
Siang telah berlalu, malam telah tiba dan Adam dan Zea sudah bersiap untuk menuju ke alam mimpi. Keduanya juga baru selesai menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim. Gadis itu baru selesai merapikan mukena dan sajadahnya.
"Mas, mau dibuatkan kopi atau teh?" tawar Zea.
"Tidak perlu, ada sesuatu yang ingin aku kerjakan sama kamu," jawab Adam membuat Zea jadi penasaran.
"Apa itu? Kalau aku bisa, pasti aku akan bantu, tapi aku 'kan tidak mengerti soal pekerjaan."
"Tentu saja kamu harus membantuku. Pekerjaanku tidak akan bisa terjadi kalau kamu tidak ada."
Zea mengerutkan keningnya karena tidak mengerti ucapan sang suami. Adam mendekati sang istri dan berbisik di telinga wanita itu. "Aku ingin meminta hakku sebagai seorang suami, apa boleh?"
Tubuh Zea bergetar, tiba-tiba saja dia merasa gugup dan takut secara bersamaan. Dirinya bahkan sampai lupa dengan hal itu. Meskipun tidak pernah mengalaminya, tetapi gadis itu sangat tahu maksud dari perkataan suaminya. Namun, melakukannya secara mendadak tanpa persiapan membuatnya benar-benar takut.
Sebagai seorang istri, Zea juga tidak mungkin mengabaikan permintaan sang suami. Bagaimanapun juga itu adalah kewajibannya. Melihat keterdiaman sang istri membuat Adam merasa bersalah karena memaksanya.
"Kalau kamu masih berat untuk melakukannya, aku tidak akan memaksa. Aku akan menunggu sam—"
"Aku siap, Mas. Sekarang aku adalah istrimu, sudah sepantasnya aku melakukan kewajibanku," sela Zea sebelum Adam menyelesaikan perkataannya.
Pria itu pun tersenyum dan mendekatkan dirinya ke arah sang istri. "Apa kamu yakin? Jangan sampai nanti kamu menyesalinya."
"Aku adalah istri kamu, Mas. Mana mungkin aku menyesal," sahut Zea yang sebenarnya sudah merasa deg-degan.
Adam semakin merapatkan tubuhnya ke arah sang istri. Akhirnya malam panjang yang harusnya terjadi beberapa bulan yang lalu pun terjadi juga. Keduanya begitu menikmati malam pertama bagi mereka. Meskipun sempat merasakan sakit, tetapi itu bukan penghalang bagi mereka. Malam semakin larut dan bulan sebagai saksi betapa bahagianya mereka.
****
"Ma, coba sini baca saja file ini. Anak buahku baru saja mengirimnya," ucap Ayman sambil memperlihatkan laptopnya pada sang istri.
Zayna pun segera melihatnya, di sana tertera profil tentang Ustaz Ali dan juga keluarganya. Dia begitu teliti membaca satu persatu, tiap baris yang ada di tiap halaman. Beberapa kali wanita itu mengembuskan napas dan menggelengkan kepala. Kalau Aina memiliki keluarga mertua seperti ini, Zayna benar-benar tidak rela.
"Pa, kalau sudah seperti ini bagaimana? Apa Papa masih mengizinkan Aina untuk berta'aruf dengan Ustaz Ali?" tanya Zayna dengan perasaan yang tidak rela.
"Itulah, Ma, makanya aku minta Mama baca file itu. Anak-anak lebih dekat sama kamu, nanti kita bicara sama-sama. Mudah-mudahan Aina mengerti dan tidak memaksa untuk bertaaruf dengan Ustaz Ali."
"Iya, Pa. Nanti kita bicara sama-sama. Mama juga nggak rela, kalau anak Mama harus tinggal sama orang yang tidak bisa menerima kehadiran putri kita karena keadaannya. Jujur sebenarnya Mama setuju saja kalau dia menikah dengan seseorang yang bagus agamanya, tapi jika juga perlu tahu bagaimana keluarganya dan sosialisasinya.. Takutnya anak kita tertekan. Apalagi dengan orang yang hanya memandang dari segi penampilan."
__ADS_1
"Papa setuju, nanti setelah selesai sarapan, kita bicara secara baik-baik. Semoga Aina bisa mengerti."
"Iya, Pa."
Kinan membantu sang suami bersiap untuk ke kantor. Hari ini pria itu tidak begitu sibuk jadi, bisa datang sedikit telat. Setelah semua selesai, keduanya turun ke ruang makan. Di sana sudah ada si kembar yang sedang menunggu.
"Tumben kalian sudah ada di sini, apa kalian ada kelas pagi?" tanya Mama Zayna.
"Tidak ada, Ma. Hari ini kami mau ke rumah Kak Arslan, kami kangen sama Baby Icha," jawab Aini.
"Memang kalian nggak ada kuliah datang ke sana?" tanya Papa Ayman sambil meminum sedikit kopinya.
"Nggak ada, Pa."
"Ya sudah terserah kalian, tapi nanti kalian jangan lupa bawa makanan buat Hira, biasanya ibu menyusui suka ngemil. Nanti Mama siapin makanannya."
"Iya, Ma."
Mereka semua pun menikmati sarapan pagi. Sejak tadi Ayman dan Zayna tidak bisa makan dengan tenang. Keduanya mengkhawatirkan keadaan Aina yang mungkin saja tidak bisa menerima kenyataan yang akan disampaikannya. Setelah semua selesai, si kembar ingin segera pamit untuk pergi ke rumah kakaknya, yang juga tinggal di daerah itu. Namun, letak rumahnya sedikit jauh.
"Kalian duduklah dulu. Aina, Papa sama Mama mau mengatakan sesuatu. Papa harap kamu memikirkannya baik-baik," ucap Ayman buat suasana menjadi begitu dingin.
"Mau bicara apa, Pa?" tanyanya.
"Papa tidak bisa merestui kamu untuk bertaaruf dengan Ustaz Ali, terlalu banyak kekurangan yang dia miliki untuk bisa bersanding dengan kamu. Kalian dari keluarga yang jauh berbeda."
"Maksud Papa apa? Bukannya kemarin Papa bilang kalau kita tidak mengenal siapa itu Ustaz Ali? Kenapa sekarang Papa malah mengatakan yang tidak tidak! Papa bahkan menjelekkan Ustaz Ali dengan mengatakan dia tidak pantas untukku. Padahal aku jauh kurang dalam segi apa pun." Aina tidak suka dengan apa yang dikatakan papanya. Bagi gadis itu, Ustadz Ali sudah sempurna sebagai calon suami.
"Papa bukannya mengatakan yang tidak-tidak. Semua yang Papa katakan memang itulah kenyataannya. Kemarin Papa minta ada buah Papa untuk menyelidiki tentang siapa Ustaz Ali sebenarnya dan tadi pagi mereka mengirim berkasnya. Ustaz Ali memang baik, tapi kehidupannya masih dikendalikan oleh ibunya. Papa tidak mau kalau kamu menikah dengannya nanti hidup kalian juga akan dikendalikan oleh ibunya. Apalagi soal penampilan keluarga mereka begitu tertutup."
"Pa, kalau mengenai info itu, aku sudah tahu. Bukankah Kak Hira juga tertutup?"
"Jangan selalu menyamakan orang lain. Apa lagi itu dengan kamu. Hira sudah dibesarkan dari kecil di lingkungan pondok, tentu saja dia melakukan semuanya dengan ikhlas. Jika kamu berubah hanya karena manusia, maka hasilnya juga tidak baik. Papa sangat mendukung kamu kalau kamu jadi pribadi yang lebih baik lagi dan mau menutup aurat, tapi jika kamu melakukannya demi orang lain, sungguh Papa tidak rela."
"Pa, mungkin saat ini aku melakukannya karena orang lain, tapi aku yakin, aku pasti bisa berubah lebih baik."
"Apa selama ini Papa kurang dalam mendidikmu, hingga yang dilakukan Papa pun tidak berhasil membuatmu berubah?" tanya Ayman dengan perasaan terluka.
__ADS_1
Sepertinya apa yang dilakukan selama ini tidak begitu berarti untuk anak-anaknya. Sebagai orang tua, bagaimana dia tidak sedih, saat anak kita lebih percaya pada orang lain daripada dirinya yang seorang ayah, tetapi kembali lagi perasaan dan sikap tidak bisa dipaksakan. Ayman juga bukan orang yang suka memaksakan kehendak.
"Pa, bukan seperti itu maksudku. Aku hanya ingin yang terbaik untuk kehidupanku kelak. Aku yakin bersama dengan Ustaz Ali aku akan bahagia. Aku hanya memohon sama Papa untuk memberi restu, itu saja."
Ayman terdiam sambil menatap sang istri, seolah meminta agar Zayna membantunya berbicara. Dia yakin pasti wanita itu lebih bisa berbicara lembut dengan putrinya.
"Aina, kamu tolonglah mengerti apa yang kami maksud! Kami hanya ingin yang terbaik untuk kamu," ucap Zayna, dia sendiri juga sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Aku mengerti, Ma. Bahkan sangat mengerti karena itulah aku mohon pada Papa dan Mama."
"Aina, coba pikirkan baik-baik. Mama tidak mau kalau kamu tersakiti. Kami saja tidak pernah menyakitimu."
"Itu tidak akan pernah terjadi, Ma. Aku bisa pastikan itu, aku akan berusaha membuat keluarga Ustaz Ali mau menerima kedatanganku. Yang aku perlukan hanyalah doa dari Papa dan Mama."
Zayna menggelengkan kepala, seolah kehabisan kata-kata untuk berbicara dengan putrinya. Namun, membiarkan Aina menikah dengan Ustaz Ali dan tinggal bersama dengan keluarganya, itu sangat tidak mungkin. Dia tidak rela dan tidak ikhlas.
"Papa tahu setiap orang pasti bisa berubah, tapi Papa tidak yakin dengan keluarga mereka. Apa kamu siap hidup dalam keluarga yang tidak akan pernah menganggap keberadaanmu dan selalu menganggapmu orang lain?" tanya Ayman yang memang sengaja bertanya demikian. Itu adalah pertanyaan terakhirnya. Jika memang Aina siap, dia bisa apalagi selain mengikhlaskannya.
"Aku siap, Pa. Aku akan berusaha menjadi menantu yang baik untuk keluarga Ustaz Ali. Aku akan menerimanya dengan tangan terbuka," ucap Aina dengan tersenyum lebar.
Ayman memejamkan matanya sejenak dan menundukkan kepala. Putrinya sungguh keras kepala, sama seperti dirinya. Zayna dan sang suami sama-sama kehabisan kata-kata, mereka tidak tahu lagi harus berbuat apa lagi pada Aina.
Ayman menatap sang istri, meminta pendapat dari wanita itu, bagaimana lagi harus menjelaskan pada Aina. Gadis itu sepertinya keputusannya sudah kuat dan tidak bisa diganggu gugat. Akhirnya dengan terpaksa Zayna menundukkan kepala, tandanya dia menyerahkan semua keputusan pada sang suami.
Ini adalah jalan yang dipilih oleh Aina sendiri. Meskipun dia tidak rela, tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Melihat kepasrahan sang istri akhirnya dia juga mengikhlaskannya.
"Baiklah jika itu memang keinginan kamu. Papa dan Mama hanya bisa mendoakan mu, semoga semua seperti yang kamu rencanakan. Kamu bisa merubah mereka menjadi baik sama kamu dan menerimamu. Nanti Papa akan bicarakan sama Kyai Lukman, semoga dia bisa membantu."
"Terima kasih, Pa. Aku pasti tidak akan mengecewakan Papa dan Mama. Aku hanya butuh doa dari kalian," ucap Aina dengan tersenyum sumringah.
Ayman dan Zayna hanya bisa mengangguk dengan berat hati. Semoga keputusan yang mereka ambil tidaklah salah. Meski dalam hati mereka masih sangat takut jika sesuatu terjadi. Apalagi selama ini mereka sangat memanjakan anak-anaknya.
Sementara itu, Aini sedari tadi hanya diam saja. Dia bisa melihat kekecewaan di mata kedua orang tuanya, saat Aina lebih memilih mempertahankan Ustaz Ali, daripada mendengarkan perkataan mereka. Entah apa yang saat ini dipikirkan oleh saudara kembarnya itu. Gadis itu jadi memikirkan kemungkinan yang akan terjadi suatu hari nanti.
Bagaimana jika ketakutan yang dirasakan oleh kedua orang tuanya benar-benar akan terjadi. Apa yang akan dirasakan oleh Aina nanti? Apa saudaranya sanggup melewati semuanya ini. Aini menggelengkan kepala dengan cepat.
Dia tidak boleh berpikir yang tidak tidak, semoga apa yang dikatakan Aina benar terjadi dan bisa melewati semuanya. Gadis itu juga berharap agar saudaranya bisa membuat keluarga Ustaz Ali menyayangi Aina nanti.
__ADS_1
Si kembar pamit pada kedua orang tuanya, keduanya ingin pergi ke rumah Arslan. Selama perjalanan ke sana, baik Aina ataupun Aini sama-sama diam dengan segala pemikiran yang ada di kepala masing-masing. Hingga sampailah mereka di rumah kakaknya karena memang jaraknya juga sangat dekat.
.