Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
109. Kamu yakin?


__ADS_3

Kinan memutar bola matanya malas. Gadis itu enggan untuk menjawab pertanyaan dari kakak iparnya yang terkesan mengejek. Jika dia menjawab pasti akan ada ejekan lain.


“Pak Rahmat, Bu Savina, kami tinggal sebentar, ya! Sepertinya akan ada pembicaraan serius. Doakan saja mudah-mudahan saya punya mantu lagi,” ucap Papa Hadi yang sengaja ingin menggoda putrinya.


“Papa, apa-apaan sih!” seru Kinan yang membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa.


"Tentu, Pak Hadi. Saya juga menunggu undangannya," timpal Papa Rahmat.


“Memangnya kamu nggak mau nikah sama Hanif, Dhek? Dia orangnya ganteng, loh. Nanti kalau diambil orang, kamu nyesel,” sela Zayna.


“Tahu, ah, kalian mah sukanya godain aku terus,” sahut Kinan yang kemudian berlalu sebelum kakak iparnya menggodanya kembali.


"Sayang, tadi kamu muji pria lain di depanku?" tanya Ayman. Dia tidak suka mendengar sang istri memuji pria lain. Jika itu bukan istrinya, dia tidak peduli.


"Mas, tadi aku cuma godain Kinan. Nggak ada niat apa pun," ucap Zayna.


"Pokoknya aku nggak mau dengar kamu muji orang lain lagi. Awas saja kalau aku dengar."


"Iya, iya," sahut Zayna dengan mengembuskan napas pelan.


Semua orang yang ada di ruang tamu kembali tertawa, sementara Papa Hadi dan Mama Aisyah pergi ke taman samping rumah untuk bertemu dengan Hanif. Mereka juga penasaran apa yang akan dibicarakan pria itu. Begitu sampai di taman, keduanya mendekati pria itu dan duduk di kursi di depan Hanif.


Angin yang bertiup, masih terasa segar dengan sinar matahari yang melewati sela-sela daun. Tempat duduk mereka memang di bawah pohon yang rindang dan tidak ada atapnya. Mama Aisyah memang sengaja membuat seperti itu.


"Kinan bilang kamu ingin bicara dengan Om dan Tante. Mau membicarakan apa?” tanya Papa Hadi.


“Begini, Om. Saya dan Kinan sudah setuju untuk mempercepat pertunangan kami. Saya harap Om dan Tante juga setuju.”


Papa Hadi dan Mama Aisyah saling pandang. Mereka tidak menyangka jika Kinan menyetujui hal itu karena sebelumnya, mereka mengira putrinya akan menolak karena gadis itu masih ingin melanjutkan kuliahnya. Apalagi Kinan pernah mengatakan ingin fokus kuliah lebih dulu.


“Benar seperti itu, Kinan? Kamu tidak merasa terpaksa dengan keputusan ini? Mama tidak ingin kamu menyesal dengan keputusan yang sudah kamu buat. Apa kamu sudah memikirkannya dengan baik?” tanya Mama Aisyah.


Dia tidak ingin putrinya menyesal saat semuanya sudah terlambat. Masa depan Kinan juga masih panjang. Meski dalam hati wanita itu senang putrinya bisa mendapatkan pria sebaik Hanif.


“Sudah, Ma. Insya Allah ini pilihan yang Kinan buat. Apa pun nanti jalan kedepannya, biarlah semua berjalan sesuai takdir Tuhan. Saat ini aku hanya ingin terbaik di kehidupanku saja. Aku harap Mama dan Papa memberi kami Restu agar semuanya berjalan dengan lancar.”

__ADS_1


“Tentu saja, doa Papa dan Mama akan selalu menyertai kalian berdua. Jika memang keputusanmu sudah bulat, Papa dan Mama kembali menyerahkan semuanya pada kalian,” ucap Papa Hadi.


“Terima kasih, Om. Saya akan bicara dengan orang tua saya, kapan mereka punya waktu untuk datang berkunjung untuk menentukan harinya.”


“Iya, terserah kamu saja.”


Mereka pun berbincang sejenak, hingga akhirnya Hanif pamit untuk pulang. “Om, Tante, saya pamit dulu. Saya masih harus ke kampus setelah ini.”


“Oh, iya, silakan. Kinan nggak ke kampus?” tanya Mama Aisyah.


“Nanti, Ma, agak siangan,” jawab Kinan.


“Nggak mau bareng sekalian sama Hanif?”


“Nggak, Ma, nanti terlalu lama nungguin di kelas, jadi bosan.”


Mama Aisyah mengangguk. Hanif mencium punggung tangan Papa Hadi dan Mama Aisyah. Setelah itu dia keluar dengan diantar oleh Kinan. Gadis itu mengajak Hanif lewat halaman samping saja. Dia enggan lewat rumah, sudah pasti nanti akan diejek oleh Kakak dan kakak iparnya, jadi dia mencari jalan alternatif.


“Kenapa lewat sini?” tanya Hanif.


“Tapi, aku belum pamitan sama kakak kamu dan juga orang tuanya. Aku jadi nggak enak.”


“Nggak usah, nggak apa-apa nanti biar aku yang sampaikan,” sahut Kinan. Bisa-bisa nanti dia akan dipermalukan oleh mereka.


“Terima kasih sudah mengantar, sampai jumpa nanti di kampus. Assalamualaikum,” pamit Hanif.


“Waalaikumsalam.”


Seperti sebelumnya, tanpa aba-aba pria itu mencium kening Kinan dan berlalu begitu saja memasuki mobil dan meninggalkan halaman rumah. Sedangkan gadis itu hanya mematung. Hingga tidak sadar jika pria yang sudah membuatnya tidak bergerak sudah tidak ada di tempat.


Setelah beberapa detik, Kinan memukul kedua pipinya. Lagi-lagi dia dibuat tidak bisa bernapas. Hanif memang selalu membuat gadis itu kehilangan jati diri.


“Astaghfirullah, dia suka sekali membuatku tidak berkutik. Lagian kenapa, sih! Aku diam saja saat dicium. Mulai hari ini aku harus berhati-hati padanya,” gumam Kinan sambil berjalan memasuki rumah.


“Kamu, kok, dari depan? Itu barusan suara mobil siapa?” tanya Ayman.

__ADS_1


“Pak Hanif barusan pulang. Aku ke dalam dulu, mau siap-siap ke kampus.”


Kinan melanjutkan langkahnya menuju kamar, sebelum mendapatkan pertanyaan dari kakaknya. Mulai hari ini, dia harus mulai terbiasa dengan sikap Hanif yang posesif. Gadis itu tidak masalah, asal masih dalam batas wajar.


Sedangkan Papa Hadi dan Mama Aisyah kembali menemui besannya. Ayman dan Zayna sebenarnya penasaran, tetapi keduanya tidak mungkin membicarakan hal ini. Rasanya tidak sopan saja membahas urusan keluarga saat ada orang tuanya.


****


Hanif sudah sampai di kampus. Tadi dia pulang terlebih dahulu untuk berganti pakaian. Tampak sudah banyak mahasiswa yang datang. Beberapa dari mereka menyapanya, pria itu hanya menganggukkan kepalanya.


“Pak Hanif, sudah mulai ngajar?” tanya Pak Munif saat mereka berpapasan di tempat parkir.


“Iya, Pak. Di rumah terus malah semakin pusing.”


“Pekerja keras memang beda.”


“Anda terlalu berlebihan.”


“Permisi, Pak Hanif, Pak Munif,” sela Nayla membuat langkah kedua pria itu berhenti.


“Iya, ada apa?” tanya Pak Munif, sementara Hanif hanya diam sambil memperhatikan sekitar.


“Saya butuh bantuan Pak Hanif mengenai mata pelajaran yang saya tidak mengerti kemarin," jawab Nayla yang mencoba untuk tersenyum manis.


“Sejak kapan kamu ikut kelas saya? Atau saya yang lupa? Saya tidak pernah melihatmu datang ke kelas saya?” tanya Hanif.


“Saya selalu datang, Pak. Mungkin Bapak yang tidak memperhatikan saya.”


“Oh begitu, ya mungkin saja. Apa yang tidak kamu mengerti?”


“Rasanya tidak enak untuk dijelaskan di sini sambil berdiri. Apa tidak sebaiknya kita mencari tempat yang lebih enak buat belajar?”


“Kalau mengenai tempat yang enak buat belajar, itu hanya di kelas. Kamu tunggu saja di sana. Saat pelajaran saya, nanti kamu juga bisa bertanya di sana. Nanti akan saya jelaskan bersama dengan teman lainnya. Siapa tahu mereka juga ada yang tidak mengerti.”


.

__ADS_1


.


__ADS_2