Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
212. Mencari penolong


__ADS_3

"Sayang, aku pergi sebentar. Ada sesuatu yang harus aku urus," pamit Hanif setelah dia membaca pesan dari anak buahnya.


Sebenarnya pria itu juga tidak ingin meninggalkan istrinya untuk hari ini. Akan tetapi, dia harus segera menyelesaikan masalah agar tidak berlarut-larut. Di rumah juga ada Mama Aida dan Mama Aisyah jadi, Hanif lebih bisa tenang saat pergi.


"Kamu mau ke mana, Mas. Apa ke kantor?" tanya Kinan. Waktu makan siang juga sudah habis, jika ke kantor pasti akan sangat terlambat.


"Tidak, aku ada urusan di luar sebentar dengan temanku," jawab Hanif berbohong.


Dia ada urusan dengan orang yang dimintai bantuan kemarin. Pria itu juga harus menyelesaikan masalah-masalah yang lain, mengenai kecelakaan Kinan kemarin. Hanif tidak ingin semuanya berlarut-larut hingga memakan banyak waktu.


"Ya sudah, hati-hati, Mas!"


"Iya."


Hanif pun berpamitan pada sang istri dan kedua mamanya. Dia segera pergi menuju tempat yang dijanjikannya dengan orang suruhannya. Pria itu berharap mereka memberi hasil yang terbaik. Hanif mengendarai mobilnya seorang diri, menuju sebuah restoran ternama.


Dia sudah meminta orang tersebut, untuk memesan ruangan private saja agar bisa leluasa untuk perbincang. Pria itu tidak ingin ada gangguan saat sedang serius. Tidak berapa lama, akhirnya pria itu sampai juga di sana. Hanif menuju ruangan yang sebelumnya sudah dipesan oleh orang suruhannya.


"Selamat siang, Tuan," sapa orang tersebut dan temannya.


Hanif duduk di kursi, berhadapan dengan pria itu. "Selamat siang, sudah sejauh mana kalian melakukan tugas yang saya berikan?" tanya Hanif yang tidak ingin berbasa-basi. Dia bahkan belum sempat meminum minuman yang dipesan oleh orang suruhannya tadi.


"Saya sudah melakukan seperti yang Anda inginkan. Keluarga Felly memang orang yang sombong. Beberapa kali mereka juga terlibat kasus dengan orang-orang, yang tinggal di sekitar rumahnya. Namun, mereka bisa begitu lolos saja karena uang yang mereka miliki."


"Itu tidaklah penting bagiku. Aku hanya ingin Felly yang mendapat masalah. Kalau keluarganya, itu bukan urusanku karena mereka tidak membuat ulah denganku, tetapi jika memang diharuskan menggunakan keluarganya, untuk membuat Felly jera, lakukan yang kalian inginkan."

__ADS_1


"Baik dan terima kasih atas pengertiannya. Felly juga sudah dikeluarkan dari kampus. Bukan hanya karena kecelakaan yang dialami istri Anda, tetapi pembullyan yang dia lakukan pada beberapa mahasiswa. Itu sudah sangat keterlaluan. Saya akan melakukan pekerjaan saya dengan baik. Mengenai Niko, apa saya juga perlu memberi pelajaran padanya atau sama seperti Feli yang harus dikeluarkan dari kampus?"


"Tidak, jangan sampai dia dikeluarkan juga. Bagaimanapun juga, dia bukan orang yang mencelakai Kinan. Beri sedikit pelajaran padanya. Aku juga tidak tega pada keluarganya yang ada di kampung. Mereka sudah bekerja keras demi putranya. Setidaknya buat dia sadar, kalau apa yang dilakukan selama ini bukan hal yang baik."


Hanif tidak mungkin tega menghancurkan mimpi orang tua Niko. Harapan mereka pada putranya begitu tinggi. Dia tidak sampai hati jika harus membuat anak itu dikeluarkan. Sudah pasti akan sulit mendaftar di universitas lain.


"Baik, Tuan. Kalau mengenai dosen itu bagaimana?"


Hanif berpikir sejenak. Apakah dirinya harus memberi peringatan secara langsung agar dosen itu mengerti. Dia juga ingin melihat apakah kecurigaannya benar atau tidak.


"Itu urusanku, biar aku yang menyelesaikan semuanya sendiri. Aku juga perlu berbicara dengannya sebagai sesama pria," ucap Hanif tanpa ekspresi.


Jujur dia mencurigai sesuatu tentang perasaan Frans terhadap istrinya. Namun, Hanif tidak memiliki bukti apa pun jadi, pria itu ingin bertanya langsung padanya. Bagaimanapun juga Kinan sekarang sudah menjadi miliknya. Dia tidak akan membiarkan ada celah sedikitpun untuk orang lain mendekatinya. Meskipun pria itu teman ataupun dosennya.


Makanan telah datang, mereka pun menikmatinya sambil membicarakan masalah ini. Hanif bukanlah orang yang suka mencari masalah, kecuali orang tersebut lebih dulu membuat masalah dengannya. Jangan salahkan dia kalau menghancurkannya begitu saja.


Setelah menghabiskan makanan, Hanif pamit pada dua orang yang ada di depannya. Dia ingin ke kampus untuk menemui Frans. Pria itu ingin segera menyelesaikan masalahnya hari ini juga. Besok Hanif harus sibuk di kantor. Tidak ada waktu untuk bertemu dengan dosen itu lagi.


Sepanjang perjalanan, Hanif memikirkan kira-kira apa yang harus dia bicarakan dengan dosen tersebut. Bagaimanapun juga posisi mereka sama dan Frans juga tidak bersalah. Pria itu hanya ingin menolong Kinan meski caranya tidak disukai oleh Hanif. Namun, hanya itu jalan satu-satunya.


Jika Frans tidak melakukan dengan cepat, entah apa yang terjadi pada Kinan. Hanif akan berterima kasih padanya karena berkat pria itu, Kinan dan calon anaknya selamat.


Tidak berapa lama akhirnya Hanif sampai juga di parkiran kampus. Semua orang yang melihat kedatangan mobil itu pun saling berbisik. Mereka juga tahu jika Hanif sudah membuat Felly dikeluarkan dari kampus, akibat ulah wanita itu sendiri. Semuanya juga berpikir jika usaha orang tua Feli sedang diambang kehancuran.


Semua itu pasti juga ulah pria itu. Banyak yang mendukung Hanif. Namun, ada juga yang mencibir karena merasa apa yang dilakukan pria itu terlalu berlebihan. Kinan juga baik-baik saja, tidak terluka. Mereka tidak tahu saja jika keluarga memang sengaja menutupi keadaan Kinan.

__ADS_1


Hanya orang-orang terdekat yang mengetahui kondisi Kinan yang sebenarnya. Hanif tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang-orang. Baginya yang salah tetaplah harus dihukum. Apa yang diterima Felly itu tidaklah seberapa dengan perbuatannya.


Hanif berjalan menelusuri lorong kampus menuju ruang dosen. Semoga saja hari ini Frans mengajar jadi, dia tidak perlu lagi datang ke sini untuk mencarinya.


"Eh, Pak Hanif, tumben datang ke sini? Ada apa? Bukankah Kinan belum kuliah?" tanya Pak Munif yang kebetulan bertemu dengan Hanif di depan ruang dosen.


"Saya mau bertemu dengan Pak Frans, Pak. Apa beliau ada?" tanya Hanif balik.


"Pak Frans sedang ada kelas. Mungkin satu jam lagi. Kalau Anda mau menunggu silakan. Kalau tidak, nanti Anda bisa mengirim pesan kepadanya, akan saya sampaikan saat bertemu dengannya."


"Tidak usah, Pak Munif. Saya akan menunggu saja di taman. Saya juga ada perlu dengan mahasiswa yang bernama Ari. Saya ingin berterima kasih padanya," ucap Hanif yang diangguki oleh Pak Munif. "Saya permisi dulu, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Hanif pergi dari sana dan mencoba mencari pria yang bernama Ari. Dia sendiri tidak tahu siapa pria itu. Yang Hanif tahu adalah dia orang yang menolong Kinan saat terjadi kecelakaan. Ari juga yang menggendong Kinan menuju ruang unit kesehatan saat itu.


Hanif ingin berterima kasih padanya karena sudah menolong sang istri. Seandainya saja Kinan sedikit telat, pasti dirinya sekarang sudah sangat bersedih. Dia tidak akan melupakan orang-orang, yang sudah menolong istrinya dan membuat hidupnya lebih berarti lagi.


"Halo, apa kamu mengenal pria yang bernama Ari? Ini fotonya," tanya Hanif sambil memperlihatkan foto yang dia dapat dari orang-orang suruhannya.


"Oh iya, Pak. Kamu mengenalnya, Bapak masuk saja ke ruangan yang di ujung. Biasanya dia selalu ada di kelas, mudah-mudahan sekarang juga ada. Saya tidak tahu karena saya belum ke sana," jawab seorang mahasiswa.


Hanif mengangguk dan berlalu di sana. Dia ingin segera bertemu dengan pria itu. Tidak ada hadiah istimewa yang diberikan. Hanya sesuatu yang bermanfaat suatu hari nanti.


.

__ADS_1


.


__ADS_2