis itu mampir ke restoran karena kami juga lapar. Tidak tahunya di sana ada Hanif sama kliennya. Mana wanita itu nempel-nempel mulu sama Hanif. Aku saja yang melihat sudah kesal, apalagi Kinan.”


“Kehidupan para laki-laki memang seperti itu. Jangankan pengusaha yang seperti suamimu dan juga Papa. Para pegawai biasa saja, mereka bisa tergoda oleh wanita seksi dan cantik. Hanya tinggal di hati mereka saja, masih ingat apa nggak dengan keluarga yang ada di rumah.”


“Iya, Ma. Aku mengerti maksud Mama. Itu juga yang saat ini aku coba untuk pahami. Aku memang bukan orang yang baik, tapi setidaknya aku mencoba untuk menjadi istri yang baik. Aku tidak lupa juga mendoakan suamiku agar apa pun yang dilakukannya, semua lancar dan selalu mengingatku yang berada di rumah.”


“Mama senang mendengarnya. Kita memang sebagai wanita harus selalu berdoa. Tidak lupa juga berusaha agar suami kita tetap nyaman berada di rumah, tanpa ada niat untuk mencari persinggahan yang lain.”


“Mama harus percaya sama Papa. Cinta papa hanya untuk Mama seorang. Tidak ada wanita lain dan tidak ada niat untuk mencari wanita lain. Hanya Mama satu-satunya yang ada di hati Papa. Kita juga sudah berumur, bukan zamannya lagi untuk bersenang-senang," sela Papa Hadi yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.


“Umur bukan patokan seseorang untuk setia, tapi Mama selalu percaya sama Papa karena itu juga Mama masih berada di sini.”


Papa Hadi tersenyum sambil memeluk sang istri. Zayna yang melihatnya pun ikut senang. Dia juga ingin seperti mertuanya, selalu bersama sang suami hingga maut memisahkan. Semoga kebahagiaan selalu menyertai keluarga mereka.


****


Sampai di rumah, Hanif mencari kedua orang tuanya tanpa membersihkan diri terlebih dulu. Ternyata mereka ada di kamar. Pria itu menceritakan semua apa yang terjadi hari ini pada orang tuanya. Dia juga meminta waktu untuk pada papanya agar memberi kelonggaran pada pekerjaan.

__ADS_1


Hanif ingin merencanakan pesta pernikahan sendiri meski dengan bantuan event organizer tentunya. Namun, pria itu juga ingin melihat sendiri bagaimana persiapannya. Papa Wisnu pun mengizinkannya, dia juga senang mendengar berita dari putranya, terutama mama Aida yang sudah tidak sabar ingin memiliki seorang menantu.


“Ma, ada juga yang ingin aku katakan. Jika nanti Kinan ingin mencegah kehamilannya dulu, aku harap Mama dan Papa juga tidak keberatan. Mama tahu ‘kan Kinan masih kuliah, dia pasti belum ingin repot dengan kehadiran seorang anak,” ucap Hanif pada orang tuanya.


Dalam hati Mama Aida merasa sedih. Namun, dia juga tidak ingin memaksakan kehendaknya. Asalkan anaknya bahagia, itu sudah cukup baginya. Hanif juga senang karena kedua orang tuanya sangat mengerti keadaannya.


“Aku mohon pada Mama dan papa untuk mendoakan Hanif agar semua berjalan dengan lancar.”


“Tentu, doa kami hanya untukmu. Kamu juga jangan lupa berdoa sendiri, minta kelancaran segala urusanmu pada Sang pencipta," sahut Mama Aida.


“Iya, Ma. Terima kasih Mama dan Papa selalu mendukung apa pun yang aku lakukan,” ucap Hanif dengan mata berkaca-kaca.


“Sudah, kenapa jadi melow begini. Kamu anak mama yang kuat. Sekarang kamu bersihkan diri kamu dulu. Habis itu kamu cari event organizer yang bagus. Nanti Mama bantu carikan, teman Mama banyak kenalan EO terkenal."


"Iya, Ma, tapi aku maunya yang sederhana saja. Jangan terlalu banyak orang yang datang. Aku nggak mau terlalu capek juga."


"Boleh, tapi jangan yang seperti kemarin. Itu terlalu sedikit."


"Nggak juga, Ma. Paling aku mengundang lima ratus orang saja."


"Jangan segitu, kalau itu cuma dari keluarga kita saja, bagaimana dengan keluarganya Tante Aisyah? Pasti mereka juga ingin mengundang banyak orang."


"Nanti kita bicarakan lagi, deh, Ma. Aku mau membersihkan diri dulu."


"Ya sudah, nanti biar Mama yang bicara sama tante Aisyah."


Hanif pergi meninggalkan orangtuanya, yang masih membicarakan rencana pernikahannya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2