Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
184. Mulai mencaari


__ADS_3

Di Rumah, Zayna sedang menggendong Baby Ars. Dia terlihat khawatir setelah mendengar kabar tentang adik iparnya. Sampai saat ini dia juga tidak tahu, apa saja yang sudah dialami oleh Kinan, wanita itu berharap bahwa semuanya baik-baik saja.


Tidak berapa lama, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Zayna mengintip dari jendela ternyata itu mobil sang suami. Ayman turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah. Pria itu terkejut melihat keberadaan sang istri di sana, dia segera mendekati wanita itu dan mencium keningnya.


“Kamu Kenapa mondar-mandir di sini?” tanya Ayman, sambil memperhatikan wajah khawatir sang istri.


“Kamu sudah mendengarkan Mas soal kejadian yang menimpa Kinan?” tanya balik Zayna sekalian sebagai pertanyaan untuk Ayman.


“Iya, aku sudah mendengarnya tadi dari papa. Makanya tadi papa pulang kerja langsung jemput mama di sana.”


“Itu juga yang membyat aku khawatir, Mas Sampai saat ini aku belum mendengar apa pun tentang kabar dari mereka.”


Ayman bisa melihat wajah sedih sang istri. Dia tahu jika Zayna sangat menyayangi keluarganya seperti keluarga sendiri. Dirinya juga tidak bisa menyalahkan keluarganya, yang sampai saat ini belum memberi kabar. Mungkin mereka sedang sibuk mengurusi keperluan yang lain.


Pria itu mencoba memberi pengertian pada sang istri. Bahwa Kinan tidak apa-apa mereka hanya sibuk mengurusi korban yang lain. Meskipun begitu tetap saja Zayna tidak bisa tenang, sebelum mendengar berita secara langsung dari mertua atau adik iparnya.


“Baby Ars biar aku yang gendong, Sayang,” pinta Ayman sambil mengulurkan tangan ingin menggendong anaknya. Namun, Zayna segera menjauhkan putranya dari jangkauan sang suami.


“Mas, ingat kamu belum mandi, aku sudah dibilang berkali-kali, kalau dari luar itu harus cuci tangan cuci kaki dulu, baru boleh dekat-dekat dengan bayi.”


“Oh, iya, Sayang. Hampir saja aku lupa ya sudah, aku mau mandi dulu. Kamu jangan terlalu mengkhawatirkan Kinan, sebaiknya kamu istirahat saja. Pasti dari tadi kamu mengkhawatirkan dia kan?” Hanif mencoba menebak apa yang dipikirkan sang istri. Melihat keterdiaman zaina sudah menjawab apa yang menjadi pertanyaannya.


“Ya sudah, ayo kita ke kamar!”


Zayna mengikuti sang suami menuju kamarnya. Wanita itu meletakkan bayinya di dalam box bayi karena memang dia sudah tertidur. Setelah itu, Zayna menyiapkan pakaian untuk sang suami, kemudian turun ke bawah untuk menyiapkan makan malam.


Ayman sendiri pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Baru saja dia keluar dari kamar mandi, ponsel yang ada di dalam tasnya berbunyi. Pria itu pun melihatnya, ternyata nama bapaknya yang tertera di sana. Ayman pun segera mengangkat.

__ADS_1


“Halo, assalamualaikum,” ucap aiman.


“waalaikumsalam, aiman Papa Akan mengirim foto padamu, nanti kamu minta anak buah kamu buat mencari apa ada orang yang mengenal anak itu. Dia adalah korban yang ditabrak Hanif. Akan tetapi, sampai detik ini kedua orang tuanya belum juga datang. Padahal Hanif dan Kinan sudah meninggalkan pesan di sekitar,” ucap Papa Hadi yang berada di seberang telepon.


“Iya Pa. Papa kirim saja, nanti saya akan coba tanyakan pada para teman yang lain. Siapa tahu ada yang mengenalnya.”


“Baguslah, Papa akan mengirimkannya.”


“Memangnya Papa tidak pulang malam ini?”


“tentu saja pulang, tapi Papa ada urusan sebentar.”


“Ya sudah, Papa jaga diri baik-baik. Jangan terlalu pulang larut malam. Ingat kesehatan Papa dan juga Mama.”


“iya, terima kasih sudah mengingatkan papa. Papa tutup dulu teleponnya, Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Sementara itu, Zayna sangat sibuk di dapur dia dibantu oleh bi Ira, Menyiapkan segala makanan untuk makan malam nanti. Wanita itu tidak tahu apakah mertuanya akan kuat atau tidak, tetapi ia tetap menyiapkan takutnya mereka akan pulang sebelum makan malam.


***


Di rumah sakit, Kinan terus saja mencoba untuk mengajak bicara anak itu. Meskipun dia sama sekali tidak mendapat respon. Hanya sesekali saja jika itu dianggap penting oleh anak itu. Kinan tidak masalah Dia mengerti jika anak itu belum nyaman.


“Sayang, kamu makan dulu dari siang kamu belum makan. Aku belikan makanan kesukaan kamu, jangan biarkan kamu sakit Nanti malah nggak bisa jagain dia,” ujar Hanif sambil menyerahkan satu kotak makanan.


Kinan menerimanya dengan tersenyum dia melihat ke arah anak itu yang juga melihatnya. Wanita itu pun mencoba untuk menawarinya, siapa tahu ah itu bisa membuat mereka lebih dekat.

__ADS_1


“Kamu mau makan ini?” tanya Kinan sambil menunjuk kotak makan yang ada di tangannya.


Baru saja anak itu ingin bicara, tetapi Hanif sudah lebih dulu mencegah.


“Lebih baik jangan dulu, Sayang. Kita tidak tahu makanan apa saja yang dilarang untuknya. Takutnya nanti malah akan semakin membuatnya lebih parah lagi.”


Kinan melihat ke arah anak itu, dia jadi merasa bersalah karena sudah menawari lebih dulu. Seharusnya dia memikirkan ke arah sana, tetapi sungguh dia tidak ada maksud untuk mengiming-imingi anak itu.


“Maaf, Mas aku nggak berpikir ke arah sana, aku jadi merasa kasihan sama dia. Aku sudah terlanjur menawarinya.”


Hanif pun mendekati anak itu, dia yakin pasti anak itu bisa di bujuk. Sampai detik ini mereka tidak tahu harus memanggil dia apa.


“Kamu boleh minta apapun, asalkan sudah diizinkan oleh dokter. Om akan memberikannya untuk kamu, sekarang tidak boleh dulu ya tidak apa-apa kan?”


Anak itu hanya mengangguk sambil menatap ke arah Hanif. Kinan tersenyum melihatnya, dia tidak harus merasa bersalah. Wanita itu pun izin pada sang suami untuk makan di luar saja. Kemungkinan tidak ingin anak itu menginginkan apa yang dia makan.


Jika dokter sudah mengizinkan tidak masalah baginya untuk membagi makanannya. Namun, sampai saat ini dia tidak tahu, Makanan apa yang dilarang untuk dimakan oleh anak itu. Sementara itu, di ruangan Hanif mencoba menghibur anak itu. Dia mencoba bicara pelan-pelan Siapa tahu anak itu mengingat sesuatu.


“Apa kamu ingat siapa nama kamu?” tanya Hanif sambil tersenyum dia juga mencoba melihat ekspresi anak itu. Mudah-mudahan tidak terpengaruh apa pun. Namun, tiba-tiba anak itu memegangi kepalanya. Hanif pun mengalihkan perhatian agar anak itu melupakannya sejenak.


“Nanti setelah pulang kamu mau ikut ke rumah Om?” tanya Hanif.


“di rumah om Ada apa saja?” apanya anak itu balik.


“Memangnya kamu mau apa? Kalau mainan di rumah om memang tidak ada, tetapi kalau kamu mau nanti Om bisa belikan.”


Anak itu tersenyum, Dia terlihat begitu bahagia mendengar jika Hanif akan membelikannya mainan. Pria itu pun senang melihat senyum anak itu.

__ADS_1


.


.


__ADS_2